
Sandra terduduk lemah dilantai, dia meloloskan pria itu begitu saja. Soalnya ada yang lebih penting sekarang, keberadaan dari Afiza itu sendiri.
Sandra bangkit berdiri, membuka ikatan tali di seluruh tubuh Afiza, perlahan-lahan membuka lakban di mulut.
Itu sangat sakit.
Tapi tidak seberapa sakit dibanding luka-luka Afiza yang lain. Dia bahkan sudah lebih baik dan lebih tenang dengan kehadiran Sandra disini.
Afiza melirik perut Sandra.
Tidak ada darah yang keluar.
Padahal jelas-jelas tadi Afiza ingat, Sandra terkena peluru pistol karna mencoba melindunginya. Tidak mungkin Sandra tidak apa-apa kan?
Pasti ada yang luka. Mana ada manusia super berbadan kebal, mungkin?
"Ada apa? Kau kaget kenapa aku tidak terluka? Hmm?" Sandra menarik senyumnya, dia agak berlutut menatap Afiza yang masih duduk di kursi itu.
Afiza mengangguk pelan, dengan mata agak sayu karna dia masih sedikit gugup dan lumayan ketakutan.
"Aku memakai rompi anti peluru, memang terkena tembakan, agak sakit juga, tapi tidak sampai berdarah." Jelas Sandra, ternyata di dalam jaketnya dia memakai rompi berharga itu, bukan sembarang rompi tentunya, itu buatan khusus Yana dan tim.
Fiza mengangguk mengerti, dia tau rompi anti peluru itu apa dan apa gunanya. Dulu saat ada penyuluhan soal kesehatan dan keamanan disekolah, Fiza mendengarkannya dengan sangat baik.
"Dibanding mengkhawatirkan aku, lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri. Pasti sangat menakutkan ya?"
Sakit.
Sesak.
Dada Sandra langsung penuh dengan rasa bersalah yang membuncah, saat Sandra kenal sekali siapa anak yang penuh luka duduk di depannya ini.
Dia Afiza, anak dari Adit dan Amika. Anak yang diculik.
Sandra menyalahkan dirinya sendiri, atas derita dan luka yang Afiza rasakan. Dia selalu membatin, jika Adit tidak meninggal dalam kecelakaan keluarganya, mungkin Afiza tidak akan berakhir disini dengan luka separah ini.
"Maafin Kakak ya."
Tes ...
Bulir hangat itu jatuh tanpa diduga, Sandra hanya fokus menatap retina mata Afiza, mencoba memastikan bahwa gadis kecil itu tidak takut sekarang.
__ADS_1
"Kenapa kakak minta maaf? Aku yang makasih! Makasih banget kakak udah datang kesini buat selamatin aku, makasih kakak udah datang mengusir kesepian. Tadi aku takut banget, mereka bilang mau bunuh aku, aku gak bisa bergerak, aku mau nangis, tapi waktu kakak datang aku jadi tenang."
Afiza memeluk Sandra erat, dengan air mata yang terus mengalir, dia bahkan mengeluarkan suara. Tangisannya benar-benar memilukan hati.
"Apalagi waktu kakak ditembak, aku takut banget!!"
Dia memeluk Sandra semakin erat. Anak-anak itu polos, mereka mudah sekali menilai orang baik dan orang yang jahat.
Sandra memeluk Afiza lebih erat. Dia berterima kasih pada Tuhan karena sudah menyelamatkan Afiza, setidaknya sampai saat ini Afiza masih hidup walau dengan luka yang cukup banyak.
"Sakit banget ya, De?" Sandra berusaha menahan tangisnya, agar Afiza merasa lebih kuat, padahal jauh di dalam lubuk hatinya, sesak itu terasa jelas, saat Sandra melihat luka-luka di bibir, dan pelipis Afiza. Bahkan masih ada darah kering disekitar luka itu.
Belum lagi luka tangan yang tergores, dan punggung yang dicambuk hingga merusak seragam sekolah.
Itu sangat sakit.
Sandra tau itu.
Tapi Afiza sepertinya melupakan rasa sakit itu, karna saat ini dia lebih tenang karna punya Sandra di sisinya.
Sandra menghela napasnya.
Tidak bisa.
Alat komunikasi Sandra sepertinya rusak, dia sudah melewati banyak hal tadi, apalagi masuk ke dalam ruangan ini penuh perjuangan.
"Kak, ayo pulang, rumah aku di jalan Citra kenanga. Dan--"
"Kakak tau kok, Papa kamu namanya Adit kan, udah lama meninggal, mama kamu namanya Amika. Kakak tau, mama kamu juga yang minta kakak buat nyari kamu. Jadi kamu tenang aja oke?" Sandra mengusap kepala Afiza pelan. Dia duduk sebentar dilantai, agak bersandar di dinding.
Sandra beristirahat sebentar, perutnya yang terkena peluru masih sakit, walau tidak berdarah tekanannya masih cukup terasa. Mungkin Sandra akan agak sulit berlari.
"Iya kakak istirahat aja dulu, kakak pasti cape." Tambah Afiza lagi.
Afiza terlihat senang, dia yang tadi ketakutan menjadi cukup tenang sekarang, walau mungkin nanti dia akan memiliki trauma sendiri. Tapi setidaknya, sepertinya mental Afiza cukup kuat, dia bisa bangkit perlahan-lahan nantinya.
Sandra tau, Afiza akan memiliki trauma dengan masa lalu setragis ini, tapi tidak apa-y, Sandra yakin dia akan bisa membantu Afiza mengatasi traumanya.
Sandra berfokus sebentar, dia yakin satu orang itu sudah lari, dan dua disini sedang pingsan. Sandra percaya bahwa yang kabur tadi tidak akan kembali, tapi untuk jaga-jaga Sandra tetap harus hati-hati.
*Bagaimana keadaan di pelabuhan ya? Aku harus cepat memberikan informasi. Aku harus segera menemui anggota lainnya, dan memberi info pada Rafael. Bahwa yang disini sudah selesai dan hanya satu korban. Kemungkinan enam korban lainnya ada di mobil box atau mobil hitam itu.
__ADS_1
Aku harus cepat*.
Sandra sedikit menggerakkan kakinya, dia sudah harus bangkit lagi, dia tau membuang waktu saat ini sangat tidak efektif. Apalagi dia belum bisa menghubungi Rafael, entah bagaimana keadaan di pelabuhan Sandra tidak tau, apakah keadaannya aman, semuanya selamat, atau malah sebaliknya?
Apalagi, korban lebih banyak di pelabuhan.
Sandra harap, tidak ada yang terluka lagi, apalagi kalau sampai nyawa yang menghilang.
Bukh Buk Bukh!
Suara langkah kaki cepat datang dari atas, dimana tangga itu penghubung antara ruangan bawah tanah dan rumah yang tadi.
Sandra langsung berdiri, mengambil pistolnya dengan posisi bersiap, Sandra melirik Afiza mengisyaratkannya untuk segera bersembunyi di balik lemari.
Sandra tersentak kaget, saat dia sadar ada Hainry yang berlari begitu cepat ke-arahnya, sangat cepat dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
"Aku mencintai mu ...!" Hainry memeluk Sandra dengan sangat erat. Tidak akan dia lepas apapun yang terjadi.
"Ha-Hainry! Bagaimana kau bisa disini? Bagaimana korban di pelabuhan?"
Sandra tidak akan bisa tenang, sebelum dia menerima laporan pastinya.
"Semuanya selamat kecuali aku, aku nyaris mati." Hainry memegang kedua pipi Sandra erat, dia menatap retina mata sang gadis lekat, tidak mau lepas, Hainry sangat serius.
Sandra tidak tau alasannya apa, tapi tatapan Hainry saat ini sungguh bukan sembarang tatapan, ada rasa takut, dan lega secara bersamaan.
Deru nafas pria itu masih bisa Sandra dengar dengan sangat jelas, apalagi detak jantungnya yang kacau, mungkin itu karna Hainry terus berlari.
"Kenapa kau nyaris mati? Kau masih hidup sehat saat ini makanya kau bisa berlari sampai disini, kan?"
"Aku nyaris mati saat mendengar dari Rafael, kau tertembak. Saat memikirkan itu, dunia rasanya runtuh, mungkin terdengar lebay dan berlebihan. Tapi ini sungguhan, aku nyaris mati menanggung sakit ini, jadi kumohon jangan pernah terluka ... Sandra."
Hainry menatap Sandra sungguh-sungguh, entah kemana perginya Hainry yang penuh komedi.
Hainry benar, perkataan itu harusnya terdengar alay dan lebay, dunia runtuh hanya karna Sandra mati?
Tapi sepertinya tidak begitu, itu bukan perkataan yang berlebihan. Hainry hanya menyatakan perasaannya dalam bentuk lisan.
Karna Dunia Hainry, adalah Sandra.
Mungkin Sandra hanya satu orang untuk dunia ini, tapi Sandra adalah Dunia untuk Hainry.
__ADS_1