
Kurniawan sudah bersiap-siap sejak bakda 'Ashar. Lelaki tidak membawa banyak barang, hanya beberapa stel baju saja yang bisa ditampung dalam satu koper berukuran kecil. Rencananya, Rena dan Ricky ikut mengantar ke bandara.
"Hati-hati, Pa. Jaga kesehatan juga, Papa di sana bukan sebagai bos tapi sebagai murid. Jadi, Papa harus jaga diri dan juga jaga kesehatan. Pokoknya Ricky tidak mau dengar kabar jelek dari Papa, apapun itu!" ucap Ricky sambil memeluk sang ayah.
"Pasti, kamu jangan khawatirkan Papa. Papa sudah tua, sudah berpengalaman merantau dan tidak dikenal orang. Bahkan Papa pernah merintis usaha tanpa modal tapi berhasil. Kalian di sini tenang saja!"
"Rena, maafkan pria tua ini. Gara-gara pria tua ini, kamu sempat diabaikan begundal itu. Kamu jaga cucu Papa baik-baik, nanti Papa pulang saat kamu melahirkan," pesan Kurniawan pada anak-anaknya.
"Kelihatan banget yang lebih sayang anak mantu dari pada anak sendiri. Masak alim begini dikatain begundal, hufttt. Nasib, nasib ...." keluh Ricky penuh drama.
"Sudah, sudah! Dramanya dilanjut di rumah. Papa masuk, sebentar lagi pesawat berangkat," ucap Kurniawan pada Ricky dan Rena. Setelah itu mendekati istrinya, Miranti.
"Papa pamit ya, Ma. Mama jaga kesehatan, jangan bandel! Di sini tidak ada lagi yang mengawasi Mama, tapi Mama harus tetap rutin minum obatnya. Nanti Papa akan sering telepon Mama," pamit Kurniawan pada istrinya.
"Hati-hati, Bang!" ucap Miranti yang langsung membekap mulutnya karena mendapat tatapan tajam dari sang suami.
Walaupun awalnya tidak ada cinta di antara keduanya, setelah memiliki anak mereka belajar untuk menerima. Sebenarnya mereka lebih seperti seorang teman dibanding pasangan. Hanya saja, di hadapan anak dan orang lain mereka bersikap layaknya pasangan pada umumnya.
Pesawat yang ditumpangi Kurniawan sudah berangkat. Kini, Miranti bersama anak-anaknya pun dalam perjalanan pulang. Ricky dan Rena memutuskan menginap di rumah utama, sesuai permintaan sang ayah.
"Mas, nanti kalau lihat orang jualan sate pakai gerobak berhenti ya," pinta Rena dengan tatapan penuh permohonan.
"Pengen beli sate?"
"Nggak! Mau merampok," sahut Rena ketus sehingga mengundang tawa MIranti.
"Turuti saja kenapa sih, Rick. Nggak usah banyak tanya. Istrimu itu lagi ngidam," ujar Miranti pada anaknya.
"Iya, Ma," jawab Ricky.
"Padahal cuma nanya, begitu aja sudah ngambek. Mana dibela sama Mama lagi. Jangan sampai nanti aku yang disuruh makan semua permintaan dia!" keluh Ricky yang hanya bisa dibatin.
Setengah jam kemudian, Rena melihat gerobak sate di pinggir jalan. Di dekat gerobak itu ada tenda kecil sebagai tempat menikmati. Tak ada pembeli dan dagangannya masih banyak.
"Mas, di seberang itu ada orang jualan sate. Putar balik, Mas! Aku mau makan di situ," rengek Rena seraya menarik-narik baju Ricky.
__ADS_1
Ricky melirik sekilas ke arah gerobak itu. Sepi, biasanya masakannya tidak enak atau tempatnya kurang bersih. Mengingat ucapan mamanya tadi, Ricky pun menuruti kemauan sang istri dari pada nanti ada perang dunia kelima.
Ricky mencari tempat parkir yang tidak jauh dari warung sate tersebut, setelah menurunkan ibu dan istrinya. Ricky berjalan ke tenda usai memarkirkan mobilnya.
"Sudah pesan, Yang?" tanya Ricky setelah duduk di samping istrinya.
"Sudah dong! Aku pesan lima porsi buat makan di sini. Terus aku juga pesan buat di bungkus juga sepuluh porsi."
"Hah, banyak banget, Yang. Apa kamu bisa menghabiskan semua itu?" Ricky terkejut mendengar jumlah porsi yang dipesan istrinya.
"Jangan terkejut begitu, pakai pasang wajah kek gitu segala ih!"
"Yakin bisa habis semua itu nanti?" tanya Ricky dengan lidah kelu, takut nanti dia yang disuruh menghabiskan semua itu.
Sejak tahu istrinya hamil, dia mulai teringat dengan kelakuan Wenny dan dirinya beberapa hari terakhir. Hanya membeli tanpa mau memakannya.
"Kamu tenang saja, Ricky. Rena tidak pakai lontong atau pun nasi kok. Nggak bakalan kekenyangan," hibur sang mama yang bisa membaca kecemasan di wajah Ricky.
"Yang dibungkus itu nanti untuk orang-orang di rumah, Ricky," imbuh Miranti.
"Iya, Ma," sahut Ricky sembari membenahi letak duduknya agar nyaman.
"Mas, habisin ini dong. Sayang kalau nggak dimakan, kasihan bapak sama ibu itu yang masak. Mau, ya? Ya?" ucap Rena tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Hufftt ... betulkan dugaanku. Pasti cuma buat mainan. Apa begini kalau perempuan hamil?" gumam Ricky yang masih terdengar oleh sang mama.
Mama Miranti mengusap lengan anaknya lembut, seolah mengatakan untuk bersabar.
"Mas, aaa ... dong!" pinta Rena seraya mengulurkan satu sendok daging sate yang bercampur dengan bumbu dan cabe.
Mau tidak mau, akhirnya Ricky membuka mulutnya lebar, menerima suapan dari tangan sang istri.
"Mas makan sendiri aja ya. Kamu yang bayar pesanannya," ucap Ricky sambil menyerahkan dompetnya pada Rena.
Rena pun mengambil dompet itu dan keluar dari tenda. Ricky langsung meminum air hangat untuk menetralisir pedas di mulutnya.
__ADS_1
Ricky mengambil tusuk sate dan mulai menusuk sate itu kemudian memakannya. Bumbunya Ricky tinggalkan, agar tidak ketahuan dia memindahkan bumbu pedas itu ke piring sang mama.
"Mas, ini berat lho. Masak aku yang angkat sih?" teriak Rena dari luar tenda.
Untung saat Rena memanggil Ricky baru memakan separuhnya. Jika terlanjur memakan semuanya dapat dipastikan, dia akan sakit perut.
Mama Miranti keluar terlebih dahulu, Ricky menyusul kemudian. Wajah Ricky memerah karena menahan pedas.
"Sudah semua? Yuk, pulang," ajak Ricky sembari merangkul pinggang sang kekasih.
Mereka berjalan beriringan menuju mobil karena Rena tidak mau ditinggal oleh suaminya. Jadilah mereka berjalan bersama ke mobil yang letaknya tidak begitu jauh dari warung sate tadi.
"Bagaimana, sudah puas?" tanya Ricky saat mobil sudah melaju di jalanan.
"Nangkap ikannya belum, Mas."
"Katanya besok? Lagian ini sudah malam lho, Yang. Kasihan dedeknya pasti kedinginan," bujuk Ricky.
"Iya Ren, besok siang saja. Nanti masuk angin, kalau malam-malam masuk ke kolam. Mama nggak belain Ricky, cuma nggak mau kamu atau Ricky sakit." Mama Miranti turut membujuk bumil itu agar mengurungkan niatnya.
"Tapi beneran besok antar ke kolam pemancingan buat nangkap ikan," rajuk Rena dengan bibir mengerucut.
"Iya, Mas janji. Sekarang kita pulang, istirahat. Biar besok pagi fresh saat pergi ke kolam," ucap Ricky dengan sabar.
Akhirnya Ricky bisa bernapas lega karena istrinya bisa dibujuk untuk pulang. Seandainya tidak mau dibujuk, sudah dapat dipastikan dia yang akan merana malam ini.
Beberapa menit kemudian, ternyata napas lega Ricky tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja bumil itu pengen makan nasi goreng babat yang dimasak oleh Sandy.
"D*** it!"
*
*
*
__ADS_1
Aku bawa rekomendasi karya temenku lagi, mampir yuk!