
......................
Lima menit sudah berlalu sejak hakim bertanya dimana Amika, tapi Amika belum muncul juga sampai sekarang, Viona beberapa kali melirik Sandra, memastikan apa yang sebenernya terjadi.
Para media sedang berbisik-bisik, dimana saksi yang dikatakan tadi. Suasana pengadilan yang tadi hening mendadak ramai dengan bisikan.
Mereka yang mulanya menatap tidak percaya pada Claudia karna bukti itu, kembali menatap Sandra dengan ragu, dengan bisikan yang sama menjengkelkannya.
"Dia berbohong."
"Dia menjebak bibinya sendiri."
"Setelah membunuh anaknya dia ingin memenjarakan ibunya dengan keji."
"Kejam sekali Nona Andrafana yang terlihat polos ini."
"Mungkin dia ingin memasukkan bibinya ke penjara karna Nyonya Claudia sering memberitakan soal dirinya dan Tuan muda Klaun."
Bisikan itu terus terdengar semakin lama semakin kuat, hingga telinga Gerald yang ingin berpura-pura tidak dengar, malah terus terbuka dan mendengarnya. Semakin menambah kekesalan Gerald saja.
Tapi disisi lain, Gerald juga berharap bukan sang ayah yang melakukannya, dia tidak ingin kecewa lagi.
Fla tidak peduli dengan bisikan itu, ia sedang sibuk menelpon Yana, Hainry juga sama sibuknya, dia mencoba mencari jalan lain, mengabaikan segala ucapan tidak berdasar mereka, Sedangkan ditempatnya Claudia menarik senyuman smirknya.
Tapi ...
Sandra sendiri masih tenang, dia tau apa permasalahan Amika. Problem seorang ibu adalah takut meninggalkan anaknya, Sandra tau Amika pasti berat meninggalkan putrinya Afiza.
"Maaf yang mulia, saya datang terlambat."
__ADS_1
Pintu sudah terbuka, tampak Amika dan Yana masuk ke dalam ruang sidang, tampak juga Afiza ikut.
"Yang mulia, ini adalah saudari Amika, saksi yang kami sebutkan." Viona langsung menarik tangan Amika untuk datang ke tempat dimana dia harus bersumpah dan bersaksi dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran.
Amika dibawa ke tempat itu, dia berdiri, semua pandangan tertuju kearahnya, kamera memusatkan fokus pada Amika yang berdiri disana.
Sandra melirik Afiza, bocah yang sudah mengantar ibunya kesini, bocah yang jenius dan berpotensi itu.
Afiza tersenyum haru, dengan air mata yang mengalir dari matanya, Sandra juga sama dia tersenyum hangat menatap gadis muda itu.
Karna Sandra tau, apa yang membuat Amika ragu.
Dan itu hanyalah Afiza, hanya Afiza yang bisa meyakinkan Amika untuk memberikan kesaksian.
Bagi Amika yang ibu tunggal, Afiza adalah segalanya, kalau dia sampai mengaku dan menjelaskannya mungkin saja Amika akan dipenjara beberapa waktu.
Walau masih kecil, Afiza tau ayah dan ibunya juga bersalah, tapi juga merupakan korban, tapi untuk menyelesaikan semuanya, benang merah harus dirajut. Amika mengerti itu, seperti Sandra yang mencoba berdamai dengan keadaannya yang seorang anak yatim piatu, Afiza juga ingin berdamai dengan keadaannya, menerima fakta bahwa sang ibu juga terlibat.
Mengakui kesalahan dan bertanggungjawab tidak membuat mu terlihat buruk, kau akan sangat buruk saat kau membuat kesalahan, melempar tanggungjawab nya pada orang lain.
Dari Sandra, Amika belajar, bahwa kuat sesungguhnya adalah berani berdamai dengan diri sendiri.
Baik Amika maupun Afiza mencoba ikhlas, menerima semua ganjaran yang ada, menerima segalanya, dan mencoba awal baru yang lebih baik lagi.
"Terimakasih." Sandra tersenyum hangat menatap Afiza, bibirnya membentuk ucapan terimakasih. Dan Fiza tau apa yang Sandra ucapkan.
Berat untuk Fiza mengantar ibunya ke pengadilan yang mungkin akan menjatuhi hukuman penjara pada ibunya, yang membuat ibunya mungkin saja akan berpisah dengan dirinya.
Tapi Afiza juga tau, salah tetaplah salah. Sandra juga korban, Sandra juga butuh keadilan. Anak kecil yang baik dan jenius, sepertinya Amika berhasil mendidiknya menjadi anak yang cerdas.
__ADS_1
"Silahkan katakan apa yang anda ketahui saudari Amika." Viona mempersilahkan Amika mengatakannya.
Amika menarik napasnya, mencoba tenang dengan apa yang terjadi sekarang, dia menatap putrinya yang tersenyum dengan air mata di bangku tamu yang hadir.
Dia gugup, dia takut, tapi kepercayaan dan kasih sayang yang Afiza berikan menguatkan diri Amika.
"Saya Amika Nugraha bersumpah akan memberikan kesaksian yang sebenarnya terkait segala kasus ini yang saya ketahui."
"Lalu, apa yang saudari Amika ketahui?" Hakim menatap Amika serius, Amika menarik napasnya mencoba mengingat lagi kejadian belasan tahun lalu itu.
"Baik yang mulia, satu minggu sebelum kejadian itu, saya yang sedang hamil saat itu diculik oleh beberapa orang, saat saya sadar saya ada di ruangan yang gelap, tangan saya terikat, mulut saya disumpal, dan saat itu saya melihat Nyonya Claudia Andrafana dan Tuan Leon Andrafana ada di depan saya."
Amika memberikan jeda dalam ceritanya, tidak mudah untuknya kembali mengingat trauma masa lalu yang menjadi awal mula tragedi ini. Dadanya sesak, dia agak gemetar karna terpaksa harus menceritakan hal buruk yang dia alami belasan tahun lalu.
Mengerti kah bagaimana perasaan Amika saat itu?
Dia masih muda, mengandung anak pertama pula, dan sudah diculik nyaris dibunuh? Pikirkan juga trauma sang ibu ini.
"Lalu, beberapa saat kemudian suami saya Adit Ahmadi dibawa masuk oleh dua orang, wajahnya sudah terluka, dia babak belur, dia bahkan sulit berjalan. Saat itu suami saya bekerja sebagai supir pribadi Tuan Karl Andrafana, bekerja sebagai pengawal pribadi Nona kecil Sandra saat itu. Suami saya sangat menyayangi Nona Sandra, hingga dia berharap anak kami nantinya akan mirip dengan Nona kecil itu."
Amika melirik Sandra sebentar, tatapan penuh makna yang mengundang haru dan air mata untuk turun. Amika jadi merasa bersalah karena datang terlambat. Amika ingat, dulu saat suaminya mengelus perutnya yang terisi janin, dia selalu berharap anak mereka akan selucu atau semenggemaskan Sandra. Mengingat itu, Amika jadi semakin sesak, dia juga merasa bangga karna sekarang Afiza putri mereka sangat mengidolakan Sandra seperti keinginan Adit.
"Interupsi yang mulia." Jean mencoba memotong penjelasan Amika yang sudah banjir air mata.
"Permintaan interupsi ditolak. Saudari saksi boleh melanjutkan kesaksiannya." Hakim yang mengatakannya, Jean bisa apa?
"Lalu saat itu, Tuan Leon dan Nyonya Claudia meminta suami saya untuk menyabotase mobil Tuan Karl dan keluarganya agar mereka kecelakaan dan mati. Suami saya menolak, tapi saat itu dia malah dipukul. Saat suami saya menolak lagi, tangannya dipijak. Saat suami saya menolak lagi, sebilah pisau bersiap memotong leher saya, hingga akhirnya dia setuju untuk menyabotase mobil itu. Karna dalam satu gerakan pisau itu, dua nyawa orang yang paling dia sayang akan hilang." Amika menangis tersedu, dia mencoba menahan tangisnya, tapi itu sulit. Suaminya disiksa di depan matanya, mereka tidak bisa melakukan apa-apa, baik Adit maupun Amika sama-sama tidak berdaya di depan dua sang penguasa itu.
"Itu hanya cerita belaka yang mulia, tanpa bukti bisa saja itu menjadi kesaksian palsu." Ulang Jean lagi, setelah dibayar mahal dia harus melakukan sesuatu kan?
__ADS_1