
...***************...
"Jadi bagusnya pakai warna apa ya?" Fla memainkan penanya sembari terus memperbaiki posisi kacamata yang sedang dia pakai.
Di depannya terjajar rapi satu lembar kertas dengan lebih dari seratus warna yang berbeda.
Fladilena tidak sendiri, ada Sandra, Hainry, Rafael, Yana dan anggota YK71 yang lainnya, mereka semua berkumpul serius di ruang yang biasanya digunakan untuk rapat penting.
"Kalau soal gaun, bagus warna putih gak sih? Terus agak dipadukan sama biru muda, bagus sih." Timpal Rafael, dia sangat serius soal ini.
Tapi kali ini rapatnya lebih khusus, karna sekarang rapat ini adalah untuk memutuskan warna gaun apa yang akan Sandra kenakan di acara resmi pertunangan mereka nanti.
Dan yang membantu Sandra untuk memilih adalah orang-orang dari YK71, bukan cuma itu, warna gaun yang Sandra pakai akan senada dengan yang YK71 pakai nantinya.
Saat pertama kali mendengar berita tentang pertunangan resmi antara Sandra dan Hainry. Seluruh anggota YK terdiam, nyaris tidak percaya, namun juga sangat bahagia, bahwa pada akhirnya perjuangan cinta Hainry tidak sia-sia, dia benar-benar mendapatkan hati Sandra. Menepati setiap perkataannya akan menjadikan Sandra satu-satunya sang istri.
Bukan hanya itu, mereka bahkan berniat melakukan perayaan kecil-kecilan nanti malam di markas ini, tapi hanya satu masalahnya, yaitu menentukan warna gaun karna masalahnya gaun harus di pesan hari ini agar tidak mengganggu jadwal berikutnya. Tidak mudah untuk membuat gaun Sandra, soalnya dia adalah putri Andrafana dan yang akan bertunangan dengan putra paling kaya di negara ini.
Butuh banyak waktu untuk membuat satu gaun saja, butuh cukup banyak tenaga dan masa untuk para desainer menyempurnakan ide dan kreativitas mereka yang akan mereka tuangkan di gaun Sandra.
Karna itu harusnya bukan menjadi gaun biasa, tapi menjadi gaun bersejarah dan ajang untuk mereka menampilkan karya terbaik mereka. Karna yang akan memakainya adalah putri Andrafana sendiri, dan Tuan muda dari keluarga Klaun.
"Warna dominan biru, terus ada liris putihnya juga bagus." Tambah Yana mengemukakan pendapatnya.
"Udahlah, stop bahas itu, sekarang mending kita selesaiin misi barunya." Sandra menyela, kalau ini dilanjutkan, ini tidak akan ada habisnya.
"Yaelah Mbak."
__ADS_1
Seru semuanya dengan malas, mereka sedang bersemangat tentang pertunangan Hainry dan Sandra, soalnya pertunangan ini salah satu acar bersejarah yang mereka tunggu-tunggu, menyaksikan Sandra dan Hainry bersama setelah perjuangan Hainry yang bukan main, seperti melihat film saja, mereka semua ingin ikut dan jadi bagian dari kisah cinta dua insan tuhan ini.
Hainry hanya tersenyum kecil mengamati segalanya, dia senang karna ternyata seluruh anggota YK juga setuju dan sepakat serta turut mendukung rencana pernikahan mereka berdua.
......................
Semuanya berjalan tenang, misi demi misi bisa Sandra selesaikan, bahkan kehidupan sekolahnya juga berjalan dengan baik.
Hari ini, Sandra ada kelas mengajar di kelas IPA Lima, perkumpulan murid-muridnya yang luar biasa dan beraneka ragam bakatnya, juga kepribadian dan sifat yang tidak biasa, semua keunikan dan warna diri mereka tergabung dalam kelas yang disebut sebagai kelas legenda, 12 IPA Lima.
Dan hari ini juga adalah hari pertama setelah bocah-bocah itu ujian, setelahnya mereka akan melalui beberapa ujian lagi sampai pada ujian Nasional dan akhirnya lulus.
Sandra mengedarkan pandangannya satu persatu menatap anak-anak didiknya yang sedang sibuk mencatat materi yang ada di papan tulis.
"Bu, kenapa? Kok kayaknya galau?" Celetuk Aska pura-pura tidak tau, matanya melirik manja ke arah Sandra, meski begitu tangannya tetap menulis, agar Sandra tidak marah dan tidak membentaknya.
"Oh yang ntuhh, Bu jadi yang mana? Mau kami bantu pilihin?" Aska dengan senyuman lebar mengundang menaik-turunkan alisnya dengan bangga.
"Ada apa sih?" Kini giliran Ami yang bertanya, salah satu murid cerdas di kelas Sandra, dia juga seorang sekretaris.
"Ytta dong, yang tau tau ajaa." Aska tertawa lebar, sepertinya moodnya dalam keadaan yang bagus sekarang.
Sandra diam sejenak, dia menarik napasnya dalam-dalam. Aska tidak sepenuhnya salah, faktanya Sandra memang masih bingung soal pernikahannya sendiri.
Dia menatap anak muridnya,
Harus ku undang gak sih bocah-bocah ini di pesta pertunangan itu? Nanti kalo diundang, mereka rese, Cepu, berisik buat ulah, kalo enggak di undang pasti nangis, ngadu nasib ke medsos, dan kalo disekolah pasti bakal marah, ngambek dan nyuekin. Sulit juga punya murid-murid moody-an.
__ADS_1
Sandra menghela napasnya, dia masih menimbang-nimbang keputusannya, apalagi dikelasnya muncul berbagai macam jenis anak-anak, terkhususnya yang modelan seperti Aska dan Alan, si rempong narsis yang bikin geli tapi juga mereka yang meramaikan suasana.
"Bu? Mas yang murah senyum yang kemarin aja Bu, ganteng lagi, dia detektif YK kan Bu? kami tau, kemarin liat di tivi." Tambah Alan memberi saran, maksud bocah itu Sandra disuruh memilih Hainry kan?
"Nah, kalo yang itu Aska juga setuju sih Bu, ibu kan rada galak, kayaknya mas itu murah senyuman, klop tuh Bu. Dibanding Abang--"
"Diam Alan, Aska, sebelum kalian ibu tentang keluar." Ancaman Sandra sukses besar membungkam mulut lemes kedua bocahnya itu, meski begitu tampak Akan dan Aska masih berbisik-bisik penuh senyuman melirik-lirik Sandra.
Jihan diam, dia fokus menulis saja, dia mulai tidak tertarik berinteraksi dengan orang lain, suaranya seperti sulit keluar, sepertinya dia belum siap terjun ke dunia sosial sepenuhnya. Tapi sepertinya Jihan tau, siapa yang Alan dan Aska maksud, dia pasti adalah Hainry. Soalnya Jihan tau, Jika itu anggota Detektif YK71, maka Sandra paling dekat dengan Hainry.
Jihan tidak akan pernah lupa bahwa Hainry dan Sandra sering pergi bersama untuk mengunjungi dirinya.
"Hey anak-anak, tanggal 15 bulan depan ibu akan tunangan, kalian datang gak? Oh ya, tunangannya sama Mas detektif YK yang kalian bilang."
Ujar Sandra setelah dia memikirkan keputusannya agak lama. Tidak salah juga, soalnya anak-anak murid yang sudah dijaganya ini, mereka juga adalah orang-orang yang selalu menantikan hari pernikahan Sandra.
Suara kelas yang tadi agak berisik dengan suara bisikan dan tawa-tawa pelan tersembunyi, kini mulai hening sepenuhnya.
Mereka semua mengunci pandangannya pada Sandra, menyerahkan fokusnya untuk mencerna kalimat yang baru saja Sandra katakan.
"Hah?"
" Apa Bu?!"
"Seriusan?"
" Yang bener?!!!"
__ADS_1
Serta masih banyak lagi reaksi random yang mengekspresikan keterkejutan mereka dengan berita yang Sandra sampaikan barusan.