Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 59


__ADS_3

"Lo ngomong apaan sih, Tet? Kagak jelas banget," ujar Rena memutar bola matanya jengah melihat kelakuan wanita berdarah Batak itu. Tiba-tiba datang ngomong nggak jelas arahnya.


"Ehh, gue salah ngomong yak?" Butet mengusap tengkuknya salah tingkah.


"Lo nggak usah ikut campur urusan rumah tangga orang! Masuk kamar sono, lo pulang kerja pasti capek. Mandi dulu habis itu makan, biar ilang capek lo," usir Lola halus, tidak ingin menambah keributan.


"Maaf ya, bukan bermaksud ikut campur. Apa yang dikatakan Rena itu betul. Semua itu salah gue, kalau saja gue bisa jaga mulut. Dosen nggak bakalan marah terus kasih hukuman ke kita buat merangkum materi selama satu semester," jelas Lola agar Ricky tidak memarahi Rena. Wanita hamil itu perasaannya sangat sensitif, oleh karena harus dijaga demi tumbuh kembang bayi dalam kandungan.


"Lain kali lo tanya dulu apa saja yang dilakukan bini lo. Kalau sekiranya lo kurang percaya, tanyakan pada teman dekatnya atau orang yang seharian menemani. Jangan langsung tuduh macam-macam! Gue sebagai teman dekatnya aja sakit hati, apalagi bumil?" Lola memberi saran pada Ricky dengan raut wajah terluka.


Setelah berbicara pada Ricky, Lola mendekati Rena. Memegang lengannya dan tangan satunya lagi dia gunakan untuk mengusap punggung sang sahabat.


"Sudah malam, besok lagi kita kerjakan lagi. Sekarang waktunya lo kerjakan tanggung jawab sebagai istri. Gue bantuin beresin barang-barang lo, ya?" ucap Lola dengan lemah lembut, berbeda dengan biasanya yang bar-bar dan sedikit lemot.


Rena mengangguk lalu membereskan buku dan alat tulisnya. Saat hendak menyimpan meja lipat, Lola melarangnya. Semua aktivitas kedua orang bersahabat itu tidak luput dari perhatian Ricky.


Ricky merasa sangat bersalah dan menyesal pada sang istri. Hanya seorang teman saja bisa berlaku begitu baik pada Rena. Kenapa dia malah bersikap kasar?


Seharusnya dia tetap pada pendirian semula, tidak mendengar segala ucapan Stella yang berisi hasutan. Bodohnya dia, rasa capek dan terlalu stress membuatnya salah mengambil keputusan. Percaya begitu saja pada omongan Stella yang ingin menghancurkan rumah tangganya yang baru seumur jagung.


Ricky memeluk Rena begitu mereka masuk ke kamar. Memeluk sembari menggumamkan kata permintaan maaf. Tidak hanya itu aja, dia juga mencium pelipis dan juga puncak kepala sang istri.


Sementara itu, Stella langsung meninggalkan kos-kosan saat Ricky berteriak memanggil Rena dengan dipenuhi amarah. Sehingga dia tidak tahu jika usahanya gagal. Stella saat ini sudah sampai di apartemen Sandy untuk melaporkan hasil kerjanya.


"Ricky tadi marah-marah tidak jelas pada istrinya. Aku sengaja memanas-manasi dengan mengatakan Rena selingkuh sama salah satu dosen di kampus itu. Bodohnya Ricky langsung percaya begitu saja. Hahaha!" lapor Stella sambil tertawa terbahak-bahak, merasa sangat yakin usaha yang dilakukan berhasil.

__ADS_1


Mendapat laporan itu, Sandy merasa bahagia.


"Lalu, bagaimana pekerjaanmu di perusahaan itu. Apa sudah menunjukkan hasil?" tanya Sandy setelah Stella menghentikan tawanya.


"Sudah! Perusahaan heboh dengan adanya tagihan dan somasi dari rekanan perusahaan di luar negeri. Kita tunggu saja hasilnya sebentar lagi. Rena pasti meninggalkan Ricky yang cemburuan dan jatuh miskin," jawab Stella dengan menyunggingkan senyum..


"Good job, Baby!"


Keduanya merasa usaha mereka sudah mulai berhasil. Mereka merayakan dengan minum-minuman beralkohol dan berakhir di ranjang yang sama seperti biasa. Melakukan pergumulan panas penuh ga*rah.


Ricky masih sibuk membujuk sang istri untuk pulang ke rumah Mama Mira. Akan tetapi, sang istri yang terlanjur sakit hati atas ucapannya tadi tidak mengindahkan. Rena memilih memejamkan matanya usai membuat kopi serta menyiakan keperluan mandi Ricky.


Ricky akhirnya ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri, tetapi sebelumnya sudah mengabari Mama Mira jika mereka menginap di kos Mami Sora.


Rena terbangun jam enam pagi karena mendengar suara berisik dari atas nakas. Suara berisik yang berasal dari smartphone milik Ricky. Rena melihat sekilas layar ponsel itu, panggilan dari Asisten Robert.


Rena langsung melakukan ibadah walaupun sangat terlambat. Tidak tahu kenapa tidurnya bisa sangat pulas sampai tidak mendengar suara adzan maupun alarm di ponselnya.


Rena keluar kamar hendak mencari sang suami, tidak lupa membawa smartphone suaminya. Takut panggilan tadi merupakan berita penting.


Rena keluar dibuat tercengang kala melihat sang suami sedang olahraga bersama para penghuni kos putri. Tanpa banyak bersuara, Rena mendatangi Ricky dan langsung menarik telinganya kuat.


"Bagus, ya? Pagi-pagi sudah tebar pesona. Masih kurang apa aku, hah?"


"Ampun, Yang. Lepasin dong, Yang! Malu ...."

__ADS_1


"Masih punya malu juga ternyata, hah?"


"Punya dong, Yang. Jangan marah-marah lagi, Yang! Nggak bagus lho, ibu hamil marah-marah," bujuk Ricky sambil memegangi telinganya yang terasa panas.


"Oh, kalau bumil nggak boleh marah-marah. Yang boleh itu suami marah-marahi istrinya yang hamil. Begitu? Iya? Jawab dong, Mas!" Rena melepaskan tangannya dari telinga Ricky dan sekarang berganti dengan kedua tangan di pinggang.


"Bu-bukan begitu, Yang. Aku bisa jelasin semuanya!" Ricky benar-benar merasa takut, takut akan terjadi apa-apa pada kandungan sang istri.


Setelah puas meluapkan amarahnya, Rena menyerahkan smartphone milik pujaan hati. Rena tahu jika kondisi perusahaan tidak dalam keadaan baik-baik saja. Sehingga Ricky butuh sedikit hiburan agar tidak terlalu stress.


Ricky terus mengekor di belakang tubuh sang istri. Berharap kemarahan sang istri mereda. Padahal baru tadi malam mereka berantem dan belum berbaikan. Kini ditambah lagi dengan ulahnya yang membuat dia dikerubuti anak-anak kos.


Smartphone miliknya kembali berbunyi. Sebuah panggilan dari Robert kembali masuk. Ricky buru-buru mengangkatnya.


"Hmm ...."


" .... "


"Pancing karyawan itu agar mengaku sendiri tanpa kita interogasi. Kita tetap pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Setelah itu, pecat dia dan pastikan tidak satu pun perusahaan mau menerima dia!" Ricky langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.


Walau pun Rena marah, dia tetap menjalankan kewajibannya pada sang suami. Seperti pagi ini, dia sudah menyiapkan semua keperluan Ricky seperti biasa tanpa diminta terlebih dahulu.


"Terima kasih, Sayang. Kamu memang terbaik!"


Rena mengunci mulutnya rapat-rapat, tidak menjawab apapun yang dikatakan sang suami. Dia sudah merasa sangat kesal, dari pada nanti dia kebablasan tidak bisa diam. Lebih baik diam dari pada membuang tenaga dan menambah dosa.

__ADS_1


"Yang, Mas berangkat kerja. Kalian baik-baik di rumah, ya? Nanti kalau sudah capek mengerjakan tugas, istirahat. Jangan dipaksa!"


Rena diam tidak menjawab, dia hanya mencium punggung tangan suaminya saja.


__ADS_2