My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 46


__ADS_3

......................


Sandra sudah lebih tenang, dia kembali ke kamar Afiza. Dimana masih ada Afiza yang dirawat dan juga Amika.


"Aku udah urus semuanya, sampai saatnya tiba mereka akan tutup mulut, dan pengawalan mereka, percayakan saja pada ku."


Hainry langsung melapor pada Sandra dengan cepat, setidaknya dia harap informasinya bisa menenangkan Sandra walau hanya sedikit.


Sandra melirik Afiza dan Amika satu persatu, semuanya sedang merenung dalam diam.


Sandra sadar, dia mengganggu waktu haru ibu dan anak itu.


"Ayo keluar. Kita pulang, ada banyak hal yang harus kita lakukan." Sandra menarik tangan Hainry, begitu juga dengan Rafael yang sudah bangkit dari tempat duduknya.


......................


"Rekaman aman Mbak." Celetuk Rafael membuka pembicaraan.


Saat Amika melakukan pengakuan tadi, Rafael sudah merekamnya dengan sempurna, dimana wajah dan suara semuanya jelas.


Pengakuan Amika menjadi salah satu bukti yang Sandra punya sekarang.


Baik Sandra, maupun Hainry keduanya sudah duduk di kursi depan mobil, ada Rafael juga duduk sendiri di kursi belakang dengan menatap laptopnya serius. Dia bahkan membuat beberapa copy-an rekaman khusus, jaga-jaga kalau sampai satu rekaman itu hilang nantinya.


"Ya, walau ada yang mengaku, bukti itu belum cukup valid untuk mengangkat kasus yang sudah lama ditutup. Apalagi pengakuan begitu saja belum cukup untuk membuktikan Claudia dan Leon bersalah."


Sandra tau, ini adalah salah satu penguat bukti yang bisa membantunya menang dalam pengadilan, tapi itu masih belum cukup, Sandra masih membutuhkan banyak bukti lain yang valid dan bisa dijamin keaslian dan kemurniannya.


Contohnya seperti rekaman pengakuan Leon dan Claudia, berserta surat mereka. Jika itu ada, sebenarnya bukti mereka sudah cukup untuk mengangkat kasus ini di pengadilan, bahkan memenangkan pengadilan itu sendiri.


Jika bukti yang hilang kembali, ditambah penguat bukti dan kesaksian langsung dari Amika, mungkin saja Sandra akan benar-benar bisa memenangkan pengadilannya, dan mungkin tujuannya untuk melihat Claudia dan Leon dibalik jeruji besi bisa tercapai.


Sandra ingin, melihat Claudia dan Leon menunduk, meminta maaf, berlutut minta ampun di depan makam orangtuanya, menyesal dengan sungguh-sungguh.


Tapi, apa mungkin?


Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi sekarang, karena posisi kedua bajingan itu ada diatas angin.

__ADS_1


Sandra yang kalah sekarang.


"Kalau cuma ini masih belum cukup San, bisa-bisa nanti kita yang dituduh playing victim, kamu tau kan power Claudia dan Leon sekuat apa? Kalau sampai kita kalah, yang kasihan juga Afiza sama ibunya. Mereka punya harta, tahta, dan kuasa, kalo cuma ini masih bisa mereka kendalikan." Timpal Hainry, memberi nasihat pada Sandar, agar dia tidak mengambil keputusan secara gegabah. Harus hati-hati dan dipikirkan dengan baik.


"Aku tau kok, kalo untuk sekarang masih belum bisa. Kumpulin banyak bukti lagi, aku yakin pasti ada jalan." Sandra tersenyum percaya diri, kejadian ini saja tidak diduga akan mengarah kesana.


Hainry menarik senyuman manisnya, semakin lama Hainry mengenal Sandra, semakin dia jatuh cinta sedalam-dalamnya.


...****************...


Satu minggu sudah berlalu sejak kejadian itu, semuanya sudah membaik, para korban sudah menerima terapi mental dan juga perawatan fisik. Semuanya ditanggung oleh pemerintah memakai harta sang pelaku.


Semuanya sudah lebih baik.


Afiza bahkan sudah pulang ke rumahnya sendiri. Tentu saja dengan dua pengawal diam-diam yang Sandra kirim, untuk jaga-jaga takut kalau Leon dan Claudia malah mengambil tindakan karna curiga.


Semuanya baik-baik saja harusnya, sampai Hainry mengingatkan Sandra atas janji yang pernah Sandra buat.


Saat ini, Hainry duduk dibawah sofa bersandar di sofa yang sedang Sandra tiduri. Sofa panjang dengan Sandra yang telentang malas di atasnya. Wajar, ini rumahnya dan Sandra hanya ingin berleha-leha. Hainry saja, tidak diundang, tidak diajak, malah bertamu sesuka hatinya.


"Ini konsep lamarannya mau kayak gimana?" Celetuk Hainry sembari tangannya mengubah-ubah channel televisi di depannya.


Sandra refleks membuka matanya, dia diam sebentar untuk mencerna pertanyaan Hainry. Dan memberikan jawaban yang masuk akal.


"Jangan pura-pura lupa ya San, aku gak terima." Tambah Hainry lagi saat Sandra belum mengeluarkan jawaban apa-apa.


Sandra tidak lupa.


Pura-pura lupa juga tidak mungkin.


Dia memegang harga diri yang tinggi, mana Sandra mau pura-pura lupa dan menarik kata-katanya kembali.


Sandra ingat, dia sudah setuju untuk bertunangan dengan Hainry jika misi ini selesai dan berhasil.


"Ya udah, lamar ke rumah lah. Tapi tunggu dulu, aku bilang sama kakek. Terus kalau itu Kakek Gheobalt pasti dia bilang ingin ketemu orangnya, calon suami aku. Ya udah nanti pasti disuruh makan malam terus kamu nanti datang deh. Tapi gak tau kapan, tunggu aku laporan sama Kakek dulu."


Sandra tidak mengelak, dia menerimanya, toh dia juga tidak rela kalau Hainry dengan yang lain.

__ADS_1


"Oke, ketempat kakek kapan? Laporannya kapan? Jangan bilang minggu depan."


*Uhuk!


Itu perkataan yang menohok untuk Sandra, soalnya Hainry benar-benar tepat sasaran karna Sandra memang berniat melapor minggu depan saja, mempersiapkan mental, jawaban, dan lainnya.


Tidak mudah berurusan dengan keluarga Andrafana ini.


"Kan?" Hainry langsung memutar badannya, melirik Sandra dengan serius, dia agak menyipitkan matanya, sepertinya benar dugaannya, niat Sandra malah minggu depan, sedangkan Hainry sendiri sudah tidak sabar.


"Ya terus maunya kapan? Aku harus siapin banyak hal untuk bilang gitu tau." Sandra tidak mau mengalah, dia tetap bersikukuh mau minggu depan aja.


"Sekarang." Jawab Hainry santai, sembari menunjukkan ponsel Sandra dengan layar sedang melakukan panggilan pada Kakek.


Sandra membuka matanya lebar-lebar, dia refleks langsung duduk dan merampas ponsel itu.


Astaga!


Hainry ini benar-benar ...!


"Ya, halo ada apa kau menghubungi kakek lebih dulu, tumben, apa kau punya masalah?" Suara dari dalam ponsel itu menyapa Sandra.


Sandra deg-degan, dia tidak enak dan merasa itu tidak sopan jika langsung mematikan ponselnya begitu saja.


Tapi Hainry, lihat dia sekarang? Dia menampilkan cengiran manis yang menyebalkan.


"N-I-K-A-H." Hainry berbisik tanpa suara, tapi dia menjelaskan dengan gerakan mulut yang jelas.


Sandra tau dan paham, dia juga mengerti. Mana mungkin seorang detektif jenius sepertinya tidak bisa menebak gerakan bibir Hainry.


"I-itu, aku mau nikah." Sandra berusaha tenang, walau sebenarnya jantungnya berdebar hebat.


Terlepas kerenggangan hubungan antara dirinya dan kepala keluarga Andrafana itu, Sandra tetap menghormatinya karna bagaimanapun dia adalah kakek kandung Sandra.


"Aku mengerti, usia mu sudah cukup untuk menikah. Jadi kau mau tipe yang seperti apa, katakan saja, kakek yang akan mencarikannya. Kau mau dokter? CEO? polisi? tentara? Yang hangat atau dingin?" Tanya Kakek dengan penuh perhatian.


Wah, kekuatan keluarga Andrafana ternyata berpengaruh dalam memilih pasangan, bisa dari berbagai profesi.

__ADS_1


"Enggak mau, aku punya calon sendiri."


"Sandra ... Dimana kau sekarang, kita harus bicara, ini bukan masalah sepele."


__ADS_2