My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 57


__ADS_3

...**************...


Sandra dalam perjalanan menuju rumah Amika, dengan Hainry tentunya. Entah kenapa tapi tubuh Sandra mendadak bugar lagi, kemana perginya rasa lelah tadi sore?


Tidak ada rasa lelah, yang akan hanya rasa khawatir yang agak berlebihan, makanya sandra merasa tidak enak, dia takut terjadi sesuatu lagi.


Seluruh pegal dan rasa malas di dalam dirinya hilang, mungkin karna Sandra memang orang yang berempati tinggi, mementingkan keselamatan orang lain diatas kepentingannya sendiri.


"Aku udah hubungi dua anggota kita yang aku tugasin buat jaga mereka, tapi tetap gak bisa di hubungi." Lapor Hainry, saat ini dia adalah wakil kapten detektif YK71, untuk sementara dia bukan putra tunggal keluarga Klaun.


"Ah, aku paham. Fladilena sedang bersiap-siap menuju rumah Amika juga." Sahut Sandra, setelah dia merasa curiga, dia meminta pada Amika dan Rafael untuk mengawasi dua orang itu.


Kecurigaan Sandra semakin besar, saat dia mendapat laporan dari Rafael bahwa cctv rumah itu mari, cctv sekitarnya juga mati, Rafael tidak tau apa yang terjadi, dia mencoba memulihkan cctv yang rusak itu, agar bisa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


Tapi sebelum itu, Sandra harus sudah lebih dulu menyelamatkan Amika dan Afiza.


Persetan dengan bukti, untuk yang ini Sandra harap tidak terjadi sesuatu pada ibu dan anak itu.


Ting!


Satu pesan sampai di ponsel Sandra, dan itu sepertinya pesan dari tablet Afiza. Karna pesan itu berasal dari Afiza.


From Afiza :


4 orang Kak, Masing-masing punya pistol. Afiza sama mama dikurung di kamar.


Afiza send a picture

__ADS_1


Sandra mengernyitkan dahinya heran, dia menaikkan alisnya menimang lagi pikiran-pikirannya.


"Kenapa San?" Hainry mencoba melihat isi ponsel Sandra, tapi tidak begitu jelas.


"Afiza ngirim pesan, mungkin dari tabletnya. Dia emang pernah minta nomor aku, aku kasih karena dia bilang pengen telponan sama aku, dia pengen banyak cerita. Aku setuju dan aku terima semua kemauan Dia, soalnya aku takut mentalnya jadi keganggu gara-gara penculikan itu. Aku juga sebenernya seneng kalau dia mau telpon aku dan ceritain semua masalahnya. Tapi ... " Sandra sedikit menjelaskan soal bagaimana Afiza bisa memiliki nomornya, itu karna Sandra ingin membantu memulihkan mental anak kecil yang diculik, disiksa dan nyaris dibunuh. Sandra hanya ingin membantu menguatkan jiwa anak itu jika dia bisa.


"Dia ngirim pesan apa?"


"Katanya empat orang, masing-masing dari mereka memiliki senjata api, dan dia juga ibunya di kurung di kamar." Pandangan Sandra lurus ke depan, kepalanya penuh dengan segala kemungkinan, Sandra mulai memposisikan dirinya sebagai korban atau pelaku, menerka-nerka apa yang akan mereka lakukan melalui sudut pandang baru.


"Dan kamu masih curiga, apa yang dikatakan Afiza benar atau tidak?" Hainry ikut mengerutkan alisnya, mungkin karna dia dan sang tunangan adalah seorang detektif, makanya hidup mereka tidak pernah jauh-jauh dari penculikan, senjata api dan berbagai macam bahaya.


"Bukan berpikir Afiza yang bohong, tapi masalahnya apa pesan itu benar-benar diketik oleh Afiza? Meski pesannya berasal dari nomor dan tablet milik Afiza, siapa yang bisa memastikan kalau itu benar-benar pesan yang ingin Afiza sampaikan dengan jari mungilnya?"


Itu yang Sandra khawatirkan, bahwa pesan itu datang dari orang lain, mungkin dari orang-orang jahat itu, entah dari siapapun, mungkin itu memang bukan dari Afiza.


Ting!


......................


"Tenang Nak, kita aman gapapa, mama pasti disini, tenang aja mama bisa jagain kamu disini. Ada Mama, kamu gak sendirian, semuanya pasti bakal baik-baik aja." Amika memeluk Afiza dengan erat, dia mencium kening dan pucuk kepala Fiza berulang kali.


Tubuh Anik bergetar, tapi dia berusaha menenangkan tubuh putrinya sendiri, dia memeluk Fiza erat, tidak akan membiarkan rasa takut menyelimuti tubuh Afiza.


Wajah Amika penuh air mata, dia menangis tapi mulutnya berkata baik-baik saja untuk menenangkan Afiza, yang memang sudah bersikap tenang sejak awal.


Untuk Fiza yang sebelumnya mengalami penculikan mengerikan, hal seperti ini tidak bisa menggetarkan harinya lagi, dan membuatnya takut. Apalagi saat dia percaya, Sandra pasti akan menolongnya.

__ADS_1


Afiza menatap dua orang yang ada di depannya saat ini, dua orang yang berpakaian serba hitam, dengan masing-masing senjata api ditangan mereka. Mereka memakai penutup wajah hingga tidak bisa dikenali.


Saat ini, di rumah Amika sudah ada empat tamu asing yang membuat sang pemilik rumah ketakutan, dua penjaga yang diberikan pada mereka sudah lumpuh lebih dulu, satu karna dibius, satu lagi kepalanya dipukul pakai balok secara tiba-tiba.


"Dimana para detektif itu?! Hey kau! Apa kau memang benar-benar mengenal para detektif itu?!" Suara sang penculik itu kasar, dia menatap Amika dengan nada membenci yang begitu tinggi.


"Aku kan tadi sudah telpon! Nanti dia juga akan datang kemari! Apa-apaan lagi kalian ini, aku sudah menuruti kemauan kalian!" Amika berteriak sedikit ketakutan, membuat suaranya semakin keras.


itu benar.


Panggilan Amika yang mendadak tadi untuk Sandra, itu semua karna suruhan orang-orang ini, mereka yang meminta Amika menelpon Sandra, agar Sandra terpancing dan datang kemari tanpa rencana dan kecemasan sedikit pun, dan yang paling penting tidak boleh ada rasa curiga.


Dan lagi, mereka masih belum mengetahui bahwa Detektif YK71 adalah Sandra Andrafana, hanya baru Afiza yang mengetahui wajah asli sang detektif YK71 itu.


Maafkan aku nona detektif, maafkan aku, aku sungguh minta maaf. Jik terjadi sesuatu padamu maka itu adalah kesalahan ku, hukum saja aku. Aku harap jika ada yang harus terluka malam ini, itu adalah aku, biar aku saja yang terluka, kau dan tim mu tetaplah baik-baik saja dan tolong jaga putri ku.


Amika tidak bermaksud untuk menjebak Sandra, dia tidak se-egois itu soal keselamatan dirinya sendiri, hanya saja Amika tidak ingin mengambil resiko untuk keselamatan putrinya Fiza.


Amika menelpon Sandra tadi itu semua juga demi keselamatan Afiza, jika seandainya dia sendiri yang ditahan, Amika tidak akan pernah mau menelpon sang detektif YK71 untuk memintanya datang agar mati. Tidak akan pernah.


Amika akan memilih mengorbankan dirinya sendiri dibanding orang lain, tapi beda cerita kalau kasus itu menyangkut putrinya sendiri, maafkan Amika tapi dia akan mengorbankan segalanya agar putrinya selamat.


Kadang Amika berharap Sandra segera datang agar Afiza selamat, tapi disisi lain Amika juga berharap sang kapten itu tidak perlu datang karena takut bahwa dia akan terluka.


Suara mobil terdengar dari luar.


"Dia datang! Sang detektif YK71 si pahlawan kesiangan itu datang, dia datang untuk mati! Haha." Ujar salah satu penculik itu, suara tawanya begitu lepas, dia begitu bahagia seolah memiliki dendam kesumat pada YK71.

__ADS_1


__ADS_2