My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 38


__ADS_3

...****************...


Seluruh anggota YK sudah berkumpul kembali di markas, dengan bukti yang sudah mereka dapatkan saat ini.


Dari hasil penyelidikan data, cctv, kendaraan, mereka akhirnya menemukan dua orang tersangka, yang selalu ada di tempat kejadian di toko-toko tempat para anak itu diculik.


Sandra menjadi sedikit lebih lega, saat dia menemukan satu lagi benang merah yang akan menghubungkan dirinya dengan kasus ini. Jika kasus ini bisa selesai, dan Afiza bisa ditemukan, barangkali rasa bersalah Sandra sedikit terobati.


"Mbak, dari data dan cctv beberapa Minggu terakhir, pria ini dan mobilnya sering keluar masuk perkebunan karet di jalan Merah." Lapor Rafael, seperti biasa, Rafael memang benar-benar bisa diandalkan.


"Malam ini kita akan bergerak kesana, Rafael tetap di sini. Semua orang laporkan setiap informasi pada Rafael, dan Rafael yang akan menyebarkannya, Rafael pantau terus siapa yang keluar masuk. Jika mereka memanggil bala bantuan, turunkan perintah mundur." Perintah Sandra, dia sudah memakai jaket hitam dan masker hitam khas miliknya saat dia sedang bertugas.


"Siap Kapten! bergerak!"


Setiap orang mempersiapkan senjatanya, mereka akan bergerak saat ini, mungkin akan sedikit sulit karna tidak ada lagi Kandri si pengatur strategi cadangan, apalagi tembakannya selalu tepat sasaran, dia memiliki fokus yang bagus. Mungkin akan sedikit menyulitkan untuk Tim YK kehilangan Kandri.


"Aku dan tim yang bergerak bersama ku, akan maju lebih dulu, memastikan situasi dan perkiraan berapa orang disana, saat informasi pasti aku akan menyampaikannya pada Rafael. Setelahnya kita akan menyusun strategi untuk situasi baru disana."


Sandra bergerak cepat.


Tapi Hainry diam sebentar, dia yakin ada yang aneh disini, tidak mungkin segalanya berjalan selancar ini.


Semua anggota yang akan turun ke lapangan sudah bergerak keluar, hanya tinggal Hainry dan Rafael di dalam sini. Yah, Rafael kan tugasnya memang disini, dia paling ahli soal teknologi, tapi kurang dalam bela diri dan menembak.


"Kenapa diam? Udah males kerja?" Tanya Rafael, mengerutkan alisnya menatap sang wakil kapten. Tidak biasanya Hainry seperti ini, tidak biasanya dia menjadi pemalas, apalagi jika itu misi dengan Sandra maka yang paling semangat adalah Hainry tentunya.


"Teruslah hati-hati dan waspada, aku merasa ini bukan kasus yang semudah itu. Dan ya, opsi penjualan anak masih ada, perkebunan itu sangat dekat dengan pelabuhan, bisakah kau memantau cctv pelabuhan?"


Rafael melirik Hainry sedikit, dia agak mencurigakan dan aneh soalnya, biasanya Hainry selalu menuruti perintah Sandra tanpa syarat, tanpa bantahan, tapi kali ini dia punya rencana B tersendiri?


Apa maksudnya?


"Apa rencana Mas Hainry?" Rafael agak menyipitkan matanya, melirik tajam ke arah Hainry.

__ADS_1


"Jaga-jaga kalau seandainya kita salah, dan mereka melarikan diri ke pelabuhan, kita masih punya jejak. Dan lagi, semua opsi harus kita periksa agar bisa menyatukan benang merah. Kalau begitu aku pergi, kau harus hati-hati." Hainry mengusap kepala Rafael, lalu dia berjalan pergi menyusul Sandra dan yang lainnya.


Rafael terdiam sebentar, dia memikirkan lagi maksud Hainry, ada benarnya juga, mereka sudah sampai sejauh ini, jangan sampai kesalahan kecil menutup keberhasilan mereka.


Tapi rasanya agak aneh jika Hainry yang berkata begitu, biasanya yang mengurus soal rencana B dan rencana khusus lainnya adalah Sandra. Tapi kini agak aneh saat yang memerintahkan adalah Hainry tanpa sepengatahuan Sandra.


Meski begitu, Rafael tetap melakukannya, karna dia percaya bahwa Hainry orang baik, dia percaya bahwa Hainry akan melakukan segala yang terbaik untuk Sandra. Karna Rafael tau, Hainry tidak akan mengambil resiko untuk Sandra terluka.


"Karna yang paling mencintai Mbak Sandra mungkin adalah Mas Hainry."


......................


Sandra sudah sampai di dalam perkebunan, mereka membagi menjadi tiga tim, dan tim Sandra kali ini bergerak dengan Yana, Farhan dan Vina. Dua tim lagi dipimpin oleh Hainry dan Fladilena, dengan masing-masing berisi anggota empat orang.


Sandra datang dari arah timur, dimana matahari akan terbit nanti, tapi masih agak lama karna ini masih tengah malam. Tim Sandra akan bergerak lebih jauh, mereka memastikan apakah ada markas khusus dan berapa orang yang berjaga disana.


Sandra sekarang sedang berjalan sendiri, tapi tidak begitu jauh ada anggota timnya yang juga bergerak masing-masing memantau setiap keadaan disana.


Itu lampu kan?


Sandra tidak begitu jelas melihat ada rumah, tapi yang jelas ada cahaya lampu di ujung sana. Perlahan-lahan Sandra berjalan mendekat, dia menggunakan teropong khusus miliknya, hingga dia tau bahwa disana ada dua rumah kayu yang cukup besar, tapi tidak terlalu besar.


Tapi Sandra tidak melihat ada penjaga disana, mungkinkah mereka bersembunyi? Atau itu hanya rumah kosong saja?


"Maju, perlahan." perintah Sandra.


Langkah demi langkah dia tempuh, langkah aman.


Sandra sampai di rumah ini.


Sial!


Rumah itu kosong, tidak ada siapapun di dalamnya.

__ADS_1


"Periksa setiap sudut, lapor pada Rafael, minta Rafael untuk memantau cctv sekitar, katakan pada tim lain untuk berpencar!" Perintah Sandra.


Dia masuk untuk memeriksa detail di dalam ruangan itu.


Halaman luar kosong, namun banyak jejak kaki, jelas mereka semua sudah pergi, tidak begitu lama, sepertinya mereka baru saja pergi mengingat jejak kaki masih lumayan jelas di tanah berlumpur ini.


Sandra mengedarkan pandangannya di sekeliling rumah, seluruh lampu hidup, seolah memang ingin menggocek Sandra dan timnya.


Dimana?


Sandra melihat lagi, ada satu tas anak sekolah dengan dasi berwarna merah khas anak SD.


Benar.


menurut informasi dan jadwal anak-anak hilang, hanya Afiza saja yang hilang dengan seragam sekolah disaat dia pulang sekolah.


"Milik Afiza?!" Jantung Sandra berdenyut begitu kencang. Dia khawatir, di sisi lain dia juga lega, bahwa Afiza pasti masih hidup, dia pasti masih ada disini.


Banyak pakaian anak-anak lainnya, dan yang lebih mengerikan ada cambuk yang sudah ternoda oleh darah merah, ada juga kursi kayu yang dipasang ditengah-tengah.


"Jangan bilang, bajingan itu menyiksa anak-anak di kursi ini, dan mencambuk mereka?"


Amarah Sandra sudah mendidih, saat dia yakin sepertinya tebakannya itu benar. Ada tali, cambuk, dan kursinya hanya bernoda darah, tidak ada debu, itu artinya kursi ini sering digunakan.


"Sialan! Bajingan seperti apa yang berani menyiksa anak kecil!"


Sandra menggenggam erat dasi Afiza ditangannya, dia yang awalnya merasa lega Afiza masih hidup, kini sangat murka saat tau kemungkinan Afiza disiksa.


Tukh ... Tukh ...!


Suara yang tidak jelas asalnya, menganggu pikiran Sandra. Suara itu cukup jelas, namun juga tidak pasti.


Sandra segera mencari asal suara itu.

__ADS_1


__ADS_2