
"Ricko?" gumam Rena yang masih tertangkap oleh rungu Mama Mira.
"Ricko itu adiknya Ricky," jawab Miranti.
"O," ucap Rena dengan bibir membentuk huruf O.
Rena kembali mengangkat sepiring bakwan jagung kesukaan Pak Kurniawan. Ricky kembali protes atas apa yang dilakukan sang istri.
"Yang, duduk saja! Sudah ada Mince yang kerjain itu semua. Ingat apa yang dibilang dokter tadi, kamu ...."
"Rena sakit apa, Rick? Kok sedari tadi kamu protes terus," potong Miranti penasaran.
"Rena sakit? Kenapa tidak istirahat di kamar saja?" berondong Pak Kurniawan menimpali.
"Rena sehat kok Ma, Pa. Mas Ricky aja yang over protective," jelas Rena tersenyum.
"Kamu memang sehat, Sayang. Tapi kamu harus menjaga anakku, biar tetap sehat juga," keluh Ricky lesu.
Pak Kurniawan dan istrinya saling menatap, melalui tatapan mata itu mereka berkomunikasi lalu mengangguk.
"Kita mau punya cucu, Pa!" pekik Miranti riang.
"Betulkah itu Ricky, Rena? Punya kabar bahagia kenapa diam saja? Apa kami sudah tidak kau anggap sebagai orang tua, hah?" cerca Pak Kurniawan kesal.
"Maaf, Pa. Ricky lupa mau bilangnya tadi," kelit Ricky.
Sebenarnya Ricky ingin memberi kejutan pada kedua orang tuanya, tetapi sikap dia yang terlalu over protective, malah membuat kedua orang tuanya tahu sendiri.
"Halah, pinter ya kamu buat alasan!"
"Maaf, Pa. Kami beneran lupa kok tadi," ucap Rena membela suaminya.
"Baiklah kalau memang begitu adanya, orang lupa mau apa lagi. Jangan dibiasakan lupa, setahuku lupa itu susah sembuhnya," sindir Pak Kurniawan.
Sebenarnya Pak Kurniawan mengetahui jika Ricky berbohong, hanya saja ada dia memilih diam saja.
"Selamat ya, akhirnya dapat rejeki juga. Kamu nggak mual dan muntah 'kan?"
"Nggak kok, Ma. Aman-aman saja, Mama yang tenang aja ya!"
"Makan dulu, keburu dingin nggak enak," ajak Pak Kurniawan menengahi ibu dan anak itu.
__ADS_1
Akhirnya mereka semua menikmati makan malam dalam ketenangan. Tak ada obrolan lagi. Lima belas menit kemudian makanan di piring mereka sudah habis.
"Papa jadi berangkat ke Jogja malam ini?" tanya Ricky membuka percakapan.
"Jika tidak ada halangan, jadi. Kenapa, hmm?'"
"Papa pergi sama mama 'kan?" tanya Ricky.
"Papa pergi sendiri, Rick. Mama masih ada yang mau urus dulu. Nanti kalau sudah selesai Mama nyusul Papa," sambar Miranti.
"Kalian nggak lagi berantem 'kan?" tanya Ricky penuh selidik.
"Kami baik-baik saja, Ricky. Kamu tenang saja, jangan terlalu berprasangka. Itu tidak baik," tukas Mama Mira.
"Iya, Ma. Maaf, Ricky sudah su'udzon sama Mama dan Papa," ujar Ricky menatap kedua orang tuanya bergantian.
Rena yang ingin merebah memberi kode pada sang suami, tetapi suaminya tidak peka sama sekali. Akhirnya, dia nekat bertanya pada ibu mertuanya.
"Ma, maaf. Bisa numpang rebahan, tidak?" tanya Rena sembari memainkan jari jemarinya.
"Astaghfirullah, Ricky! Kenapa tidak kamu ajak istrimu ke kamar? Kasihan dia sampai minta izin dulu," pekik Miranti kesal.
Ricky terkesiap mendengar pekikan sang mama yang tiba-tiba. Dia benar-benar lupa mengajak istrinya ke kamar. Tadi saat baru datang langsung ke dapur, jadi lupa membawa istrinya istirahat.
Rena nyengir, malu pada kedua mertuanya. Di saat mereka sedang ngobrol, dia malah minta merebah. Badan dia terasa pegal-pegal dan juga matanya sangat mengantuk karena kurang tidur tadi malam. Efek melepas rindu yang menggebu.
"Rena ke kamar dulu, Ma, Pa," pamit Rena pada kedua orang paruh baya itu.
Rena berjalan mengikuti langkah kaki sang suami menuju kamar di lantai dua. Kamar Ricky ternyata tidak jauh dari tangga. Rena takjub melihat ruangan yang sangat rapi itu.
Kamar dengan suasana manly langsung tercipta, warna abu-abu gelap mendominasi ruangan itu. Namun, cat dinding tetap berwarna putih untuk kesan terang ruangan.
"Sayang, mau langsung rebahan atau ke kamar mandi dulu? Kamar mandi pintu sebelah kanan, pintu sebelah kiri itu lemari pakaian juga perlengkapan lainnya," beber Ricky, tangannya sambil menunjuk ke arah pintu berwarna abu-abu.
"Aku langsung rebahan aja, Mas. Badanku rasanya remuk redam habis kamu kerjain tadi malam," sahut Rena langsung berjalan ke arah ranjang.
Ricky meringis mendengar keluhan sang istri. Tadi malam dia begitu bersemangat meluapkan rindunya. Sehingga tidak memikirkan keadaan sang istri, yang penting bisa mereguk nikmatnya duniawi.
"Ya, udah rebahan gih. Mau aku pijit?" tawar Ricky seraya mendekati sang istri dan ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
"Katanya mau mijitin kok malah ikutan rebahan sih?" protes Rena mendorong badan kekar suaminya agar bangun.
__ADS_1
"Iya, iyaa. Mas pijit. Mana yang mau dipijit, hmm?" Ricky berucap sambil tangannya mengusap punggung Rena lembut.
Tak hanya punggung Rena yang disentuh oleh Ricky, ****** Rena pun tak lupu dari jamahan tangan besar itu. Awalnya memijat, lama-lama menjadi rema*an dan usapan yang membuat bulu kuduk meremang.
"Maassss ...."
"Iya, Sayang. Enak?" tanya Ricky sambil mengulum senyum.
"Hmm ...." jawab Renata dengan mata terpejam menahan desa*an karena ulah sang suami.
Ricky tiba-tiba teringat dengan kejadian dini hari tadi. Kejadian saat Rena sepertinya sedang bermimpi sehingga tidak menyadari memainkan miliknya.
"Yang ... Sayang ... tadi malam kamu mimpi apa sih? Kelihatannya seru banget," tanya Ricky di sela kegiatannya memijat.
"Tadi malam?" tanya Rena mencoba mengingat-ingat mimpinya tadi malam.
"Oh, iya! Aku ingat, aku menangkap ikan di kolam pemancingan. Kapan-kapan kita ke sana, yuk," ajak Rena merengek sambil mengguncang tangan sang suami.
"Iya, kapan-kapan kita ke kolam pemancingan," sahut Ricky dengan entengnya.
"Aku nggak mau kapan-kapan! Aku maunya besok, sekarang aku mau tidur. Mas keluar saja dari kamar, biar aku bisa tidur nyenyak," rajuk Rena yang membuat Ricky bengong.
Tidak hamil saja, tingkah Rena selalu membuatnya mengurut da da. Apalagi sekarang Rena sedang hamil, dimana moodnya sering berubah-ubah tak pandang waktu. Ricky benar-benar harus lebih bersabar lagi menghadapi sang istri.
"I-iya, besok kita cari tempat wisata atau rumah makan dengan fasilitas seperti itu," bujuk Ricky tergagap karena bingung menghadapi tingkah random sang istri.
"Ok. Sekarang Mas keluar atau mau ikut tidur?"
"Kalau boleh sih, Mas mau tidur memeluk kamu dan anak kita," jawab Ricky nyengir, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Peluk aja, ya. Nggak lebih! Awas kalau tangannya nakal!" ancam Renata dan cepat-cepat diangguki oleh Ricky.
Keduanya mulai memejamkan mata dengan tangan saling membelit. Sebagai laki-laki dewasa normal, kulit Ricky meremang mendapat sentuhan lembut di kulitnya. Di bawah sana si Alif malah terbangun sempurna.
"Sabar, Ricky. Ini ujian ...."
*
*
*
__ADS_1
Sambil menunggu KyRen up, mampir yuk ke karya temenku yang tak kalah seru!