My Hidden Detective

My Hidden Detective
Special Episode : Misha Ziene Klaun


__ADS_3

...****************...


"Mama!!! Kita punya masalah besar!!!"


Suara teriakan menggelegar di aula ruangan rumah keluarga Klaun.


Enam tahun sudah berlalu sejak Sandra menikah, dan dia tinggal di rumah keluarga Klaun ini.


Semuanya awalnya tenang.


Sampai satu fitrah lucu itu datang dan menjadikan hari Sandra tidak pernah tenang. Tapi menjadi sangat menyenangkan.


Dia adalah Misha Ziene Klaun, yang masih berusia lima tahun, dia berteriak memanggil setiap penghuni rumah menuju dirinya.


Sandra dan Hainry yang sedang bermanja di dalam kamar langsung meloncat dari kasur. Mereka segera turun untuk melihat masalah apa lagi yang anak mereka buat.


"Ada apa Zien?"


Zien, adalah panggilan yang Sandra berikan untuk anak pertamanya itu.


Sandra berlari cepat, menghampiri anaknya yang sedang berdiri di depan sebuah cermin besar. Cermin itu adalah cermin yang baru saja Agam beli untuk diletakkan di aula yang baru di bangun disebelah kanan.


"Masalah apa sayang?" Sandra berlutut, mensejajarkan dirinya dengan sang anak.


Agam dan Hainry juga datang, mereka berdiri bersebelahan menatap anak ini aneh.


"Ma, mama ngerasa gak sih? Kalau Zien semakin hari semakin imut, Zien jadi khawatir setiap anak iri sama Zien karna keimutan yang Zien punya." Zien menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya, menampilkan pose yang sangat imut dan menggemaskan.


Hah, Sandra sudah lelah. Gen Hainry yang percaya diri menurun sempurna kepada Zien, apalagi narsisnya yang tidak bisa dikurangi itu.


"Haha! Tenang aja, Zien yang paling imut!" Hainry bangga sekali pada putrinya ini, dia berhasil menurunkan gen narsis versi dirinya.


"Gak ada yang berani ganggu Zien, jadi Zien tenang aja oke? Zien tetaplah yang terimut dan gak ada yang berani marahin Zien!" Tambah Agam, apapun yang cucunya inginkan, sebagai kakek konglomerat yang kaya raya, beliau menuruti apa saja permintaan Zien, baik yang kelihatan masuk akal, maupun yang tidak masuk akal.


......................


"Ma, Zien imut kan?"

__ADS_1


Lagi.


Beginilah memang hari-hari yang Sandra hadapi setelah menikah, selain harus memuji suaminya dengan kata tampan setiap pagi, Sandra juga harus menuruti perkataan putrinya soal keimutan yang hakiki.


"Iya, Zien imut." Sandra menutup laptopnya, dia menatap putri kecilnya yang menaiki kursi dan sibuk berkaca diri.


"Tapi Ma, Mama tau gak yang paling Zien inginkan itu apa?" Zien turun dari kursi, dia berlari kecil dengan langkah minimalis dari kaki mungilnya.


"Apa itu sayang?"


"Jadi kuat kayak mama! Jadi hebat kayak Detektif Sandra!" Zien menatap Sandra serius, dia duduk di pangkuan Sandra, matanya lekat menatap Sandra.


Jelas


Sandra bisa melihat bahwa putrinya serius, putrinya berambisi untuk menjadi kuat seperti dirinya.


Sandra tersentak halus, dadanya bergetar dibuat putrinya sendiri. Keinginan hati Zien dengan ambisi ingin menjadi Sandra, membuat Sandra sangat tersentuh.


"Kalau begitu, menurut Zien kuat itu apa? Untuk menjadi kuat, Zien harus tau kuat itu apa kan?"


"..." Zien terdiam. Kuat itu apa? Orang yang bisa mengangkat barang berat? Orang yang bisa memukul dengan keras? kuat itu apa?


......................


"Pa, Zien punya masalah yang sangat besar, masalah ini lebih penting dari keimutan."


Zien datang ke ruang kerja Hainry yang ada di rumah, anak kecil itu menarik kursi yang biasa dia pakai jika berada disini, dia duduk di sebelah Hainry yang sedang agak sibuk sekarang.


"Hmm? Lebih genting dari keimutan Zien? Apa itu?" Hainry langsung menghentikan pekerjaannya, dia menutup laptopnya menatap putri kecilnya yang aktif suka kesana kemari. Bagi Hainry, Zien adalah salah satu alasan terbesarnya untuk hidup.


"Pa, menurut papa kuat itu apa?" Zien bertanya serius, dengan sebuah pulpen dan buku kecil yang ada dalam genggamannya. Zien memang belum masuk sekolah resmi, usianya juga masih lima tahun, tapi Zien sudah bisa membaca dan menulis dengan sempurna. Jelas dia kan putrinya Hainry Klaun dan Sandra Andrafana.


"Kenapa nanya gitu?" Hainry sedikit heran, biasanya putri kecil yang manja ini lebih suka membahas keimutan dibanding ambisi untuk menjadi kuat.


"Pa, Zien pengen jadi kuat kayak mama!"


Hainry menarik senyuman tipis, dia bangga sekali dengan tuan putrinya ini. Hainry bisa melihat ambisi rasa ingin tau dari mata Zien sekarang. "Kuat ya? Menurut papa kuat itu, disaat kamu bisa bertahan, bersabar, setia dan percaya bahwa segala usahamu akan membuahkan hasil suatu hari nanti, artinya kuat itu menurut papa adalah konsisten dan jangan pernah menyerah, untuk sesuatu yang paling berharga yang sedang kamu perjuangkan."

__ADS_1


Hainry kembali mengingat dirinya sendiri, bahwa kuat untuknya adalah dirinya sendiri, dia bertahan, bersabar, dan setia menunggu Sandra, percaya bahwa Sandra akan menerimanya suatu saat nanti, dan itu benar-benar terjadi sekarang. Bahkan usahanya membuahkan hasil seorang fitrah lucu yang menggemaskan, yang sedang sibuk menulis di depannya.


"Oke, jawaban papa Zien terima. Tapi boleh diulang, Zien lupa."


"Pfftt putri siapa sih? Lucu banget."


"Ya Allah Pa, sama anak sendiri aja lupa. Jelas-jelas Zien ini anak papa, liat nih mirip mama kan?" Zien menepuk kepalanya sendiri.


Sungguh terlihat menggemaskan.


Hainry tidak tahan, dia jadi ingin menangis haru, rasa bahagia yang tidak bisa dia jelaskan. Kehidupannya yang sempurna, Hainry sangat bahagia.


Wajah Zien yang sangat mirip dengan Sandra, dengan kelakuan super narsis seperti Hainry. Akhirnya Hainry bisa melihat Sandra versi kecil yang berisik.


"Iya anak papa, manis banget sih."


"Iya jadi ulang pa, tadi apaa."


......................


"Halo Kakek? Kakek, Zien boleh ikut duduk disini?"


Zien duduk di gazebo belakang rumah dengan kakek yang sangat dia sayang. Kakek yang terus memanjakannya, menuruti segala yang Zien inginkan. Kalau Zien jadi super manja, itu pengaruh dari kakek yang lemah lembut dan penuh kasih sayang ini.


"Boleh dong, Zien mau main apa sama kakek? Mau main Ludo lagi? Atau sekarang monopoli?" Agam sangat bersemangat, tidak masalah permainan apapun yang akan mereka mainkan, yang penting mainnya bersama cucu tersayangnya.


"Sebelum itu Kek, selain jadi imut, Zien pengen jadi kuat. Menurut kakek, kuat itu apa?" Zien mengeluarkan pulpen dan buku kecil yang selalu dia bawa itu. Jawaban Hainry sudah tersimpan rapi di dalam sana. Kini jawaban sang kakek yang Zien incar.


"Kuat itu, bertahan." Kakek tersenyum penuh makna. Maksudnya bertahan adalah, seperti Agam yang selama ini bertahan setelah ditinggal mati istrinya, bertahan itu tidak mudah.


Zien tidak begitu mengerti sih, tapi jawaban simpel seperti ini membuatnya lebih tertarik. Zien kembali mencatat jawaban sang kakek.


"Tapi kenapa Zien pengen jadi kuat?"


"Zien suka mama! Idola Zien itu mama! Zien mau kuat kayak mama!"


Deg

__ADS_1


Sang kakek tersenyum manis setelah dia sedikit tersentuh dengan ucapan cucunya, ambisi dimatanya yang tidak berbohong. Keinginan kuat yang bahkan terpancar dari matanya saja, perkataan yang tanpa goyah itu. "Benar, Sandra itu istimewa. Dan Kakek beruntung punya menantu yang kuat sepertinya."


......................


__ADS_2