My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 49


__ADS_3

"Apa menurut mu aku menerima mu hanya karna kasihan? Atau karna kau berhasil menyelesaikan misi kemarin?"


Sandra menatap lekat retina Hainry, yang masih setia menatap Sandra penuh senyuman hangat.


"Jadi, bukan? Lantas, apa kau mencintai ku?" Hainry hanya bertanya basa-basi, di dalam pikiran Hainry dia yakin bahwa Sandra akan bilang tidak.


"Iya." Jawab Sandra serius, tanpa memalingkan wajah atau tatapannya.


Deg


Seolah ada angin segar yang menerpa hati Hainry, perasaannya sangat senang, dia begitu bahagia. Kebahagiaan yang tidak bisa dia jelaskan.


Mungkin akan tiba masa dimana Sandra akan mencintainya setulus hati.


Hainry pikir hari itu mungkin nanti, ketika mereka sudah hidup sangat lama sampai rambut berubah warna, usia tak lagi muda, wajah tak lagi cerah, kala mereka sudah dipanggil kakek dan nenek, mungkin saat itu Sandra akan mengakui cintanya.


Tapi, sekarang? Sungguh?


Bukannya Hainry tidak suka, dia bahkan sangat menyukainya hingga terus ingin menari-nari, ingin mencari tempat tertinggi dan mengatakan pada dunia bahwa cintanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Dia ingin mengumumkan pada semesta, bahwa gadis yang dia cintai selama ini membalas cintanya lagi.


Perasaan menggebu-gebu yang tidak bisa dihentikan.


Sangking terkejutnya dia tidak lagi bisa berkata apa-apa, mulutnya sedikit terbuka.


Untuk pertama kalinya Sandra melihat Hainry sekaget ini.


"Cincinnya? apa aku harus pakai sendiri?" Keluh Sandra, suaranya jadi agak aneh, hidungnya sudah merah, pipi nya juga tak kalah merona.


Jangan tanya, degub-an Sandra begitu kencang hingga Hainry mungkin juga bisa mendengarnya.


Sama.


Hainry tau, Sandra memiliki perasaan yang sama untuknya. Getaran yang sama, terasa hangat dan begitu indah.


"Gak sabaran banget." Hainry memakaikan cincin berwarna perak dengan berlian mungil terselip ditengah-tengah, sangat cantik, begitu indah, cukup berkilau dengan desain yang sederhana.


Hainry tidak tau seberapa besar kebahagiaan Sandra, tapi yang jelas Hainry tau bahwa Sandra juga bahagia dengan lamaran ini. Sandra juga bahagia dengan pertunangan ini, dia juga bahagia karna dia mencintai Hainry. Meski Hainry tidak tau, apakah rasa cinta Sandra sebesar rasa cinta yang Hainry miliki?


"Terimakasih ... sudah bersedia menampung beban seperti ku seumur hidup, jadi tolong urus beban ini." Hainry tersenyum manis.


Cup


Pria muda itu mengecup punggung tangan Sandra, dengan mata sayu melirik Sandra dari bawah.


Dan sialnya!

__ADS_1


Itu kelihatan sangat keren.


Hainry terlihat sangat hebat dari posisi Sandra memandang saat ini, membuat pipi gadis itu yang semula hanya merona kini semakin memerah dan terus memanas.


Cup


Cup


Cup


Mentang-mentang sudah dapat izin, dan tau kalau Sandra menyukainya juga, Hainry jadi lebih berani dan labih maju, dia mengecup telpak tangan Sandra.


Saat Sandra bilang cinta, mungkin Sandra juga menginginkannya.


Hainry menatap lekat Sandra, tidak melepas retina hitam itu walau sedetik saja.


Hainry perlahan berdiri, memposisikan dirinya tepat di depan Sandra. Tangannya bergerak lihai mengusap pipi gadis itu, menyelipkan sebagain rambut di belakang telinganya.


" I want to kiss you."


Sandra sudah memejamkan matanya, memasrahkan diri, dan mempercayakan saja semuanya pada Hainry, untuk sekarang Sandra ingin Hainry saja yang memimpin.


Soalnya dia masih deg-degan.


Sepi, tenang dan sunyi, membuat keduanya bisa lebih menikmati situasi saat ini.


Sandra tidak pernah se-gugup ini saat menjalankan misi dalam kondisi se-bahaya apapun, dia selalu berani, tidak khawatir apalagi grogi, langkah Sandra selalu pasti ketika menjalankan misi, dia tidak pernah ragu karna kalau dia ragu mungkin dia mati.


Tapi situasi ini pengecualian, Sandra benar-benar tidak bisa mengendalikan hati dan perasaannya, dia hanya ingin pasrah pada keadaan dan kondisi saja sekarang.


Terserahlah Hainry mau melakukan apa.


"Tring!"


Ponsel Sandra berbunyi, tepat saat Hainry hampir menyentuh bibir Sandra.


Keduanya langsung berpaling.


Sial.


Suasana yang sudah susah payah Hainry bangun malah hancur begitu saja hanya karna satu sering ponsel. Padahal itu nyaris saja, sedikit lagi.


Siapapun yang menelpon, akan Hainry patahkan kakinya nanti. Berani-beraninya dia menganggu momen langka dalam hidup Hainry.


"Gerald, ada apa?" Panggil Sandra, saat dia sadar yang menelponnya adalah Gerald.

__ADS_1


Coba tebak seberapa tinggi kemarahan Hainry saat ini?


Jangan tanya.


Hainry sangat murka jika bisa dia ingin langsung menjadi mafia dan meratakan dunia.


Kesal sekali rasanya, Gerald ini seperti selalu saja mengganggu Hainry dalam segala macam kondisi. Gerald benar-benar menyebalkan, Hainry harus memberi pelajaran khusus untukny nanti. Dan nama Gerald sekarang harus sudah terdaftar dalam list orang-orang yang akan Hainry beri pelajaran.


Bisa-bisanya satu panggilan dari orang itu mengacaukan semuanya.


Padahal tadi itu sudah sangat sempurna untuk melakukan ciuman pertama.


Tempat yang mendukung, suasana yang menopang semakin intens terjadinya hubungan.


Momen dimana kami baru selesai lamaran, harusnya itu jadi ciuman yang sempurna, kalau orang itu tidak merusuh untuk menelpon.


Deg.


Omong kosong apa yang Hainry katakan dulu, dan apa jawaban yang harus Sandra keluarkan agar terdengar masuk akal dan Gerald tidak akan curiga, bahwa kapten Tim YK71 itu adalah Sandra sendiri.


"Hah! Apa? Kau ada di depan pintu sekarang?!" Sandra berteriak kaget.


sepertinya tidak jauh dari Hainry, di juga sama-sama terkejut. Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi?


......................


Pada akhirnya, Sandra, Gerald, dan Hainry duduk di ruang tamu Sandra, dengan posisi Sandra yang ada di sebelah Hainry, dan Hainry yang berhadapan lurus dengan Gerald.


Selain mengacaukan ciuman itu, bahkan sekarang Hainry berani mengganggu waktu luang berdua antara Hainry dan Sandra. Padahal tuan detektif kita itu hanya ingin liburan, rebahan manja di pangkuan sang gadis tercinta.


Tapi tiba-tiba orang ini datang dan mengacaukan segalanya, baik yang sudah Hainry rencanakan atau yang terjadi tiba-tiba, semuanya kacau karna Gerald seorang saja.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Hainry dengan ketus, dia tidak tertarik untuk pura-pura ramah, wajahnya sudah datar dan cukup dingin, pandangannya seperti elang yang mengajak perang.


Jelas sekali bahwa saat ini Hainry sedang mengekspresikan banyak sekali kekesalannya yang menumpuk.


"Bukan aku, tapi apa yang kau lakukan disini?" Tanya balik Gerald. Sama saja, mata Gerald juga sama tajamnya, aura yang dikeluarkan juga cukup dingin. Seperti sedang terjadi perang dingin dengan media mata saja.


"Tentu saja ingin nonton dengan kekasih ku, salah ya? Anda yang buat apa kesini, ini kan hari libur. Berlibur sana dengan pasangan anda. Kenapa harus repot-repot ganggu pasangan lain?"


Wah wah, ternyata Hainry kesal sungguhan hingga bibirnya masuk dalam mode julid.


"Orang asing? Aku hanya ingin mengunjungi dan menanyai kabar adik sepupu ku saja."


"Dia sehat, baik, juga bahagia. Karna anda sudah tau kabarnya, bisa pergi dari sini sekarang juga." Celetuk Hainry santai, dengan ekspresi wajahnya yang tersenyum, tapi jari telunjuknya menunjuk pintu keluar dengan sempurna.

__ADS_1


Jangan tanya, se-kesal apa Gerald saat ini.


__ADS_2