My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 63


__ADS_3

...**************...


Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, hari pertunangan Hainry dan Sandra. Acara pertunangannya akan dimulai malam hari ini, tapi Sandra sudah sibuk dari subuh dini hari.


Bahkan sampai siang hari ini, dia masih menerima pijat, manicure, pedicure, perawatan wajah, maskeran dan sebagainya.


Sandra bahkan saat ini masih tiduran manja di kasurnya dengan beberapa orang yang ahli dalam bidangnya mengurus dirinya.


"Yang bener ya, Tolong buat dia lebih cantik, dia ini kakak sepupu saya." Eca tersenyum sangat ramah, senyuman manis seindah mawar biru, sangat meneduhkan, wajahnya cantik.


Palsu.


Sandra tau itu senyuman palsu, ini pasti juga hari yang melelahkan untuk Eca, karna dirinya harus terus berpura-pura tersenyum dimanapun dia berada, soalnya status publiknya masih dipertaruhkan.


"Gak mau ikutan Ca?" Sandra mengambil satu potong mentimun yang sejak tadi menganggu kenyamanan matanya.


"Gak dulu, lain kali aja, ada yang harus aku kerjain, nikmati waktu mu. Dimana para desainernya itu, aduh mereka apa gak tau kalau sekarang mau di pake?"


Wah, kemana perginya Eca yang kalem dan lembut tadi. Eca segera melangkah keluar dari kamar Sandra, dia harus memastikan lagi gaun itu ada sebelum benar-benar terlambat.


Sebenernya semuanya lancar, sampai satu hari yang lalu saat mereka mengantar gaun itu, ternyata ukurannya sedikit kekecilan, Sandra tidak nyaman, ada bahan-bahan tambahan yang mereka pakaikan padahal Sandra tidak menyukainya.


Bahan tambahan itu mereka pikir akan mempercantik gaunnya, tapi Sandra tidak suka, gaun itu tidak menarik, gaun putih yang Sandra inginkan bukan begitu.


Soalnya yang memilih desain gaun itu adalah Sandra dengan bantuan revisi beberapa kali dari Eca, hasilnya sangat bagus menurut mereka berdua.


"Mbak, ini masih lama ya?" Sandra bertanya pada perempuan yang berpakaian rapi, yang dipanggil khusus oleh Kakek untuk melayani Sandra hari ini.


"Kenapa? Mbak udah gak sabar mau tunangan ya?" Tanya gadis pemijat itu balik.


"Enggak bukan itu, saya bosen diem disini, gerah, panas, gak nyaman. Tapi bukan berarti kalian kerjanya gak bener, saya cuma kurang nyaman aja, jangan salah paham ya." Sandra hampir saja menyakiti beberapa pekerja yang sudah biasa dalam pekerjaannya.


"Hem, perkataan Mbak tepat menusuk jantung hati saya Mbak, jadi tenang, kami akan kerja sepenuh hati." Mbak pemijat itu tersenyum seperti punya niat tertentu, setelahnya dia memijat dengan posisi yang agak aneh.


"Baiklah, sekarang saatnya Mbak Sandra menikmati pijatan khusus tehnik kami, pijatan ini gak saya pakai karna posisinya gak bisa anggunly, dan kalemly. Tapi pijatan ini aman kok Mbak."


Dia memijat dengan sepenuh hati.


Dan senangnya, Sandra merasa menikmati pijatan yang kali ini, dia lebih bisa merasa tenang dan nyaman.


"Mantap!" Sandra memberikan jempolnya sebagai apresiasi atas kenikmatan pijatan yang mereka berikan.


"Aman ya Mbak, Alhamdulillah berarti gaji dan rating tempat kami aman."


Sandra terkekeh pelan, ternyata melakukan kegiatan ini cukup menarik, selain merilekskan badan, dia juga bisa tertawa dengan mereka, mereka orang-orang yang cukup ramah.

__ADS_1


"Mbak tau, awalnya kami gugup tau buat layanin Mbak, Mbak itu putri Andrafana, apalagi calonnya itu Tuan Hainry Klaun, mana dia detektif YK yang terkenal itu Mbak." Dia bercerita dengan wajah memerahnya.


Nama Hainry sudah sangat terkenal, dan Sandra juga ikut terseret karena dibawa sebagai tunangannya.


"Pfftt sehebat itu ya? Apa YK memang sehebat itu?" Sandra sedikit penasaran, bagaimana orang lain menganggap YK itu.


"Hebat dong Mbak, hebat banget malah! Mereka bisa selesaiin banyak kasus, dari kasus yang besar sampai kasus yang terkecil, hebat banget pokoknya, aku ngefans banget sama mereka, apalagi sama kapten nya, tapi sayang kaptennya terlalu misterius. Dia jarang kelihatan di kamera, bahkan banyak yang gak tau wajah aslinya." Gadis itu bercerita dengan antusias, membuat Sandra yang mendengarnya juga ikut senang, apalagi kalau ada yang memuji dirinya dan timnya sampai seperti ini.


Rasa senang yang datang pada Sandra, karna cukup banyak orang yang menganguminya.


"Gitu ya, ternyata YK juga dikenal banyak orang." Sandra tersenyum tipis, meski begitu dia belum ada niatan untuk memublikasikan dirinya di publik sebagai kapten Tim Detektif YK71.


"Iya, bahkan buat kapten tim itu, ada beberapa forum yang bahas identitasnya, dan cukup banyak detektif online yang coba menguak identitas kapten YK itu Mbak." Tambahnya lagi dengan antusias.


Sandra menaikkan sebelah alisnya, bukannya marah, dia malah tersenyum tipis. Ternyata cukup banyak orang yang ingin tau siapa dirinya sekarang. "Terus tersangka identitas nya yang paling mendekati siapa?" Tambah Sandra, agak penasaran memang.


"Masalahnya belum ada yang tau, gak ada dugaan sedikit pun, Kapten tim itu benar-benar tertutup."


"Hahaha, kalian ini ada-ada aja."


"Iya makanya itu, Mbak dapat Tuan Hainry yang seorang detektif juga, Mbak keren."


"Makasih, haha. Tapi kamu bener sih, soalnya saya juga merasa beruntung banget punya Hainry." Sandra mengaku, setuju dan sepakat bahwa dirinya adalah salah satu orang paling beruntung, karena dalam hidupnya, dia punya Hainry yang selalu ada.


Sandra sesekali tersenyum tipis saat mereka menerka nama-nama yang tidak terduga sebagai sang kapten.


......................


Eca sangat sibuk, kesana mengatur barang-barang yang akan dibawa, disini melihat barang bawaan dan hadiah keluarga Andrafana, bolak balik memainkan telepon untuk memastikan kapan gaunnya akan sampai.


"Apa ini? Kenapa bisa tiba-tiba muncul berita seperti ini? Hal gila apa lagi yang terjadi di hari pertunangan Sandra?" Eca berdecak kesal, gumaman penuh kebencian itu berasal dari informasi yang Eca dapatkan dari ponselnya.


"Eca!" Dan tidak jauh dari sana, ada Gerald yang sama sibuknya, Gerald baru bisa sibuk ikut membantu dua hari terakhir karna hari-hari sebelumnya dia habiskan untuk rapat, memenangkan proyek, dan sebagainya, dia kan seorang CEO saat ini.


Gerald memborong semua pekerjaannya agar bisa segera selesai, dan dia mendapatkan waktu libur untuk datang ke pernikahan adik sepupunya itu.


"Ada apa? Udah yang ini biar aku aja, kamu ke atas temenin Sandra, awasin dia dengan baik, kamu tau kan dia gimana." Saran Gerald, Eca sudah biasa dalam bidang make up dan sebagainya, Gerald percaya Eca akan melakukan yang terbaik agar Sandra tampil sangat cantik hari ini.


"Masalahnya gaunnya belum datang." Eca berdecak kesal, menyebalkan menunggu mereka.


"Loh? Bukannya harusnya udah dari kemarin ya?"


"Iyaa tapi ada yang salah, Sandra gak suka jadi agak diubah, harusnya sampai sekarang."


"Udah tenang aja, sebentar lagi sampai, aku bakal atur itu, kamu balik ke atas aja. Pokoknya semua yang dibawah urusan aku. Kalian siap-siap saja."

__ADS_1


Eca mengernyit heran, ini bukan pernikahan Gerald, tapi kenapa malah dia yang tampak sibuk dan agak bersemangat?


Aneh sekali.


Tidak pernah terlintas dalam benak Eca kalau kakak sepupunya yang satu ini, yang wajahnya seperti batu tanpa ekspresi, dengan kepribadian sedingin es, apalagi sifatnya yang identik dengan hitam, malah bisa bersemangat dengan pernikahan Sandra.


Rasanya, orang yang ada dihadapan Eca ini, bukanlah Gerald yang dia kenal. Aneh rasanya melihat Gerald semangat dengan hal seperti pernikahan, apa dia memang menyukai pernikahan?


Atau mungkin sejak awal Eca memang tidak begitu mengenal Gerald, karna meski mereka sepupu sedarah, mereka kurang akrab.


"Apa kau akan melakukannya juga untuk ku?" Pertanyaan itu refleks keluar begitu saja dari mulut Eca, dia juga tidak tau, padahal Eca bukan anak yang banyak bicara jika di depan Gerald. Tapi untuk hari ini, Eca ingin menanyakannya saja, untuk saat ini, Eca ingin mendengar jawaban dari Gerald, kakak sepupunya ini.


"Melakukan apa? Biasakan ngomong yang jelas, jangan aneh-aneh." Gerald juga mengernyit heran, dia bahkan tidak menangkap maksud dari perkataan Eca barusan.


"Aku bilang apa kau akan melakukannya juga untuk ku, membantu mempersiapkan pertunangan ku, cukup tertarik dan agak bersemangat dengan acara ku, dan kau akan memastikan aku tampil cantik di depan umum. Apa kau akan melakukannya juga?"


"..." Gerald diam, pertanyaan aneh yang tidak akan pernah Gerald duga akan keluar dari mulut Eca berhasil membungkamnya saat itu juga.


"Sudahlah, lupakan. Urus saja sisanya, langsung bawa ke atas kalau gaunnya sudah sampai, aku akan menuju ke atas sekarang." Eca menghela napasnya, dia kembali menaiki tangga, berjalan agak cepat.


Sesak.


Benar, begitulah adanya yang Eca rasakan saat ini, padahal Gerald bisa langsung menjawabnya, tapi dia memilih untuk diam saja.


Eca tidak tau kenapa, dia sedikit sesak sekarang, mengetahui fakta bahwa kakak sepupunya tidak bisa mengambil jawaban dengan cepat dan lugas.


"Apa ini yang namanya rasa iri?" Eca memegangi jantungnya, berdegup agak kencang.


"Ada apa? Apa kau mulai menyadarinya? Kalau sebenernya Sandra-lah yang jahat, dia yang mengambil segalanya dari mu, dia yang mengambil segala hak mu. Segala yang dia dapatkan hari ini, itu seharusnya menjadi milik mu, Ecalica Zi Andrafana." Tiba-tiba di depan Eca, sudah ada sang ibunda yang memblokir jalannya.


Eca melihat ke kanan dan kiri, ternyata sepi, pantas saja sang ibu berani bicara terang-terangan begitu.


"Lupakan itu ibu, bersiaplah acaranya sudah mau dimulai, silahkan latihan senyum dulu ibu, apa kata media jika melihat Nyonya Claudia Andrafana datang terlambat dan memasang wajah cemberut dihari pertunangan keponakannya dengan penerus Klaun. Bisa-bisa nanti aku yang terlibat skandal, aku tidak mau."


"Eca, ibu melakukan ini karna ibu sangat menyayangi mu."


"Sudahlah ibu, sekarang saja sudah banyak sekali skandal soal aku, Sandra, dan Hainry yang terlibat cinta segitiga. Aku tidak mau ada yang lebih parah lagi, yang bisa mengusik kenyamanan Sandra, dan mengganggu hubungan mereka berdua. Ini semua juga kan karna ibu yang menyebarkan rumor aku menjalin kasih dengan Hainry." Eca malas jika harus terseret skandal lagi, soalnya dia harus ribet melakukan klarifikasi yang membosankan.


Eca menyatukan kedua tangannya, dengan wajah memelas dan mata yang redup, retina yang kehilangan cahayanya. "Jadi ibu, aku mohon setidaknya merasa bersalah lah soal skandal kami, dan ayo jalani semuanya dengan damai."


Eca benar, saat ini sudah ramai skandal soal dirinya yang menjalin kasih dengan Hainry. Sebenernya berita ini baru naik beberapa saat yang lalu, Eca tau ketika dia melihat ponselnya tadi, berita itu sudah ramai karna hari ini juga hari pertunangan Sandra.


Entah darimana sumbernya, tapi media menceritakan bahwa yang menjalin kasih adalah Hainry dan Eca, sementara Hainry harus menikahi Sandra karna sebuah perjodohan, seperti kisah Novel bukan? Eca menduga, narasumber pembohong itu adalah ibunya sendiri.


"Persetan dengan skandal. Ecalica, putri ku tersayang. Nak, satu-satunya anak ku, hari ini ibu tanyakan sekali lagi, ayo gandeng ibu, dan akan ibu pastikan kau yang akan berdiri di altar pertunangan nanti. Ibu pastikan cincin yang Hainry pakaikan akan tersemat indah di jari manis mu."

__ADS_1


__ADS_2