
...****************...
Sandra dan Jihan sudah kembali dari yayasan, begitupula Rafael dan Hainry yang juga ikut pulang di mobil yang sama dengan mereka.
Sandra senang, karena Jihan sudah merasa lebih baik, Sandra bisa melihat bahwa Jihan cukup sering tersenyum saat dia bermain dengan anak-anak perempuan itu.
Sandra yakin, perlahan-lahan Jihan bisa melalui ini, dan kembali berinteraksi dengan semua orang, Sandra percaya dan dia akan mewujudkan harapannya menjadi nyata.
Tapi,
Ada yang berbanding terbalik, tidak seperti Jihan dan Sandra yang cukup bahagia dan merasa senang bertemu dengan anak-anak yayasan yang imut dan menggemaskan, beda lagi dengan dua pria yang ada di depan mereka.
Jangan tanya.
Rafael tidak sanggup menyetir karna ulah anak-anak yayasan, mereka terlalu berisik, banyak bertanya dan banyak bicara membuat Rafael sangat pusing, perutnya mual dan tidak nyaman, terkadang Rafael ingin menepuk kepala bocah-bocah yang bertanya itu.
Hainry terpaksa menyetir karna tidak tega melihat keadaan Rafael yang nyaris mati begitu.
"Udah pulang? Mau makan atau nonton gak? Belum malam banget juga kok." Tawar Hainry, masih pukul delapan malam, satu film masih bisa ditonton.
"Enggak, aku mau pulang aja. Ke rumah sakit maksudnya." Jihan menolak dengan enggan.
"Baiklah kalau itu mau Jihan." Hainry mengangguk mengerti.
"Lu nggak mau nonton? ada anime yang seru sih, lu gak mau coba liat?" Rafael menoleh ke belakang dengan gurat diwajahnya, dia sangat lelah, tapi kalau itu untuk nonton anime tidak masalah, lelah hilang begitu saja. Rafael memang wibu garis keras.
"Aku enggak nonton anime." Jihan menggeleng.
"Drakor yak?"
Jihan mengangguk. Rafael kembali menatap jalanan di depan, dia tidak begitu ingin memaksa Jihan, dia tau pemaksaan itu hal tidak baik.
"San, habis anter dua bocah ini, gimana kalau nonton Insidious, kamu kan suka." Tawar Hainry, sebenarnya Hainry ingin nonton dengan Sandra, tapi Jihan tidak memberikan lampu hijau, membuat harapan Hainry harus pupus.
"Enggak, mau tidur, besok ngajar." Sandra menghela napasnya, dia lelah, dia ingin pulang dan berleha-leha dikasurnya, dia masih ingin memastikan bukti kejahatan paman dan bibinya aman.
__ADS_1
Masih banyak yang ingin Sandra cari tau, dia masih mencoba mencari detail kejadian 10 tahun yang lalu, dia masih mencari cctv sisa. Walau pada masa itu, jarang sekali orang memiliki cctv, tidak semua jalan punya cctv. Jadi cukup sulit untuk Sandra mencari kebenaran yang tersembunyi.
Sandra masih harus memikirkan cara menangkap, dan siapa saja kaki tangan yang Leon dan Claudia punya, mereka tidak mungkin bergerak sendiri, pasti ada kaki-tangan yang bergerak kesana kemari.
"Kalo makan berdua mau nggak San?"
"Enggak."
"Kalau ke KUA?"
"Udah lewat Mas, mending nyetir yang bener, aku juga ngantuk mau tidur." Tambah Rafael mengiyakan.
Tukh
"Dukung dikit kek, kau mau liat kami nikah nggak sih?" Satu pukulan pelan Hainry daratkan di kepala bocahnya.
......................
Sandra sudah sampai di rumahnya setelah dia mengantar Jihan kembali ke rumah sakit dan Rafael ke markas. Rafael itu yatim piatu, tidak punya rumah, keluarga, sanak saudara, dia sendirian, tapi dia memiliki keluarga setelah mengenal YK, makanya Rafael yang selalu tinggal di markas.
"Nginep lagi boleh?" Rengek Hainry manja, dengan kedua matanya yang sudah seperti kucing memelas.
"Enggak." Sandra menggeleng cepat, bisa bahaya, terakhir kali saat Sandra mengizinkan Hainry menginap, nyaris terjadi kejadian yang mendebarkan dada.
Kalau mau mengingatnya sudah membuat Sandra benar-benar malu. Jangan tanya, pipinya sedikit memerah sekarang kalau mengingat kejadian itu.
"Boleh ya? Tolonglah, males banget pulang."
Sandra menghela napasnya, wajah Hainry terlihat sangat lelah, Sandra tidak tega untuk mengusirnya.
"Di sofa." Ketus gadis itu, berbalik cepat untuk masuk ke dalam rumahnya.
Hainry terkejut seketika, dia tidak menyangka Sandra akan mengizinkannya secepat ini, padahal dia sudah mempersiapkan banyak alasan, rengekan dan bujukan, dia sudah mengatur mimik wajahnya supaya terlihat lelah dan layak dikasihani, tapi yang terjadi malah, Sandra mengizinkannya secepat ini?
Padahal Hainry juga sudah yakin dia akan diusir keluar karna Sandra yang dingin sering melakukan itu.
__ADS_1
"Aku masuk." Hainry membuka sepatunya, mengunci pintu, melemparkan jaket dimeja, dan berbaring di sofa dengan nyamannya, seolah itu benar-benar rumahnya sendiri.
"San, mau kopi nggak? Aku jago buat kopi." Tawar Hainry, dia bangkit berdiri menuju dapur, dia sudah agak kenyang tadi saat makan di markas bersama Sandra dan Rafael, ada beberapa anggota YK lainnya juga disana.
"Boleh, aku mau mandi, jangan macem-macem kalo gak mau aku benci seumur hidup." Sandra berjalan menuju kamarnya, dengan tatapan tajam dan dingin yang dia arahkan telah di retina Hainry.
"Huu, galaknyaaaa, calon istri siapa tuh, calon istri ku~"
Hainry membuat kopi, dia tau selera kopi Sandra, dia tau bagusnya sebanyak apa gula yang akan dia larutkan diminuman sang gadis tercinta, banyak eksperimen soal kopi kesukaan Sandra yang sudah Hainry buat selama ini.
Agak lama
Akhirnya dia gelas kopi itu selesai, Hainry berjalan kembali ke sofanya, menyalakan televisi, menonton tayangan yang bisa menyita waktunya sambil menunggu Sandra agar dia tidak begitu bosan.
"Dingin bangettttt." Sandra keluar dari kamarnya, memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangannya, badannya agak gemetarz ekspresinya benar-benar menjelaskan betapa dingin suhu tubuhnya saat ini.
Imut bangettttt!!! Gak sabar pengen nikahin!! Tiap malam tidur bareng sama perempuan seimut ini!!
Batin Hainry teriak tak terkendali, gelora di dalam hatinya membuncah tiba-tiba, hatinya bergetar hebat saat matanya menangkap sosok Sandra mungil yang mengenakan piyama dengan jaket rajut oversize yang dia kenakan, berkat jaket itu Sandra merasa lebih hangat, berkat jaket itu pula Hainry nyaris kehilangan akal dan kesabaran ingin berlari secepatnya memeluk Sandra.
"Gimana sekolah hari ini?"
Hainry memutuskan menanyakan pertanyaan normal sebelum akal sehatnya benar-benar habis diserap oleh Sandra mode mungil.
"Oh sekolah ya? Hmm ... bagus sih, kita kedatangan donatur yang kaya dan baik, dia bilang dia bakal sumbangin dana yang cukup banyak, terus aku bujuk supaya sumbangin dana khusus di olahraga voli, ah bapak itu juga bilang akan kirim satu orang pelatih profesional untuk anak-anak voli." Sandra berjalan mendekat, dia merasa dirinya normal, ceritanya normal, soalnya itu yang benar-benar dia alami di sekolah.
"Hah? Bapak? Donatur? Siapa namanya?"
Hainry sudah bersiap akan mengakuisisi perusahaan manapun yang bos-nya berani dekat-dekat dengan Sandra.
"Oh namanya Agam, kayaknya dia orang kaya. Gak tua-tua banget." Jawab Sandra sebisanya.
*Uhuk!
Refleks Hainry tersedak kopinya seketika, pasalnya dia ingat ayahnya bilang bahwa beliau akan mencari tahu soal Sandra, tapi Hainry benar-benar tidak tau kalau sang ayah akan menemui Sandra secara langsung.
__ADS_1