Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 67


__ADS_3

Ruangan itu dipenuhi dengan suasana canggung di antara mereka. Antara Soraya dengan Kurniawan, begitu juga Soraya dengan Bimo. Walaupun begitu, Soraya berusaha bersikap biasa saja. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Ricko keluar dari kamar mandi terkejut melihat ruangan itu sudah penuh dengan orang dewasa. Dia tatapan matanya mencari keberadaan Mami Sora, walaupun dia sudah besar tetapi masih sangat manja dengan sang ibu.


Ricko berjalan mendekati sang ibu, sebelumnya dia menyalami satu persatu semua yang di sana.


"Papi, kapan sampai?" tanya Ricko pada sang ayah.


"Baru saja, Nak," sahut Kurniawan haru, lalu mencium kening sang anak. "Tak ingin peluk Papi?"


Kedua tangan Kurniawan merentang berharap sang anak mau memeluknya. Ricko dengan patuh langsung memeluk sang ayah.


"Maafkan Papi, Nak," ucap Kurniawan lirih.


Laki-laki paruh baya itu merasa bersalah pada sang anak karena sering meninggalkannya. Ricko tumbuh besar tanpa campur tangannya dalam mendidik.


"Kenapa Papi minta maaf?" tanya Ricko heran.


"Papi melewatkan banyak waktu untuk kamu. Seharusnya Papi selalu ada buat kamu, tetapi Papi malah sibuk dengan dunia Papi sendiri tanpa memikirkan kamu. Padahal kamu dan Ricky sama-sama anak Papi, tetapi waktu Papi untuk kamu hanya sedikit saja," ungkap Kurniawan penuh penyesalan.


"Papi tidak usah merasa bersalah. Ricko tidak marah atau pun menuntut waktu Papi buat Ricko. Mami selalu mengajarkan pada Ricko untuk jadi anak mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Siapa pun itu," jawab Ricko dengan senyumannya.


"Terima kasih, Nak. Kamu memang anak Mami Soraya, wanita hebat yang pernah Papi temui," ujar Kurniawan dengan mata berkaca-kaca, ah seandainya dia bisa memilih. Tentu dia akan memilih mempertahankan pernikahannya dengan Soraya. Namun, sepertinya takdir tidak menyatukan mereka dalam ikatan suci pernikahan.


Miranti tiba-tiba masuk membawa beberapa bungkus makanan serta minuman.


"Ehh, sudah ramai ternyata. Maaf tadi ke kantin cari makanan," ucap Mira meringis karena dia tidak menyangka akan bertemu dengan mantan madunya.


Soraya menyalami tangan mantan kakak madunya. Walau pun mereka tidak pernah dipertemukan dalam keadaan berdua saja, tetapi Soraya sudah mengetahuinya karena sering mengikuti sang suami saat Ricko masih balita.

__ADS_1


Usai menyalami mantan madu yang kini menjadi besan, Soraya pamit ingin menengok Baby Attalah di ruang bayi. Dia tadi sudah melihat bahkan menggendong Baby Kyren. Soraya juga ingin melihat cucu kakaknya yang berarti cucunya juga.


Dengan diantar Ricky, Soraya menuju ke ruangan dimana Baby Attalah. Soraya ingin melihat keadaan bayi dengan berat badan yang sangat kecil itu.


Betapa terkejutnya Ricky saat dokter dan beberapa perawat mengerubungi inkubator Baby Attalah.


"Dok, anak saya kenapa?" tanya Ricky luar biasa panik karena melihat anaknya yang seperti mainan di tangan dokter dan perawat.


"Baby Atta sempat tidak bernapas beberapa menit tadi. Oleh karena itu, kami melakukan tindakan untuk membantu kerja paru-paru dan jantung," jelas sang dokter ketika selesai menangani baby Atta.


"O, terima kasih, Dok. Sudah menyelamatkan anak saya," ucap Ricky dengan wajah penuh kelegaan karena sang anak terbebas dari maut.


"Sama-sama, Pak. Sebenarnya yang memberi kesembuhan atas suatu penyakit itu Tuhan. Begitu juga dengan kelahiran dan kematian. Tidak usah sungkan, ini sudah kewajiban kami," jawab sang dokter sebelum meninggalkan ruangan itu.


"Cucu Eyang ganteng sekali, mirip sekali sama Mas Gun dia," kata Soraya dengan mata berembun. Tangannya mengusap kulit tangan Baby Atta yang tampak keriput.


Dua hari berada di rumah sakit, kini Renata dan Baby Kyren sudah diijinkan pulang. Sedangkan, Baby Atta masih harus di inkubator mengingat kesehatan bayi itu.


Di saat para wanita tengah bersaing untuk mendapatkan cintanya, Soraya malah semakin menjauhinya. Selalu saja ada alasan perempuan cantik berhijab lebar itu untuk menghindari. Hanya Ricko satu-satunya harapan agar bisa memperistri janda solehah tersebut.


"Maaf, Om. Mami sedang di luar, ada acara kajian di balai desa. Kebetulan Mami yang mengisi acara saat ini. Jadi, tidak bisa diganggu," ucap Ricko ketika Bimo menanyakan keberadaan Soraya.


"Apa kamu tidak khawatir Mami kamu kecapekan dengan segudang aktivitasnya? Kalau tidak ke toko ke pengajian, apa tidak bisa berdiam diri di rumah saja? Mas Kurni pasti sudah menanggung semua pengeluaran kalian. Jadi, tidak perlu capek-capek kerja lagi," keluh Bimo.


"Kalau mami di rumah aja yang ada lama-lama mami stres, Om. Mami juga butuh bersosialisasi agar tidak jenuh. Kalau ke toko, mami cuma mengecek saja. Sedangkan mengisi ceramah di pengajian, mami tidak pernah mengambil honor. Bahkan saat mengajari anak-anak jalanan mami lakukan untuk mengisi kekosongan. Jika Ricko libur atau nggak ada jadwal, Ricko juga ikut kok. Mengajari anak-anak jalanan," bela Ricko, dia tidak setuju dengan pendapat Bimo.


Bimo terdiam mendengar ucapan dewasa serang anak remaja yang baru berusia empat belas tahun itu. Bimo benar-benar merasa takjub dengan cara Soraya mendidik anaknya. Ricko menjelma menjadi laki-laki yang berpikiran dewasa.


"Sepertinya Ricko sangat cocok menjadi seorang pemimpin nantinya. Sikap dewasa dan bijaksana dalam berkata. Aku harus belajar banyak pada janda solehah itu."

__ADS_1


"Om, Om! Kok malah melamun, Om ke sini cari mami ada perlu apa?" tanya Ricko penasaran.


"Eh, iya maaf. Hmm, Ricko nggak pengen gitu punya ayah baru?" tanya Bimo tiba-tiba, dia merasa harus bertindak cepat untuk mendapatkan wanita sebaik Soraya.


"Tidak! Ricko tidak ingin melihat mami menangis lagi karena seorang laki-laki selain Ricko. Cukup hidup berdua dengan mami saja, kami sudah bahagia," jawab Ricko dengan tenang.


Usia baby twins sudah dua puluh satu hari, Baby Attalah sudah dibawa pulang karena berat badannya sudah naik dan dinyatakan sehat. Hari ini adalah acara aqiqah keduanya. Acara tasyakuran itu diadakan di kediaman Kurniawan, dengan alasan banyak tamu dari relasi Kurnia Group yang diundang.


Ricky dan Rena mengundang tetangga sekitar rumah saja dan beberapa anak panti asuhan. Sedangkan, Kurniawan dan Miranti mengundang semua relasi bisnis yang dianggap penting. Anak-anak bengkel pun diundang, tetapi sore hari stelah ashar. Hal ini ditujukan agar tamunya dengan tamu kedua orang tuanya tidak bertemu.


Acara berlangsung khidmat hingga semua tamu undangan berpamitan. Kini tinggal beberapa teman Ricky dan Rena, selain itu masih ada beberapa montirnya juga.


Menjelang Maghrib, semua tammu undangan sudah habis. Menyisakan dua pasang dewasa, Kurniawan-Miranti dan Ricky- Rena. Serta Bimo yang kelihatan suntuk.


"Kamu kenapa, Bim?" tanya sang kakak merasa heran melihat wajah sang adik yang tampak kusut.


"Ditolak!" jawab Bimo sambil bangkit dari duduknya meninggalkan sang kakak.


Ricky dan Rena sudah masuk ke kamar.


"Terima kasih, Sayang sudah mau menemaniku sejauh ini. Semoga kamu tidak pernah bosan mendampingiku. I love you more," ucap Ricky sambil memeluk sang istri.


"I love you too. Seharusnya aku yang terima kasih, sudah mau menerima aku apa adanya, menerima aku dengan segala kekuranganku, Mas."


Seperti itulah berumah tangga, saling melengkapi dan mengisi kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Manusia diciptakan berpasang-pasangan untuk menyempurnakan. Saling memberi dan menerima, saling melengkapi jika ada yang kurang.


END


Terima kasih atas dukungannya selama iniπŸ™πŸ€—πŸ˜˜

__ADS_1


Jika berkenan silahkan mampir ke karya recehku yang lain, "I Love You, Ibu Guru"


__ADS_2