
Badan Rena langsung terkulai lemas begitu panggilan diakhiri. Wanita itu syok mendengar kabar tentang papanya. Sang tertembak oleh anggota kelompok separatis di Indonesia Timur itu.
Jenazah Pak Gunadi akan diterbangkan siang ini juga dari Maluku. Menurut informasi, kejadian penembakan pada Subuh tadi. Pos jaga tiba-tiba diserang oleh sekelompok orang, diduga kuat kelompok separatis.
Inilah yang ditakutkan oleh Rena. Mimpi yang selalu menghampiri sebagai tanda akan berpisah dengan cinta pertamanya. Lalu, Rena jatuh pingsan saat ditanya oleh suaminya.
"Sayang, siapa yang telepon? Ada kabar apa?" tanya Ricky, tetapi belum sempat mendengar jawaban Rena sudah tak sadarkan diri.
"Sayang, Sayang! Bangun, Yang!" panggil Ricky seraya menepuk pipi sang istri.
Ricky langsung membopong Rena begitu tak ada respon dari istri cantiknya itu. Ricky membawa Rena ke pendopo karena tempat itu biasanya selalu ramai oleh anak-anak kos yang sedang nongkrong ghibah ria.
"Mas, kenapa Mbak Rena-nya?" tanya salah satu penghuni kos itu.
"Bisa minta tolong ambilkan minyak gosok atau minyak kayu putih?" pinta Ricky panik.
Lola yang kebetulan baru pulang kuliah kaget mendapati sahabatnya tergeletak di sofa. Dia langsung menghubungi Mami Sora begitu dilihatnya tidak ada di sana.
"Apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja, Mas?" usul Susan.
"Saya sudah menghubungi dokter, sebentar lagi dia pasti datang," sahut Ricky dengan datar dan dingin, tangannya tak lepas dari tangan Rena.
Semua terdiam, ada yang memijit kaki Rena. Ada juga yang memijit tangannya di sela telunjuk dan ibu jari. Sedangkan Ricky mendekatkan botol minyak kayu putih ke hidung sang istri.
Beberapa menit kemudian, dokter yang dipanggil Ricky datang. Begitu juga dengan Mami Sora. Mami Sora datang dengan mata sembabnya karena terlalu banyak menangis.
"Rena, Sayang ... Huhuhuu ...." tangis yang Soraya tahan sejak mendengar kabar meninggalnya sang kakak.
Ya, tadi yang pertama kali diberi tahu kabar meninggalnya Pak Gunadi adalah Soraya. Setelah itu barulah Renata. Hal ini dikarenakan, Renata masih belum bisa kuat mendengar kabar duka ini.
Beberapa menit kemudian, Rena tersadar dari pingsannya. Tiba-tiba dia menjerit histeris memanggil sang ayah.
"Papa, jangan tinggalin Rena! Rena sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kenapa papa ninggalin Rena secepat ini?"
__ADS_1
"Huaaa ... aa aa ... Papa ajak Rena sekalian, biar kita bisa berkumpul di surga," teriak Renata dengan air bercucuran.
"Sayang, jangan seperti itu! Kasihan papa kalau kamu ratapi seperti ini," ucap Ricky menenangkan.
"Papa ninggalin aku, Mas. Aku sendiri ...."
"Kamu tidak sendiri, masih ada Mas dan Tante Sora serta Ricko. Papa dan mamaku juga orang tua kamu, mereka juga milik kamu," potong Ricky dengan nasehat yang menyejukkan telinga.
"Kamu jangan tinggalin aku kek papa dan mama ya, Mas!" rengek Renata manja sembari memeluk tubuh Ricky seduktif.
"Iya, Sayang. Mas akan selalu di sini menjaga kamu seperti janji Mas pada papa," jawab Ricky menahan tangis melihat keadaan kekasih halalnya yang sangat kacau.
Malam hari, selepas Maghrib banyak tetangga yang datang untuk mengirim do'a buat almarhum. Mereka berkumpul di pendopo menunggu kedatangan jenazah Pak Gunadi.
Rena tidak pernah mau ditinggal oleh Ricky, bahkan ke kamar mandi pun Rena ikut karena takut Ricky tidak kembali lagi. Begitu juga saat duduk di pendopo, Rena duduk di samping Ricky sambil menggelendot.
"Ricky, kamu ajak Rena makan malam dulu. Walaupun tidak terasa lapar harus tetap makan. Kasihan debaynya kalau tidak makan. Makanlah walau sedikit untuk nutrisi debay," ucap Soraya sembari mengusap lembut rambut Rena.
Ricky dengan sabar membujuk sang istri agar mau makan. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada anak dan istrinya. Walaupun hanya beberapa suap, tetap bisa menambah tenaga.
Sementara itu, Sandy kembali mencari Stella. Dia akan gunakan Stella untuk merusak rumah tangga duo "R", seperti saran dari ibunya.
Terdengar suara pintu diketuk, Stella yang sedang memasak untuk makan siang buru-buru mematikan kompornya. Stella membeku saat melihat laki-laki yang telah menyakitinya.
"Ada perlu apa kamu datang ke sini? Kamu tidak pantas berada di tempat kumuh seperti ini. Sebaiknya kamu pergi, sebelum aku memanggil warga untuk mengusir kamu," usir Stella dengan wajah dingin.
"A-aku kesini untuk minta maaf, Stella. Maaf tentang kejadian hari itu. Aku pengecut tidak berani mengakui status kita yang sebenarnya," ucap Sandy memelas.
"Aku sudah memaafkan kamu dan orang tua kamu. Sebaiknya kamu pergi dari sini dan jangan pernah lagi menampakkan wajah kamu di hadapanku!" jawab Stella dengan wajah datar.
Stella langsung menutup pintu pintu rumah itu. Badan Stella bersandar di pintu, air matanya lolos begitu saja. Stella menahan isakan tangisnya agar tidak terdengar orang.
"Stella, buka pintunya! Beri aku kesempatan untuk jelaskan semua ini. Aku mohon Stella," ucap Sandy dengan wajah memelas.
__ADS_1
Akhirnya, Stella mau membuka pintu dan keluar menemui Sandy. Dia harus berdamai dengan keadaan. Memaafkan orang-orang yang telah menyakiti perasaannya.
"Kesempatan apa lagi?" tanya Rena berdiri di gawang pintu sengaja agar sang mantan tidak bisa masuk ke dalam rumah.
"Kesempatan untuk memperbaiki diri, agar aku pantas bersanding denganmu nanti," sahut Sandy.
Stella mengangguk tanda mengerti. Mau tidak mau dia mendengar setiap penjelasan dari Sandy. Sebenarnya Stella tidak butuh penjelasan apapun dari Sandy.
Akhirnya mereka berdua ngobrol di ruang tamu, agar terhindar dari omongan julid para tetangga.
Keesokan harinya ....
Para pelayat merasa sangat kehilangan atas meninggalnya Pak Gunadi yang berjiwa besar. Walaupun dia seorang duda tampan, akan tetapi banyak gadis dan janda mengantri untuk mendapatkan hatinya. Namun, tak sekalipun dia merespon mereka.
Rena dan Ricky mengantarkan sang ayah ke peristirahatan terakhirnya. Banyak sekali karangan bunga yang berjejer di halaman rumah serta di tempat pemakaman umum.
Rena meraung kala jenazah Pak Gunadi dimasukkan ke liang lahat. Dia terduduk lemas di atas pusara sang ayah.
"Papa, terima kasih atas perhatian dan kasih sayang yang tak pernah berhenti Papa berikan untukku. Selamat jalan, semoga surga menantimu di sana," ucap Rena di sela isakannya.
"Papa kenapa pergi begitu cepat sih, Tan? Seharusnya dia itu di sini jagain aku. Sebentar lagi juga cucu papa lahir, makanya jangan jauh-jauh dari Rena."
Rena meracau tidak jelas, sungguh betapa hancur hatinya kala harus melepaskan kepergian orang yang disayangi. Seakan tidak bisa percaya, jika sang ayah sudah pergi meninggalkan dia selama-lamanya.
"Sayang, ayo pulang. Ikhlaskan kepergian Papa, ya?" ajak Ricky seraya merangkul pinggang sang istri.
*
*
*
Mampir yuk ke karya temenku, dijamin seru banget.
__ADS_1