Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 53


__ADS_3

Acara syukuran empat bulan kehamilan Rena berjalan dengan baik dan sesuai rencana. Acara berakhir jam empat sore hari. Rena tampak kelelahan karena ikut serta membantu, padahal sudah berulang kali dilarang.


"Apa Mas bilang, kamu itu kalau nggak ngeyelan kenapa?" omel Ricky sambil memijat kaki sang istri.


"Kalau nggak mau mijat, bilang aja sih. Nggak usah pakai ngomel segala," sahut Rena kesal sembari menarik kakinya menjauh dari tangan Ricky.


Telinga Rena sepertinya sudah terasa panas karena sejak tadi diomeli sang suami. Walaupun Rena tahu, Ricky melakukan itu semua karena rasa sayangnya pada dia. Namun, tidak harus mengomel sepanjang waktu juga.


"Sayang, kok marah sih? Mas mau kok mijitin kaki kamu, kalau Mas nggak mau mana mungkin Mas di sini," ucap Ricky dengan sabar.


Bibir Rena mengerucut kesal. Badan yang capek kena ceramah lagi, membuat dia semakin suntuk saja. Dengan hati mendongkol dan sangat kesal, dia beranjak keluar dari kamarnya. Sehingga membuat Ricky kalang kabut mengejar dia.


"Sayang, jangan marah dong! Mas minta maaf, mulut Mas memang minta ditampar. Mas ikhlas kok ditampar kamu, Yang," ucap Ricky seraya berlari mengejar sang istri.


"Gampar aja yang kuat, Ren! Laki-laki kek dia itu memang pantasnya digampar saja. Seneng banget bikin bini mewek," celetuk Pak Kurniawan yang tiba-tiba sudah berada di depan Ricky, membuat Ricky terkesiap.


"Papa tega banget sama anak sendiri," ujar Ricky memasang wajah sendu dan memelas.


Melihat wajah Ricky yang memelas, membuat Pak Kurniawan semakin senang menjahilinya.


"Wajah kamu itu nggak cocok dibuat kek gitu! Orang pikir kamu itu seperti kuli bangunan baru bangun tidur tahu, nggak! Usah drama deh, Bang! Nggak cocok sama sekali," ledek Pak Kurniawan menahan tawanya.


Ya, Pak Kurniawan dan Ricky sudah mulai akrab dan dekat kembali, sejak Kurnia Group diserahkan pada Ricky. Walaupun sebenarnya Ricky tidak mau menerima, akan tetapi sang ayah sedang memperdalam ilmu agama. Mau tidak mau, Ricky terpaksa menerima. Ingat terpaksa!


"Punya ayah kandung seperti kek ayah tiri saja. Kejaaaammm ...."


"Ku menangis, membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku ...."


Sayup terdengar suara orang menyanyi tak jauh dari tempat mereka berdiri. Saat menoleh, ternyata biduan dadakan itu adalah Renata.


Mama Miranti menghampiri ayah dan anak yang tampak heboh sedari tadi. Dia penasaran dengan apa yang dilakukan oleh suami dan anak-anaknya.

__ADS_1


"Duuhhh, keknya lagi bahagia banget! Makanya Mama nggak diajak, ditinggal begitu saja," ucap Mama Miranti pura-pura marah.


"Sini, Ma! Kita lihat Papa sama Mas Ricky, siapa diantara keduanya yang keluar sebagai pemenang. Mumpung ada tontonan gratis," sahut Rena dengan antusias yang tinggi.


"Yang ... kok gitu sih sama Mas? Bukannya dibela dan didukung malah diadu," protes Ricky kembali memasang tampang memelas.


"Suruh siapa jengkelin jadi orang?" jawab Renata menyeringai.


"Sudah, kalian jangan ribut lagi. Kita sama-sama duduk di ruang keluarga. Ada hal lain yang lebih penting dari pada berantem!" bentak Mama Miranti.


Mereka langsung berjalan menuju ruang keluarga. Sesampainya di rumah keluarga, mereka mencari tempat duduk yang nyaman dan sesuai keinginan.


"Ricky, ada hal penting yang mau Papa sampaikan ke kamu. Semoga saja kamu berkenan memaafkan kelakuan Papa," ucap Pak Kurniawan.


"Ekhemm ...." Pak Kurniawan sengaja berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.


"Papa besok sudah kembali ke Jogja. Selama Papa di Jogja Mama jadi kesepian. Jadi, Papa mohon pada kalian untuk menemani mama di rumah utama," tutur Pak Kurniawan dengan bijak.


"Bagaimana, Rick?" tanya Mami Soraya, apa jangan-jangan dengan jawaban sang anak.


Ricky masih terdiam memikirkan permintaan kedua orang tuanya. Dia sebenarnya bisa tinggal dimana pun. Hanya saja, apakah kekasih halalnya itu mau diajak tinggal serumah dengan orang tuanya?


Jarak kampus dengan rumah Kurniawan lumayan jauh, belum lagi jalan dilewati sering macet. Sedangkan, jika tinggal di sini hanya butuh waktu tujuh menit perjalanan.


Melihat sang anak yang diam saja tanpa bisa memutuskan, Pak Kurniawan pun bertanya pada menantunya.


"Rena, bagaimana Nak? Apa kamu mau tinggal bersama mama? Mama kesepian di rumah sebesar itu," tanya Pak Kurniawan ingin kepastian sebelum berangkat ke Jogja.


"Mm, Rena ngikut bagaimana Mas Ricky saja, Pa," jawab Rena memaksakan senyumnya, raut wajahnya menunjukkan kurang begitu yakin dengan keputusan yang diambil.


"Rick, Rena terserah kamu tuh," ujar Mama Miranti.

__ADS_1


"Maaf ya, Ma sebelumnya. Jarak antara rumah ke kampus itu nggak dekat lho. Ditambah kondisi Rena yang saat ini sedang berbadan dua. Apa itu efektif?" jelas Ricky benar adanya.


"Rena 'kan mau cuti. Lagian aktif kuliahnya tinggal dua bulan lagi. Amanlah kalau untuk usia kandungan istri kamu," sahut Mama Miranti.


"Di sini sudah ramai dengan anak-anak kos, sedang Mama di rumah sebesar itu harus duduk seorang diri tanpa yang menemani," lanjut Mama Miranti sendu.


"Yang menjadi masalahnya bukan itu, Ma. Tapi jarak rumah dengan kampus jauh, takutnya dalam perjalanan kejadian yang tidak diinginkan, Ma. Mama seharusnya juga memikirkan itu," jelas Ricky mulai sedikit meninggikan suara karena kesal.


"Rena bisa diantar jemput sopir, Rick. Kamu tetap fokus ke perusahaan saja. Biar Rena nanti Mama yang pikir, asal kalian tinggal bersama Mama." Mama Miranti tetap kekeuh pada keputusannya, begitu juga dengan Ricky yang tidak ingin istrinya kecapekan di jalan.


Melihat perdebatan itu, Tante Soraya ikut menengahi mereka.


"Maaf saya mengganggu sebentar, bukan ingin ikut campur. Hanya saja saya lihat belum ada titik temu atas obrolan ini," sela Soraya sembari mendekat pada besannya.


"Nah, ini ada Soraya. Bagaimana jalan terbaiknya ini?" tanya Mama Miranti.


"Ricky, Rena setiap anak itu milik ibunya. Mau kita benci atau pun menolak itu tidak mengubah apapun. Jadi, selagi kita bisa membahagiakan kedua orang tua kita, kenapa tidak kita lakukan?" ucap Tante Soraya.


Setelah mengucapkan itu, Tante Soraya pamit undur diri. Dia akan pergi ke pengajian rutin yang diikutinya setiap seminggu sekali.


"Pikirkan lagi, Rick! Mama mohon. Mama benar-benar kesepian di rumah tanpa ada kamu dan papa kamu."


"Ricky minta waktu untuk berpikir, Ma!"


*


*


*


Hai, aku bawa rekomendasi karya temenku nih. Mampir yuk!

__ADS_1



__ADS_2