
...*************...
Fladilena menghela napasnya, akhirnya pelaku sudah tertangkap. Fla menatap jijik ke arah pelaku yang sedang berjalan dengan tangan diborgol, dan sudah mengenakan baju orange.
Dia dikawal oleh banyak polisi, semua pelaku sudah ditangkap, hanya tinggal menunggu persidangan agar mereka bisa dihukum seberat-beratnya.
Fla memegangi lehernya, dia sangat pegal, mungkin sejak dua hari lalu dia hanya tidur enam jam saja. Dia sangat sibuk mengurus ini dan itu, apalagi yang berkaitan dengan polisi harus mengurus ini dan itu sesuai prosedur yang ada.
"Tampaknya kau bekerja sangat keras."
Suara di belakang Fla sedikit mengangetkannya, suara yang terdengar agak familiar.
Fla menoleh ke kanan, tepat disebelahnya berdiri sang keturunan Andrafana yang terkenal, dia Gerald.
Fla juga tidak tau, kenapa Gerald malah datang ke tempat ini, padahal jelas-jelas sebagai CEO Andrafana Grub yang baru, Gerald pasti sangat sibuk, bisa-bisanya dia menyempatkan waktu datang kesini.
"Ah, Irjen Gerald. Lama tidak bertemu, dan ya ngomong-ngomong terima kasih atas bantuan mu, aku akan membalasnya lain kali." Fla tersenyum hangat, dia tulus kalau soal ini. Dia baik terhadap orang yang baik juga padanya.
"Untuk orang seperti Detektif Fladilena, saya pikir anda terlalu terang-terangan menyindir saya, tidak mungkin seorang detektif hebat seperti anda lupa bahwa saya tidak lagi menjabat sebagai Irjen, karna saat ini saya CEO dari Andrafana Grub, Nona Fla."
"Aku tau kok, sengaja aja." Fladilena tersenyum tanpa dosa. Fla pribadi sering sekali menghubungi Gerald untuk meminta bantuan saat dia punya sedikit konflik dengan para polisi ketika menyelesaikan misi, dan senangnya semua urusan dengan polisi menjadi lebih mudah berkat Gerald.
Makanya Fla tidak akan mau kalau harus asing dengan Gerald, dia sudah nyaman dengan bantuan yang dia terima selama ini.
"Ya, ngomong-ngomong dimana Hainry?" Gerald datang kesini hanya untuk mencari Hainry, memastikan seperti apa Hainry itu, soalnya Gerald masih takut kalau Hainry benar-benar mendekati adik sepupunya Sandra.
Bisa bahaya, Gerald tidak ingin melihat Sandra sakit hati dan terluka lagi. Soalnya gaya Hainry selama ini seperti pria friendly yang suka menebar pesona dengan para wanita, benar-benar cirikhas playboy.
Makanya, kalau sulit untuk Gerald menjauhkan Hainry dari Sandra, setidaknya dia harus memastikan Hainry adalah pria baik-baik yang tidak akan pernah menyakiti Sandra.
__ADS_1
"Oh detektif Hainry? Dia pergi ke rumah sakit mengunjungi para korban dengan Kapten kami, ada urusan apa ya? Mungkin aku bisa menyampaikannya, tapi kalau itu urusan personal dan cukup pribadi, aku tidak akan ikut campur."
Gerald diam sebentar.
"Bukan urusan pribadi, santai saja."
Kalau dipikir-pikir, Gerald ingat dia sempat beberapa kali bertemu dengan sang kapten detektif YK71 yang misterius dan identitasnya selalu tersembunyi, tidak ada yang tau siapa nama asli Kapten YK71, tidak ada publik juga yang tau seperti apa wajah dibalik masker sang kapten, termasuk Gerald.
Tapi, ada perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan ketika Gerald beberapa kali berbicara dengan sang Kapten YK71. Perasaan yang nyaman berbicara pada seseorang yang asing, padahal Gerald pribadi selalu merasa risih ketika berbicara dengan orang asing.
Aneh
Kalau aku tidak salah ingat, dulu detektif Hainry bilang, dia sudah bertunangan dengan kapten itu kan? Dan sekarang dia mencoba mendekati Sandra? Berani-beraninya ...! Beraninya dia mendekati putri Andrafana saat dia sudah bertunangan dengan orang lain!
Gerald tidak akan pernah melupakan itu, pertemuan pertama mereka, dimana percikan api sudah menyala antara Gerald dan Hainry. Malam itu, Hainry bilang dia sudah bertunangan dengan sang kapten, dan itu terdengar begitu jelas di telinganya.
"Anda sudah makan? Mau makan? Saya baru gajian, dan untuk mengungkapkan rasa terimakasih saya, bagaimana kalau sekarang kita makan bersama, saya yang akan bayar?" Fla mengedipkan satu matanya dengan senyuman yang ramah.
Gerald menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis. "Akan saya katakan, saya suka makanan yang mahal-mahal." Gerald menaikkan sebelah alisnya, mencoba memasang ekspresi yang menantang.
"Astaga, kalau gitu saya batalkan saja, saya tidak tertarik menghabiskan gaji saya hanya untuk makanan anda." Fla menggembungkan pipinya, terkadang gadis serius ini bisa terlihat imut juga. Ah Sandra yang seperti itu juga kadang bisa terlihat imut.
"Saya sudah memutuskan tempatnya, ayo berangkat dan habiskan gaji Anda nona detektif."
...----------------...
"Bagaimana keadaan mu? Sudah lebih baik anak manis?"
Tanya Sandra ramah pada Afiza yang terbaring di kasur rumah sakit dengan tubuh penuh perban, juga ada Amika disana yang selalu setia menjaga Fiza.
__ADS_1
Yang duduk di kursi ada Rafael yang bermain game, dan Hainry yang sibuk dengan laptopnya, entah apa yang dia lakukan, tapi terserah saja asal tidak mengganggu Sandra tidak masalah.
"Sudah Kak, terimakasih! Tapi, kenapa kakak pakai masker? Padahal kakak sangat cantik saat tidak memakai masker itu?" Tanya Afiza dengan polosnya.
Eh
Sandra baru ingat, ketika dia menyelamatkan Afiza kemarin, dia tidak memakai masker soalnya itu ribet.
"Kakak sudah biasa pakai masker kok." Sandra menjawabnya dengan tersenyum, walau bibirnya tidak kelihatan, tapi matanya masih terlihat, dan Afiza tau kalau Sandra tersenyum dengan tulus.
"Terimakasih banyak!!" Tiba-tiba Amika membungkuk sembilan puluh derajat.
"Tidak, tidak apa, tidak masalah jangan khawatir. Itu semua adalah tugas kami, jadi jangan merasa begitu."
Sandra sendiri sudah merasa lebih tenang karna baik Afiza maupun Amika saat ini masih hidup, masih sehat dan berkumpul bersama lagi, hingga dia tidak perlu merasa bersalah dan terlalu terbebani atas kematian Adit sebelumnya.
Melihat Afiza dan Amika bersama, Sandra sudah lebih tenang, dan dia percaya juga Adit sama tenangnya di alam sana ketika melihat istri dan anaknya baik-baik saja.
"Anda baik sekali ..." Suara Amika lirih, dia menatap mata Sandra dengan penuh makna. Bulir-bulir hangat berjatuhan dari mata tulus seorang ibu itu.
"Ada apa? Apa ada masalah? Apa ada yang salah? Katakan saja pada saya."
Hainry dan Rafael juga sama-sama mengalihkan fokus mereka pada Sandra dan Amika, saat mendengar rintihan tangis yang memilukan dari bibir Amika.
Sandra sudah cukup khawatir, dia pikir semuanya sudah selesai, lalu ada masalah apalagi kali ini?
"Sa-saya pikir ini semua adalah salah saya dan suami saya, ini semua karna kami, apa yang menimpa Afiza mungkin adalah karma yang kami lakukan. Aku akan mengakui kesalahan ku, agar putri ku tidak lagi harus menanggung segala dosa-dosa ku. A-aku dan suami ku, sudah merencanakan sebuah kecelakaan dengan sengaja terhadap keluarga Andrafana dulu."
Tes ...
__ADS_1
Tes ...
Tes ...