Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 10


__ADS_3

"Wen, jangan pulang dulu! Aku mau ngomong sebentar?" ucap Ricky sesaat setelah acara grand opening bengkelnya selesai. Sebagian besar tamu undangan juga sudah meninggalkan ruko itu.


"Mau ngomong tinggal ngomong, kok minta izin segala. Memangnya mau ngomongin apaan?" sahut Wenny penasaran.


"Jangan di sini! Masih ramai pengunjung yang ingin bertanya tentang mesin. Mumpung para anggotaku masih stay, kita ke ruanganku sebentar," saran Ricky yang diangguki oleh sang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi mantan.


Mereka akhirnya naik ke lantai dua, dimana ruang kerja Ricky berada. Ruko itu terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar untuk operasional dan lantai dua digunakan untuk kantor.


Lantai tiga pada bangunan itu sebagai tempat tinggal dan juga untuk tempat berkumpulnya para karyawan. Lebih tepatnya, lantai tiga digunakan sebagai base camp mereka. Sebenarnya para karyawan Ricky adalah teman-teman dekat Ricky.


"Mau minum apa?" tawar Ricky begitu Wenny duduk di sofa yang terdapat di ruang kerjanya.


"Nggak usah! Aku masih kenyang, tadi aku makan kek orang kezetanan. Soalnya semua menu menggugah selera makanku," jujur Wenny sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Ricky terkekeh gemas melihat tingkah sang kekasih. Sayangnya ini adalah saat-saat terakhir bersama wanita yang telah menemaninya selama kurang lebih satu tahun. Mau tak mau Ricky terpaksa melepas sang kekasih agar keduanya mendapatkan kebahagiaan.


"Mau ngomong apa? Kok malah diam," kata Wenny tiba-tiba sehingga mengagetkan Ricky.


"Ekhemm ... sebelumnya aku minta maaf. Semua ini terjadi di luar kehendakku, di luar ekspektasiku. Akan tetapi semua ini merupakan takdir Allah yang harus aku jalani ...."


"Kamu ngomong apaan sih, Yank? Nggak ngerti aku," potong Wenny, ada nada ketakutan dalam suaranya.


"Tidak semua alur sesuai dengan yang kita harapkan. Takdir memiliki jalannya sendiri. Oleh karena itu, kita jalani saja alurnya dengan keikhlasan. Selalu yakin bahwa dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan ...."


"Makin ngaco deh kamu, Yank! Jangan buat aku semakin penasaran dong!" Lagi-lagi Wenny memotong ucapan Ricky karena rasa penasaran yang tinggi.


Hhh ....


Ricky menunduk, rasanya tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada calon mantan kekasih. Namun, dia harus jujur atau wanita berdarah Sunda-Belanda itu tahu dari orang lain.

__ADS_1


"Sebenarnya ... aku sudah menikah. Maaf aku tak bermaksud menyakitimu ...."


"Kamu sedang bercanda 'kan? Hanya ngeprank aku aja 'kan?" teriak Wenny tidak percaya.


"Dengar dulu ... biasakan mendengar orang bicara sampai tuntas. Jangan suka memotong! Agar semua jelas tanpa ada ganjalan lagi," ujar Ricky sedikit kesal, tetapi dia tetap menjaga suaranya tetap rendah agar tidak terjadi keributan.


"Lanjutkan!" pinta Wenny dengan perasaan hancur.


"Aku menikahinya karena kecerobohanku. Kami menikah tanpa cinta. Mendadak kami harus menikah setelah pemilik kos memergoki kami dalam satu kamar," jelas Ricky. Kemudian dia menceritakan secara detail kejadian saat dia mendadak harus menikahi Renata.


Ricky menceritakan semua kejadian hari itu, tetapi tidak memberi tahu siapa nama wanita yang dinikahinya. Dia juga tidak memberi tahu alamat kos itu. Semua dilakukan agar tidak terjadi keributan, mengingat sifat Wenny yang nekat.


"Kamu bohong! Bilang saja kalau kamu selingkuh dan harus menikahi dia!" jerit Wenny tidak terima.


"Aku tidak pernah selingkuh, Wen. Aku terpaksa menikahi dia, dari pada aku diarak keliling kampung tanpa selembar pakaian."


"Aku tidak mungkin menceraikan dia, Wenny. Prinsipku sekali menikah seumur hidup. Lagian pernikahan itu ikatan yang sakral, tidak untuk dipermainkan," sergah Ricky.


"Kenapa tidak mungkin? Katanya kamu cinta sama aku! Katanya sayang. Mana buktinya? Mana?"


"Maaf ... aku tidak bisa melanjutkan perjalanan cinta kita. Kita akhiri sampai di sini. Semoga kita bisa berteman," ucap Ricky akhirnya.


"Tidak! Aku tidak mau putus! Jangan tinggalkan aku, Ricky. Aku mohon ...." Wenny duduk bersimpuh di depan Ricky dan memeluk kaki lelaki yang dicintainya itu.


"Maaf, Wenny. Aku tidak bisa," sahut Ricky. "Aku tidak mungkin mempermainkan pernikahan. Semua sudah menjadi takdir kita, jika kita tiada berjodoh."


"Bullshit semua itu! Pokoknya aku tidak mau putus. Jadikan aku yang kedua, Rick!" Wenny kembali memohon pada Ricky.


"Bangunlah, Wen. Kamu jangan seperti ini. Aku semakin merasa bersalah padamu," ujar Ricky sembari membantu Wenny berdiri.

__ADS_1


"Makanya, jangan putusin aku. Aku rela jadi istri kedua kamu asal jangan putuskan aku!"


Tiba-tiba saja Wenny memeluk erat tubuh Ricky. Wenny menangis tersedu-sedu, memohon agar tidak diputuskan oleh Ricky. Sehingga membuat pikiran Ricky sedikit goyah.


"Jangan seperti ini, Wenny! Jangan menangis lagi, ok?" Ricky mencoba meredakan tangis wanita blasteran itu. Namun, bukannya berhenti menangis, Wenny malah semakin menangis sampai sesenggukan.


Akhirnya hubungan Ricky dengan Wenny menggantung, karena tidak tega melihat tangis Wenny. Ricky benar-benar dilema, satu sisi dia ingin menjalani prinsip hidupnya. Menikah sekali seumur hidup sesuai takdir, tetapi sang kekasih tidak mau dilepaskan.


Ricky memilih pulang setelah mengantarkan Wenny ke rumahnya. Betapa terkejutnya dia, saat dia masuk ke apartemen.bApartemen dalam keadaan gelap, tanda tidak ada penghuni di dalamnya.


Ricky tidak berniat menghidupkan lampu sama sekali. Lebih memilih meredakan emosinya dengan duduk di sofa ruang tamu dalam keadaan gelap. Tak berapa lama kemudian, orang yang dinanti pun datang.


Mencoba membuka obrolan dengan menekan emosi yang bercokol di hati. Ricky hanya ingin kejelasan nasib rumah tangga yang baru saja dibangun. Tidak mungkin sepanjang pernikahan hanya diisi dengan pertengkaran dan perdebatan.


"Gue 'kan sudah pernah bilang, kalau gue anggap pernikahan ini tidak pernah ada. Lebih baik kita akhiri saja pernikahan ini. Beres 'kan? Tidak perlu pusing memikirkan ke depannya bagaimana," sahut Rena, ketika Ricky mengajak berbicara tentang pernikahan mereka.


Rena tidak ada keinginan sama sekali untuk mempertahankan rumah tangganya. Baginya untuk apa menjalani rumah tangga tanpa cinta. Jika pada akhirnya hanya ada kekacauan, begitulah pemikiran gadis cantik itu.


"Pernikahan bukan suatu mainan, Ren. Pernikahan ini sah di depan hukum negara dan agama. Sebuah ikatan suci tidak untuk dipermainkan."


"Siapa yang mempermainkan? Kalau kita menjalani pernikahan begini-begini saja, ini namanya mempermainkan. Dasar Korek Api!" bantah Renata dengan berani.


"Apa kamu sadar? Menikah lalu bercerai, itulah yang dinamakan mempermainkan pernikahan. Oleh karena itu, kita sama-sama belajar."


"Belajar menerima dan memberi. Menerima pasangan dengan hati lapang. Memberikan cinta kita kepada pasangan, agar rumah tangga menjadi harmonis," jelas Ricky penuh dengan kesabaran.


Ricky benar-benar menekan emosinya menghadapi Renata yang keras kepala. Walau bagaimanapun, dia tidak ingin bercerai. Terlepas pernikahan itu tanpa cinta atau tidak.


"Baiklah, kalau begitu berikan aku waktu dua bulan pernikahan. Jika genap dua bulan pernikahan ini tidak bisa menerima ataupun memberi, kita pisah," ucap Renata akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2