
Lola masa bodoh dengan ucapan Stella karena tidak merasa pernah kenal dengan orang yang bernama Stella. Lola masuk ke kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur.
"Hhh ... ada-ada saja! Anak baru tapi sok hebat di sini. Dia pikir cuma dia aja yang sudah kerja di sini. Hufftt ... sungguh mengkesalkan!" gerutu Lola, dengan mata terpejam. Lama-lama gadis yang lebih suka sendiri itu tertidur.
Ricky tengah meminta bantuan sang paman untuk menangani proyek di Bandung. Hal ini dikarenakan, sang paman selama ini berdomisili di Bandung. Mereka sedang melakukan panggilan video di ruangan kerja masing-masing.
"Ayolah, Om. Bantu keponakan saja pakai itung-itungan sih? Ingat Om itu nggak punya anak istri, kalau Om meninggal, semua harta Om Bimo jatuh ke tangan Ricky semua," rengek Ricky mulai melantur.
"Memang kamu, ya! Bukannya bujukin orang tua dengan kata-kata manis, malah nyumpahin Om kamu ini. Dasar keponakan kep***t!" maki Bimo penuh kekesalan.
"Maaf, Om. Ricky keceplosan," jujur Ricky meringis.
Ricky sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu dekat dan akrab. Bahkan keduanya sudah seperti teman dekat saja. Semua tentang Ricky, Bimo tahu.
Begitu pun sebaliknya, semua tentang Bimo pun Ricky tahu. Sampai hal yang paling pribadi pun Ricky mengetahuinya. Seperti kenapa Bimo yang lebih memilih hidup sendiri.
Bimo memilih hidup sendiri karena rasa cintanya telah diberikan pada wanita yang tega mengkhianatinya. Wanita itu memilih laki-laki bule yang lebih kaya dan memiliki senjata laras panjang. Begitu besar rasa cintanya pada wanita itu, membuat Bimo susah move on.
Tanpa Ricky ketahui, saat ini hati Bimo mulai tergoda oleh janda ayu yang sering dijumpai setelah keponakannya itu menikah. Bagi Bimo, pernikahan Ricky membawa berkah untuknya.
"Om! Om Bimooo!" teriak Ricky karena tiba-tiba saja sang paman itu melamun tanpa sebab yang pasti.
"Eh, sorry, sorry!"
"Om Bimo kenapa sih? Nggak mau lagi dimintai tolong?"
"Bukan begitu, Rick! Ok, Om akan bantu kamu meng-handle proyek yang di sini. Kamu jaga istrimu dan kakakku tersayang itu, ok!"
"Kalau itu beres, Om. BTW, thanks ya, Om," ucap Ricky mengakhiri panggilannya itu.
Ricky tersenyum karena satu masalah sudah diatasi. Ricky tahu jika perusahaan yang bekerja sama dalam proyek pembangunan apartemen di Bandung adalah Shandy. Dia sudah menyuruh asisten papanya yang kini menjadi asistennya, untuk mencari informasi terlebih dahulu.
Ricky selalu bertindak hati-hati dalam menjalankan bisnis keluarganya. Setiap akan mengambil keputusan dia akan menggali informasi setiap perusahaan yang mengajak kerja sama.
__ADS_1
Ricky melakukan ini semua karena rasa curiga yang dipendamnya beberapa bulan yang lalu. Saat berkunjung ke rumah mantan sahabatnya yang selalu menabuh genderang perang dengan dirinya.
Saat Ricky sedang fokus mempelajari berkas kerja sama dengan perusahaan asing, sang istri menghubunginya.
"Iya, Sayang. Ada apa, hmm?" sahut Ricky begitu sang istri menyapa.
"Kangen?" ledeknya kemudian.
"Mas, apaan sih?" Pipi Rena langsung merona mendengar pertanyaan sang suami, sayangnya Ricky tidak melihat hal itu.
"Terus apa, hmm?"
"Mm, Rena sekarang pulang ke kos Mami Sora, ya. Rena sudah kangen mereka," rengek sang istri dengan suara manjanya.
"Kamu ke sana diantar siapa?"
"Bonceng Lola, kebetulan hari ini dia bawa motor. Boleh ya, ya?"
Ricky terdiam sejenak memikirkan baik buruknya jika Rena pulang ke kos Mami Sora. Menurut informasi dari Aldi, Stella sekarang tinggal di sana. Ricky tidak ingin terjadi sesuatu pada anak dan istrinya.
"I-iya, boleh tapi kamu harus hati-hati, ya! Mas nggak mau dengar kabar buruk selagi kamu di sana atau pun sepulang kamu dari sana. Bagaimana, bisa?"
"Ok, siap! Pasti bisa. Terima kasih, Mas. I love you ...." Rena langsung menutup telepon karena malu mengucapkan kata-kata keramat tadi.
"I love you more ...." balas Ricky tanpa Rena tahu.
Senyum bahagia tercetak jelas di wajah tampan pengusaha muda itu. Siapa yang tidak bahagia jika mendengar ungkapan cinta dari kekasihnya? Itulah yang dirasakan oleh Ricky saat ini, hatinya berbunga-bunga seolah segerombolan kupu-kupu menghinggapinya.
Rena langsung pulang bersama Lola begitu kuliah hari ini berakhir. Rena seperti burung lepas dari sangkar, merasa bebas setelah seminggu lebih bersikap manis di rumah sang mertua. Dia harus menjelma menjadi orang lain agar terlihat baik di mata mertua.
"Seneng banget keknya lo, Ren!" tegur Lola saat melihat wajah ceria Rena saat diizinkan suaminya pulang.
"Kalau lo jadi gue, lo pasti juga akan bahagia. Selama gue tinggal sama mertua, gue harus jadi anak manis. Padahal lo tahu sendiri, keseharian gue kek mana," jawab Rena dengan jujur.
__ADS_1
"Gue yang terbiasa jejeritan, tiba-tiba harus bertutur kata lemah lembut seperti Tante Sora. Coba lo bayangin, betapa kakunya gue ... duh, pokoknya enggak banget deh!" cerocos Rena menceritakan kesehariannya.
Mereka ngobrol sambil motoran dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam. Bisa dibayangkan betapa pelannya kendaraan itu melaju. Untung saja mereka berkendara masih di area kampus yang dilarang mengendarai dengan kecepatan tinggi.
Waktu tempuh yang seharusnya hanya tujuh menit menjadi lima belas menit. Waktu tempuh yang lama tidak terasa karena sepanjang perjalanan diisi dengan obrolan.
"Eh, Ren. Di kosan ada anak baru belagu banget. Dia merasa sok banget, padahal orangnya 'B' saja," ucap Lola tiba-tiba saat keduanya sudah memasuki halaman rumah.
"Oh, ya? Kenapa nggak kalian beri pelajaran saja? Biar kapok," tanya Rena.
"Cukup kucilkan dia, tidak usah ditanggapi. Nanti lama-lama juga dia merasa sendiri," jawab Lola sembari memarkirkan motornya.
Mereka berdua mengucap salam saat masuk. Ternyata banyak anak kos yang stand by di kosan. Seperti biasa mereka akan menjadikan salah satu di antara mereka sebagai bulan-bulanan. Setiap hari selalu saja ada yang menjadi tumbal.
"Hai, guys! Apa kabar kalian semua?" sapa Rena yang langsung mendapat sambutan antusias dari penghuni kos.
"Haalo Bu Kos! Wuiiihh ... bumil satu ini makin hari makin buncit aja," sahut Dea yang paling antusias dan langsung mendapat hadiah keplakan dari anak-anak kos lainnya.
"Duuhhh, sakit tahu! Lama-lama gue bisa gegar otak karena ulah kalian yang sering melakukan kekerasan ke gue," teriak Dea cemberut.
"Lagian lo, jadi orang oon banget."
"Emang gue salah apa lagi?" tanya Dea bingung.
"Kagak nyadar juga lo?"
"Sudah dari dulu kali, kalau bumil itu makin hari makin buncit. Jadi, harusnya lo itu bilang makin hari makin cantik atau makin kinclong, Dudul!"
*
*
*
__ADS_1
Mampir yuk ke karya temenku, tidak kalah seru lho!