My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 41


__ADS_3

...****************...


Nafasnya berat.


Tangannya sakit, sulit untuknya bergerak disaat kedua kakinya terikat.


Dia adalah Afiza, bocah kecil yang duduk di sebuah kursi dengan seluruh tubuhnya yang diikat dengan tali tambang.


Sangat keji.


Terlihat jelas luka goresan di wajah Afiza, mulutnya masih ditutup dengan lakban, air mata tidak henti mengalir.


Fiza gemetar.


Dia takut.


Siapapun tolong dia.


Menatap tiga penjaga dihadapannya saja sudah membuat jantungnya berdegup kencang.


Belum lagi rasa sakit di ujung jempolnya yang terasa perih, karna ujung jempol itu disulut dua buah rokok tadi.


Hanya Fiza yang ada di ruangan ini, karna sisa anak-anak lainnya sudah dibawa menggunakan Box hitam.


Tidak tau.


Entahlah, Fiza juga tidak mengerti kenapa hanya dia yang tersisa.


"Bos bilang kita harus bunuh gadis kecil ini, sekarang!" Ujar salah satunya.


Akhirnya Fiza tau, kenapa hanya dia yang ditinggal?


Karna hanya dia yang akan dibunuh, dia satu-satunya anak yang diculik yang akan mati.


Ketakutan menyelimuti seluruh tubuh Fiza, dia tidak akan pernah lupa bagaimana nada pria itu berbicara dengan mudah soal menentukan kehidupan dan kematian Fiza.


Apa salah bocah kecil itu? Dia hanya menjalani kehidupan sekolah, pulang, dan makan, tidur juga main.


Apa dosanya hingga dia harus terdampar di tempat yang keji ini? Memaksa telinganya terbuka untuk mendengar rencana tentang pembunuhan dirinya sendiri.


Dia hanya anak kecil. Tapi harus merasakan kematian yang mendekat dari detik ke detik.


Anak kecil yang tidak tau apa-apa.


Manusia pada kenapa sih?


Apa kini manusia sudah menggantikan tugas iblis? Rasanya manusia sendiri lebih keji dari iblis yang kejahatannya sudah melegenda dimana-mana.


"Tidak bisa, masih ada orang lain disini. Mungkin itu polisi." Bantah salah satu diantara mereka.


"Dia masih ada di atas kan? Dia masih ada di dalam, mungkin masih ada timnya."


Fiza memejamkan matanya, ketakutan yang membuatnya menggigil bisa menghempas rasa sakit yang tubuhnya alami. Padahal seragam Fiza sendiri sudah robek karna baru saja dicambuk dengan keji.


Fiza tidak menangis,

__ADS_1


Bukan dia tidak ingin menangis, dia hanya menahan air matanya, memastikan mulutnya tidak mengeluarkan ringisan.


Atau seperti biasanya, Fiza yang akan ditampar jika mengeluarkan suara. Terakhir kali Fiza ditampar, darah keluar dari hidungnya. Dan itu sangat menyakitkan, itu juga melukai bibir bocah mungil itu.


Bahkan rambut Fiza yang semula cukup panjang, kini sudah sangat pendek seperti anak lelaki, dia benar-benar dipermainkan, dia benar-benar disiksa, fisik dan psikisnya.


Orang gila.


Pelakunya adalah psikopat, mereka gila.


Fiza ingin berteriak, memanggil siapapun yang ada di ruangan atas sana. Tapi dia tau, sebelum orang itu bisa menolongnya, maka Fiza duluan yang akan mati.


Bagaimana rasanya mati?


Memikirkannya diatas kasur sembari menatap langit-langit kamar mungkin adalah angan-angan banyak orang.


Tapi, bagaimana jika pertanyaan itu muncul di kepala Fiza saat ini.


Bagaimana rasanya mati?


Pertanyaan yang kini sudah hadir di kepala seorang anak kecil, yang tubuhnya dipenuhi luka, diikat, disiksa, dan didepannya ada orang-orang keji yang siap membunuhnya kapan saja.


Seperti apa rasanya.


Membayangkannya membuat Fiza begidik ngeri.


Dia nyaris gila sekarang.


Badannya sudah menggigil saat dia membayangkan rasa sakit yang akan dia terima nanti.


"Tidak ada suara lagi." Kata salah satunya.


"Kalian berdua pergi ke atas, periksa keadaan, aku akan tetap disini bersama bocah ini. Jika dia bersiap menembak, turunkan ancaman, kita akan membunuh anak ini jika dia berani macam-macam."


"Baik."


Dua orang berjalan pergi menuju pintu atas, pintu rahasia di lantai rumah tadi. Sedangkan sisa satunya menjaga Fiza yang duduk lemah disini, dengan sebuah pistol di kepala Fiza.


"Polisi atau Detektif?"


Penculik itu tetap waspada, dia melirik ke arah Fiza yang ketakutan, matanya terus mengeluarkan air mata.


"Sayang sekali yang dipilih untuk mati adalah kau, padahal jika kau dewasa pasti sangat cantik, dan sangat memuaskan jika diatas tempat tidur kan bocah?"


Gila.


Bajingan gila ini benar-benar tidak waras.


Sangat tidak beradab.


Bagaimana bisa dia mengatakan hal segila itu di depan anak kecil yang bahkan tidak tau apa-apa.


Pria itu menjilat bibirnya sendiri dengan mesum, dia menatap Fiza mungil dengan nafsu.


Bukh!!!

__ADS_1


Seseorang menendang pria itu sebelum dia berhasil menyentuh Fiza mungil.


Dia adalah Sandra.


Sandra masuk dari pintu lain, Sandra segera melumpuhkan pria itu dengan obat bius yang selalu dia bawa.


"Diam dan menurut, aku akan menyiksa mu nanti, bajingan sialan!"


Sandra langsung memborgol kedua tangan penculik itu. Perlahan-lahan dia tertidur tanpa mengatakan apa-apa lagi, bahkan sebelum dia bisa memanggil rekan-rekannya untuk meminta bantuan.


Sandra melirik sekilas ke arah Fiza.


Ngilu,


sakit,


sesak,


Sandra tidak melakukan kehahatan apapun, tapi rasanya dia dipenuhi dengan dosa karna butuh waktu agak lama untuknya menyelamatkan bocah ini.


Sandra menarik telunjuknya, dia tempelkan di bibirnya, sebuah isyarat untuk Fiza tetap tenang, dan diam, agar sisanya Sandra yang mengurus segalanya.


Fiza mengangguk walau agak sulit. Meski agak takut, dia sedikit lebih tenang, karna ada seseorang yang menolongnya, yang berdiri di pihaknya sekarang.


Sandra berjalan perlahan, bersembunyi dibalik tangga, dimana tangga itu adalah penghubung ruang bawah tanah dengan pintu yang menuju gubuk.


Sandra diam, tenang, saat langkah-langkah kaki terdengar di tangga, mereka pasti sedang berjalan menuju ke arah bawah.


Dor Dor Dor!!


Belum sempat mereka siaga, Sandra sudah menyerang mereka dengan tiga tembakan, dua tembakan di satu tubuh, bagian bahu dan perut. Satu tembakan lagi di tubuh pelaku satunya, di bagian kaki, hingga Sandra bisa melumpuhkan keduanya.


Satu pelaku yang terkena tembakan diperut langsung terduduk, tidak bisa bangkit lagi, untuk bergerak sangat sulit baginya, bahunya juga terasa nyeri.


"Arghh sialan!!"


"Detektif bajingan!!"


Dor!


Satu tembakan, pelaku itu daratkan. Pelaku yang hanya tertembak di kaki, dia masih bisa bergerak dan sedikit berjalan.


Bukan untuk Sandra


Tapi untuk Fiza yang masih duduk terikat dengan ketakutan.


Sandra berlari secepat mungkin, hingga peluru itu berakhir mendarat di perutnya.


Tembakan itu berhasil mengenai Sandra.


Dor!


Satu tembakan Sandra berikan pada pelaku yang kini berusaha lari itu, tembakan itu terkena punggungnya. Dan tepat saat itu Sandra juga jatuh terduduk dilantai, dengan satu tangannya yang memegangi perutnya di tempat dimana ia tertembak.


Pistol sang pelaku sudah kosong, pelurunya sudah habis, dia tidak memiliki senjata apa-apa lagi.

__ADS_1


Pria itu dengan luka di kaki dan punggung, berusaha berlari dengan terpincang-pincang. Sepertinya keinginannya untuk hidup sangat kuat.


__ADS_2