My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 23


__ADS_3

...*************...


Sudah beberapa hari sejak Sandra membujuk Jihan untuk pergi ke yayasan milik YK agar kondisi mental Jihan bisa lebih stabil dan perlahan-lahan pulih. Sandra sudah mencoba melakukan yang terbaik agar hidup Jihan terus berlanjut dan perlahan-lahan normal kembali.


Sampai saat ini Jihan masih belum masuk sekolah, dia masih butuh waktu menenangkam dirinya sendiri?


Manja? lebay?


Jangan katakan itu, itu wajar, korban pemerkosaan itu mengalami penyakit mental yang kuat. Memang ada korban pemerkosaan yang bisa haha hihi di pagi harinya? Apalagi untuk anak baik-baik seperti Jihan. Dia terluka.


Dia butuh waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri, sebelum berdamai dengan dunia ini.


Tapi ...


Akhirnya dengan usaha bujukan Sandra setiap harinya, Jihan setuju untuk mulai lembaran baru dengan mengunjungi yayasan untuk pertama kalinya, dia akan membaur dengan keramaian semenjak kejadian memilukan itu.


Sandra sangat senang, dia begitu bahagia, jadwal kunjungan nanti sore, tapi bahagianya Sandra sudah dari pagi ini.


Dia bahkan masih tetap tenang saat dia baru saja keluar dari kelas 12 IPA 6, yang jangan ditanya, kelakuannya hampir sama dengan IPA 5, Kakak-adik itu, tabiat kelasnya memang tidak jauh berbeda, tidak salah mereka disebut kelas bestie.


Sandra sedang duduk di mejanya, melihat pr anak-anak muridnya yang lucu, yang jawabannya jelas ngasal, amburadul tidak jelas.


"Gimana bisa mereka jawab pakai hukum Newton padahal ini jelas-jelas soal perpecahan aljabar? Mau heran, tapi ini IPA 6, untung bidang lainnya mereka jago."


Sandra mengerti bahwa semua anak memiliki bakat dibidangnya masing-masing, karna itu Sandra tidak pernah mengatakan hal-hal kasar, misalnya mengatakan para anak muridnya bodoh.


"Bu Sandra, dipanggil kepala sekolah." Salah seorang guru menyampaikan pesan dari kepala sekolah. "Katanya sekarang ya Bu." Tambahnya.


"Oh iya, aku kesana sekarang." Sandra mengindahkan perintah itu, dia menutup buku pr anak muridnya, dan bersiap menuju ruangan kepala sekolah.


Sandra berjalan sendirian di koridor yang sepi, anak-anak murid sibuk belajar, dan guru yang bertugas sedang sibuk mengajar.

__ADS_1


Kesepian ini membuat Sandra teringat akan fakta yang dia temukan minggu lalu.


Surat dan rekaman itu.


Keduanya masih Sandra simpan dengan baik, dia masih mengumpulkan bukti lainnya agar laporannya bisa akurat dan tidak bisa dibantah lagi, hingga paman dan bibinya bisa mendapatkan hukuman yang setimpal.


Sandra masih berusaha mengumpulkan banyak bukti dengan caranya sendiri. Ah, Sandra masih menyimpan rahasia ini sendirian, baik Hainry maupun YK yang lainnya tidak tau soal ini, hanya Rafael yang tau karna dia ada disana saat Sandra menemukan bukti itu.


Tanpa dia sadari, pemikiran yang membebani kepalanya sudah menyita banyak waktu dan perhatiannya, hingga dia tidak sadar dia sudah ada di depan ruangan kepala sekolah.


*Tok tok tok


"Ini Sandra Pak, Guru Matematika." Kata Sandra setelah dia mengetuk pintu itu dengan sopan.


Tak lama, pintu itu sudah terbuka, kepala sekolah sendiri yang menyambut Sandra. Dia tersenyum dan meminta Sandra segera masuk.


"Ayo silahkan duduk. Oh ya, kenalkan, beliau ini Pak Agam, beliau akan menjadi salah satu penyumbang dana tetap di sekolah ini. Nah Pak Agam, beliau ini Sandra, guru matematika yang ambisius dan adil." Kepala sekolah memperkenalkan seorang tamu yang sepertinya sangat penting mengingat kepala sekolah memperlakukan-nya begitu ramah dan hormat.


"Sandra Pak, senang berkenalan dengan bapak." Sandra mengulurkan tangannya, meminta berjabat tangan sebagai sopan santun. Sebagai guru di sekolah ini, Sandra tau pangkatnya jelas ada di bawah orang ini.


Dia adalah Agam Klaun, ayah kandung Hainry, Agam sengaja tidak menyebutkan nama belakangnya, soalnya dia ingin melakukan beberapa keisengan terhadap calon menantunya.


Agam sendiri juga sangat penasaran, gadis seperti apa Sandra itu sampai membuat Hainry tergila-gila dan bucin setengah mati, bahkan Hainry tidak mau melirik gadis lainnya, dari kalangan manapun.


Dia cantik, ini valid, dia juga berkharisma dan terlihat ambisius. Kriteria menantu dan ibu sempurna, lulus tahap seleksi.


Barin Agam, dia tersenyum bangga di depan Sandra tanpa Sandra sendiri pahami maksud dari orang tua ini.


"Saya ingin melihat-lihat sekolah ini, boleh anda yang membimbing Bu guru Sandra?" Agam meminta, dia cuma ingin lebih dekat dengan calon menantunya.


"Baik, silahkan sebelah sini Pak Agam."

__ADS_1


...----------------...


Agam dan Sandra sudah berjalan berdua, berkeliling di beberapa tempat, sembari Sandra menjelaskan struktur sekolah, jadwal ekstrakulikuler apa saja yang ada di sekolah ini.


"Bunga, bunga ini cantik-cantik sekali, tersusun rapi dan sangat elegan." Agam menunjuk sebuah taman bunga mini di depan sebuah kelas, itu adalah kelas IPA 5, kelas anak-anaknya Sandra.


"Ah ini tanaman yang ditanam sendiri oleh anak didik saya, oh ya saya wali kelas 12 IPA 5."


"Oh, kau menyarankan bunga ini?"


"Saya hanya memberi saran, sisanya anak-anak yang melakukannya, karna saya suka bunga warna kuning, jadi mereka lebih banyak menanam bunga berwarna kuning. Mereka memang pengertian, walau bandalnya nggak ada obat."


"Oh." Agam mengangguk mengerti.


Itu artinya di rumah utama harus ditanam banyak bunga warna kuning. Dan saat acara resepsi pernikahan nanti hiasannya harus menggunakan bunga asli berwarna kuning. Sudah dicatat.


Batin Agam, dia sudah mendapatkan selera bunga menantunya, maka dia akan persiapkan taman terindah untuk menyambut menantunya nanti datang.


"Olahraga apa yang paling digemari di sekolah ini?"


"Futsal dan basket, biasanya futsal dan basket di sekolah kita selalu mendapatkan peringkat satu atau dia setiap mengikuti lomba. Saya harap voli juga bisa ikut berprestasi, padahal murid-murid disini punya bakat voli, tapi karna pelatih, gedung olahraga dan voli yang kurang terkenal, banyak dari mereka yang pindah ke basket. Padahal saya suka saat melihat mereka main voli, jadi bisakah anda menyumbangkan lebih banyak untuk keperluan Voli?" Sandra tersenyum manis, padahal dia baru saja mengatakan terang-terangan untuk meminta sumbangan.


Woah! Sangat frontal dan berani, dia juga suka voli. Dia lulus jadi calon menantu, oke haruskah ku bangun lapangan voli di rumah utama?


Agam diam sebentar, dia merenung, memikirkan suatu hal.


Hainry tidak suka satu rumah dengan ku, makanya aku kesepian, untuk membuat menantu dan cucuku tinggal di rumah utama dengan ku, aku harus membuat lapangan voli agar mereka nanti betah.


Oke, aku akan langsung membangunnya nanti.


"Permisi Pak? Apa permintaan saya kurang sopan?" Tanya Sandra dengan nada bicara yang lembut dan penuh sopan santun.

__ADS_1


"Tidak, sesuai saran Bu guru Sandra, saya akan menyumbang banyak untuk olahraga voli, saya juga akan mengirimkan pelatih voli berbakat untuk melatih mereka."


"Oh begitu? Terimakasih banyak."


__ADS_2