
"Itu hanya cerita belaka yang mulia, tanpa bukti bisa saja itu menjadi kesaksian palsu." Ulang Jean lagi, setelah dibayar mahal dia harus melakukan sesuatu kan?
"Kalau itu anda tenang saja saudara Jean, kami punya bukti yang mendukung pernyataan saksi. Yang mulia, izin memutar rekaman cctv penyiksaan yang dilakukan tersangka." Viona menjawab dengan tenang, soalnya dia punya banyak bukti yang sudah Sandra kumpulkan.
"Baiklah, diizinkan, tampilkan rekaman itu."
Sandra masih tenang, wajahnya memang agak memerah saat mendengar Amika bercerita, memang tidak mudah pastinya untuk Amika mengumpulkan segala keberanian dan berada disini. Mengakui segalanya dan bersiap atas konsekuensinya.
Sandra mengingat kembali saat dia mendapatkan cctv di ruangan itu, saat itu Sandra memberikan cctv tua usang dan rusak pada Rafael.
Tapi siapa sangka? cctv yang harusnya tidak bisa dilihat lagi malah bisa diperbaiki oleh Rafael yang akhirnya video tertampil di depan.
Semua orang kembali hening, semua kembali senyap, mereka semua kembali melihat layar yang ada di depan. Layar itu mulai menampilkan penyiksaan yang Claudia dan Leon lakukan kepada ibu hamil dan supir ayahnya.
Sandra menggenggam tangannya erat, saat dia melihat Adit diseret ke sebuah pintu, kepalanya dibenturkan disana dengan sangat keras hingga mengeluarkan banyak darah.
Warna pintu semerah darah?
Aslinya pintu itu hanya berwarna coklat. Tapi darah Adit membanjiri pintu itu hingga warnanya berubah, untuk menutup warna darah itu, Claudia dan Leon mengecat kembali pintu itu dengan warna merah yang semerah darah.
Sakit
Perasaan Amika dan Afiza yang melihat ini juga pasti sakit. Sandra sudah bilang gar Afiza tidak perlu datang, tapi anak kecil itu memaksa untuk datang karna dia ingin mengetahui segala kebenaran nya, karna dia juga ingin menunjukan pada dunia, bahwa sang ayah tidak pernah melakukan semu kejahatan itu dengan sengaja, semuanya karna dipaksa.
"Iblis! Bagaimana bisa kalian menyiksa ibu hamil itu! Bagaimana jika dia keguguran! Anda adalah seorang ibu juga kan? Bagaimana bisa anda menyiksa dan mencambuk perempuan yang sedang hamil?!" Teriak salah satu wartawan, itu refleks saja karna dia tidak tega melihat Amika dalam video yang disiksa menggunakan cambuk padahal saat itu Amika sedang hamil.
"Hey!! Itu kepala manusia, bagaimana bisa kalian melakukan itu!"
__ADS_1
"Keji sekali! Apa kalian sungguh manusia?"
Umpatan itu langsung berbalik untuk Claudia dan Leon.
"Harap tenang!"
Satu suara lantang itu kembali menenangkan suasana persidangan, meski begitu masih banyak bisikan umpatan yang mereka layangkan untuk Claudia.
"Video itu palsu yang mulia!!" Bantah Claudia dan Leon bersamaan, keduanya berusaha lari dari hal yang dulu jelas-jelas pernah mereka lakukan.
"Itu fitnah! Kami tidak melakukan itu yang mulia!!" Teriak Leon yang sama kuatnya dengan Claudia, dia berusaha mati-matian membantah bukti yang sudah Sandra paparkan.
Gerald menatap sang ayah tidak percaya, dia tidak pernah tau ayahnya sepecundang itu hingga harus mengancam dan menyiksa orang-orang yang tidak berdaya, bukan orang itu adalah kepercayaannya Tuan Karl.
Gerald bahkan tidak sanggup menonton video itu, dia bahkan tidak sudi menatap wajah sang ayah lagi.
Mereka yang hadir jadi ikut murka, karna seorang ibu hamil tidak berdosa ikut tersiksa hanya karna ambisi akan harta orang-orang diatas sana.
Mereka marah, umpatan langsung melayang kepada Claudia selalu pelaku pencambukan kepada ibu hamil, mereka mulai mempertanyakan rasa keibuan yang ada pada Claudia.
Sandra melirik Amika sebentar, nampaknya dia lebih kuat, walau air mata masih terus mengalir dari matanya.
"Semua bukti ini asli, ini surat keasliannya." Tegas viona memberikan surat pada petugas yang langsung memberikannya pada hakim.
"Surat ini asli, video ini juga asli." Hakim memperjelas situasinya.
"Yang mulia, keberatan--!"
__ADS_1
"Saksi dan bukti sudah jelas semuanya, saudara Sandra, apa ada bukti lainnya?" Hakim menatap ke arah Sandra di depannya.
"Tidak yang mulia." Jawab Sandra, tegas, lantang, dia masih berdiri dengan kuat. Segala prosesnya sampai disini menjadikan kakinya pilar yang kuat, tidak akan dia runtuh apapun yang terjadi di pengadilan ini.
Karena pengadilan ini, adalah peperangan untuknya memenangkan keadilan atas nama ayah dan ibunya, tidak peduli siapapun lawannya.
"Baiklah, dengan segala kesaksian yang diperkuat oleh banyak bukti, Terdakwa Claudia Andrafana dan Leon Andrafana, dihukum penjara seumur hidup atas penyiksaan terhadap Adit Ahmadi, dengan Saudari Amika Zahira, juga dihukum atas pembunuhan berencana atas korban Karl Andrafana dan Shizea Fii Andrafana."
Tuk Tuk Tuk
Tiga ketukan yang artinya putusannya sudah final, tidak akan bisa diganggu kecuali para terdakwa mengajukan banding, tapi sepertinya dengan situasi yang kacau seperti ini, dengan segala saksi dan bukti yang ada mana mungkin mereka akan mengajukan banding kan?
Suasana hening, mereka masih tidak percaya bahwa Claudia yang anggun dan elegan melakukan hal keji seperti membunuh saudara sendiri dan menyiksa ibu hamil.
Leon Andrafana yang katanya bijaksana dan punya banyak yayasan, bisa-bisanya membunuh saudaranya sendiri demi harta, dan menghantukkan kepala orang lain di pintu dengan darah yang sudah bermuncratan.
"Mereka bohong yang mulia! Sandra! anak terkutuk sialan itu berbohong! Aku bahkan tidak kenal dengan perempuan yang bersaksi itu! Sandra dia penipu yang mulia, anda dibohongi! Itu tidak benar, semuanya palsu! Semuanya hanya rekayasa Sandra semata! Karna dia iri pada putri ku Ecalica! Dia iri pada ketenaran putri ku! Dia ingin aku tutup mulut, dia ingin isu soal dirinya ditutup!" Claudia seperti orang gila saat ini, mencoba membela dirinya sendiri se-gigih mungkin, dia yang biasa terlihat elegan dan berpendidikan, mendadak seperti iblis yang kacau.
"Persidangan sudah selesai, silahkan bawa para terdakwa, mereka akan dipenjara seumur hidup." Ulang Hakim.
"Kalau begitu, saya ingin menuntut Sandra Andrafana juga atas pembunuhan berencana terhadap putri ku Ecalica Andrafana!" Benar, dalam hati Claudia, walaupun dia harus dipenjara, maka setidaknya Sandra juga harus dipenjara, dia tidak akan rela dan ikhlas, jika dirinya dipenjara sementara Sandra hidup bebas dan bahagia dengan Hainry.
Semua fokus kembali datang apa Sandra, Sandra bisa merasakan ratusan mata yang menatap dirinya. Tapi bedanya kali ini, tidak ada lagi bisikan-bisikan kejam, hanya ada sebuah tatapan, barangkali mereka menanti pembelaan Sandra?
Mereka memfokuskan mata, telinga, dan kamera untuk melihat dan mendengar apa yang Sandra katakan untuk membantah tuduhan itu, mereka akan mencerna jawaban itu secara seksama, masuk akal atau tidak.
Setidaknya semua hadirin disini mempelajari hal baru, bahwa sebelum langsung menilai ada baiknya mereka menunggu penjelasan dua sisi lebih dulu, lalu pikirkan baik-baik mana yang menurut mereka benar dan salah. Setidaknya mereka tidak akan langsung mengambil kesimpulan hanya dari satu sisi saja.
__ADS_1
Dan saat ini, setelah Claudia melayangkan tuduhan itu, mereka tidak langsung percaya dan menghakimi Sandra. Mereka masih menunggu bibir Sandra bergerak untuk mengatakan pembelaan versinya, mereka menanti cerita dari sisi Sandra.