
...**************...
Percaya kan?
Ini hari H-1 pertunangan Sandra.
Benar.
Ini hari yang sangat sibuk untuk gadis itu. Apalagi saat ini sudah tersebar kabar bahwa pewaris keluarga Klaun, ternyata adalah Hainry sang detektif YK. Selama ini dibanding dikenal sebagai penerus tunggal Klaun Grub, Hainry lebih dikenal sebagai Detektif YK yang berhasil menyelesaikan banyak kasus besar atau kecil bersama tim YK71.
Nama Hainry yang tanpa Klaun sudah harum dan terkenal, apalagi sekarang sudah terbongkar identitasnya sebagai penerus keluarga Klaun, keluarga paling kaya dan nomor satu di negara ini.
Hainry, manjadi top 1 list suami idaman di negara ini, rasa-rasanya tidak akan ada satu gadis pun yang akan menolak Hainry.
Tampan? Jelas!
Kaya? Masa harus ditanya?
Cerdas? Dia detekfi YK!
Pemberani? Ayolah, 1 lawan sepuluh Hainry masih bisa menang.
Dan lihat, siapa calon pengantinnya?
Sandra Andrafana yang saat ini masih tertidur nyenyak, nyaman dalam balutan selimut yang menghangatkan tubuh ditengah musim hujan ini.
"Woy San, bangun kek." Eca masuk begitu saja ke dalam kamar Sandra.
Semenjak Sandra tinggal di rumah utama keluarga Andrafana yang ada sang kakek, Eca juga tinggal disini untuk membantu Sandra dalam banyak hal, membantu ini dan itu, banyak sekali.
Saat pertama kali Sandra tidur di rumah ini, dia merasa agak tidak nyaman, seperti perasaan yang hangat namun asing, Sandra tinggal di kamarnya saat masih kecil ketika menginap di rumah ini.
Banyak yang berubah, banyak yang asing, tapi nuansanya masih tetap sama. Kadang Sandra tertidur nyenyak disini, kadang juga tidak, soalnya bayang-bayang masa kecilnya terus datang menemani tidurnya, bukannya dia tidak suka, terkadang itu rasanya sesak juga.
Apalagi akhir-akhir ini Sandra sedang dalam suasana hati yang sensitif, ini mendekati salah satu hari penting dalam sejarah hidupnya.
"Apaa, masih pagi buta, ngantuk tau." Meski begitu Sandra tetap membuka matanya, tadi malam dia tidak bisa tidur, itu sulit karena bayang-bayang pertunangan terus tergambar dipikirkannya.
__ADS_1
"Siap-siap lah kocak, besok mau tunangan juga. Harus mastiin gaunnya, ukuran sepatunya nyaman atau enggak, mahkotanya." Ujar Eca lagi, dia cukup semangat dengan pertunangan sepupunya ini.
"Iya, iya mandi dulu." Sandra bangun, dengan malas tentunya, dia berjalan perlahan menuju kamar mandi.
Eca menatap punggung Sandra sebentar, sebelum akhirnya kalimat tanya itu keluar. "Dapat gak gelangnya?"
"Dapat kok, nanti sore mau dianter Fladilena, santai aja."
"Oke, makasih, siap-siap terus turun ya." Eca bangkit berdiri, dia berjalan turun ke bawah.
Di lantai bawah, sudah ramai sekali orang lalu lalang kesana kemari, semuanya sibuk, dekorasi juga terjadi di rumah ini.
"Hey, berhenti Eca."
Panggilan dari suara yang amat sangat akrab ditelinga menghentikan langkah Ecalica. Dia berhenti, memutar badannya, tidak perlu melihat wajahnya, Eca sudah jelas tau siapa pemilik suara yang sering menyakiti hati kecilnya.
Hanya ibunya, Claudia Andrafana yang mampu melakukan itu. Hanya Claudia yang berbicara seperti itu pada Eca.
"Ada apa? Kalau enggak penting-penting banget, aku males, aku cape, aku pengen kesana kemari, masih banyak kerjaan disini. Kalau soal kerja manggung sama syuting, semuanya udah selesai, kakek juga yang perintahkan buat aku libur hari ini dan besok, semuanya untuk bantuin Sandra. Jadi stop nyuruh aku kerja." Eca menjelaskan situasinya sebelum sang ibu murka lebih besar, soalnya dari mata dan ekspresinya saja Eca sudah sangat tau kalau Claudia sedang marah besar saat ini.
Jelas sekali dari kerutan wajahnya, dia murka, dan tangannya gemetar, Eca yakin sang ibu berusaha sekuat tenaga untuk menahan tanganannya agar tidak menampar Eca. Soalnya, biasanya juga begitu. Tapi saat ini Claudia tidak bisa melakukan itu, karna hari ini dan besok Eca harus kesana kemari, memunculkan wajahnya di depan publik, dia akan sangat sibuk, jadi tidak mungkin sang ibu ini akan merusak wajah putrinya dan mengundang banyak skandal buruk soal dirinya dan keluarganya.
Claudia membanting kasar pintu itu, menatap kasar Eca juga.
"Ini kan yang kau inginkan? Apa kau sudah puas mempermalukan ku, ibu mu ini sudah berkata pada teman-teman ibu bahwa yang akan menikah dengan penerus Klaun adalah kamu, putri ku satu-satunya! Tapi lihat, siapa yang akan menikah dengan Hainry, si itik buruk rupa itu." Akhirnya kemarahan Claudia terlampiaskan dengan beberapa kalimat, walau dia ingin sekali memukul wajah putrinya.
"Oh? Gitu ya, kasihan banget, turut berduka cita ya." Jawab Eca enteng, dengan sadar, tanpa ekspresi dan suara yang menyebalkan.
" Kau ...!" Claudia menahan tangannya di udara, dia nyaris menampar keras pipi putrinya sendiri.
"Kau bodoh! Dasar anak sialan tidak tau diuntung! Apa kau tidak mengerti?! Apa yang coba ku lakukan saat ini adalah untuk mu! Aku akan menjadikan mu gadis paling beruntung, paling kaya, kau akan jadi yang paling dihormati! Aku melakukan ini untuk mu, hingga semua gadis yang hidup di negara ini akan mengatakan iri pada mu karna kau mendapatkan semua keberuntungan yang ada di dunia ini! Kecantikan! ketenaran! Nama keluarga! Suara yang indah, bahkan suami luar biasa seperti penerus Klaun! Kau bisa mendapatkannya kalau mengikuti perintah ku, aku menjadikan mu sebagai pemeran utamanya, dasar bodoh!"
Sakit.
Sesak.
Walau Eca bilang berulang kali dia membenci sang ibu, tetap, dalam hati kecilnya Eca tetap menyayangi perempuan jahat dihadapannya ini. Terlepas dari kejahatannya, Claudia tetaplah ibu kandung Eca, dan Eca mengerti akan hal itu.
__ADS_1
"Terima kasih ya, tpi penerus Klaun itu tidak mencintai ku, dia mencintai Sandra, lantas aku bisa apa?" Eca menaikkan kedua bahunya tak mau tau.
"Kau bisa melakukan playing victim! Aku kan sudah menyuruh mu untuk memanfaatkan media, fans, dan nama baik mu untuk mendapatkan Hainry, kita bisa menjebak Hainry dan Sandra jika kau mau!"
"Itu dia, sayangnya aku gak mau dan gak tertarik." jawab Eca.
"Itulah kenapa kau anak yang bodoh, ak--"
"Hentikan itu ibu, meski aku putri kandung mu, meski aku darah daging mu, tidak menjamin aku sama persis dengan mu, karna aku putri mu, bukan berarti apa yang menjadi keinginan mu juga menjadi keinginan ku." Eca memotong ucapan Claudia, dia menatap netra mata sang ibu dengan lekat.
"Ibu, berhenti memaksakan apa yang kau inginkan harus aku dapatkan. Karna semua itu hanya keinginan mu, semua yang aku dapatkan, sejak awal adalah hal-hal yang ingin kau dapatkan dulu kan?"
"Dulu kau ingin jadi artis, tapi sayang wajah mu tidak secantik itu."
"Dulu kau ingin menjadi penerus Andrafana, tapi sayang paman Karl, ayah Sandra lebih cocok dengan posisi itu."
"Ibu, dulu kau ingin memiliki suami yang kaya dan hebat, seperti Hainry, tapi kau gagal mendapatkannya, kan?"
"Ibu, apapun yang kau inginkan, kau ingin aku mendapatkannya. Tapi aku katakan, bahwa apa yang ibu inginkan, bukanlah sesuatu yang aku inginkan. Jadi berhenti, lepaskan ambisimu, dan jalani hidup dengan berani."
Eca menghela napasnya, dengan ekspresi datar yang tidak berubah, Eca keluar dari ruangan itu meninggalkan sang ibu yang diam terpaku.
Claudia masih membatu karna ucapan menohok putrinya.
Terlepas apa yang Eca katakan itu benar atau salah, tapi Claudia merasa sangat kesal, dia membenci situasi dan kondisi saat ini.
"Sial!"
"Sial!"
"Sialan kau Sandra! Bocah terkutuk! Kenapa kau tidak mati saja seperti ayah mu! Harusnya aku juga membunuh mu setelah ayah dan ibu mu tiada! bocah sialan! Bukan hanya merenggut penerus Klaun dari putri ku, kau juga meracuni pikiran putri ku untuk berada di pihak mu!"
"Kurang ajar!"
"Lihat saja, apa yang tidak bisa aku lakukan belasan tahun yang lalu, akan aku lakukan saat ini."
"Kau sangat merindukan ayah mu kan? Tenanglah bocah sialan, bibi mu yang baik ini akan mengabulkan permintaan mu, aku akan segera mengirimkan mu ketempat ayah mu berada. Memang, harusnya sejak dulu kau ikuti saja jalan ayah mu ke neraka, harusnya aku membunuh mu juga!"
__ADS_1
Claudia mengambil ponselnya, dia menelpon seseorang, entah siapa orang yang tersambung di telepon sebrang sana.
"Sabotase rem mobil yang akan Sandra pakai menuju mansion keluarga Klaun, besok. Kalau kau gagal, ingat istri dan putri mu juga akan tiada."