Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 11


__ADS_3

"Dua bulan terlalu singkat untuk saling mengenal. Bagaimana kalau satu tahun?" tawar Ricky.


"Satu tahun terlalu lama. Tiga bulan!"


"Enam bulan."


"Empat, atau kita akhiri sekarang!" ancam Renata. Dia sengaja melakukan itu agar tidak terlalu lama tinggal satu atap dengan Ricky.


Ricky diam memikirkan tawaran dari Renata. Lebih baik menyetujui, dari pada kehilangan. Ricky sangat yakin, dia bisa membuat hatinya jatuh cinta pada Renata, begitu juga sebaliknya.


"Ok, deal!"


"Tidak semudah itu, Ferguso! Ada syaratnya," cetus Rena yang membuat Ricky menurunkan bahu seketika.


"Kenapa harus ada persyaratan lagi, sih?"


"Setuju atau batal?"


"Selalu saja mengancam! Lo cewek tapi kelakuan melebihi cowok," gerutu Ricky bersungut-sungut.


"Bagaimana? Cepetan gue mau tidur, badan gue udah pegel semua," teriak Rena dengan menghentakkan kakinya.


"Ok, apa syaratnya?" tanya Ricky, terpaksa mengikuti aturan main sang istri demi mendapatkan kesempatan untuk memenangkan hatinya.


"Tidak boleh mencampuri urusan pribadi dan tidak ada skinship. Deal or no deal?"


"Terserah kamu saja, yang penting berikan kesempatan gue untuk bikin lho jatuh cinta sama gue. Satu lagi, jangan Lo gue lagi. Pakai aku kamu," ucap Ricky sembari berjalan meninggalkan Renata di ruang tamu.


Sejak kejadian itu, keduanya tampak melakukan gencatan senjata. Bahkan keduanya tampak bekerja sama membersihkan tempat tinggal. Tak jarang keduanya juga masak bersama.


Hari pun berganti, kini usia pernikahan keduanya menginjak dua bulan. Sandy sudah wisuda dua hari yang lalu dan kembali tinggal satu kota dengan pasangan dadakan itu. Sandy yang belum mengetahui status Renata pun menyambangi di kampus untuk melepas rindu.


Seperti saat ini, Sandy menemui Renata di kampus. Dia sengaja menunggu Renata selesai kuliah, di area parkir. Tanpa dia tahu, suami Renata juga tengah menunggu sang istri pulang kuliah.


Kebetulan Ricky baru kelar gladi resik wisuda, lusa adalah pelaksanaan wisuda Ricky. Sengaja menunggu Renata agar tidak bolak-balik perjalanan.

__ADS_1


"Setahuku Lo bukan mahasiswa di sini. Kesasar Lo?" sindir Ricky dengan posisi duduk di atas motor tak jauh dari Sandy.


"Mulut Lo masih tetap sama ternyata!" ejek Sandy.


Ya, mereka sudah saling kenal lama. Dulu keduanya sekolah di SMP yang sama, bermusuhan karena seorang wanita. Sandy menyukai seorang cewek, tetapi cewek itu lebih memilih Ricky sebagai pacarnya. Padahal Ricky hanya menganggap teman biasa pada cewek itu.


Saat SMA ketiganya berpisah sekolah. Kebetulan sekolah Ricky dan Sandy mengadakan pertandingan persahabatan. Keduanya bertemu di pertandingan basket. Sejak saat itu keduanya terus berseteru sampai sekarang.


"Kenapa dengan mulut gue? Mulut gue memang seperti ini adanya. Gue bangga dengan milik gue, tidak seperti Lo yang selalu iri dengan milik orang lain," sahut Ricky dengan tenang.


Itulah beda Ricky dengan Sandy. Ricky adalah type laki-laki yang tenang, berbeda dengan Sandy yang mudah meledak jika tersulut. Sifatnya yang suka meledak itulah yang membuat Sandy selalu kalah. Namun, dia tidak menyadari.


"Iri? Sama Lo? Hallooo ... tak ada yang pantas diirikan dari Lo. Dasar gem*bel!" hina Sandy pada Ricky.


"Walaupun gue gem*bel, setidaknya itu hasil keringat sendiri. Dari pada Lo bergelimang harta tapi bukan milik Lo sendiri. Cuihh, malu sama yang di dalam kolor Lo!" balas Ricky pedas.


"Lo!" teriak Sandy penuh emosi dengan tangan menunjuk-nunjuk wajah kemudian beralih ke da*a.


Tampak Renata berjalan mendekati kedua orang yang berseteru itu. Dahi Renata mengernyit heran. Ada dua laki-laki yang sampai saat ini masih terlibat adu mulut.


"Cuihh, ternyata kalian pasangan yang cocok. Kemana- mana nempel bak perangko padahal belum halal," olok Ricky. Hatinya memanas melihat kehadiran musuh lamanya.


Ada seonggok daging yang berdenyut nyeri melihat kedua sejoli saling melepas rindu. Padahal selama sebulan ini, dia tidak pernah menemui Wenny karena sudah dianggap mantan. Namun, melihat Rena bertemu dengan kekasihnya membuat Ricky kesal.


"Kenapa Lo? Iri? Ada Stella noh, yang masih setia menunggu Lo sampai sekarang, dari pada Lo nggak laku," ejek Sandy.


"Siapa Stella A'?" tanya Rena penasaran.


"Ada cewek yang tergila-gila padanya, tapi dia sok jual mahal. Makanya sampai sekarang dia nggak laku," cerita Sandy bermaksud mengolok Ricky.


Mendengar Sandy terus mengolok-olok dirinya, Ricky pun meninggalkan tempat itu.


"Sampai kapan kamu akan menyimpan rahasia itu, Ren?" tanya Ricky sambil melenggang meninggalkan kedua sejoli itu.


Renata merasa tertohok. Dia akui jika dia belum siap menceritakan tentang pernikahannya pada Sandy. Padahal, Ricky sudah memutuskan hubungannya dengan sang pacar.

__ADS_1


"Apa maksud ucapannya?" desak Sandy, ada nada kecewa dalam suaranya


"Kita bicarakan di tempat lain, jangan di sini!"


"Ok, kita bicara di taman atau di kafe?"


"Di taman kampus saja, A'. Tidak usah cari tempat yang jauh," jawab Renata tanpa pikir panjang lagi.


Mereka akhirnya berjalan menuju taman kampus yang tidak jauh dari area parkir. Renata sengaja mencari tempat yang sunyi, agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka nanti.


"Sekarang ceritakan semuanya, aku akan mendengarnya!" pinta Sandy setelah keduanya duduk.


Renata diam dengan kepala tertunduk, air matanya sudah mengembun. Namun, dia harus menahannya agar tidak menetes.


"Aku sudah menikah A'. Sudah dua bulan yang lalu," ujar Renata menahan tangisnya.


"Bercandamu tidak lucu Rena! Aku tidak suka itu," bantah Sandy tidak percaya.


"Apa aku kelihatan seperti orang yang bercanda, A'? Itulah kenyataannya, aku terpaksa menikah karena kesalahpahaman," sahut Renata dengan air mata yang akhirnya menetes juga.


Lalu mengalirlah cerita dari mulut Renata tentang kejadian dua bulan silam. Dia mengatakan semuanya pada sang kekasih, termasuk perjanjian empat bulan pernikahan. Renata berharap sang kekasih bisa mengerti dan mau menerimanya lagi.


"Apa dia sudah pernah menyentuhmu?" tanya Sandy dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan.


"Dia selama ini belum pernah menyentuhku. Dia juga memutuskan hubungan dengan kekasihnya. Untuk itu dia juga memintaku untuk tidak berhubungan dengan laki-laki manapun sampai waktu itu tiba."


"Oleh karena itu, aku mohon pengertian Aa'. Kita break sebentar, lalu kita balikan lagi. Aku pastikan dia tidak akan menyentuhku selama pernikahan kami. Aa' mau 'kan menunggu aku, hanya dua bulan lagi." Renata meminta berpisah baik-baik.


Sandy terdiam, merenungi permintaan Renata.


"Baiklah hanya dua bulan saja, tidak boleh lebih. Aku akan menunggumu kembali," ucap Sandy tiba-tiba setelah terdiam cukup lama.


"Iya, A'. Rena janji, hanya dua bulan. Setelah itu kami akan bercerai," ujar Renata meyakinkan Sandy bahwa dia akan kembali ke pelukan sang kekasih.


Mereka berpelukan untuk melepas semua masalah yang menghimpit.

__ADS_1


__ADS_2