
...****************...
Rumah Andrafana, yang biasanya sepi kini mendadak ramai dengan bunga dan dekorasi berdominan putih permintaan Sandra. Dia sendiri yang memilih dekorasi ini.
Hari ini, hari pernikahan Sandra Dan Hainry.
Tidak seperti pertunangan mereka yang megah dan indah, pernikahan mereka terkesan sederhana namun indah, tidak banyak tamu yang diundang, hanya orang-orang terdekat saja. Tentu diantaranya:
Ada seluruh murid alumni IPA Lima yang hadir khusus dengan jas dan gaun yang indah. Mereka yang sudah tamat SMA dan melanjutkan ke jenjang perkuliahan, menyisihkan waktu berharga mereka untuk datang di pernikahan Sandra, pernikahan yang mereka nantikan sudah sejak sangat lama.
Tentu ada anggota YK71 yang bahkan membantu mempersiapkan pernikahan ini. Teman-teman dan bawahan Hainry turut diundang.
Tidak ada satupun media yang hadir, itu karna tidak satupun dari mereka diizinkan untuk masuk.
Hanya orang-orang terdekat Sandra dan Hainry yang hadir.
Dan disana, Hainry sudah duduk dengan seorang pria agak tua yang dipercayakan oleh Sandra dan Hainry sebagai wali nikah Sandra.
Hainry sudah rapi dengan pakaiannya yang berdominan putih dan hitam, hiasan dan ukuran berwarna safir biru menghiasi pakaiannya.
Hening
Suasana saat ini hening, karna sebentar lagi akan dilangsungkan akad nikah antara putri Andrafana dan penerus Klaun.
Kakek Gheobalt dan Pak Agam ada disebelah Hainry duduk dengan pakaian yang senada, mereka tampak senang, senyuman manis terukir diwajah keduanya.
Pak Agam yang sudah menantikan hari ini begitu lama, dia begitu senang hari ini akhirnya datang, hari dimana dia akan benar-benar resmi memiliki seorang menantu, setidaknya rumahnya tidak akan begitu sepi lagi.
Pintu terbuka.
Semua pandangan menuju ke arahnya, dari pintu masuk seorang gadis yang amat sangat cantik dengan gaun putih pernikahannya, hiasan safir biru yang senada dengan Hainry tergantung indah di gaunnya.
Sandra masuk didampingi dengan Gerald yang ada disebelahnya, mengantar Sandra bak seorang putri, karpet merah yang tergelar indah menuju pelaminan dimana Hainry menunggu.
Ada Fladilena, Jihan, Yana, Sofie, yang berjalan di belakang Sandra mengenakan gaun senada sembari menebar bunga yang mereka pegang, dua dibelakang baris terakhir ada Aska dan Alan yang berjalan baik Ksatria.
Deg
__ADS_1
Detik pertama ketika Hainry melihat Sandra, dia pikir dia jatuh cinta lagi, dia jatuh cinta pada perempuan yang sama berulang kali. Jika bisa, Hainry sendiri yang ingin menggandeng tangan Sandra, tapi tidak boleh, skenarionya adalah dia harus menunggu Sandra disini, sampai Sandra yang diantar oleh Gerald duduk disebelahnya.
Tak ada yang mengalihkan pandangan dari Sandra, dia begitu cantik hari ini, benar adanya bahwa dia pemeran utama hari ini, kecantikannya mampir menyihir siapapun yang melihatnya.
Sandra sedikit gugup, namun dia lebih percaya diri, dengan Gerald yang ada disebelahnya, Sandra perlahan melangkah menuju ke Hainry yang sudah menunggunya, banyak pasang mata menatapnya dengan penuh decak kagum, dan Sandra sadar saat itu.
Tapi satu pasang mata yang tidak akan bohong, dan selalu menggetarkan hatinya. Tatapan mata Hainry yang tulus, Sandra tau benar dari mata itu kalau Hainry benar-benar tulus mencintainya. Dan Hainry saat ini terlihat tampan bak pangeran yang menantikan tuan putri.
"Duduklah." Gerald mempersilahkan Sandra untuk duduk di sebelah Hainry.
Melihat pakaian mereka yang senada, melihat Sandra atau Hainry yang penuh senyum, suara pak Agam yang ceria, wajah kakek yang berseri percaya diri dengan penuh kebahagiaan yang tulus.
Menatap para hadirin yang sudah ramai tersenyum indah ikut merasakan kebahagiaan Sandra dan Hainry.
Detik itu juga, Gerald tidak lagi bisa menghindari kenyataan bahwa beberapa saat lagi dia akan benar-benar melepas adik sepupunya itu untuk orang lain, dia akan melepas Sandra untuk Hainry.
Berat
Dan Sesak.
Karena Gerald masih merasa, waktu yang selama ini dia habiskan dengan Sandra masih belum cukup untuk meninggalkan kenangan manis untuknya.
Gerald sadar, terlalu banyak waktu yang dia buang selama ini, hingga mengabaikan Sandra kecil demi statusnya dulu sebagai Irjen.
"Apakah sudah bisa dimulai?" Pak Agam bertanya, dia tidak sabar untuk menggemakan kata sah paling kuat setelah ijab kabulnya terucap.
"Iya, siap Pa." Hainry menjawab dengan tegas, walau dia agak gugup tetap hari ini adalah hari favoritnya dan sangat dinantikan olehnya.
"Iya." Sandra mengangguk, dia juga siap untuk berpindah status dari seoranh putri menjadi menantu.
Gerald juga mengangguk, dia harus menerima fakta adiknya sudah dewasa dan siap menikah.
Walau ada banyak penyesalan untuk Gheobalt, dia belum membahagiakan cucu yang ditinggalkan oleh sang anak, dia harus merelakan Sandra dengan keputusannya.
"Baiklah akan saya mulai."
Setelah mendengar ucapan penghulu yang itu, semua fokus menuju ke arah Sandra dan Hainry, keduanya tampak sangat serasi dengan balutan gaun pengantin dengan warna dan motif yang senada.
__ADS_1
"Hainry Den Klaun, saya nikah dan kawinkan engkau dengan Sandra Andrafana binti Karl Andrafana dengan mas kawin logam mulia seberat tiga ribu dibayar tunai!"
"Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah ..."
Sahutan sah begitu menggema di ruangan itu, terutama suara pak Agam yang begitu keras, menandakan bahwa dia sedang sangat bahagia sekarang.
Tepat detik itu juga,
Sandra menjatuhkan air matanya.
Hari pernikahannya tiba tanpa sang ayah atau bunda, tanpa Eca dan sanak saudara yang lainnya, hanya Gerald dan kakek yang menemani dari pihak keluarganya.
Lantunan ayat-ayat sakral menggema, saat itu pula Sandra menunduk, mencium tangan Hainry yang sudah dipanggil sebagai suami.
Detik itu juga
Sandra menangis lagi, akhirnya dia benar-benar resmi menjadi istri pria ini.
Hainry menangkupkan wajahnya untuk mendaratkan sebuah kecupan di dahi Sandra, matanya terpejam, dia merasa nyaman dengan ayat yang dilantunkan untuk mendoakan pernikahan mereka bahagia dan sampai tutup usia.
Perlahan ...
Menatap mata Sandra lekat,
Dia mencium bibir Sandra tepat di depan semua orang, membuat semua orang yang ada disana berteriak bersorak ramai, kecuali Gerald tentunya.
Gerald bahkan tidak berhak untuk melarang Hainry yang statusnya sudah menjadi suami Sandra sah secara agama dan hukum.
Sandra memerah, wajahnya tersipu malu, ini pertama kalinya dia berciuman dengan seseorang, dan ciuman pertama itu pula yang Hainry dapatkan tepat setelah pernikahan mereka.
"Dengan ini saya nyatakan akan bertanggungjawab sepenuhnya atas Sandra, bertanggungjawab atas makanannya, kebutuhannya, kebebasannya, kebahagiaannya dan segalanya. Dengan ini saya Hainry Klaun menyatakan akan bertanggungjawab atas Sandra Andrafana terlepas dari apapun yang dia lakukan."
Deg
__ADS_1
Jantung Sandra semakin tidak karuan, sumpah janji yang Hainry ikrarkan tidak akan pernah dia lupakan, sumpah bahwa Hainry akan bertanggungjawab terhadap hidup dan kebahagiaannya.