
...*************...
Hari ini adalah harinya, hari dimana Sandra akan bertemu wanita itu, Claudia sang bibi, yang Sandra ketahui sudah terlibat besar dalam perencanaan pembunuhan kedua orangtuanya. Claudia jelas terlibat, bersama dengan Leon.
Claudia memanggil Sandra beberapa hari yang lalu, untuk sarapan bersama. Ada Eca dan juga dirinya, Claudia itu janda beranak satu, hanya Eca anaknya. Dia bercerai dengan suaminya sejak dulu, karna sang suami ketahuan berselingkuh dengan asisten keluarga mereka, makanya dia selalu hidup sendiri. Tidak masalah, Claudia juga tidak kekurangan uang, dia cuma kekurangan rasa kemanusiaan saja.
Sandra sudah berdiri di depan rumah Claudia, kata salah seorang pelayan Sandra tinggal masuk saja, karna Claudia juga Eca ada di dalam.
Sandra tersenyum getir, dia pikir, walau sang bibi bermulut tajam, tapi sejak dulu sang bibi sering mengajak Sandra makan bersama walau sambil menghina Sandra dan pekerjaannya, membandingkan Sandra dan Eca sang artis elegan, tapi tidak masalah, setidaknya Sandra tau dia masih dianggap Andrafana.
Tapi sekarang, mengetahui fakta itu membuat hati Sandra getir, dia benci, namun dia harus berpura-pura tidak tau apa-apa, bersabar seperti seorang yang polos dan bodoh, guna mencapai hasil yang sangat sempurna.
Sandra menghela napasnya, sebelum dia masuk lebih jauh, dia membuka pintu itu secara perlahan. Ini bukan pertama kalinya Sandra datang ke rumah ini, jadi dia tidak perlu bimbingan lagi, dengan langkah kakinya sendiri Sandra bisa mengunjungi ruang makan yang sudah cukup familiar untuknya.
"Akhirnya kau datang juga, aku sudah menunggu lama." Claudia tersenyum, senyuman mengejek yang tidak ada tulus-tulusnya, agak jauh dari Claudia sudah duduk Eca dengan elegan, dia cantik menggunakan gaun yang sempurna. Padahal Sandra ingat, Eca selalu mengomel jika harus memakai pakaian itu, dia gerah, dia panas tidak nyaman, dia lebih suka kaos polos yang oversize.
Tapi Claudia mana mungkin mengerti itu, sejak dulu Claudia itu selalu melakukan apa yang diinginkan, selalu menjadikan putrinya sesuai apa yang dia impikan, persetan dengan keinginan sang putri sendiri. Karna menurut Claudia, apa yang terbaik untuk Eca adalah menjadi seperti apa yang dia bayangkan, tanpa tau keinginan apa yang Eca punya.
Dan Sandra tidak punya hak untuk ikut campur, makanya selama ini dia diam, Eca yang tidak suka saja tetap diam.
"Maaf Bi, dan makasih udah menunggu ku, bibi tau kan, jalanan akhir-akhir ini macat, sulit untuk ku bisa sampai kesini dengan mudah." Sandra tersenyum seperti biasanya, tidak peduli segetir apa dia saat ini, Sandra paling bisa mengatur wajah dan ekspresinya di depan orang lain, yah walau kalau bersama dengan Hainry semuanya jadi kacau, Sandra bisa mengeluarkan perasaan setulus mungkin jika bersama dengannya.
"Tidak masalah, kau kan sendirian, kau kan tidak punya kekuatan, jadi tidak ada yang tau kau seorang Andrafana. Sulit untuk mu bisa memotong jalan, kan?" Claudia berkata dengan bangga nada menyindir.
"Oh aku baru tau ternyata gunanya nama belakang Andrafana untuk menyerobot antrian." Jawab Sandra dengan senyuman manisnya. Tentu saja dengan sindirannya.
"Kau belum tau apa-apa, ya kau kan tidak pernah merasakannya. Oh ya ayah ku ingin bertemu dengan mu, hubungi beliau nanti." Claudia masih tersenyum hangat, jika Leon mudah marah dan mudah terbawa emosi, maka Claudia adalah perempuan yang kalem dan elegan, berkelas dan juga cerdas, itulah kenapa Claudia selalu menuntut Eca untuk selalu sempurna.
__ADS_1
"Oh? Baiklah, akan ku temui nanti."
"Bagaimana keadaan murid mu?"
"Berkat salah seorang keluarga Andrafana, masa depannya terancam rusak."
"Kau tidak seharusnya berdiri melawan adik sepupu mu." Claudia memotong daging di hadapannya dengan elegan, dia makan santai tanpa rasa bersalah yang ada di wajahnya, padahal kata-katanya barusan sudah bukan lagi sindiran yang bisa Sandra abaikan.
"Dia tidak seharusnya menodai murid ku." Wajah Sandra dia atur sedemikian rupa, agar tetap tenang, walau dihatinya masih sangat getir melihat Claudia.
Apalagi dengan fakta bahwa Claudia dalang di balik tragedi ayahnya, memang benar bahwa kematian itu takdir, tapi kejahatan yang Claudia buat bukanlah takdir melainkan pilihannya, dan sudah tugas Sandra untuk membuatnya membusuk di dalam penjara.
"Syukurlah Eca tidak tumbuh seperti mu." Claudia menarik sudut bibirnya, tercipta senyum khas dirinya, senyum manipulatif yang menghanyutkan.
"Syukurlah aku tidak tumbuh seperti Eca, aku tidak suka sih setiap gerakan aku diatur, aku lebih suka bebas soalnya." selain berbakat dalam hal menangkap penjahat, soal silat lidah Sandra juga bisa.
"Lebih tidak boleh lagi menyamakan manusia dengan binatang, Bi." Sandra tersenyum sangat manis.
"Cepat sarapan dan cepatlah keluar dari rumah ku." Walau apa yang Claudia katakan terdengar kasar, tapi wajahnya tidak begitu, wajahnya masih tersenyum walau urat-urat kekesalan muncul jelas di keningnya.
"Baik."
Sandra merasa puas, setidaknya saat ini dia bisa membungkam mulut bibi laknatnya ini.
......................
"Cape? Aku aja yang masak, mau makan apa?" Hainry bertanya dengan lembut pada gadis manis yang ada di dalam rangkulannya saat ini.
__ADS_1
Gadis yang sedang berusaha mengatur isi kepalanya yang sudah rumit, hingga denyutan-denyutan rasa sakit terus menghampiri.
Hainry baru saja mengantar Sandra pulang, niatnya hanya mengantar, tapi melihat kondisi Sandra yang sedikit tidak baik, Hainry memutuskan untuk menginap lagi. Itu tidak dipaksa, melainkan Hainry juga menginginkannya.
"Bubur aja bisa gak Hain?"
"Bisa, sekarang ayo masuk, istirahat, ada sisa obat gak?"
Sandra menggeleng pelan. "Enggak ada, gak usah minum obat, makan, istirahat, tidur satu malam nanti juga sembuh."
Hainry jadi lebih khawatir, dia bisa menerima rasa sakit apapun, tapi tidak bisa menerima sedikit rasa sakit yang menimpa Sandra, rasanya dadanya membuncah, apapun akan dia lakukan agar sang gadis tersayang selalu sehat, baik-baik saja dan tetap bahagia.
"Sandra? Kenapa?"
Telinga Sandra menangkap suaranya yang agak familiar di telinganya, Sandra menatap lurus kedepan, sudah ada seorang pria berbadan tinggi atletis berdiri di depan rumah Sandra, dengan pakaian formal, dia sangat tampan, benar-benar tampan.
"Gerald? Apa yang kau lakukan disini?" Sandra menatap lekat ke arah Gerald, kedatangan kakak sepupunya itu benar-benar tidak ada dalam prediksi Sandra.
"Bukan itu yang penting, kenapa kau bersama detektif itu? Apa hubungan kalian sampai bisa peluk-pelukan di malam-malam begini?" Tatapan mata Gerald tajam, khususnya saat menatap Hainry.
Deg
Mati
Alasan apa yang akan Sandra katakan?
Jelas-jelas Gerald tau bahwa Hainry detektif YK71, lantas, kenapa begitu dekat dengan Sandra.
__ADS_1
"Sandra? Kenapa kau diam saja, apa hubungan mu dengan pria itu?" Suara Gerald semakin berat, tatapannya semakin tajam, dia sudah seperti kakak laki-laki yang memergoki adik kecilnya pulang bersama dengan seorang bajingan.