My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 33


__ADS_3

...****************...


Sudah satu bulan berlalu, tapi Kandri belum lagi ditemukan, Sandra tidak akan lupa kalau Kandri itu anggota tim inti YK, makanya sulit mencarinya.


Kandri pasti tau dengan baik bagaimana sistem YK bekerja selama ini, pasti dia sudah mengantisipasi segala kemungkinan dirinya bisa tertangkap.


Sandra kecewa.


Tapi dia juga tidak bisa memaksa seseorang untuk setia padanya, Sandra yang mempercayai Kandri, jika Kandri mengkhianatinya itu urusan Kandri.


Mau bagaimana lagi.


Pada dasarnya manusia itu memang begitu kan? Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Semua manusia berubah, hanya tinggal menunggu waktu, dan seperti apa perubahan mereka yang baru, lebih baik atau lebih buruk?


Seiring berjalannya waktu, Sandra sudah mulai menerima fakta bahwa buktinya sudah hilang. Dia mencoba mencari bukti lain lagi yang mendukung kasus ayahnya bisa naik lagi di pengadilan.


Tapi itu tidak mudah.


Sandra tau.


Tapi tidak ada niatan dihati Sandra untuk menyerah.


Kali ini, Sandra masuk ke dalam kelas XII IPA 5, kelas dimana murid-muridnya paling absurd dan memiliki banyak kepribadian unik. Jujur saja, Sandra sangat terhibur dengan bocah-bocah ini, memang menghilangkan stress Sandra salah satunya bermain dengan remaja yang mudah bucin pada masa-masa ini.


"Pagi." Sapa Sandra, sebelum dia duduk di kursinya, dia melihat sudah ada Jihan yang masuk sekolah hari ini, sudah beberapa hari sejak dia mulai bersekolah kembali.


Teman-teman satu kelasnya sangat mendukung, mereka mengatur ulang tempat duduk dimana Jihan jauh dengan para pria, para pria juga menjaga jarak untuk Jihan.


Jihan tidak ingin keluar dari kelas, tidak masalah, karna teman-temannya akan menemaninya di kelas, tidak akan mereka biarkan Jihan sendirian lagi


Jihan benar-benar bersyukur karna teman-temannya sangat pengertian. Mereka mendukung Jihan segera pulih, mereka salah satu faktor pendukung Jihan agar dia bisa kembali normal.


"Pagi, Bu." Jawab para murid itu dengan ramah, termasuk Jihan juga menjawab.

__ADS_1


"Jadi Bu, gimana soal nika--"


"PR mana? Gak selesai maju ke depan." Sandra tersenyum menyeringai sebelum murid-muridnya melanjutkan percakapan absurd itu.


...----------------...


Sekolah sudah bubar sejak tadi, tapi Sandra baru ingin pulang karna tadi dia masih mengurus nilai-nilai anak muridnya. Sandra sudah ingin pulang dengan damai, Tapi ada masalah lain disini. Yaitu, dua pria hebat yang sedang berdebat di depan gerbang sekolah.


Satunya Gerald Andrafana yang masih mengenakan pakaian formalnya, dan satu lagi Hainry dengan pakaian santainya, rambutnya agak acak dia benar-benar terlihat keren.


Tentu saja yang mereka perdebatkan adalah, dengan siapa Sandra akan pulang sekarang. Gerald mau Sandra pulang dengannya, soalnya ada yang ingin dibicarakan. Kalau Hainry, dia tentu saja ingin bermanja-manja dengan gadis tercintanya setelah berlelah diri dengan segala tugasnya.


"San, pulang sama aku kan?" Hainry menatap Sandra serius, dengan mata penuh harap.


"Ayo pulang dengan ku, ada beberapa hal yang ingin aku dan kakek bicarakan dengan mu." Gerald tidak mau kalah, untuk memperkuat argumennya, dia bahkan membawa nama kakek di dalamnya.


Memang biasanya perintah kakek Sandra itu, selalu Sandra turuti, tapi kali ini Kakek tidak ada memberitahu Sandra, biasanya kalau pertemuan resmi akan ada pemberitahuan.


Sandra diam, dia masih berpikir bagaimana caranya menyelesaikan hal ini dengan damai. Harusnya dengan damai, sampai Aksa dan Alan datang, dua bocah yang selalu sibuk dengan pernikahan Sandra ini, malah hadir disaat-saat genting seperti ini.


Tapi masalahnya yang lewat adalah Aska dan Alan, murid Sandra yang nyaris setiap ketemu Sandra akan bertanya kapan Sandra nikah.


Bakal ribet.


Aska dan Alan sudah berhenti di sebelah kanan Sandra, keduanya melirik Sandra sembari tersenyum-senyum manis, mereka melirik Sandra seolah menggodanya.


"Sore Bu, mau pulang ya? Sama yang kanan apa yang kiri?" Tanya Aksa, senyumannya masih belum pudar.


"Kalo yang diajak ke pelaminan yang mana Bu? Kiri atau kanan?" Tambah Alan lagi, ekspresinya sama dengan Aksa. Alan itu introvert, dia hanya akrab dengan orang-orang sekitar, dia hanya peduli akan gamenya, makanya dia tidak tau bahwa yang sebelah kanan adalah anggota keluarga Andrafana yang cukup terkenal, tapi Alan tidak tau itu.


Urat-urat kekesalan sudah terlihat jelas dikening Sandra, awalnya yang membuat kesal adalah dua pria dewasa di depan Sandra, kalau bocah-bocah laki-laki yang disebelahnya membuat kekesalan itu ingin Sandra ekspresikan.


Benar.

__ADS_1


Untuk Sandra hari ini, berhubungan dengan para lelaki adalah kekesalan.


"Yang kanan itu Kakak sepupunya ibu, kita satu keluarga, dia cucu pertama keluarga Andrafana. Yang kiri partner ibu, sekarang kalian berdua pulang." Sandra menatap dua bocah itu serius, lebih baik Sandra pergi sekarang sebelum masalahnya nanti jadi semakin rumit.


"Dan Gerald, mending kamu pulang sekarang, aku akan nemuin Kakek nanti. Hainry, ayo pulang." Sandra menarik tangan Hainry, meninggalkan tiga lelaki itu di belakangnya.


Tidak mau


Hari ini Sandra sudah lelah, dia tidak ingin menambah beban pikiran lagi.


Kali ini Sandra memilih menarik tangan Hainry, dan pulang dengan Hainry, soalnya kalau sampai Sandra memilih Gerald, bisa-bisa nanti Hainry menghilang seperti waktu itu.


Sandra tidak akan mau jika kejadian itu terulang lagi, dia tidak mau Hainry pergi lagi, dia tidak mau lelaki berisik ini meninggalkannya sendiri.


Makanya, Sandra takut Hainry pergi, dan tanpa ragu langsung menarik tangan Hainry, tanpa memikirkan soal Gerald atau kakek lebih jauh lagi.


"Ekhem! Undangan ya Bu! Undangan!" Teriak Aksa sekuat-kuatnya, memang kadang urat malu anak ini sudah putus.


Dan sialnya Sandra mendengarnya, yang berteriak Aksa, tapi yang merasa malu Sandra.


Sandra dengan cepat masuk ke dalam mobil Hainry, sebelum dia bisa mendengar celotehan gila muridnya itu lagi.


Hainry terdiam di pintu mobilnya, dia melirik tangannya sebentar, sulit dipercaya Sandra memilihnya, bahkan menggandeng tangannya di depan Gerald dan murid-muridnya.


Senyuman manis tidak bisa Hainry sembunyikan lagi. Dia tersenyum manis, seiring dengan jantungnya berdebar begitu kencang, dia sangat senang.


"Hainry ayo cepat! sebelum aku pesan taksi!"


Teriak Sandra dari dalam, saat yang ditunggu malah melamun dengan wajah tersenyum seperti pedofil itu.


"Buat apa pake taksi? ADA CALON SUAMI DISINI!" Teriak Hainry kuat, di kalimat terakhirnya.


Bagus.

__ADS_1


Hainry dengan sengaja mengeraskan suaranya saat Aksa dan Alan mendekat. Karna Hainry sepertinya tau, dua murid Sandra yang ini sepertinya bisa diajak kerjasama.


Habislah Sandra, entah bagaimana caranya untuk menghadapi dua muridnya itu, setelah Hainry meneriakkan hal itu. Keduanya mencoba menahan tawa dengan wajah tersenyum bahagia.


__ADS_2