
Habis
Alasan apa yang akan Sandra katakan?
Jelas-jelas Gerald tau bahwa Hainry detektif YK71, lantas, kenapa begitu dekat dengan Sandra.
"Sandra? Kenapa kau diam saja, apa hubungan mu dengan pria itu?" Suara Gerald semakin berat, tatapannya semakin tajam, dia sudah seperti kakak laki-laki yang memergoki adik kecilnya pulang bersama dengan seorang bajingan.
Hainry melirik Sandra, kira-kira apa yang akan gadisnya katakan untuk mengakui hubungan diantara mereka.
"Nggak kenal." Jawab Sandra tanpa eskpresi.
Deg
Seolah dunia runtuh saat itu juga, sesak yang tidak pernah Hainry rasakan, meski Sandra menolaknya berkali-kali dia percaya bahwa itu hanya candaan, dan pada akhirnya Sandra akan tetap menjadi miliknya.
Tapi sekarang?
Sandra bilang apa? Jangankan teman, kenalan, Sandra bahkan bilang tidak kenal.
Denyutan itu terasa semakin perih, memenuhi hati mungil Hainry, badannya gemetar, hatinya cukup getir, kakinya lemas, haruskah dia mulai menyerah? Menyerah menggapai Sandra yang terus berlari?
Ya, mungkin Hainry harus mulai menyerah kan? Mungkin dia harus mencoba sadar diri? Percaya bahwa Sandra tidak menginginkannya sebagai seorang suami?
Tidak kenal katanya.
Bibir Hainry bergetar, sesaat dia atupkan bibir itu rapat-rapat, mengatur nafas yang mulai tidak normal, menata hatinya kembali.
"Benar, kami tidak begitu saling kenal sih, saya tau beliau karena beliau adalah guru Jihan, dan kamj baru saja mengunjungi Jihan, jadi karna Nona Sandra tidak enak badan, saya mengantarnya kembali. Kalau begitu saya permisi." Hainry segera melepas rangkulannya dari Sandra, dia menatap Sandra dengan tersenyum.
"Dan ya Nona Sandra ... Selamat tinggal." Hainry tersenyum begitu ramah, lembut dan hangat. Dia berjalan berbalik memunggungi Sandra.
Tapi ... entah kenapa, senyuman Hainry kali ini terasa begitu menyesakkan untuk Sandra, kalimat selamat tinggal yang Sandra ucapkan terus terngiang dikepalanya.
Hanya dengan suara dan ekspresi seperti itu mampu mengobrak-abrik hati Sandra.
"Hain--"
"Sandra, ayo masuk." Gerald menarik tangan Sandra, sebelum Sandra bisa memanggil Hainry kembali
Gerald menarik tangan Sandra untuk segera masuk ke dalam rumah, ada banyak hal yang ingin Gerald katakan, mungkin?
Apa ini?
Sandra tidak pernah merasa sesak seperti ini ketika dia menolak Hainry, tapi kali ini berbeda, ekspresi Hainry membuat Sandra tidak nyaman.
__ADS_1
......................
Gerald dan Sandra sudah masuk di dalam rumahnya, keduanya duduk saling berhadapan satu sama lain, dengan dua cangkir kopi yang ada di depan masing-masing.
Sudah setengah jam, tapi tidak ada percakapan yang berlalu, hanya ada suara televisi yang meramaikan suasana rumah.
Sandra tidak berbicara, dia sedang tidak dalam mood mengobrol, segala fokusnya masih ada di Hainry, Sandra tidak tau kenapa, tapi perasaan tidak nyaman itu terus saja mengganggunya.
Kalau Gerald, tidak tau sih dia memikirkan apa, tidak tau pula tujuannya datang ke rumah Sandra apa.
"Aku tau alamat kamu dari Eca." Ujar Gerald membuka pembicaraan setelah sedari tadi mereka banyak diamnya.
"Oh, ya." Sandra mengangguk mengerti, setelahnya dia kembali memikirkan Hainry dan segala tingkahnya tadi.
Untuk Sandra, Hainry bukan sekedar teman biasa.
Untuk Sandra, Hainry suatu yang istimewa, yang merupakan bagian dari hidupnya.
Tapi, Sandra belum menemukan, kata apa yang cocok untuk menggambarkan Hainry dalam hidupnya, yang jelas Hainry sangat berharga.
"Apa kalian sering bertemu?" Lanjut Gerald, topik basa basi yang biasa saja.
"Sering, setiap seminggu sekali Eca selalu main kesini."
"Ah ... Aku tidak tau kalian sedekat itu." Wajah Gerald sedikit muram, pandangannya agak menunduk.
"Ya, kau kan sibuk."
"Benar ... aku cukup sibuk dulu, tapi seka--"
"Gerald, bukannya aku mau mengusir mu, hanya saja ini sudah larut, besok aku harus bekerja, bisa kau pulang sekarang? Aku ingin tidur, aku sangat lelah hari ini."
"Ah, baiklah, kalau begitu istirahat yang nyenyak."
Bohong
Sandra memang mau mengusir Gerald, dia tidak nyaman Gerald ada di rumahnya, soalnya alat-alat Detektif Sandra cukup banyak di rumah ini, banyak bukti dan lainnya.
Mungkin Eca sang artis tidak peka, tapi bisa saja Gerald peka, dia mantan seorang Irjen, ditambah lagi Sandra tidak mau ketahuan kalau dia adalah kapten tim YK71 yang terkenal.
"Kalau begitu, selamat tinggal." Sandra menutup pintunya, tanpa senyuman, tidak pula marah, dia membiarkan Gerald di luar sendirian.
"Dia bahkan tidak menawarkan ku untuk menginap." Gerald menghela napasnya kasar.
"Pada akhirnya aku memang tidak bisa dekat dengannya, tapi bagaimana Eca bisa sedekat itu sampai sering main kesini?"
__ADS_1
...****************...
Sudah beberapa hari berlalu, tapi Sandra tidak pernah melihat Hainry lagi, tidak pula menerima pesan dari Hainry.
Padahal biasanya, setiap pagi, siang, sore, malam, senja, lima waktu dalam sehari, Hainry akan mengirimkan pesan seperti itu walau ujung-ujungnya tidak dibalas oleh Sandra.
Apa dia marah sungguhan?
"Apa Hainry sudah bisa dihubungi?" Tanya Sandra pada Fladilena di markas mereka.
Sudah beberapa hari pula Hainry sama sekali tidak pernah datang ke markas, jangankan itu, yang paling mencurigakan adalah, Rafael yang begitu hebat tidak pernah bisa melacak keberadaan Hainry walau dia tau nomor ponsel pria itu.
Hainry terkadang menjadi sosok yang sangat misterius.
"Nggak ada, gak bilang juga mau kemana. Ailah, kayak gak tau dia aja, paling Minggu depan juga muncul, dia kan anaknya suka muncul tiba-tiba, hilang tiba-tiba, datang tiba-tiba, udah kayak hantu."
Jawaban Fladilena benar.
Hainry sudah seperti hantu untuk Sandra, pasalnya beberapa hari terakhir Hainry selalu menghantui gadis itu, sampai Sandra sedikit terganggu, dia jadi kehilangan fokusnya untuk mencari kaki tangan Claudia dan Leon.
Benar-benar mengganggu!
"Kenapa? Mbak Sandra berantem sama Mas Hainry?" Tanya Rafael, membuka kulkas mengambil minuman dingin favoritnya.
"Gak tau deh berantem enggaknya, cuma kemarin pas dia anter aku ke rumah, kita ketemu sana Gerald di depan rumah ku, terus Gerald nanya hubungan kita apa, dan aku bilang nggak kenal." Sandra menceritakan versi singkat menurutnya akar dari permasalahan ini.
"Nih Mbak, minum biar kalem." Rafael memberikan botol minumannya pada Sandra. Setelahnya dia berjalan pergi kembali ke kamarnya.
Rafael jelas tau, sebesar apa Hainry mencintai Sandra, itu bukan sebuah kebohongan, apalagi hanya candaan, bukan seperti itu.
"Bagus San, tingkatkan ketidakpekaan mu, aku bangga. Aku kerja dulu ya." Fla melambaikan tangannya, keluar dari markas.
Sandra diam sebentar.
"Aku tau aku salah karna nggak anggap dia kawan, apa harusnya aku bilang kemarin dia temen ya biar dia gak marah?" Sandra menghela napasnya, dia bingung, ini kali pertama Hainry seperti ini.
"Mbak, pernah pacaran nggak sih?" Kini giliran Kandri yang melihat Sandra, padahal tadi dia sedang asyik menonton televisi drama kesukaaannya. Dia rela mengalihkan fokusnya untuk Sandra yang sedang bingung sekarang.
"Enggak, kenapa emang?"
"Mbak bedain deh, mana 'temen' mana temen."
"Lah? Bukannya sama aja ya? Kan sama-sama temen, terdiri dari huruf, T-e-m-e-n."
Kandri hanya melemparkan senyum manisnya, kalau dia sampai melanjutkannya bisa-bisa nanti dia jadi dianggap tidak sopan terhadap kapten sendiri.
__ADS_1