
...***************...
Sandra melangkah masuk ke dalam wilayah sekolah, dan masalahnya saat ini sekolah itu terasa sangat sepi, bapak penjaga gerbang yang biasanya ada di sini pagi sampai malam, kini kosong.
"Loh? Ada libur khusus ya San? Kok sepi?" Tanya Hainry yang juga ikut menemani Sandra disebelahnya.
Hari ini Hainry mengantar Sandra ke sekolah, niatnya hanya mengantar sampai gerbang saja, tapi melihat keadaan sekolah yang agak aneh membuat Hainry juga turun dari mobilnya.
"Enggak ada ah, harusnya ini sekolah kayak biasanya sih." Jawab Sandra, dia ingat tidak ada pemberitahuan apapun kok.
Sandra berjalan lagi, Hainry mengikuti, mereka melihat kanan kiri, tidak ada siapa-siapa disini.
Padahal ini hari Selasa, mana mungkin kan anak-anak tidak sekolah, guru lain juga tidak ada, staff sekolah tidak ada, penjaga sekolah tidak ada, tukang sapu dan bersih-bersih sekolah juga tidak kelihatan.
Harusnya di jam segini sudah banyak anak yang sibuk berlarian kesana kemari, tukang sapu yang sibuk menyapu dedaunan di pohon, atau tukang jaga gerbang yang berusaha untuk segera menutup gerbang agar anak-anak terlambat, soalnya kalau anak-anak terlambat, bapak itu senang punya teman mengobrol katanya.
Tapi ... sekarang semuanya tutup.
"Apa jangan-jangan sekolahnya ditutup San?" Terka Hainry yang mengundang lirikan tajam ala Sandra, Hainry kalau ngomong suka gak di filter dulu.
"Aku kan calon menantu Klaun, siapa yang berani menutup sekolah dimana calon menantu keluarga paling terkenal bekerja disana." Wah, Sandra sepertinya sudah mulai beradaptasi dengan statusnya sekarang.
"Bukan itu, memangnya siapa yang berani menutup sekolah dimana Detektif Sandra bekerja sebagai guru?" Hainry juga tidak salah, karna yang paling menonjol dari Sandra bukan lagi dirinya yang merupakan Nona Andrafana, bukan lagi dirinya sebagai calon menantu keluarga Klaun. Tapi yang orang lain ingat saat melihat Sandra adalah, sang detektif YK71 yang hebat dan menjadi penyelamat banyak orang.
"Yah, rasanya agak aneh setelah aku mengungkap identitas ku." Sandra menghela napasnya, keanehan itu sering dia rasakan, namanya sering menjadi sorotan setelah dia selesai dengan kasus-kasus yang ditanganinya.
"Tapi sepertinya kau harus menjadi detektif sekarang, untuk mencari dimana semua orang saat ini? Sekolah menjadi sepi." Hainry menunjuk lapangan sekolah yang tanpa orang.
"Aku rasa kau benar." Sandra mulai bersiap, dia berjalan berdampingan dengan Hainry menuju ke tengah lapangan, Sandra fokus mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat.
Sudah tiga puluh menit Sandra mengitari lapangan itu, tapi tak kunjung ada siapapun yang datang. Sandra mencoba naik ke lantai dua, mencari tempat lebih tinggi.
"Jejak kaki, masih baru, rasanya sekolah ini tidak kosong sepenuhnya tau." Sandra melirik kanan dan kiri, tapi sekarang malah Hainry yang ikut hilang.
"Hainry!!!" Sandra berteriak keras, tapi sialnya tidak ada lagi jawaban dari Hainry, entah kemana pria yang katanya selalu ada di sisi Sandra itu.
Sandra segera turun ke bawah, dibanding mencari orang lain, Sandra memilih mencari Hainry lebih dulu, entah kemana dia pergi, sengaja pergi atau dia diculik?
Tapi kalau Hainry, rasanya agak tidak mungkin kalau dia ditangkap semudah itu, Hainry juga tidak sepayah itu, bahkan soal bela diri, mungkin Hainry agak di atas Sandra, tapi kalau soal strategi, tidak ada yang bisa mengalahkan Sandra.
Sandra menghentikan langkahnya, saat dari arah kanan ada sebuah pesawat kertas yang tertuju padanya. Sandra menangkapnya, dia melihat ada sebuah tulisan di kertas itu.
Coba naik ke podium dua langkah, dan baca tulisan berwarna merah disana.
Sebuah surat yang ditulis dengan tinta merah?
Mengikuti petunjuk memang penting, tapi mungkin saja itu jebakan, tapi kalau tidak kesana Sandra tidak akan tau apa yang terjadi.
Setidaknya walau itu jebakan, Sandra akan hati-hati, agar dia bisa tau apa yang lain aman dan siapa yang melakukan ini?
Sandra melangkah perlahan.
Satu
Dia
dan tiga langkah sudah Sandra lewati, benar saja disana ada sebuah tulisan berwarna merah. Hanya ada tulisan tanpa seseorang atau apapun di sekitarnya.
Tiba-tiba dari belakang sudah ada yang bersiap untuk melumpuhkan Sandra.
"Hup
Tapi dengan cepat Sandra membalikkannya dengan menendang lutut orang itu, mendorong bahunya hingga dia terjatuh di lantai, Sandra mengambil pistolnya langsung menodong orang yang menggunakan masker itu.
"Oh, santai dong! Kalem!" Suara perempuan, dia membuka maskernya, dan Sandra dengan jelas tau siapa perempuan satu ini.
"Fla? Apa-apaan ini, kenapa kamu disini? Apa ada kasus yang mencurigakan?" Sandra langsung menurunkan pistolnya, dia mengulurkan tangannya saat dia kenal jelas bahwa perempuan itu adalah Fladilena.
"Humm, cukup mencurigakan sih."
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Apa kamu tau kemana semua orang disini pergi?"
"Menurut mu begitu?" Fla menyunggingkan senyuman smirknya, Sandra agak heran, apa maksud anak ini? Tidak biasanya Fladilena seperti ini.
"Fla?!"
"Dibelakang mu San ..."
Sandra langsung berbalik dengan cepat, saat dia berbalik dia bisa melihat pemandangan yang tidak akan pernah dia duga akan terjadi dalam hidupnya, memikirkan hal ini saja tidak pernah Sandra lakukan, tapi dia mendapatkannya.
Dia bisa melihat para murid kesayangannya datang membawa sebuah kue yang cukup besar, yang dipegang oleh Aska dan Alan, juga ada Jihan disana.
Lalu, di lantai dua banyak berdiri murid-murid yang memegang sebuah ban lengan yang bertulisan YK yang akhir-akhir ini ramai dijual, nama YK menjadi sangat terkenal.
Para guru juga hadir dari kanan dan kiri Sandra, yang sebelumnya sudah bersembunyi sesuai arahan YK.
Anggota YK lainnya juga ikut berkumpul, termasuk Rafael yang malas untuk berjalan.
Dan lagi, dibelakang sana banyak awak media yang datang dan meliput kejadian hari ini. Sandra senang sih diberi kejutan oleh sekolahnya, tapi dia menyebalkan karena awak media itu datang berkerumun juga.
"Hey apa-apaan ini?" Sandra melirik ke arah Aska dan Jihan yang sama-sama sudah tersenyum tipis, Jihan sekarang sudah lebih baik, dia sudah ingin berbicara dengan yang lain juga mengikuti kegiatan bersama.
"Terima kasih, sudah menjadi guru di sekolah ini Kapten Detektif! Pantes sekolah kita gak pernah kemalingan, soalnya detektif nya kerja disini!"
"Terima kasih Bu Sandra sudah mau menemani kenakalan kami!"
"Bu Sandra Andrafana, untuk kami ibu masih tetap seorang guru!"
"Dan untuk kelas 12 IPA 5 pada angkatan kami, Bu Sandra adalah guru terbaikkkk!!"
Mereka semua berteriak sembari tersenyum dengan bunga dan buku ditangan mereka, entah apa maksudnya, Sandra juga tidak mengerti.
Tapi Sandra yakin, perkataan itu sangat tulus dari hati mereka.
Soalnya ...
Perkataan itu sampai di hati Sandra hingga membuatnya ingin menangis lebih hebat lagi, tidak ada Hainry, jadi menangisnya beberapa tetes saja.
"Bu, walau negara kenal ibu sebagai Nona Andrafana, atau benua lain kenal ibu karna menantu keluarga Klaun, walau satu dunia kenal itu sebagai kapten Detektif YK71. Tapi kami kenal ibu karna ibu seorang guru! Makasih udah jadi guru kami, makasih udah mau kami ganggu, makasih kesabaran nya selama ini. Makasih udah memutuskan untuk jadi guru. Untuk kami, ibu adalah guru terbaik! Terimakasih ...." Aska berkata sangat tulus, Sandra bisa merasakan itu.
Tidak pernah Sandra lihat Aska menangis di depan umum, tapi kali ini Aska menangis, dia mengatakan terimakasih dengan air mata, lantas bagaimana Sandra tidak bergetar?
Bukan hanya Aska, murid IPA Lima yang lainnya juga tidak tahan untuk menjatuhkan bulir hangat itu.
"Hadeh, punya murid cengeng banget, sini." Sandra turun dari podium, dia merentangkan tangannya. Banyak murid berlari ke arahnya, Jihan lari paling pertama untuk memberikan pelukan yang sangat erat pada Sandra.
"Makasih Bu! Untuk Jihan, ibu guru terbaik, detektif terbaik, ibu anugrah untuk Jihan." Jihan memeluk Sandra erat, Sandra sang guru menolongnya dari trauma, dan Sandra sang detektif menolongnya dari Levan. Entah Sandra sebagai guru atau deteksi, satu hal yang pasti Jihan sangat mensyukuri kelahiran Sandra di dunia ini.
Satu persatu murid perempuan memeluk Sandra erat, murid laki-laki memberikan tos yang khusus untuk mereka.
"Bu, salam perpisahan nya boleh adu panco aja gak sih?" Permintaan Aska memang agak lain, entah sarapan apa yang dimakannya setiap pagi sampai anak ini selalu begini, tapi Sandra suka keaktifannya.
"Males, kamu lemah. Tapi Aska, siapa yang nyewa media itu?" Sandra melirik ke arah awak media yang dari tadi hanya berdiam diri, dengan raut wajah kusut?
"Gak tau, pengen ikut katanya, kali nyari liputan buat diberitakan." Jawab Aska enteng tanpa beban.
Sandra melirik ke arah awak media itu.
"Jangan marah-marah gitu lah San, kameranya mati kok, ada hal yang mau mereka sampaikan ke kamu." Fladilena datang menepuk pundak Sandra, setidaknya ini mengurangi emosi Sandra saat ini. Akhir-akhir ini Sandra memang sedang sensitif dengan awak media dan kamera, apalagi para reporter.
"Mau bilang apa?" Sandra mengerutkan dahinya, jika ini masalah Eca atau Claudia, atau masalah yang menyangkut nama Andrafana, Sandra tidak akan peduli dan akan langsung mengusir mereka nanti.
"KAMI MINTA MAAF!!!"
Serentak, para reporter itu berteriak begitu, mereka bahkan menunduk sembilan puluh derajat.
Sandra kaget, dia cukup terkejut, mereka yang biasanya mencari berita kini meminta maaf?
"Untuk apa?" Sandra menaikkan sebelah alisnya, satu kata maaf tidak membuat hatinya akrab kembali dengan media.
__ADS_1
"Kami minta maaf, harusnya kami tidak melebih-lebihkan berita anda."
"Harusnya kami tidak menggiring opini publik, harusnya kami hanya menyajikan berita fakta saja."
"Maafkan kami, harusnya kami tidak menjelekkan nama anda saat anda terbawa kasus dengan kematian Nona Eca."
"Harusnya kami tidak menggiring opini publik untuk mengalahkan anda dengan teori-teori konspirasi yang tidak jelas asal usulnya dan tidak pasti kebenarannya."
"Kami minta maaf."
Satu persatu dari mereka mulai mengajukan apa yang ingin dikatakan, kebanyakan mengakui kesalahannya dan diakhiri dengan kata maaf.
Permintaan maaf yang bagus, karna tidak ada satupun dari mereka yang setelah minta maaf, lalu membuat alasan pembenaran diri. Kali ini, mereka benar-benar meminta maaf dengan mengakui kesalahannya.
"Kami benar-benar minta maaf, bagaimana mungkin kami menuduh anda melakukan pembunuhan berencana terhadap Nona Eca, padahal anda sendiri adalah kapten Detektif YK71 yang hebat dan sering mengungkap kasus pembunuhan."
"Kami sangat salah, sudah berani menuduh orang yang selalu mengungkap kebenaran dengan kebohongan kami!"
"Kami sangat malu telah menyebarkan berita buruk untuk anda yang ternyata adalah orang yang sering membantu banyak orang."
"Karena itu nona, tolong maafkan kami, dan tetaplah menjadi kapten Detektif YK71 yang hebat itu, kami bersalah menuduh kebohongan keji kepada anda yang merupakan lambang kebenaran itu sendiri!"
Deg
Sandra tidak tau bahwa Kapten Detektif YK71 untuk mereka sangat seharum ini namanya. Sandra kesal sih, tapi melihat ketulusan mereka yang mengakui kesalahannya, dan meminta maaf dengan suara lirih penuh air mata, Sandra tidak bisa untuk terus membencinya.
"Yah, tidak peduli bagaimana pandangan dunia, aku memang tidak berencana untuk berhenti menjadi detektif. Tidak peduli murid seperti apa yang aku ajar tahun depan, lebih buruk dari murid tahun ini, atau lebih baik, aku juga tetap akan menjadi guru."
Sandra menarik senyuman tipisnya, dia menatap anak-anak muridnya dengan bangga. Sandra suka menjadi guru, Sandra juga menikmati kehidupannya sebagai seorang detektif.
Tukh
Sebuah pesawat kertas menabrak pipi Sandra, gadis itu melihat asal pesawat itu.
Kanan atas.
Disana, Sandra bisa melihat Hainry duduk dengan santainya di atas genteng, sendirian.
Kedua tangan Hainry melambangkan hati yang dia tujukan hanya untuk Sandra.
Sandra tersenyum diam-diam, dia mengalikan wajahnya dari Hainry, pria itu terlalu keren saat ini. Hainry tidak hilang, dia bagian dari rencana ini juga.
Aku Sandra Andrafana, berhasil menjadi detektif yang mengungkap kematian orang tua ku.
Aku Sandra Andrafana, berhasil menjadi seorang guru yang dicintai murid-murid ku.
Aku Sandra Andrafana yang berhasil menjadi kapten untuk anggota ku.
Untuk mu ayah ...
Aku sudah berhasil berdamai dengan diri sendiri, dan mulai menerima fakta ayah dan ibu sudah pergi, aku mulai merasakan kasih sayang dan kehangatan orang lain lagi.
Aku mulai menyadari, aku tidak sendiri, aku punya Hainry dan lainnya.
Kakek tidak lagi menggilai jabatan dan penerus, kehormatan dan harga diri, kakek menjadi pribadi yang lebih lembut.
Ayah suka kan?
Ayah tenang ya disana, semuanya sudah usai. Sandra berhasil untuk menerima orang lain di hidup Sandra.
Ayah, Sandra tidak sendiri.
Sampai di titik ini, Sandra melalui banyak hal. Dengan segala perjuangan Sandra selama ini.
Hasil seperti ini adalah yang terbaik untuk Sandra!
Ayah, dan ibu, terima kasih sudah melahirkan Sandra ke dunia ini, dunia yang kejam dimana aku tetap ingin bertahan demi orang-orang yang kucintai.
...{End}...
__ADS_1