My Hidden Detective

My Hidden Detective
Bab 36


__ADS_3

...****************...


"Kita sudah mendapatkan seluruh cctv terdekat, dan saat ini Rafael sudah memeriksanya, istirahatlah Sandra." Saran Hainry, dia menarik bahu Sandra untuk bersandar padanya.


Dari pagi hingga malam seperti ini mereka baru selesai mengumpulkan segala cctv yang diperlukan, juga mencari data-data informasi soal pelaku. Barangkali, ada ciri-ciri yang sama yang bisa mereka temukan.


"Ya, ayo pulang." Sandra menghela napasnya, meski sudah sedikit menduga dan memiliki satu benang merah untuk menyelesaikan kasusnya, Sandra masih belum bisa memastikan. Orang-orang itu bergerak sendiri, sekelompok atau ada organisasinya.


Sandra masih belum tau, bergerak ke-arah mana penculikan terencana ini. Apa ada sesuatu yang lebih besar lagi?


"Oke, aku minta jemput Fla." Hainry mengambil teleponnya, segera menelpon Fladilena untuk menjemput mereka.


Dalam misi kali ini, Hainry tidak membawa mobilnya, begitu juga dengan Sandra. Karna mereka tidak mau mencolok, atau dicurigai oleh orang lain. Mereka tidak ingin gagal, makanya melakukannya secara senyap, dan diam-diam. Tenang seolah hanya pengunjung biasa.


Sandra berjalan berdua bersama Hainry, menuju halte terdekat, yang agak jauh dari keramaian kota. Mereka berjalan tenang di trotoar jalan.


"Ulah organisasi atau ulah maniak pedofilia? Yang diculik umumnya masih anak SD, mungkin pedofil?"


Sandra berjalan dengan pikirannya yang rumit, menghentakkan kakinya.


"Hanya satu anak yang bukan dari anak pedagang. Kita akan periksa hari ini atau besok?" Sandra sedikit mendongak ke arah Hainry yang sudah selesai menelpon Fla.


"Besok saja, hari ini kita istirahat dulu, Fla segera menuju kesini. Ayo tunggu di-halte itu." Hainry menggandeng tangan Sandra, segera menuju halte itu karna gerimis sedang melanda.


Deg.


Jantung Sandra berdegup sangat kencang, saat dia tidak sengaja menginjak sesuatu yang akan merubah segala sudut pandangnya.

__ADS_1


Sandra berhenti seketika, memaksa Hainry untuk berhenti berlari. Gadis itu sedikit berjongkok, melihat benda asing apa yang dia pijak.


Mata Sandra langsung terbuka lebar, angin dingin menyapa hatinya, angin malam juga menerpa tubuhnya, Sandra memebeku.


"Ada apa San?" Hainry menyipitkan matanya sedikit, dia fokus pada ekspresi Sandra yang kaget. Ada yang berbeda dengan ekspresi Sandra kali ini, sedikit sulit untuk Hainry menjelaskannya secara detail, tapi dia paham.


"Ini gelang milikku." Sandra menunjukkan gelang yang tidak sengaja ia pijak barusan, sedikit Sandra bersihkan, dia pastikan bahwa itu adalah gelang miliknya saat dia masih duduk di bangku SMP dulu.


"Ha? maksudnya?" Hainry mengerutkan dahinya semakin heran, jelas-jelas itu ukuran gelang yang kecil. Bagaimana bisa menjadi milik Sandra?


"Ini gelang aku waktu SMP. Aku ingat banget, ini gelang yang dibuatin sama mama aku! Dulu gelang ini aku kasih ke Pak Adit, karna istrinya lagi hamil anak pertama mereka. Pak Adit itu supir papa aku, Pak Adit juga sering anterin aku ke sekolah." Jelas Sandra, dia ingat dengan pasti bahwa ini adalah gelang miliknya yang dia hadiahkan pada Pak Adit.


Pak Adit juga adalah supir yang sama yang ikut meninggal saat tragedi orangtuanya, Pak Adit juga adalah korban dari kekejaman Claudia dan Leon. Pak Adit yang tidak tau apa-apa, dan hanya bekerja sebagai supir di keluarganya, hanya ingin mencari nafkah dengan cara yang baik dan halal, malah harus berakhirnya tragis dengan kecelakaan yang disengaja yang direncanakan oleh paman dan bibi Sandra hanya untuk posisi penerus keluarga.


"Apa pak Adit juga supir yang meninggal bareng kecelakaan orang tua kamu?" Hainry bertanya pelan, jaga-jaga kalau kalimat yang keluar dari mulutnya malah akan menambah kesedihan Sandra.


Sandra mengangguk tanpa suara, dia hanya menunduk. Tepat seperti yang Hainry pikirkan, Sandra memang merasa bersalah saat ini, karna Sandra merasa itu semua salah keluarganya makanya Pak Adit yang baik dan lugu haus terlibat dalam konflik keluarganya, bahkan membuat dirinya sendiri kehilangan nyawa dan terpaksa meninggalkan keluarga dan istrinya yang sedang hamil.


Rasa bersalah yang kemudian memenuhi hati Sandra, membuat setiap sudut hatinya perih.


Jangan tanya, Sandra jadi ikut semakin kesal sekarang.


"Kau!"


Tiba-tiba dari belakang Hainry, ada seorang ibu-ibu yang tidak begitu tua, juga tidak lagi muda menarik lengan baju Hainry, hingga keduanya saling berhadapan.


Nafasnya masih terengah-engah, dia sedang mengatur nafasnya sebelum berbicara untuk menjelaskan masalahnya. Hainry tetap tenang, karna seprtinya wanita ini tidak berbahaya, tapi Hainry juga tidak mengurangi tingkat kewaspadaannya yang akan mencurigai siapa saja yang mendekat, jika itu tujuannya untuk melindungi Sandra.

__ADS_1


Sandra bisa melihat, keadaan perempuan itu cukup mengenaskan dan kacau, wajahnya putih cantik, tapi agak menyeramkan karna matanya menghitam, rambut lurusnya terlihat acak dan tidak terurus, pakaiannya cukup kotor, begitu juga dengan wajahnya.


Ada apa sebenarnya?


"Ada apa? Apa anda dikejar penjahat?" Tanya Sandra, dia memegang bahu ibu itu.


"Anak ku! Damian namanya! Dia menjadi salah satu korban penculikan itu, dia telah hilang selama tiga hari! Dia korban terakhir! Kau detektif YK yang hebat itu kan?! Aku mohon! Aku mohon selamatkan anak ku!" Perempuan itu memegang kedua bahu Hainry, menggenggamnya erat, tampak wajahnya sudah banjir akan air mata. Dia menangis sesenggukan, memilukan hati siapapun insan tuhan yang mendengar kisahnya.


Sial!


Sandra mengumpat seketika, saat dia melihat sendiri ibu dari korban kekejaman orang-orang jahat itu.


Tapi,


Ada yang tidak asing dari wajah perempuan ini, wajah tangisnya tidak asing, suara rintihannya seolah pernah Sandra dengar.


Jantung Sandra seperti berhenti berdetak, saat dia ingat siapa perempuan ini. Dan dimana dia pernah mendengar perempuan ini menangis begitu pilu, seolah dunia akan runtuh.


Hari itu, kala malam hujan deras, hari dimana sang ayah dan ibu tiada, hari dimana Sandra menangis sama kerasnya, hari itu juga perempuan ini menangisi kepergian suaminya yang tiada karna kecelakaan.


Sandra ingat, wanita ini adalah istri dari Adit, yang kala itu sedang hamil besar setelah ditinggal oleh Adit. Hari kecelakaan itu, adalah hari paling buruk untuknya.


Jika ada yang mengerti perasaan Sandra di hari itu, mungkin itu adalah perempuan ini. Karna mereka berdua sama-sama kehilanganmu dunianya di hari itu.


"Dia Damian! Putra ku dan mendiang suami Ku! Satu-satunya anak ku! Satu-satunya dunia ku! Dia adalah harta paling berharga untuk ku! Ku mohon temukan dia! Kau kan detektif yang hebat! Kalian detektif terhebat!" Dia menangis meronta kepada Hainry, meminta dengan sungguh-sungguh.


Argh sial.

__ADS_1


Jantung Sandra berdegup semakin kencang, rasa bersalahnya kembali memenuhi seluruh jiwanya, bukan hanya Pak Adit yang harus mati karna konflik keluarganya, kini Sandra bahkan tidak bisa melindungi istri dan anak yang sudah Adit tinggalkan.


__ADS_2