Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 15


__ADS_3

Rena terbangun dengan badan yang terasa remuk redam. Inti tubuhnya terasa sangat perih dan seperti ada yang mengganjal. Dia teringat bagaimana Ricky yang menggagahinya.


Renata seperti tidak mengenal laki-laki yang telah merampas hartanya yang paling berharga. Ricky yang selama ini lebih banyak diam dan baik kepadanya, tiba-tiba menyerang tanpa ampun. Laki-laki itu seperti dalam pengaruh sesuatu, tetapi apa itu Rena tidak tahu.


Rena menuju ke kamar mandi dengan langkah tertatih. Membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan kotor. Berulang kali menggosok bekas yang ditinggalkan oleh Ricky, sampai memerah.


Rena langsung mengemasi barang-barangnya. Dia sudah membulatkan tekad untuk meninggalkan Ricky. Meninggalkan laki-laki yang sudah mulai bisa dia terima, tetapi memberikan luka.


Itulah kenapa saat ini Rena berada di vila ini. Sesampainya di vila, Rena pun kembali membersihkan tubuhnya karena teringat dengan kejadian tadi malam. Seringnya mandi air dingin dan pikiran yang stres membuat Renata demam tinggi.


"Kang, badannya panas sekali. Akang panggil bidan sana. Biar Yayah yang jagain si Eneng," jerit Yayah saat menyentuh kening Renata.


"Ternyata Eneng sakit, Yayah kira tadi Eneng lagi berantem sama siapa. Sejak tadi ada suara ribut-ribut," ucap Yayah tanpa mendapat respon sama sekali dari Renata.


Suhu tubuh yang lebih panas dari biasanya, membuat Yayah panik. Dia langsung mengambil air untuk mengompres perempuan yang telah menyewa vila tersebut, selama satu bulan ke depan.


Tak lama kemudian, Mang Ujang datang bersama bidan desa. Bidan itu langsung memeriksa Renata dengan teliti. Setelah itu dia mengeluarkan obat-obatan dari tasnya.


"Sepertinya tubuhnya tidak tahan dengan cuaca di sini. Habiskan obat ini dan banyak istirahat. Semoga lekas sembuh," ucap sang bidan seraya menyerahkan beberapa bungkus obat pada Yayah.


"Neng, makan dulu habis itu minum obat," ucap Yayah setelah bidan itu pulang.


"Nanti, Bi. Kepalaku masih sakit banget," sahut Rena dengan mata terpejam.


"Aduh, Neng! Kalau sakit itu buruan minum obat biar cepat ilang sakitnya," ujar Yayah.

__ADS_1


"Iya, iya! Cerewet banget sih," gerutu Rena sambil bangun dan duduk bersandar di headboard ranjang.


Rena pun lalu makan sedikit untuk mengganjal perut dan minum obat. Setelah itu dia kembali tidur, padahal waktu masih menunjukkan jam tujuh malam.


Setiap hari Ricky selalu mencari keberadaan sang istri. Bahkan dia juga berusaha menghubungi ponselnya. Namun, sepertinya nomornya diblokir oleh Renata.


"Dia 'kan pergi atas kehendak sendiri. Ngapain Lo pusing mencari dia? Kek nggak ada cewek lain yang lebih dari dia aja," celetuk Jonathan sekenanya.


Jo merasa kasihan melihat kondisi sahabatnya itu. Gegana karena wanita. Padahal dengan pacarnya dulu, Ricky tidak seperti saat ini.


Ricky adalah type cowok yang cuek dan acuh. Wajar saja jika dia tidak pernah peduli dengan pacarnya dulu. Sekarang istrinya menghilang dan membuat uring-uringan sepanjang waktu.


"Bacot lo!" teriak Ricky emosi.


"Sejak awal kenal sampai dia menjadi istri Lo, pernah nggak sikapnya baik sama Lo? Yang gue tahu selama ini, cewek kalau sudah nikah pasti hormat sama lakinya sejelek apapun itu."


"Apa itu sudah dia jalankan? Gue bukannya mau jelekin si Rena tetapi melihat tingkah lakunya pada Lo, gue jadi ilfill. Kebanyakan yang bertingkah itu laki, lha ini? Nggak habis pikir gue, melihat kelakuan dia kek gitu Lo malah belain dia mulu."


"Lo itu laki-laki bucin sih boleh saja, tapi bukan berarti si cewek bisa sesuka hatinya. Bini Lo itu tanggung jawab Lo saat ini. Kalau Lo ngerasa nggak bisa didik dia, gampang, pulangkan saja dia pada ayahnya. Buat apa Lo pertahankan dia kalau Lo makan hati tiap hari?" tutur Jonathan menasehati sang sahabat yang kembali oleng.


"Lo sekarang fokus saja ngembangin usaha bengkel Lo! Lo buktikan pada kedua orang tua Lo, kalau Lo bisa jadi pengusaha bengkel sukses tanpa mereka!" saran Aldi sembari menepuk pundak Ricky pelan.


Ricky sebenarnya sudah mulai lelah dengan pernikahannya itu. Saat ini dia memilih memberikan waktu pada Rena untuk sendiri. Benar apa yang diucapkan para sahabatnya, jika memang Rena tidak bisa menerima dirinya lebih baik dilepas.


"Bagaimana gue mau fokus ke bengkel kalau pikiran gue kemana-mana? Lo cuma bacot aja! Coba Lo jadi gue, bisa nggak Lo meluluhkan bini Lo yang nggak pernah nganggep Lo," balas Ricky kesal.

__ADS_1


Bukan tidak mau mendengar saran teman-temannya, hanya saja pikiran Ricky masih tertaut pada sang istri yang kabur entah dimana. Dia sudah berjanji untuk menjaga Rena, tetapi istrinya itu malah kabur meninggalkan dia sendiri.


"Kalau kek gitu gampang, Rick! Dia nggak anggep Lo, maka Lo pun tidak usah anggap dia bini Lo. Lo itu laki-laki mau sampai kapan Lo kek gini?"


"Mending berhenti memikirkan dia, dia aja nggak pernah mikirin Lo. Gue ngomong kek gini karena gue gak mau lihat Lo uring-uringan terus. Ada nasib beberapa orang karyawan di tangan Lo!" ucap Aldi sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.


Sudah satu Minggu Rena tinggal di vila mengurung diri. Dia pun merasa bosan dan memutuskan untuk keluar dari vila. Berharap semoga dengan menghirup udara segar pedesaan akan membantunya melupakan kesedihannya.


Rena berjalan menyusuri jalan pedesaan, melihat persawahan dan keadaan alam sekitar yang alami. Banyak penduduk setempat yang menyapa dirinya. Saling menanyakan kabar dan beberapa obrolan ringan lainnya.


"Pagi, Neng. Mau kemana pagi-pagi begini? Masih dingin keluar jam segini," sapa seorang ibu yang menjinjing keranjang kosong hendak ke sawah.


"Pagi, Bu. Saya sengaja keluar pagi-pagi buat udara segar yang masih alami. Ibu mau ke sawah?"


"Iya, Neng. Mumpung masih pagi, belum panas. Kalau kesiangan nanti panas, sayur-sayuran yang dipanen gampang layu," jelas petani tersebut.


"Begitu ya, Bu? Saya baru tahu ini. Terima kasih sudah membagi ilmunya. Saya lanjut jalan-jalan dulu, Bu," ucap Renata sambil melanjutkan langkah kakinya.


Saat tiba di sudut desa, pandangan matanya tertuju pada bangunan vila yang tampak berbeda-beda. Di teras itu ada sepasang kekasih yang sedang bercengkrama. Tertawa bersama dan sesekali saling mencium.


Pemandangan itu membuat seonggok daging berdenyut nyeri. Rena teringat dengan nasib cintanya yang harus kandas karena kesalahpahaman yang mengharuskan dia menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya.


Saat rumah semakin dekat, semakin terlihat juga wajah sepasang kekasih tersebut. Sang perempuan tampak cantik dengan memiliki tubuh yang proporsional. Tidak terlalu kurus dan juga tidak terlalu gemuk.


"Kalau dilihat dari siluet tubuhnya, keknya gue pernah lihat laki-laki itu? Siapa ya?" gumam Renata pelan.

__ADS_1


__ADS_2