
Apakah Sandra salah dengar?
Sepertinya tidak, jelas-jelas tadi dia mendengar Amika mengatakannya, Adit dan dirinya merencanakan pembunuhan terhadap keluarga Andrafana. Lantas, apa keluarga Andrafana yang dia maksud adalah kedua orang tua Sandra?
Sandra diam.
Tangannya bergetar, dia kepal erat menahan segala emosi yang menumpuk.
"Apa maksud anda?" Sandra mencoba untuk tetap tegar, dia bersikap biasa saja. Pandangan matanya lurus menatap retina Amika yang sudah banjir dengan air mata.
"Saya bilang saya ingin mengakui dosa-dosa saya! Saya ingin mengakuinya, agar Tuhan tidak membalasnya melalui anak saya!" Suara Amika bergetar, pasti juga berat baginya untuk mengakui itu, karna mengakui kejahatan ini sama dengan masuk ke penjara?
"Dosa apa yang anda lakukan?" Sandra memperjelas suaranya, padahal hatinya tengah getir, jauh di dalam dirinya jiwanya bergetar hebat. Tapi Sandra menahannya, dia mencoba untuk tetap tenang dan tegar, karna dia berdiri sebagai Detektif Sandra sekarang.
"Dulu, ketika Aku hamil, Nyonya Claudia Andrafana datang pada kami, dia mengancam akan membunuh aku dan calon anak ku, jika suami ku tidak menuruti perintahnya." Amika menunduk, dia menggenggam ujung bajunya dengan erat, sesak di dada yang dia rasa begitu menyakitkan, suaranya seolah tertahan di ujung lidah.
Tapi tetap, Amika harus mengakuinya, dia harus menyatakan kebersalahannya, atau dia akan menderita seumur hidupnya.
Tidak masalah untuk Amika jika dia yang menderita, tapi Amika tidak mau jika yang tersakiti adalah anak tunggalnya, satu-satunya putri dan cahaya kehidupan yang dia punya.
Untuk Amika, defenisi bahagia adalah kelahiran Afiza. Maka dia tidak akan tenang jika Afiza yang terluka.
Setelah serangkaian kejadian yang menimpa hidupnya, Amika sadar bahwa karma itu nyata, dan mungkin sekarang sedang tertuju padanya, tapi dia tidak akan rela jika putri mereka yang malah menanggung dosa-dosa yang mereka perbuat.
"Siapa suami anda, dan apa yang kalian lakukan sebenarnya dan siapa korbannya?" Tegas Sandra.
Dia detektif.
Hainry hampir lupa bahwa Sandra adalah perempuan yang kuat, mungkin karena Sandra akhir-akhir ini sering menangis manja di dalam pelukan Hainry, dia lupa bahwa Sandra memiliki hati sehebat air, tidak akan pernah hancur, hanya terus berubah menyesuaikan wadah. Pun dengan hati Sandra, dia akan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.
Hainry menahan tangannya, dia berdiam diri ditempatnya, seperti biasa akan memperhatikan Sandra yang berjuang dengan kaki dan pemikiran sendiri, dengan keputusan yang dia ambil sendiri.
__ADS_1
Hainry akan menjalankan tugasnya seperti biasa, dimana dia akan selalu siap siaga menjadi tempat bersandar untuk Sandra istirahat sebentar. Siap membantunya jika Sandra membutuhkan bantuan.
Hainry, hanya akan mengawasi Sandra dari tempatnya.
Amika menarik napasnya dalam-dalam, sebelum dia bercerita. Mungkin cerita ini akan lebih panjang dari yang Sandra pikirkan.
"Suami saya adalah supir pribadi Pak Karl Andrafana, putra kedua keluarga Andrafana. Lalu, Nyonya Andrafana yang merupakan putri bungsu datang kepada kami, dia mengancam akan membunuh saya dan anak ini jika suami saya tidak ingin menuruti perintahnya. Akhirnya demi keselamatan kami, suami saya rela menuruti perintah keji perempuan itu. Suami saya menyabotase mesin mobil, menyebabkan kecelakaan yang disengaja, dimana suami saya juga mati di dalam kejadian itu. Saya dipaksa untuk tutup mulut atas kejadian itu, dengan bayaran Nyonya Claudia menanggung kehidupan kamu, sekolah, biaya makan, rumah dan segalanya."
Dia diam sebentar, menengadah keatas, menatap langit-langit untuk menahan air matanya.
Sandra masih memasang ekspresi yang tenang.
"Jika anda siap mengakui dosa-dosa ini, apakah anda juga siap dengan konsekuensinya terkurung dibalik jeruji besi? itu artinya anda tidak lagi bisa menjaga putri anda? Dan anda tau, mungkin Nyonya Claudia akan marah besar karena anda membocorkan rahasia belasan tahun lalu, dia bisa saja semakin menyakiti putri anda."
Amika menarik sudut bibirnya. Dia tersenyum kecut, ikhlas tapi juga tidak rela. "Karna itu, jika saya benar-benar akan dipenjara, saya mohon tolong jaga putri saya. Anda adalah orang yang hebat, anda Kapten Tim Detektif YK71. Rumor Anda sudah tersebar dimana-mana, anda yang terbaik, saya yakin bahwa anda juga bisa menjaga putri saya. Bahkan anda bisa menemukannya dengan mempertaruhkan nyawa anda. Jika bisa, tolong jaga dia. Anda tidak keberatan kan?"
Amika tersenyum hampa, berat baginya untuk meninggalkan Afiza sendirian, tapi lebih berat lagi untuknya jika harus melihat Afiza terluka dan menderita seperti sekarang.
Lanjut Amika, tampak jelas rasa bersalah dimatanya, dan Sandra tau apa maksud perkataan dari Amika barusan.
Deg.
Hati Sandra getir, dia nyaris menangis saat ini juga.
Saat Sandra mengerti, maksud dari perkataan Amika.
Rasa bersalah yang merenggut orangtua dari putrinya.
Amika dihantui rasa bersalah karna menjadikan Sandra sebagai anak yatim piatu malam itu.
"Akan saya pikirkan, untuk sekarang tetap tenang, tetap rahasiakan ini. Akan saya selesaikan kasus ini. Untuk menjaga anda, saya akan tugaskan dua detektif disini, jika ada sesuatu hubungi kantor kami. Tolong jaga keselamatan anda dan putri anda. Saya permisi, laporan anda saya terima dan pasti akan saya proses."
__ADS_1
Sandra berbalik.
Tes.
Syukurlah dia tepat waktu.
Setelah Sandra berbalik, air matanya jatuh begitu saja. Sandra berjalan cepat, menjauh dari Amika dan Afiza.
Selama ini, Sandra pikir dia yang salah. Sandra pikir penyebabnya adalah orang lain, Sandra pikir ada tersangka lain.
Tapi, fakta yang dia terima hari ini memaksanya untuk membuka mata lebar-lebar tentang dunia ini.
Bahwa dunia ini tidak akan berjalan begitu saja.
Tidak akan ada takdir yang mulus.
Diantara Milyaran manusia di dunia ini, kenapa harus Adit yang menyabotase mobil Karl sang ayah? Kenapa harus Adit? Asisten terbaik yang sangat dirinya percaya, juga sangat disayangi oleh sang ayah. Kenapa harus Adit? kenapa harus orang yang sangat mereka percaya yang mengkhianati mereka.
Tapi, Pak Adit juga terpaksa melakukannya, demi melindungi istri yang dia cintai, dan anak yang begitu dia nantikan. Apa aku bisa membenci Pak Adit?
Dia hanya seorang suami yang begitu mencintai sang istri dan ingin melindunginya, dia seorang ayah yang ingin menjaga anaknya yang bahkan belum lahir di dunia.
Tetap saja kan, dia melakukannya secara terpaksa.
Ayah saja akan melakukan segalanya untuk ku.
Kasih sayang ayah tiada batas.
Lantas, apa aku bisa membenci sosok ayah yang berkorban untuk putrinya itu?
Dia bahkan mengorbankan kehidupannya sendiri untuk menjaga kehidupan putrinya.
__ADS_1
Bibi Claudia, kau sangat kejam! Kenapa kau begitu kejam, hanya karna harta!