
"Kok baru pulang, Mas?" sapa Soraya ketika suaminya baru pulang kerja jam sebelas malam. Perempuan itu meraih tangan sang suami kemudian mencium punggung tangan itu.
"Iya, ada masalah sedikit di kantor. Kamu kenapa belum tidur, hmm? Ini sudah malam," jawab Kurniawan.
"Sora sengaja nunggu Mas Awan pulang, ada yang mau Sora tanyakan. Kalau siang sepertinya Mas Awan tidak pernah ada waktu," ujar Soraya seraya berjalan menuju dapur untuk membuatkan minum suaminya.
"Mau ngomong apa? Ini sudah malam, lagian aku sudah capek, Sora," elak Awan secara halus.
Laki-laki itu merasakan sesuatu akan terjadi, sejak tadi perasaannya tidak enak. Lebih baik menghindar dari pada harus berantem malam-malam.
"Nanti Sora pijitin sambil ngobrol, Mas. Kalau ditunda-tunda terus keknya malah jadi boomerang di rumah tangga kita. Jadi, lebih baik kita tuntaskan semua malam ini." Soraya tetap kekeuh pada pendiriannya.
"Maksudnya apa? Sebenarnya ada apa? Apa yang harus dituntaskan, Sora?" cecar Kurniawan bingung dengan arah pembicaraan sang istri.
"Mas duduk dulu sini, terus minum gih, biar sedikit rileks," ucap Soraya seraya menyerahkan secangkir teh madu pada suaminya.
Laki-laki itu menurut, duduk di samping sang istri dan menerima cangkir itu. Lalu, menyeruput teh itu perlahan. Soraya mulai memijat pundak Kurniawan perlahan.
"Tempo hari katanya Mas Awan keluar kota, tapi pas Sora ke mall kok kek lihat Mas Awan di sana? Mas Awan beneran keluar kota atau pergi ke rumah istri yang lain?" tanya Soraya nekat memberanikan diri.
Kurniawan langsung berbalik dan menatap nyalang pada Soraya.
"Kamu tidak percaya denganku?" tanya Kurniawan dengan emosi yang siap meledak.
"Soraya percaya kok, orang sebaik Mas Awan mana sanggup membohongi Sora, iya 'kan?" sindir Soraya.
"Apa maksud kamu, Sora?"
__ADS_1
"Sora hanya ingin tahu kejadian yang menimpa Mas Awan sebelum nabrak pohon beberapa tahun lalu. Boleh tahu kenapa mobil yang Mas pakai itu, bukan mobil sendiri?" jawab Soraya pura-pura tenang, jantungnya berdebar kencang takut sang suami semakin murka.
"Apa itu sangat penting menurut kamu?"
"Sangat! Karena kejadian itu, kami kehilangan ruko kami. Bahkan aku harus cuti kuliah untuk mengumpulkan dana."
"Aku akan mengganti apa yang kamu dan keluarga kamu keluarkan untuk membiayai semua kebutuhanku," ujar Kurniawan penuh kekecewaan.
"Katakan berapa yang telah kalian keluarkan, aku akan transfer sekarang juga!" lanjut Kurniawan murka.
"Aku tidak butuh uangmu, aku tidak butuh harta kamu. Aku hanya butuh kejujuran kamu, Mas. Hanya itu!" Ini untuk pertama kalinya Soraya meninggikan suaranya pada Kurniawan.
"Jika kamu tidak bisa jujur, lebih baik kita akhiri saja. Aku tidak bisa menjalani suatu hubungan yang di dalamnya penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Lebih baik sudahi saja, jika sudah tidak ada lagi kejujuran," ucap Soraya lirih sembari berdiri hendak meninggalkan tempat itu.
"Oh, ya! Mas sudah tahu letak pintunya 'kan? Jika keluar jangan pernah masuk lagi. Walaupun pintu itu terbuka, sungguh di dalamnya tidak akan sama lagi," ujar Soraya ketika Kurniawan mendekati pintu akan pergi lagi.
Usai berucap, Soraya langsung berlari ke kamar anaknya yang masih balita. Dia menumpahkan tangisnya dengan posisi duduk bersandar pada pintu. Tangannya menutup mulut agar suara tangisnya tidak terdengar siapa pun.
Egois memang, tetapi tidak ada seorang pun wanita yang mau diduakan. Jika mereka dimadu, sejatinya itu bukan keinginan mereka. Sebaik-baik lelaki, dia tidak akan bisa berbuat adil untuk istri-istri dan anak-anaknya.
Sejak saat kejadian malam itu, Soraya tidak mau disentuh lagi oleh Kurniawan. Sampai akhirnya, Kurniawan mengaku semuanya.
Bermula dari kabar sakitnya sang ibunda di tengah kemacetan jalan, membuat Kurniawan nekat mengambil mobil orang dan berujung menabrak pohon dan amnesia. Tiga bulan setelah kecelakaan itu, ingatan Kurniawan pulih. Namun, dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan gadis yang usianya selisih 11 tahun dengannya.
Berbagai cara digunakan Kurniawan agar bisa menikahi Soraya. Bahkan sampai memalsukan identitas dan akhirnya bisa mengikat Soraya dalam tali pernikahan. Sepertinya takdir jodoh Kurniawan - Soraya tidaklah lama.
Terbukti di usia pernikahan mereka yang ke enam, Kurniawan meninggalkan Soraya dan Ricko yang masih berumur lima tahun. Sejak saat itu, Soraya sudah menganggap dirinya seorang janda. Walaupun tidak pernah ada kata talak keluar dari mulut Kurniawan.
__ADS_1
Sepeninggal Kurniawan, kakak ipar Soraya meninggal karena skandal Gunadi. Setelah itu, tak lama kemudian ayah Admaja meninggal. Musibah terus beruntun menghampiri Soraya, sehingga menjadikannya seorang wanita kuat dan tangguh.
Soraya mulai mengganti nomor teleponnya, begitu juga dengan Gunadi. Tidak hanya itu saja, mereka pun pindah rumah dan membongkar rumah peninggalan Admaja. Kendati demikian, Kurniawan tetap mengirimkan nafkahnya ke rekening Soraya, sebagai bentuk tanggung jawab.
Setelah dirasa keadaan sudah kondusif, Gunadi dan Soraya sepakat membangun peninggalan orang tua mereka. Tanah yang awalnya dibiarkan terbelengkalai bertahun lamanya, mulai dibangun sebuah kos-kosan untuk putra. Hal ini dikarenakan, lahan itu tidak jauh dari lingkungan kampus.
Begitu kos-kosan itu sudah jadi dan diisi oleh beberapa mahasiswa, sisa tanah itu dibangun kembali menjadi rumah dan juga kos-kosan putri. Bangunan itu dibuat berdasarkan hasil pikiran Renata yang dituang dalam gambar.
Kejadian tak terduga yang berujung pernikahan Renata dan Ricky, membuat Soraya sedikit curiga. Wajah Ricky mengingatkan dirinya pada Kurniawan. Namun, kecurigaan itu hanya dipendam sendiri sebelum bukti didapat.
Kedatangan Ricky dan kedua orang tuanya saat terjadi masalah dengan rumah tangganya, menguatkan kecurigaan itu. Hubungan yang sempat menggantung itu, akhirnya bisa diperjelas. Walaupun syarat yang diajukan Kurniawan begitu berat menurut Soraya.
Demi kejelasan statusnya, Soraya menyanggupi. Akhirnya kata talak terucap juga oleh Kurniawan. Dengan kepintarannya, sehingga Soraya bisa membuat Kurniawan mengucapkan talak 3.
Dengan tersenyum, Soraya mengakhiri ceritanya. Cerita yang sangat singkat dan diambil bagian terpenting saja. Hal ini dikarenakan, Soraya tidak ingin membuka aibnya atau pun aib Kurniawan.
Walaupun sudah tidak memiliki ikatan hubungan lagi, sebisa mungkin Soraya menutup aib Kurniawan. Menurut Soraya, menutup aib orang lain sama juga menutup aib sendiri.
"Maaf, Tante. Walaupun papa sudah menjatuhkan talak tiga, Tante dan papa 'kan belum mendapatkan akta perceraian. Apa itu sudah bisa disebut perceraian kalian sah?" tanya Ricky yang masih diliputi keraguan dengan cerita Soraya.
"Sudut pandang setiap orang itu berbeda, Ricky. Bisa saja Tante sudah menganggap sah, tetapi kamu dan keluargamu menganggap tidak sah. Sehingga menganggap Tante adalah benalu dalam keluargamu," jawab Soraya tenang disertai senyuman.
*
*
*
__ADS_1
Maaf othor lagi kurang enak badan, jadi slow up🙏. Sambil menunggu kelanjutan kisah KyRen mampir yuk ke karya temenku!