My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 61


__ADS_3

......................


Sandra sedang sibuk membicarakan soal dekorasi dengan ahlinya, Tuan Agam juga sedang sibuk mengobrol dengan asistennya, dia mau yang terbaik untuk pertunangan ini.


Siapa bilang bertunangan itu mudah?


Sandra harus menyiapkan banyak hal, bukan hanya keluarga Klaun yang sibuk, sebenarnya di rumah sana juga keluarga Andrafana sedang sibuk, soal undangan dan mengatur tamu.


Eca berkeliling rumah itu, Eca pergi menuju ruangan barang-barang antik, soalnya dia bilang penasaran dengan koleksi barang-barang antik keluarga Klaun, pasti banyak barang-barang aneh dari berbagai belahan dunia.


Dia melihat-lihat barang-barang itu, satu persatu, ada satu yang menyita perhatian Eca, sebuah gelang tua dari kayu berwarna coklat, namun ukurannya begitu detail dan estetik.


"Ca? Udah belum? Saran milih bunga dong, kamu kan ahlinya." Sandra baru saja masuk ke ruangan itu, bukan demi melihat barang-barang itu, tapi dia hanya ingin menemui sepupunya.


"Oke, btw mintain gelang ini dong, beli juga gapapa sih, tapi kayaknya mahal, makanya minta aja. Bilangin mahar pengantin." Eca dengan gampangnya menunjuk gelang itu.


Sandra sedikit heran, pasalnya Eca bukan orang yang suka meminta barang orang lain, umumnya barang-barang yang Eca sukai dari hatinya sangat sedikit sekali, seluruh barang-barang gadis muda ini biasanya Claudia yang pilihkan.


Sebenernya Sandra mau memberikan gelang itu, andai itu miliknya. Tapi masalahnya itu kan bukan milik Sandra, itu milik Pak Agam Klaun. Lantas bagaimana?


Meminta mahar? Rasanya Sandra masih agak canggung. Tapi, ini permintaan Eca, sepertinya Eca benar-benar menginginkan gelang itu.


Sandra membela napasnya,


"Oke, ntar aku bilangin sama Hainry. Atau coba izin ke Pak Agam, tapi nanti ya, sekarang ayo bantuin aku dulu."


"Oke."


Bahkan Eca tidak membatalkannya meskipun tau sepertinya itu menyulitkan untuk Sandra. Tapi gelang itu benar-benar gelang yang Eca inginkan, dia juga tidak tau apa alasannya tapi gelang itu sangat menarik dihatinya.


...----------------...


Sandra menghela napasnya, persiapannya sudah lebih baik sekarang. Dia juga sudah memilih dekorasi yang cocok untuk ruangan itu, semuanya sudah dipersiapkan.


Malam sudah larut, bahkan Eca sendiri sudah kembali sejak sore tadi, soalnya ada panggilan khusus dari Claudia, sebenarnya tidak ada kerjaan, hanya saja Claudia benci jika putrinya dekat-dekat dengan Sandra. Sejak dulu, Claudia sudah menanamkan kebencian untuk Sandra, tapi Eca tidak memperdulikannya, soalnya Sandra asik di ajak main.

__ADS_1


"Sandra mau nginep disini aja? Gak ada Hainry kok, dia masih ada urusan di Swiss." Tawar Pak Agam, mengingat malam sudah larut sekali, tidak tenang rasanya jika calon menantunya pulang sendiri walau dengan pengawalan lengkap sekalipun.


"Nginep disini? Emang boleh Om?" Sandra tidak berniat untuk menolak kok, jika dilihat cuaca di luar ada angin kencang, sepertinya akan turun hujan deras.


Malam-malam mengendarai mobil dengan hujan yang cukup deras, membuat Sandra mengingat traumanya lagi, apalagi tidak ada Hainry untuk menenangkan sekarang, jadi mungkin menetap di rumah ini untuk malam ini jauh lebih aman untuk Sandra.


"Bolehlah, ya ampun kamu ini kan calon menantu, dan udah saya anggap sebagai putri sendiri. Malah, ada yang ganggu telinga saya, lain kali panggil ayah aja, samain kayak Hainry, mana ada anak yang manggil ayahnya Om."


Sandra senang, mungkin ayahnya sudah tiada, tapi sosok pria tinggi yang agak membungkuk ini memiliki sosok sang ayah yang Sandra rindukan.


"Baik Ayah."


Sandra tersenyum hangat.


Setelahnya dia diantar ke sebuah kamar yang mewah, dia juga mendapatkan salah satu kamar terbaik yang ada di rumah ini.


Sandra mengedarkan pandangannya, kamar ini sangat indah, bagus, semuanya tertata rapi, tapi ada yang agak aneh, soalnya di banyak tempat tersusun indah mainan-mainan, dan juga tokoh-tokoh figuran kartun, anime, atau Marvel.


Tapi tidak apa, soalnya ini menarik, susunannya juga memanjakan mata.


Sandra membaringkan tubuhnya di kasur, dia tidak ingin membayangkannya, tapi pikiran bahwa dia akan segera menjadi nyonya rumah ini terlintas di kepalanya.


Sebuah panggilan video datang dari Hainry, Sandra segera mengangkatnya, dia melihat sang kekasih hanya mengenakan kaos putih polos disana.


"Loh? Rumah ku tuh, ngapain?" Celetuk Hainry tiba-tiba setelah layar terbuka, dan menampilkan wajah Sandra dengan latar belakang rumahnya, Hainry ingat sekali kamar itu milik siapa, itu adalah kamar Hainry saat kecil sebelum dia pindah ke kamarnya yang sekarang.


"Kenapa? Gak boleh ya tidur disini?" Sandra sedikit ketus, sudah satu harian tidak berbicara, ketika punya waktu berbicara bukannya mengatakan hal yang manis-manis, Hainry malah mencoba melatih kesabaran Sandra.


"Boleh dong, gimana? Kamarnya bagus kan? Rencananya itu kamar buat anak kita sih."


"Hah? Paan sih, sejak kapan kamar anak modelannya begini? Jangan aneh-aneh deh, lagian belum tentu kan anak itu laki-laki."


"Iya juga sih, ya udahlah, pokoknya kamar itu udah aku wariskan buat anak laki-laki kita, udah aku jaga dan aku rawat sepenuh hati."


Eh?

__ADS_1


Sandra tidak salah dengar kan? Dia memang baru mendengarnya bahwa kamar itu warisan?


"Ini kamar kamu waktu kecil?" Sandra tersentak halus, sama sekali tidak terduga bahwa ini kamar tunangannya dulu.


"Yap, gimana? Rapi kan? Tenang, aku udah belajar jadi suami yang baik, ambil baju dengan rapi, gak sembarangan lempar handuk." Hainry menunjukkan jempolnya, merasa bangga pada dirinya sendiri, soalnya dia juga sibuk mengecek situs-situs yang membahas bagaimana cara menjadi suami yang baik.


"Hah?"


Sandra pikir dia akan tidur nyenyak, tapi kalau yang ia tiduri adalah kasur Hainry kecil, apakah gadis itu bisa tidur nyenyak seperti keinginannya?


"Oh ya Hain, aku boleh minta mahar gak?" Tiba-tiba Sandra kepikiran permintaan Eca, mumpung sudah begini.


"Sip."


Sandra tidak tau sejak kapan Hainry sudah memegang buku dan pulpen di tangannya, perasaan tadi tangannya kosong deh.


"Buat apa itu?"


"Nulis segala keinginan kamu, tenang, apa aja aku usahain buat turutin, Udah siap memenuhi list calon istri."


"Ngapain pake list? Aku cuma minta gelang antik yang ada di pajangan kemarin, buat Eca sih sebenernya, dia suka jadi dia pengen, boleh gak?"


"Cuma itu?"


Sandra mengangguk pasti, soalnya memang hanya itu materi yang dia inginkan.


"Ya udah, besok ambil aja, kasih Eca. Kamu gak mau yang lain?"


Sandra menggeleng, tidak ada barang antik yang benar-benar memenangkan hatinya.


"Mau dibawain oleh-oleh apa? Lusa aku pulang." Hainry mode siap menuruti kemauan sang tunangan asal masih tahap yang wajar.


"Mungkin kedengaran biasa aja, tapi tolong pulang dengan selamat. Satu-satunya yang aku takutkan cuma, kamu ... pergi tapi tak kembali." Sandra tersenyum manis, dia sudah tau rasanya bagaimana ditinggal oleh orang yang dicintai untuk selamanya, dan Sandra tidak ingin itu terulang lagi dengan Hainry.


Hainry diam, sesak memenuhi dadanya, rasa senang yang tak tertahankan, untuk Sandra ternyata Hainry sangat berharga.

__ADS_1


"Sederhana apanya, itu luar biasa tau."


Sudah Hainry putuskan, bahwa tidak ada Sandra adalah sebuah hukuman, dan sudah Hainry janjikan untuk jiwanya sendiri, tidak akan ada perempuan setelah Sandra, apapun yang terjadi.


__ADS_2