
Ricky menatap nyalang pada dua sejoli yang sedang melepas rindu di depannya. Gigi bergemeletuk dan tangan mengepal kuat hingga urat-urat syarafnya terlihat. Ricky menahan amarah melihat kelakuan istri yang baru dinikahi selama dua Minggu ini.
Dia ingin menghajar laki-laki yang dengan berani memeluk wanita cantik, yang sialnya telah menjadi menjadi istrinya dua Minggu lalu. Walaupun dia juga memiliki wanita lain, tak pernah terpikirkan sekalipun untuk memeluk di depan umum.
"Siyal, dasar murahan! Awas saja Lo, gue bikin Lo tidak bisa hidup tanpa gue!" Umpatan dan sumpah serapah keluar dari mulut lelaki, dengan bentuk tubuh yang proporsional dan berparas bak model itu.
Ricky melangkahkan kaki dengan yakin menuju ke Renata dan kekasihnya yang baru saja datang. Sandy nama kekasih Renata, dia seumuran dengan Ricky. Hanya saja dia memilih kuliah di luar kota, sehingga menjalani hubungan LDR dengan Renata.
"Pernikahan ini memang tanpa ada cinta sebelumnya, setidaknya hargai ikatan suci yang telah terjalin. Tak apa, tidak pernah menganggap gue suami Lo. Tetapi jangan perlihatkan hubungan Lo dengan laki-laki lain di tempat umum," bisik Ricky tepat di telinga Rena sambil terus melangkah meninggalkan tempat itu.
Renata acuh saja mendengar bisikan dari Ricky. Dia hanya anggap perkataan Ricky hanya angin lalu. Tidak berniat menanggapi sama sekali.
Ricky menggeber motornya menuju bengkel yang tidak jauh dari kampus. Hari ini adalah pembukaan bengkel barunya. Dia harus ada di ruko sebelum acara dimulai.
Sebelum acara pembukaan bengkel baru, Ricky memastikan sendiri bahwa semua sudah lengkap. Hal ini ditujukan untuk memudahkan Ricky untuk mengurus segala sesuatunya.
Wenny yang kebetulan melintas di depan ruko itu, menoleh lalu membaca papan bunga di sana. Begitu tahu jika itu bengkel yang pernah Ricky ceritakan, dia pun membelokkan mobilnya ke ruko.
Selama acar grand opening bengkel, Wenny selalu menempel pada Ricky. Semua teman Ricky sudah mengenal Wenny karena keduanya sudah berpacaran selama setahun. Jadi, teman Ricky hanya diam saja.
"Yank, kamu jahat banget tahu nggak? Masak buat acara grand opening nggak ngundang aku. Untung tadi pas lewat aku baca papan bunga, kalau tidak entahlah," protes Wenny kesal, dia merasa tidak dianggap oleh kekasihnya.
"Aku lupa, Sayang. Akhir-akhir ini aku sibuk sekali. Kamu tahu sendiri 'kan? Kalau aku harus segera kelarin skripsi aku biar bisa ikut wisuda angkatan tahun ini," jelas Ricky berharap dapat mengurangi kekesalan Wenny.
"Sibuk sih sibuk, tapi masak sampai lupa punya ayang," ucap Wenny, lagi-lagi melayangkan protes pada Ricky.
"Kamu sudah lapar, bukan? Ayo kita ngobrol sambil makan! Mau aku ambilin atau milih sendiri?" tanya Ricky lembut agar sang kekasih tidak ngambek karena tidak diundang di acara grand opening.
__ADS_1
"Pilih sendiri aja, biar puas," jawab Wenny nyengir karena malu.
Mereka pun akhirnya menikmati hidangan yang disediakan untuk para tamu undangan. Keduanya duduk membaur bersama dengan tamu undangan dan teman-teman Ricky.
Sementara itu, Renata dan Sandy sedang melepas rindu di sebuah tempat wisata alam. Menikmati aliran sungai sambil memancing, dengan satu joran dipegang bersama. Sandy memeluk tubuh Renata dari belakang, untuk memudahkan memegang joran pancing.
Suara canda tawa tak lepas dari mulut kedua pasangan itu. Wajah Renata yang selama dua Minggu ini kusut, sudah mulai berbinar. Renata sangat bahagia bisa bertemu dengan kekasih hati.
"Skripsi Aa' sudah kelar, berarti sebentar lagi sidang terus wisuda dong?" tanya Renata dengan bibir tersenyum tipis.
"Iyaa, seminggu lagi Aa' sidang skripsi. Do'ain ya, sidangnya lancar dan bisa dapat nilai A," sahut Sandy mengulas senyum.
"Rena do'ain terus, kok. Yang penting Aa' belajar dan persiapkan kesehatan, biar semua berjalan lancar," ucap Renata tulus.
"Terima kasih, Sayang," balas Sandy seraya mengecup pipi Renata.
"A' dapat ikan! Hahaha ...."
Sandy pun langsung menarik joran itu dan menggulung benang pancing. Seekor ikan nila telah mereka dapatkan. Kini ikan itu dibakar sebagai menu makan mereka.
Selama makan, Renata baru terpikirkan dengan kata-kata Ricky. Sepertinya Ricky tidak rela jika dia bersama kekasihnya. Tak sadarkah Ricky, jika dia masih berhubungan dengan sang pacar?
"Apa aku harus memberitahu A' Sandy kalau aku sudah menikah, ya? Kalau aku bilang, pasti dia marah. Aku harus bagaimana?"
Sikap Renata yang tidak seperti biasanya membuat Sandy curiga. Dia merasa Renata menyembunyikan sesuatu darinya. Renata dan Sandy sudah berpacaran selama dua tahun, jadi Sandy sudah mengenal betul seperti apa dan bagaimana sang kekasih.
"Kamu mikirin apa, hmm? Aku perhatikan dari tadi gelisah terus," tanya Sandy dengan suara lembut agar tidak menyinggung perasaan Renata.
__ADS_1
Renata terkesiap mendengar pertanyaan dari sang kekasih. Dia tidak menyangka jika tingkah lakunya mengundang kecurigaan Sandy. Renata bingung antara berterus terang atau tidak.
"Mm, tidak kok A'. Tidak ada apa-apa," jawab Renata.
Sandy tidak percaya begitu saja dengan jawaban sang kekasih. Dia akan mencari tahu sendiri nanti setelah wisuda. Rencananya, setelah wisuda dia akan pulang agar bisa tetap satu kota dengan pacar.
"Kalau tidak ada apa-apa, makan yang banyak dong," hibur Sandy.
Malam hari Renata baru pulang ke apartemen. Saat baru sampai dia melihat keberadaan Ricky duduk di sofa ruang tamu.
"Bagus! Seorang istri keluyuran sampai malam tanpa izin dari suami. Seperti itukah pelajaran yang kamu dapat selama sekolah dan bersosialisasi?" ucap Ricky sembari bertepuk tangan, dengan tatapan sinis.
Renata mengacuhkan ucapan laki-laki yang telah menikahinya dua Minggu lalu. Dia langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri, tanpa perduli lagi jika Ricky akan marah.
Ricky mencoba meredam amarahnya. Dia sudah pusing menghadapi Wenny yang tidak mau diputuskan tadi sore. Ditambah lagi dengan istri yang berbuat seenaknya sendiri.
Ricky pun memutuskan untuk menemui Renata dan mengajak berbicara dari hati k hati. Membahas rumah tangga mereka akan dibawa kemana.
"Ren, bisa kita bicara sebentar?" ujar Ricky sembari berdiri di gawang pintu kamar Renata.
"Mau ngomong apa sih? Kalau mau ngomong tinggal ngomong aja, apa susahnya?" sahut Renata santai.
Hhh ....
Ricky bingung harus memulai dari mana agar tidak terjadi keributan lagi. Dia benar-benar ingin membahas masalah ini dengan kepala dingin. Tanpa ada emosi yang menguasai.
"Pernikahan ini, akan kita bawa kemana? Kenapa tidak sedikit pun kamu berusaha menerima dengan lapang? Aku tahu sulit rasanya menerima kenyataan ini."
__ADS_1
"Tidak bisakah kamu mencoba membuka diri? Belajar memberi dan menerima, walaupun tidak bisa secepatnya. Aku hanya ingin menjalani semua ini dengan perasaan tenang, tanpa kekhawatiran."