My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 37


__ADS_3

...*************...


Sandra berusaha menahan air mata mati-matian saat ini, dia sedari tadi mendengarkan cerita Amika--istri Adit mantan supir pribadinya.


Di tengah hujan, ketiganya duduk di halte, sembari mendengarkan Amika bercerita soal dirinya, kehidupan, dan detail penculikan anaknya yang dia tau. Dan Amika juga bercerita bahwa anaknya adalah satu-satunya alasannya untuk hidup, karna itu anak dari mendiang suami yang sangat Amika cintai.


Sandra yang mendengarnya, ditumpuki rasa bersalah di bahunya. Mungkin saja, kalau Pak Adit tidak bekerja di keluarga Andrafana khususnya keluarga Sandra, mungkin Pak Adit tidak akan berakhir mengenaskan begitu, mungkin juga Amika dan putranya tidak dalam keadaan seperti ini sekarang.


Mungkin saja anak mereka tidak menjadi salah satu korban penculikan, karna Afiza--nama anak mereka, bocah itu diculik ketika pulang sekolah sendirian. Jika Pak Adit ada mungkin saja sang ayah itu yang akan menjemput anaknya, hingga anaknya tidak menjadi salah satu korban kekejian para orang gila itu.


"Dia pulang sekolah, saya yakin kejadiannya siang, karna saat pukul tiga dia belum kembali juga, saya langsung mencarinya, menghubungi pihak sekolah juga, tapi mereka bilang tidak tau apa-apa, dan membiarkan Afiza pulang sesuai jadwal, pukul satu siang." Terang Amika lagi, dengan tangis yang masih sesenggukan. Jangan minta seorang ibu untuk tenang saat malaikat kecilnya tak lagi di sisinya, itu bukan hal yang mudah.


"Terimakasih atas laporannya, kami akan segera menemukan pelaku. Tolong tetap tenang, dan hubungi saya kalau ada sesuatu yang lain." Hainry memberi kartu namanya, dia sudah mengingat detail cerita Amika.


Sandra diam saja, dia tidak mengatakan apa-apa, dia tidak bilang bahwa dia juga seorang detektif, dia juga tidak mengatakan bahwa dia adalah Sandra Andrafana, Nona kecil yang dulu Adit layani, yang dulu selalu Adit antar-jemput sekolah. Sandra tidak berani mengaku, bahwa dia putri Andrafana yang membuat suami Amika tiada.


Karna itu Sandra terima-terima saja saat Hainry memperkenalkan dirinya sebagai tunangannya. Toh, nama Sandra sebagai Andrafana tidak begitu terkenal, jadi mungkin banyak orang yang tidak tau tentang dirinya.


"Berjanjilah kau akan menemukannya! Bahkan ... jika itu hanya seonggok mayat." Suara Amika pelan, dia menunduk lesu, ternyata pikiran sang ibu ini sudah sejauh itu, pantas dia nyaris gila sekarang. Dia sudah mengkhawatirkan hal sampai sana.


"Dia belum mati, saya percaya putri anda belum meninggal, dia kuat seperti ayah dan ibunya. Saya yakin disitu tempat, di dunia ini, Afiza masih hidup dan dia menunggu pertolongan. Tolong jangan terlalu khawatir dan depresi, tunangan saya adalah orang yang hebat, dia pintar, cerdas dan juga jenius, saya yakin tunangan saya akan menemukannya!" Sandra menghampiri Amika, dia mendekat, menatap kedua retina yang kini redup. Tatapan Sandra tulus, seolah memberikan Amika ketenangan dan harapan.


Sandra menatap dengan penuh harapan, meminta agar Amika percaya saja padanya dan jangan stress apalagi sampai bunuh diri. Karna ciri-ciri yang Amika tunjukkan saat ini, sudah sampai tahap depresi berat, yang mungkin bisa mengakibatkan keinginan mengakhiri hidupnya sendiri.


"Mungkinkah ini karma? Karma itu nyata kan? Ini pasti karma dari Tuhan atas kekejaman suami ku dulu, ini pasti karma darinya untuk menegur aku dan suami ku, kan? Maafkan aku Tuhan!" Amika tampak semakin depresi, dia banyak mengomel tidak jelas soal salahnya dan salah suaminya, soal karma.


Sandra tidak mengerti apapun maksudnya, dia hanya terus mencoba menenangkan Amika yang kini terus meronta-ronta.


"Tolong tenanglah! Anda tolong tenang! Kami pasti akan menemukan anak anda! Jadi tenanglah!" Hainry sedikit meninggikan suaranya, membuat Amika berhenti berteriak dan sedikit lebih tenang.

__ADS_1


"Entahlah apa karma yang anda maksud, tapi saya yakin, Tuhan tidak akan memberikan karma balasan untuk anak-anak yang tidak tau apa-apa atas dosa orangtuanya, karna itu tolong tenang. Tunangan saya akan menyelesaikan semuanya, iya kan Hainry?" Sandra melirik Hainry, matanya mengisyaratkan agar Hainry meyakinkan Amika lagi.


"Itu benar, tolong tenanglah, kami akan berusaha untuk menemukannya." Hainry mengusap kepala Sandra pelan, sangat lembut.


......................


Sandra menyandarkan bahunya di sofa rumahnya. Kini dia sudah sampai di rumah, sudah mandi dan bersiap untuk tidur, tapi perkataan Amika soal karma dan kejahatan dirinya dan suaminya membuat Sandra tidak bisa tidur.


Afiza yang diculik saja sudah menjadi beban pikiran dan tanggungjawab yang menurut Sandra adalah salahnya dan keluarga Andrafana. Karna itu Sandra akan melakukan segalanya, mengerahkan kemampuannya dengan sungguh-sungguh untuk mencari keberadaan Afiza, yang Sandra duga masih hidup.


Dan kini Amika malah membahas soal dosa dirinya dan sang suami, yang entah Sandra tidak tau apa itu, apa yang mereka lakukan sebelumnya.


Mungkinkah dosa mencuri?


Sandra ingat cerita Pak Adit bahwa dulu sebelum bekerja bersama Karl--Ayah Sandra, Adit adalah orang yang begitu miskin, dan untuk makan saja sangat kesulitan. Karna Adit juga mengatakan bahwa dia pernah mencuri satu kali, untuk makan hari itu, mencuri ayam untuk dimakan.


Tiba-tiba Hainry datang, membawa dua gelas kopi, satu untuk Sandra dan satu lagi untuk dirinya.


Hainry ada di rumah ini, dia merengek untuk menginap disini, soalnya Hainry takut Sandra akan begadang, juga memikirkan segalanya sendirian, tekanan tanggung jawab dan pikiran yang berat, bisa-bisa membuat Sandra sakit karna terlalu memaksakan dirinya sendiri.


"Itu salah Andrafana." Sandra menerima kopinya, dia duduk lebih tegak. Dia meminum kopinya, meletakkan dimeja kembali saat tenggorokannya sudah lebih hangat.


"Kita akan menemukannya."


"Kita harus menemukannya." Sandra memeluk Hainry lebih dulu, kali ini bukan Hainry, tapi Sandra.


"Kau tau? Aku sudah menerima kabar dari Rafael barusan, dia sudah memeriksa cctvnya, dan menemukan beberapa orang sebagai tersangka."


Sandra langsung mendongak menatap Hainry.

__ADS_1


"Kita harus bergerak sekarang!"


Hainry menarik senyuman tipisnya, dia menarik Sandra lebih erat dalam pelukannya.


*Cup


Hainry mengecup kening Sandra dengan lembut. Penuh cinta dan kasih sayang.


"Aku tidak akan bisa menolak kalau gadis ku begitu bersemangat begini. Sekarang, pakai jaket mu dan kita akan pergi."


Tidak!


Sandra tidak marah.


Dibanding marah, entah kenapa dia tiba-tiba kepikiran hal ini.


"Kalau kasus Afiza selesai, ayo bertunangan, secara resmi." Sandra menatap Hainry serius.


Deg


Rasanya untuk beberapa detik waktu berhenti saat itu juga, Hainry terpaku membatu. Padahal ini yang selalu dia inginkan, tapi ketika itu terjadi Hainry malah terkejut.


Dia kaget bahwa Sandra akan benar-benar menerima dirinya, bahkan Sandra yang mengajak Hainry bertunangan secara resmi.


Jangan tanya!


Jika kebahagiaan itu adalah bunga, maka bunga di seluruh dunia ini tidak akan sebanding dengan kebahagiaan Hainry saat ini.


"Kau benar-benar tau bagaimana caranya aku bisa berambisi." Hainry mengusap kepala Sandra lembut, senyuman penuh makna dia tampilkan, sepertinya Hainry lebih bersemangat sepuluh kali lipat sekarang.

__ADS_1


__ADS_2