
BRAKKKK!!!
Pintu utama di dobrak kasar oleh seseorang. Pria itu berlari masuk dengan raut wajah yang kacau, dia langsung mendatangi Claudia yang berdiri dengan ekspresi kesal.
Nafas pria itu terengah, tapi dia tetap memaksa untuk berbicara.
"Beraninya kau mengacau di pertunangan adik ku." Gerald menatap pria itu sinis. Hukuman, Gerald ingin menghukumnya saat itu juga, memberinya pelajaran agar dia jera dan merasa bersalah.
"N-Nona Eca mengalami kecelakaan parah, di-dia meninggal ditempat!" Teriak pria itu tepat di hadapan Claudia.
Waktu bagai berhenti untuk Sandra, satu berita berhasil melumpuhkan hari dan akal pikiran Sandra dalam sekejap, satu berita dengan dua kalimat yang dia jabarkan sempurna dengan makna yang begitu mengguncangkan hati dan jiwa.
Eca-nya tiada?
Bulir hangat itu, mentes begitu saja dari mata Sandra, kepalanya penuh, katakan bahwa ini hanya prank dan Sandra akan percaya ini prank.
Lakukan apapun, Sandra ingin berita ini salah.
Dadanya sesak, berita ini sulit untuknya percaya, seolah menerima kabar buruk di hari yang cerah.
Tidak.
"Ini pasti omong kosong! Ini hanya omong kosong belaka, tidak mungkin kalau Eca tiada!"
Apapun, Sandra ingin mendengar berita ini bohong, air matanya mengalir tanpa henti bersamaan dengan rasa sakit yang menjulang tinggi dihati.
Deg
Gerald yang tadi marah langsung terdiam, matanya terbuka lebar, hatinya sesak, sakit sekali. Ingatan-ingatan kenangan yang dia habiskan bersama Eca masuk memenuhi kepalanya.
Nyess
Bahkan jika Claudia adalah iblis, dia tetaplah seorang ibu, bahkan jika Claudia adalah perempuan keji, dia tetaplah seorang ibu yang akan menangis ketika mendengar kabar buruk soal putrinya.
"Tidak mungkin!" Tepis Claudia, dia tidak percaya bahwa putirnya akan tiada hari ini, dia tidak yakin.
"Omong kosong! itu pasti hanya omong kosong! Aku ingin bertemu dengan putri ku!"
Rasa sakit, sesak, dan putus asa menghampiri dirinya, anaknya yang menjadi ambisinya, putrinya yang menjadi salah satu tujuan hidupnya direnggut oleh Tuhan dengan cara yang seperti itu?
"Tidak mungkin Eca ku tiada!" Claudia mencengkram bahu pria itu erat.
"Kau pasti berbohong kan! Eca ku tidak mungkin tiada! Tadi pagi aku masih melihatnya, dia masih sehat dan baik-baik saja!" Claudia masih belum menerima fakta bahwa putrinya sudah tiada.
"Iya, Nona Eca baru saja kecelakaan saat menuju kemari, dengan mobil putih yang berhias bunga-bunga, mobil yang harusnya dipakai Nona Sandra."
Deg
Waktu bagai berhenti, Eca pergi, Claudia ingat kembali bahwa dia yang mengatur agar rem mobil itu blong, agar dia yang mengatur Sandra mati kecelakaan dengan mobil itu.
Tapi apa sekarang?
Bukan Sandra, melainkan putrinya.
Claudia mulai percaya bahwa putrinya sudah tiada, karna dia tau kemungkinan kecelakaan itu besar.
__ADS_1
Claudia diam membatu, segala perasaan menusuk hatinya, penyesalan, putus asa, kebencian, kecewa, sakit, kesepian.
Perasaan yang menggunung dihatinya, mulai terbesit dipikirannya, apakah jika dia tidak menyabotase mobil itu, putrinya akan tetap hidup? Apakah Eca-nya masih ada?
"Eca ku ...!"
" Akhhhh!! TIDAK MUNGKIN! ECA KU! PUTRI KECIL KU YANG LUCU DAN MENGGEMASKAN! TIDAK MUNGKIN DIA SUDAH TIADA! DIA PASTI SEDANG MAIN BONEKA DI RUMAH!" Claudia berteriak frustasi, dia memegangi kepalanya yang terasa sakit dan penuh, sesak, air matanya tak mau berhenti, suara Eca dan wajahnya tumpang tindih dengan berita kematiannya, kepala Claudia sangat ramai.
"Eca putri kecil ku ..." Perlahan-lahan Claudia kehilangan kesadarannya, kepalanya sangat sakit, berita mendadak yang dia dapatkan membuatnya sangat shock.
Syukurlah ada yang menangkap tubuh Claudia saat perlahan-lahan dia jatuh pingsan.
Brakh!!
Sandra langsung berlari keluar, dia ingin melihat Eca, memastikan sendiri dengan mata kepalanya bahwa Eca masih hidup, dia yakin Eca masih hidup.
Tadi pagi mereka masih bercanda gurau, bahkan siang ini mereka masih membahas banyak hal, siang itu ketika Eca menceritakan banyak hal, waktu baru berjalan singkat, rasanya mustahil Eca tiada.
Kaget yang diikuti tangis.
Tangis yang berlanjut dengan teriakan.
Teriakan yang memelan dengan rasa sakit yang menusuk semakin dalam.
Semua orang yang ada disana menangis tersedu-sedu, mereka semua terkejut, seolah tidak ikhlas dengan kepergian malaikat yang terkenal polos itu.
Eca artis berprestasi dengan image bagai malaikat, tidak pernah terlibat skandal serius, banyak sekali yang mengidolakannya, dan menjadikannya panutan, banyak dari hadirin pesta ini yang mengenal dan mengidolakan Eca.
Semuanya menangis, ada yang berteriak, ada yang menangis dalam diam, seperti Hainry atau Gerald saat ini.
"Pertunangan dibatalkan, semua tamu diharap pulang sekarang." Pak Agam mengangkat suara, meski bulir hangat tidak turun dari matanya, tapi ketulusan bahwa dia ikut berduka atas kepergian Eca bisa semua orang rasakan.
Hari yang harusnya merupakan hari bahagia.
Hari yang harusnya tercatat dalam hidup Sandra sebagai hari yang cerah, kini dihujani air mata.
Hari pertunangan yang harusnya penuh senyum, menjadi hari kepergian yang penuh tangis.
Tidak ada yang tidak bersedih atas kematian Eca.
Hari ini, hujan lebih deras,
malam terasa lebih gelap,
Angin terasa lebih dingin.
Dan Sandra, kehilangan salah satu keluarganya dengan cara yang menyakitkan, sama seperti kepergian orangtuanya.
......................
"Ecaaa!!!"
Sandra berlari di koridor rumah sakit dengan gaunnya yang sudah kotor dengan lumpur, dia tau ini tidak sopan, dia tau ini tidak baik, dia tau ini melanggar aturan, tapi maafkan Sandra, dia hanya ingin segera bertemu dengan Eca.
Sandra berlari menuju sebuah kamar, yang berisi Eca, dia sudah mendapat pemberitahuan dari resepsionis di depan.
__ADS_1
Sandra berlari kencang, melawan angin, mengangkat kedua sisi gaunnya.
Brakh!
Sandra mendobrak pintu itu, langkahnya memelan saat dia melihat sosok tubuh yang ditutupi kain putih dari atas hingga bawah, hanya ujung kakinya yang terlihat.
Tangan Sandra gemetar, dia tetap melangkah walau pelan.
Hingga langkah takut yang gemetar itu membawanya menyentuh sosok itu.
Sandra menarik napasnya.
Dia berdoa, semoga wajah itu bukan wajah Eca. Semoga saja bukan.
Terbuka
Deg!
Sandra ingin marah, tapi pada siapa?
Wajah itu benar-benar wajah Eca, dengan luka di pelipis, kepalanya yang masih berdarah, hidungnya yang masih mengeluarkan darah.
"ECAAAA!!!"
Tidak mungkin
Tidak mungkin
Sandra tidak percaya, Eca benar-benar terbaring tak bernyawa di depannya.
Masih tadi pagi dia bercanda dengan Sandra.
Masih siang tadi dia berencana ingin membuat skandal untuk mengamankan nama baik Sandra.
Masih siang tadi, Eca menggoda Sandra yang bertunangan.
Sejak pagi mereka berdua selalu kemana-mana bersama,
Tapi
Secepat ini kah?
Hanya dalam waktu singkat, dia sudah berbeda dunia dengan Eca.
Sandra menangis sejadi-jadinya, sakit sekali, kenapa harus Eca?
Sandra menghentikan tangisnya, saat tanpa sengaja Sandra melihat sebuah gelang ditangan Eca. Gelang antik dengan ukiran detail yang khusus, gelang yang Sandra hadiahkan untuk Eca.
Gelang yang Eca pakai siang tadi. Gelang itu kini sudah berlumuran darah segar. Meski begitu, Sandra masih tau kalau tangan itu adalah tangan Eca, dan gelangnya milik Eca.
Tidak ada alasan lain untuk Sandra menolak fakta di depan mata.
Bahwa hari pertunangannya, adalah hari dimana sepupunya Ecalica Andrafana tiada karna sebuah kecelakaan.
" Eca ...!"
__ADS_1