
Ricky dengan berat hati berangkat ke Singapura, untuk menyelesaikan masalah tunggakan tagihan, jasa pengamanan data oleh perusahaan Star Cyber. Rena masih dalam mode marah, sehingga memberatkan langkah Ricky menuju Singapura.
Sementara itu, Robert sang asisten ditugaskan untuk memancing pelaku penggelapan dana pembayaran tagihan Star Cyber, agar mengakui dengan sendirinya. Tidak mudah memang, tetapi pengalaman selama tahunan bersama Pak Kurniawan, membuat Robert menemukan cara itu dengan mudahnya.
"Gue ajak kerja sama bagian keuangan, dengan iming-iming dibagi dua hasil penggelapan dana itu."
"Dia mau lo ajak main?" (Main di sini melakukan penggelapan ya, guys)
"Pasti maulah! Siapa sih yang nggak mau duit jaman sekarang? Apalagi dia sedang butuh banget duit buat perobatan ibunya," jawab perempuan itu dengan penuh kebanggaan, bisa mempengaruhi orang lain berbuat kejahatan.
"Lalu uang itu, sekarang di mana?"
"Habis! Bagian gue sudah habis, kalau dia entahlah. Bukan urusan gue, bagian dia mah!"
"Habis? Lo pakai buat apa uang segitu banyaknya, anjiir?"
"Gue kasih ke cowok gue. Dia ngancam gue agar gue bikin Kurnia Group jelek namanya di mata relasi, lalu lama-lama gulung tikar."
"Lo dijanjiin apa sama cowok lo?"
"Dinikahi." Singkat, padat dan jelas. Janji klasik seorang pria yang agar keinginannya dipenuhi wanitanya.
"Cowok lo ada dendam tersendiri pada Kurnia Group? Atau ada alasan lain, kenapa ingin sekali Kurnia Group hancur?"
"Ricky! Kami berdua sama-sama sakit hati padanya," jawab wanita dengan gamblang, sebelum akhirnya dia tertidur karena terlalu banyak minum alkohol.
Robert mengangguk tanda mengerti motif dari semua masalah yang dihadapi beberapa bulan terakhir ini. Satu persatu masalah pada perusahaan cabang, ternyata hasil keusilan seseorang.
Robert sengaja menggoda wanita agar bisa mendapatkan informasi yang akurat. Berdasarkan dari pihak keuangan dan rekaman CCTV beberapa bulan yang lalu, akhirnya diketahui wanita itulah biang masalah macetnya pembayaran.
__ADS_1
Sebelum mengajak minum, Robert memberinya segepok uang kertas berwarna merah. Melihat imbalan uang yang diberikan jika bersedia menemani karaoke dan minum, Stella tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan tanpa rasa curiga sedikit pun.
Ya, wanita yang baru saja diinterogasi oleh Robert adalah Stella. Sebelum diinterogasi, Stella berulang kali menawarkan diri melayani Robert. Berhubung Robert tidak menanggapi, dia pun minum alkohol begitu banyak.
Robert sengaja membiarkan wanita itu minum sampai mabuk lalu memulai interogasinya. Tak lupa Robert merekam percakapan mereka.
Masalah di cabang Surabaya telah selesai, masalah di cabang Jakarta Selatan juga sudah kelar. Kini tinggal masalah di Bandung yang dihandle oleh Bimo. Bimo sengaja ingin bermain-main terlebih dahulu dengan lawan. Sudah lama Bimo tidak memiliki lawan yang ingin menghancurkan bisnis keluarganya.
"Sebelum kamu menghancurkan Kurnia Group, aku pastikan perusahaanmu hancur terlebih dahulu!" gumam Bimo dengan senyum smirk-nya.
Sementara itu, Ricky telah menyelesaikan masalah dengan perusahaan Star Cyber di Singapura. Ricky langsung pulang begitu urusannya selesai. Tiba di rumah, saat hari telah berganti malam.
Rena masih kesal karena Ricky yang selalu mudah cemburu dan posesif. Padahal dulu saat pacaran dengan Wenny tak pernah cemburu sedikit pun apalagi posesif. Wenny bebas berteman dan berinteraksi dengan siapa pun .
Setelah menikah dengan dirinya, ada laki-laki yang menatap dia lebih dari lima menit langsung didatangi. Oleh karena itu, Rena memilih untuk tinggal di rumah saja dari pada di luar.
Ricky masuk ke dalam kamar, lampu sudah berganti. Sang istri sudah meringkuk dalam selimut. Ricky bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia sudah tidak sabar memeluk sang istri.
Sehari saja meninggalkan istrinya, serasa setahun tidak bertemu. Saking rindunya, Ricky hanya mengganti baju dan cuci muka serta gosok gigi saja, tanpa mandi. Buru-buru dia menyusul sang istri kemudian memeluknya.
Ricky mengecup pelipis sang istri, lalu puncak kepalanya. Setelah itu menyurukkan kepala di ceruk leher sang istri. Ricky segera menyusul ke alam mimpi setelah mendapatkan tempat ternyaman.
Jam empat subuh, Rena terbangun karena merasa seperti ada yang membelitnya dengan kuat. Ternyata sang suami yang memeluk erat tubuhnya. Ingin rasanya Rena kembali marah, tetapi rasa rindu mengalahkan kekesalannya.
"Mas, bangun. Mas!" panggil Rena seraya mengguncang lengan kekar sang suami yang masih membelit tubuhnya.
Merasa ada yang memanggil, Ricky pun membuka matanya lalu duduk bersandar pada headboard ranjang.
"Hmm, ada apa, Sayang?" sahut Ricky dengan suara serak khas bangun tidur.
__ADS_1
"Laper. Aku pengen makan pempek," jawab Rena memelas.
"Hah? Jam berapa sekarang?" Ricky melihat jam yang menempel di dinding kamar. Baru jam empat lewat lima menit, mana ada orang yang jualan pempek jam segini.
"Jangan hah hoh! Buruan beliin pempek kapal selam, sampai ketemu!" titah sang ratu mutlak.
"Tunggu sebentar, Sayang. Mas masih ngantuk, tadi malam jam dua belas baru ...."
"Apa jam dua belas baru pulang? Kemana saja kamu, Mas? Tega kamu ya, Mas? Tegaaaa!" jerit Rena dengan air mata mengalir deras di kedua pipinya.
"Sayang, jangan salah paham dulu! Jangan nangis ya, Sayang! Kita bicarakan baik-baik, ya. Jangan marah-marah nanti kontak ke dedeknya," ucap Ricky membujuk sang ratu di hatinya.
"Kamu kemana saja, Mas? Apa tidak bisa sehari saja waktu kamu buat aku?" Rena masih menangis walau pun sudah dibujuk oleh sang suami.
Ricky pun menceritakan bagaimana usahanya membujuk CEO Star Cyber. Rundingan berjalan lumayan alot karena Star Cyber sepertinya trauma bekerja sama dengan Kurnia Group. Takut akan terulang kembali kejadian penggelapan tagihan jasa yang telah digunakan.
"Bohong! Masak begitu saja sampai malam," cebik Rena kesal, air matanya pun siap-siap akan tumpah. Padahal sudah ditahannya sekuat tenaga.
"Ya ampun, Yang. Percaya sedikit sama suami , kenapa?"
Rena hanya memutar bola mata malas, tidak percaya sedikit pun pada sang suami.
"Kamu aja nggak percaya sama aku, bagaimana aku bisa percaya ke kamu? Kita ini pasangan, jadi sudahi saja sandiwara ini!"
"Ini bukan sandiwara, Sayaaang ...."
"Jangan menyangkalnya! Tadi malam kenapa kamu pulangnya sangat malam?" cerca Rena tidak mau kalah.
"Beneran, Yang! Cuma meeting aja, aku bahkan harus membujuk pimpinan Star Cyber . Dia sudah kehilangan kepercayaanya pada Kurnia Group. Oleh karena itu, aku lama di sana. Percayalah!" cerita Ricky dengan wajah penuh rasa bersalah karena meninggalkan sang istri terlalu lama.
__ADS_1