
Tuk!
Palu diketuk oleh hakim, menandakan agar Claudia maupun Sandra berhenti walau mereka sudah terbawa suasana, mereka harus berhenti dan kembali ketempat masing-masing.
"Yang mulia, maaf melenceng, tapi apakah saya boleh membuka kasus Nona Ecalica Andrafana juga disini, karna tersangkanya juga Nyonya Claudia Andrafana." Pinta Viona, dia memohon pada hakim agar persidangan kasus Eca dilakukan hari ini saja.
"Kami mohon yang mulia, tolong izinkan kasus ini dibahas saat ini."
"Kami mohon!"
"Kami butuh kebenaran!"
Suara para hadirin tampaknya bisa menggoyahkan sang hakim, hingga akhirnya hakim setuju untuk membuka kasus ini disini saat ini karna tersangkanya adalah orang yang sama.
"Baiklah, kasus kematian Ecalica Andrafana akan dibuka saat ini, harap tenang dan saksikan dengan seksama, semuanya kembali duduk ditempatnya masing-masing." Hakim memberi isyarat, semua orang kembali tenang dan duduk di bangku masing-masing.
Meski tampak tenang dan tanpa suara, jantung mereka semua berdegup begitu kencang, baru kali ini mereka melihat persidangan seperti ini. Persidangan yang menguras hati, emosi, dan air mata yang bercucuran.
"Nona Sandra, anda melayangkan tuduhan pada Nyonya Claudia bahwa dia mencoba membunuh anda. Jadi, saya yakin karena anda detektif YK yang terkenal, saya yakin anda punya bukti kan?" Viona berjalan mendekat ke-arah Sandra, dengan raut wajah percaya diri.
"Saya berdiri disini karena punya bukti nona jaksa. Hain, tolong." Sandra melirik ke arah Fladilena.
Sebenarnya Sandra ingin mengangkat kasus ini nanti, setelah semuanya gak reda, tapi sepertinya biarkan saja memanas hari ini
"Pelaku sudah diamankan." Hainry membawa seorang pria yang saat itu menjadi pelaku sabotase mobil Sandra.
"Perkenalkan nama anda, dan katakan kesaksian yang sesungguhnya." Viona membawa pria itu ke tempat dimana saksi akan memberikan keterangannya.
Kali ini, tidak ada hal yang begitu rumit yang terjadi, semuanya seperti berjalan sesuai aturan Sandra. Pria itu terus memberikan kesaksian yang sebenernya, sedangkan Jean dan Claudia mencoba membantahnya dari sana.
Viona dan Jean terus berdebat sedangkan Sandra dan hadirin masih mendengarkan, Claudia juga coba membantah.
Meski sepertinya tampak tidak rumit, tapi ini agak menjengkelkan karna sepertinya perdebatan ini tidak ada akhirnya.
Hingga akhirnya Sandra mengeluarkan video itu, sebenernya Sandra tidak ingin mengungkap video itu di publik, tapi sepertinya harus dia lakukan demi menyelesaikan persidangan ini dan membuat Claudia berada di penjara selama sisa hidupnya.
__ADS_1
"Yang mulia, saya ingin menunjukkan satu video, mungkin bukan video bukti cctv, tapi sepertinya video ini bisa membantu meluruhkan segalanya."
Sandra memberikan sebuah memorycard pada Viona, memorycard yang berisi video yang sangat berharga untuk Sandra.
"Yang mulia, apa diizinkan tayang?" Tanya Viona menunjukkan sebuah memorycard.
"Diizinkan." Jawab Hakim dengan tegas.
Akhirnya video itu diputar, dengan Sandra yang masih mencoba tegak dan tidak membungkuk barang sedikitpun.
"Halo San, ini gue Ecalica, jelas tau dong ya, Kalo lu liat video ini artinya gue udah wafat kan ya? Soalnya, gua amanahin bibi gua supaya kasih video ini pas gue udah gak ada. Btw lu masih alergi asap rokok?"
Dalam video tampak Eca menyesap rokoknya dengan nikmat, dia mengenakan jaket hitam, celana jeans hitam juga topi berwarna hitam, rambutnya tampak pendek.
Deg
Semua orang disana terkejut, tidak ada yang tidak kaget.
Apakah video ini benar-benar Nona Ecalica Andrafana? Nona yang bagai malaikat itu kini seperti sang ratu mafia? Dia duduk dengan gayanya yang elegan namun bukan anggun.
Bukan satu atau dua, semua terkejut kecuali Sandra. Siapa yang menduga gadis bar-bar itu adalah Eca si gadis malaikat?
"Btw sebelumnya gue mau minta maaf soal nyokap gue, sebenarnya bukti itu gue udah dapat dari lama, cuma gue simpan soalnya gue gak tega liat nyokap gue masuk penjara. Walau kadang dia menyebalkan, suka maksa dan suka berkata kasar, gimanapun dia tetap nyokap, dan gue tau bahwa surga itu ada di telapak kaki ibu, jadi sampai kapanpun, entah sebenci apapun gua sama nyokap gua, gua gak akan bisa hidup buat liat dia di dalam penjara, jadi maaf udah nyembunyiin bukti itu selama ini."
Eca menikmati setiap bibirnya menyentuh ujung rokok itu, dia menghembuskan asap rokok, bagai menghembuskan masalah. Eca tidak menangis.
"Walau dia kejam, dia juga my mom San, jadi sorry. Tapi bukan berarti kejahatannya dibiarkan aja tanpa ganjaran, nah sekarang karna gue udah mati harusnya kalau lu liat video ini, itu artinya lu bebas mau penjarain nyokap gue, soalnya emang beliau itu salah. Gua gak akan benci lu."
"Apa lagi ya? Hmm ... Oh ya, gua juga tau lu kapten detektif YK, soalnya barang-barang lu aneh di rumah, kali guru punya pistol, senapan, ramuan-ramuan aneh di rumahnya haha. Lu detektif tapi agak ceroboh juga. Yah, intinya sih gitu. Makasih udah mau jadi sepupu gua. Btw, mau rokok?"
Dikalimat terakhirnya, Eca menyodorkan rokok yang biasa dia hisap. Eca tidak menangis, dia tersenyum ramah. Tatapan mata Eca tampak sendu, namun juga bahagia.
Tidak ada yang bilang dunia ini adil, bahkan kehidupan Nona Ecalica juga memiliki penderitaan, semua orang menderita, hanya saja cara mereka menghadapi penderitaan itu yang membuat mereka menjadi berbeda.
Seluruh hadirin masih diam membeku, mereka masih tidak percaya dibalik sosok malaikat Nona Eca, ada gadis biasa yang juga bisa melakukan kesalahan. Karna terlalu mengagumi Eca, sepertinya mereka juga lupa kalau Eca adalah manusia biasa.
__ADS_1
Hening.
Semuanya diam tanpa kata-kata.
"ECAAAAA!!!!!"
Tiba-tiba Claudia berteriak keras dari tempatnya, tangannya ingin menggapai wajah Eca di layar yang ada di depan.
Tuk!
Hakim mengetuk sekali palunya, menyita kembali fokus seisi ruangan, mereka kembali menatap sang hakim, menajamkan telinga untuk mendengar kesimpulannya.
"Apa ada bukti lainnya Nona Sandra?" Hakim bertanya pada gadis yang sudah mencoba mengajak tangis di depannya.
"Tidak ada yang mulia." Jawab Sandra seadanya.
"Baiklah, sekali lagi setelah mendengar para saksi dan melihat segala bukti yang ada. Pengadilan memutuskan hukuman penjara seumur hidup atas nama Claudia Andrafana atas perencanaan pembunuhan terhadap Kar Andrafana dan Shizea Fii Andrafana, juga penyiksaan terhadap Adit Ahmadi serta di dakwa atas pembunuhan berencana terhadap saudari Sandra Andrafana yang mengakibatkan kematian pada Ecalica Andrafana."
Tuk Tuk Tuk
Hakim mengetuk palunya tiga kali, pertanda keputusan akhir sudah didapat.
Tes ...
Pada saat palu diketuk, pada saat itu pula air mata Sandra berjatuhan.
Akhirnya ....
Perjuangannya sampai saat ini membuahkan hasil, pelaku pembunuhan orangtuanya sudah diungkap.
Sandra terus menangis, hingga Hainry memeluknya sangat erat.
Apa Sandra berhenti menangis?
Tidak. Gadis itu menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Hainry.
__ADS_1