
......................
Sandra melambaikan tangannya pada Afiza, soalnya Afiza akan pergi dengan Yana, untuk memeriksa kesehatan, dan merawat luka-luka gadis mungil itu.
"Kakak jangan lupa jenguk aku ya!" Afiza melambaikan tangannya dengan senyuman.
Kedua pelaku sudah diamankan sekarang, Devano juga sudah mendapatkan satu pencuri yang tadi sempat kabur. Mereka bertiga sudah diborgol dengan rapi, dua yang terluka akan dibawa ke rumah sakit dahulu untuk menjalani kesehatan, bagaimanapun itu adalah prosesnya.
Para polisi juga segera datang, mereka langsung memasang garis batas polisi di rumah tua itu.
Di pelabuhan, semuanya sudah aman. Sandra sudah tau dari Hainry, bahwa anak-anak yang terluka sudah diamankan dan dibawa ke rumah sakit untuk menjalani tes fisik dan mental, banyak dari mereka yang terluka.
Para korban sebelumnya berada di mobil box berwarna hitam, semuanya selamat, walau dengan trauma dan ketakutan berat. Tapi Sandra yakin, perlahan-lahan itu akan pulih.
"Sini." Hainry menggendong Sandra tanpa persetujuan dan izin apapun, dia dengan wajah datar yang asing membawa Sandra pergi menjauh dari tempat itu.
Tidak masalah, Sandra sudah memberikan kesaksian, penjelasan, dan keterangan pada polisi yang bertugas, sisanya biar mereka saja yang menyelesaikannya. Pun dengan Hainry yang sudah menjabarkan dari A sampai Z, detail-detail kejadian yang dia tau. Jadi dia sudah selesai berurusan dengan para polisi.
"Kita mau kemana?" Tanya Sandra, dia sedikit merasa aneh, tidak biasanya Hainry gegabah seperti ini. Tapi tetap saja, Sandra mengikutinya karena yang menggendongnya adalah Hainry, orang yang sangat dia percaya, yang dia jamin Hainry sendiri juga tidak akan mengkhianati kepercayaannya.
"Nyari angin." Jawab Hainry, masih dengan ekspresi yang datar, dia terus melangkah entah kemana.
Sandra membiarkannya saja, jika itu Hainry terserah dia. Dibanding pusing dengan apa yang coba Hainry lakukan, Sandra memilih menutup mata, dan tidur sebentar.
Dari kemarin sore, sampai subuh dini hari Sandra belum tidur sama sekali, mungkin memang ini waktunya untuk istirahat.
"Bangun dulu, kalo mau lanjut tidur bentar lagi, liat ini dulu." Rengek Hainry dengan suara manjanya, dia sedikit menggoyang tubuh Sandra, mengusik kedua pipi gadisnya.
Sandra membuka matanya secara perlahan, saat dia sadar tubuhnya tidak lagi bergoyang, dia sudah nyaman. Mungkinkah mereka sudah sampai?
Tepat saat Sandra membuka matanya. Dia bisa melihat, langit berwarna biru keunguan, juga ada semburat-semburat jingga, pertanda matahari akan segera terbit.
Sangat indah.
Pemandangan sederhana namun sangat menyejukkan mata.
Rasanya ini simpel, tapi entah kenapa momennya begitu terasa berharga.
Saat Sandra sadar, dia sedang terbaring di dalam pelukan Hainry, Hainry yang bersandar di pohon mangga masih setia memeluk erat tubuh Sandra, sembari terus menatap langit gelap yang perlahan cerah, mempersiapkan sang surya untuk bangun pagi ini.
__ADS_1
Sandra tau ini posisi yang aneh untuk kapten dan wakil kapten, tapi sayangnya rasa aneh itu kalah dengan rasa nyaman yang Sandra rasakan ketika dia ada di dalam dekapan Hainry. Pelukan erat yang menghangatkan hati dan pikiran Sandra, jiwanya jadi tenang, kesepian sudah terbang, Sandra benar-benar merasa nyaman sekarang.
"Cantik ya?" Sandra bahkan tidak berniat pindah dari posisinya sekarang. Ada apa ini? apa sifat manjanya sudah keluar?
"Cantik kok." Hainry menatap Sandra penuh makna.
Benar
Untuk Sandra cantik yang dia maksud adalah kata untuk mengapresiasi keindahan langit yang Tuhan ciptakan sekarang.
Tapi untuk Hainry, cantik yang dia maksud adalah kata apresiasi untuk keindahan perempuan kuat di dalam pelukannya sekarang, yang Tuhan ciptakan, yang Hainry percaya sebagai anugrah dari Tuhan untuk dirinya.
"Kayaknya cantik nya beda objek." Sandra mengalihkan pandangannya, dia kembali menatap matahari yang mencoba muncul dengan malu-malu.
"Bisa jadi." Hainry menarik sudut bibirnya, dia tersenyum manis, dengan tangannya yang tidak berhenti mengusap rambut Sandra.
Apapun yang Hainry lakukan sekarang, Sandra tidak marah, tidak membentak, tidak pula menolak.
Sandra bahkan ikut diam dan menikmati pemandangan pagi yang indah ini, matahari yang semula malu-malu, mulai percaya diri menampakkan dirinya sepenuhnya.
"Aku mau tidur." Sandra menutup matanya, dia lelah, dia ingin istirahat, dia tidak lagi sanggup untuk berjalan. Lagipula, untuk apa dia mencari tempat nyaman untuk tidur, saat tubuhnya sendiri sudah merasa sangat cocok ada di dalam pelukan Hainry.
Juga nyaman,
dan menenangkan.
"Tidurlah."
Hainry ingin mengecup kening Sandra, namun dia tahan saat itu juga, tepat sebelum bibirnya menyentuh kening sang kapten.
Bisa bahaya.
Bisa-bisa momen yang sudah dibangun sekarang dengan susah payah, nanti bisa hancur hanya karna satu kecupan.
Bisa saja Sandra nanti marah kan?
Hainry menarik napasnya dalam-dalam, dia mencoba puas dengan pencapaian dan kemajuannya sekarang.
Ini sudah sangat bagus
__ADS_1
Dibandingkan dulu ini adalah pencapaian terbaik.
Untuk sekarang, Hainry harus puas dengan sampai disini, jika dia serakah dan terburu-buru meminta lebih, yang ada nanti Sandra bisa pergi.
"Kalau ada yang bilang cinta bisa buat gila, kayaknya itu gak salah."
Hainry menyandarkan kepalanya pada pohon, dia menarik sudut bibirnya puas. Setidaknya, untuk beberapa jam kedepan saat Sandra tidur, dia akan berada di dalam pelukan Hainry. Dan Hainry bisa bebas menatap wajah tidur pulas sang kapten sebebasnya.
Coba tebak, sebahagia apa Hainry sekarang?
......................
Satu hari sudah berlalu sejak kejadian itu, semua kejahatan mulai dibongkar, ternyata mereka bergerak atas perintah seseorang. Orang itu adalah seorang pengusaha kaya raya, yang sudah mengincar anak-anak targetnya.
Dia pengusaha yang sering keluar-masuk toko-toko yang memiliki anak kecil. Dia terobsesi, entahlah, pedofil sialan itu memang benar-benar keji, ini bukan kasus pertama, ada banyak kasus lainnya.
Manusia, biasanya selalu menginginkan hal yang dia tau, pernah dia dengar atau bahkan dia lihat. Dan pengusaha itu, menginginkan anak-anak itu karena dia pernah melihat dan mendengar banyak hal soal target-targetnya.
Akhirnya setelah kerja keras gabungan antara Detektif YK71 dan para polisi, mereka berhasil mengungkap dalang dari semua tragedi ini.
Untuk kasus penculikan Afiza, dia bukan anak yang diincar, Afiza hanya anak kecil yang kebetulan mereka lihat saat melewati jalan itu, langsung berinisiatif mencuri Afiza karna terlihat imut dan mungil.
Semuanya sudah selesai, untuk sisanya Fladilena yang urus. Memang kalau soal kerjasama dengan polisi, itu bagiannya Fladilena.
Seluruh pelaku yang terlibat sudah ditangkap, mungkin akan diadakan pengadilan Minggu depan. Dan Sandra akan memastikan bajingan itu akan menerima hukuman yang setimpal, yang cukup membuatnya jera, hukuman keras yang membuat orang lain tidak akan meniru tindakannya.
Kini, Sandra mode detektif, dia memakai jaket khusus YK dan juga masker spesial miliknya. Hainry dan Rafael juga ikut, ketiganya datang mengunjungi rumah sakit dimana para korban dirawat. Termasuk ada Afiza juga disana. Dan yang paling utama ingin Sandra temui adalah Afiza, dan Amika--sang ibu. Sandra ingin melihat ekspresi leganya, dengan begitu mungkin Sandra juga bisa lega dan berdamai atas kematian Adit sang supir.
"Ada apa? Kenapa Mas senyam-senyum gitu? Salah makan apa begimana?"
Tanya Rafael pada Hainry, yang sedari tadi menebarkan senyuman puas dan bangga.
"Anak kecil gak boleh tau." Jawab Hainry santai tanpa beban.
Jangan tanya!
*Uhuk!
Wajah Sandra memerah, dia malu sampai tulang-tulangnya, Sandra juga tidak tau apa yang merasuki dirinya, hingga dia bisa tidur berjam-jam di dalam pelukan Hainry.
__ADS_1
Syukurlah Sandra memakai maskernya, kalau tidak hidungnya yang memerah pasti akan semakin mengundang kecurigaan Rafael.