
...****************...
Padahal sudah pukul sembilan pagi, tapi matahari tak menampakkan cahayanya, barangkali sang surya tau, bahwa sinarnya tidak akan bisa menenangkan hati Sandra yang perih.
Matahari memilih meredup, membiarkan awan mendung yang menguasai langit pagi ini, gelap seperti hari semua orang di
negara ini. Hari yang tak pernah terbayang oleh mereka akan datang secepat ini.
Tidak ada yang tidak menangis.
Di hari pemakan Ecalica Andrafana.
Pakaian hitam yang pekat, suara tangis yang memilukan, teriakan, doa dan bunga dengan simbol melepaskan dengan ikhlas, memang bisa? Harus dicoba.
Claudia masih menangis sejadi-jadinya di makam putrinya, dia memeluk nisan sang anak dengan erat, pakaian hitam melekat di badannya, kacamata hitam juga tak mampu menutupi kesedihannya sebagai seorang ibu.
Dia menggenggam erat nisan putrinya, dengan isi hati yang kacau balau.
Sandra diam membeku, tangisnya tak ingin berhenti, dia ingin ikhlas membiarkan Eca pergi, tapi hatinya masih terlalu perih, kenyataan pahit yang datang tiba-tiba meluluhlantakkan akal sehatnya.
Hainry memeluk Sandra, menenangkan sang tunangan, menguatkannya. Seperti biasa, Hainry menjadi sandaran yang terbaik untuk gadis itu.
Sandra masih mencoba pulih dari rasa sakit kehilangan orang tuanya, traumanya belum sembuh sempurna, tapi sudah ditimpa kehilangan Eca dengan cara yang sama, apalagi dihari yang harusnya menjadi hari bahagianya.
Siapa yang mengira, kebahagiaan pertunangan akan terganti dengan tangis kehilangan? Siapa yang menduga hari baik pertunangan akan menjadi hari buruk pemakaman?
Ikhlas? Sedang Sandra coba.
Rela? Masih dia usahakan.
"Ini semua karena mu! Putri ku tiada juga karna ulah mu kan! Karna kau, putri ku sakit hati! Karna kau merebut orang yang dia cintai putri ku jadi menderita! Dia kecelakaan karna mengendarai mobilnya dengan suasana hati yang buruk!"
Tiba-tiba suasana isak tangis pemakaman berubah semakin mencekam saat Claudia angkat bicara, angkat tangan menunjuk Sandra dengan segala tuduhan yang tak berdasar yang dia lemparkan pada gadis malang itu.
"Claudia, apa yang sebenernya coba kau katakan." Kakek Gheobalt angkat bicara, dia sudah sedih kehilangan salah satu cucunya, tapi kenapa harus ada konflik lagi di dalam keluarganya bahkan saat-saat suasana berduka.
"Iya Pa! Ini semua karna cucu mu yang satu itu! Karna cucu kesayangan mu yang manja itu! Sejak awal Eca mencintai Hainry, tapi Sandra datang dan menggoda Hainry, membuat Hainry harus menikahinya dan bertanggung jawab atas dirinya!" Suara Claudia menggelegar.
Suasana pemakaman yang harusnya tenang, damai dan hanya terdengar isak tangis menjadi ramai dengan bisik-bisik tak menentu, awak media memfokuskan kamera dan pengeras suaranya di dekat Claudia, mereka mengambil foto Sandra dan Hainry sebagus mungkin untuk diletakkan di halaman depan gosip terbaru nanti, karna mereka punya bahan baru sekarang.
__ADS_1
"Apa maksud anda Nyonya Claudia? Saya tau anda sedang shock dan sedih atas kepergian Nona Eca, anda pasti terguncang makanya anda mengatakan hal-hal yang tidak jelas." Hainry angkat bicara, sebagai tempat sandaran untuk Sandra, Hainry juga siap untuk menjadi perisai apapun serangan yang dilemparkan untuk Sandra.
"Karna kalian putri ku tiada kan?! Karna ulah kalian! Kalian menyakiti hatinya, mungkin saja putri ku bunuh diri karna sakit hati atas ulah kalian, mungkin saja dia bunuh diri karna tidak terima atas pertunangan kalian." Claudia menangis sejadi-jadinya, dia mengeraskan suaranya sekuat mungkin.
Padahal Claudia tau alasan terbesar kenapa Eca bisa terluka, karna ulahnya sendiri, karna kesalahannya sendiri, tapi bukannya menyesal dan mengakui kesalahannya dan dosa-dosanya di depan publik, Claudia malah melemparkan semua amarah itu pada Sandra.
Semua media menatap Sandra, mereka menatap Sandra dengan benci.
"Apa yang kau katakan bibi? Eca sama sekali tidak tertarik dengan Hainry. Berhentilah buat drama, dihari pemakaman putri mu sendiri. Ini harinya, biarkan dia dengan tenang." Sandra lelah, sekarang dia tidak ingin bermain kata dan trik di depan pemakaman sang adik sendiri.
"Kenapa?! Kenapa kau menyuruh ku diam?! Kau takut! Apa salahnya jika putri ku mencintai Hainry! Aku tidak meminta mu untuk membatalkan pertunangan dengan Hainry, aku kan sudah bilang tunda tunangan kalian sampai mental putri ku stabil! Tapi kau malah memaksa mempercepat pertunangan dengan putri ku yang masih sangat mencintai Hainry."
"Dia terluka!"
"Dia kecewa!"
"Dia putus asa!"
"Harusnya kalian mengerti dan memberinya jeda waktu untuk berpikir normal, kalian harusnya mendukungnya secara emosional, tapi kalian malah--!"
Claudia berteriak, dengan suara serak yang lirih, posisinya sebagai seorang ibu mendukung opini publik, dalam sekejap banyak tatapan mata penuh kebencian yang tertuju pada Sandra.
Tidak,
Bagaimana perasaan Eca saat ibunya memainkan drama kehilangan penuh air mata dan kesedihan di hari pemakamannya?
Bagaimana perasaan Eca saat dia tahu, bahkan dihari pemakamannya, dihari Eca dikubur di tanah, tapi sang ibu masih sempat-sempatnya bermain drama?
Sandra merasa begitu sesak, memikirkan bagaimana jika Eca tau kejadian hari ini terjadi di pemakamannya sendiri, bukankah Eca akan semakin sedih?
Tukh!
"Akh!"
Sandra berdecih pelan, saat sebuah batu kecil mendarat tepat di keningnya, hingga mengeluarkan sedikit darah.
Sandra memegang lukanya, tampak darah mengalir di tangannya.
"Kau mau mati hah?!" Hainry langsung berteriak, rasa sedih berubah menjadi amarah, berani-beraninya orang itu melempar Sandra.
__ADS_1
Jangan tanya, Hainry sudah muak dengan ini, tapi dia tidak akan bisa tahan kalau ada yang berani menyakiti gadisnya, berani-beraninya orang itu!
Hainry menatap seorang pria berkacamata yang ikut datang ke pemakaman, dia adalah salah satu penggemar berat Eca, dia menatap Sandra penuh kebencian.
"Kalian pantas mendapatkan itu, lebih baik kalian pergi dari sini! Dasar pasangan menjijikan, karna kalian Nona Eca kami tiada!!"
Bukannya merasa bersalah, pria itu malah menjawab Hainry dan menyalahkan sepenuhnya pada Sandra.
"Itu benar! Karna kalian Nona kamu tiada! Karna keegoisan kalian seorang ibu kehilangan putrinya!" Tambah yang lainnya lagi, mereka yang berbicara seperti itu adalah para penggemar Eca dan pelayannya Claudia.
"Lebih baik kalian pergi dari sini! Jangan munafik dengan menangisi kepergian Nona Eca! Padahal kalian kan yang paling bahagia!!"
"Kalian menjijikan!"
"Kalian egois!"
"Nona Eca bahkan jijik melihat kalian, jika dia tau kalian disini, dia akan sangat membencinya, berhenti menangis dan pura-pura sedih, kami tidak akan iba dengan air mata buaya mu itu!"
"Dasar perempuan munafik!"
Hinaan dan cacian itu mereka berikan pada Sandra, mereka sahut-sahutan dengan kalimat-kalimat yang terus memojokkan Sandra.
"Hey, kalian tidak tau apa-apa, kalian yang bertingkah seperti ini di makam Eca adalah hal yang memalukan, apa kalian pikir Eca akan senang saat para penggemarnya ribut, bukan malah berdoa dan mengantar kepergiannya dengan damai, tapi kalian malah bertingkah seperti ini!" Sandra menatap mereka serius, Sandra kecewa pada para penggemar yang katanya sangat mengagumi Eca ini.
Walau mereka memiliki rasa kecewa, setidaknya biarkan pemakaman itu tenang. Bukan malah bertengkar dan saling salah-salahan di depan makam Eca.
"Putri ku pasti akan senang, karna para penggemar membelanya! Yang harusnya malu dan pergi itu kau! Kau yang membunuh anak ku!" Potong Claudia dengan cepat.
Ucapan Claudia yang seperti itu semakin memprovokasi para penggemar Eca.
Tukh! Tukh!
"Pergilah sana! Dasar wanita munafik!"
"Tidak punya hati!"
"Kau tidak layak ada disini!"
Tapi kali ini, selain melempari Sandra dengan hujatan dan makian yang bisa melukai mental, kini mereka sudah berani beramai-ramai melempari Sandra dengan kayu, batu, atau semacamnya yang bisa melukai fisik Sandra.
__ADS_1
"Sandra! Hey kalian, hentikan ini!" Gerald langsung memasang punggung untuk melindungi tubuh adiknya.
"Ayo pergi San." Hainry langsung menarik Sandra ke dalam pelukannya, melindungi gadis itu, memastikan bahwa tidak boleh ada luka lagi di tubuh Sandra barang satu inci pun, atau Hainry akan benar-benar murka saat itu juga.