
"Dia tidak sadarkan diri saat ini, mungkin karena kelelahan atau tidak tahan merasakan sakit di perutnya. Menurut saya, istri anda kelelahan dan dehidrasi. Apakah kalian tadi malam melakukan itu?" jawab dokter itu ketika Ricky menanyakan keadaan Rena.
"I-iya, Dok. Apa saya menyakitinya?" sahut Ricky cemas.
"Sepertinya istri anda sedang hamil. Itu hanya dugaan sementara, lebih baik kita lakukan USG juga tes urine untuk mendapatkan hasil yang akurat. Bagaimana, Pak?" jelas dokter laki-laki yang menangani Rena.
"Apa? Istri saya hamil, Dok? Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok," borong Ricky seolah tidak sabar menunggu kabar bahagia itu.
"Kita lihat sama-sama hasil tes urinenya. Jika Bapak sudah mengizinkan. Nanti setelah siuman kami akan segera mengambil sampel urine dan melakukan USG setelahnya," jawab sang dokter menjelaskan tindakan medis yang akan dilakukan.
Beberapa menit kemudian, Rena tersadar. Dokter pun meminta perawat untuk membantu Rena melakukan tes urine. Tak menunggu lama, hasil tes urine pun menunjukkan garis dua.
"Selamat, Pak! Sesuai dugaan saya, istri anda hamil," ucap dokter yang menangani Rena. "Untuk mengetahui keadaan kandungannya, kita lakukan USG di poli kandungan.'
Akhirnya, dilakukanlah USG untuk mengetahui usia kandungan dan keadaannya.
"Ini, Pak, Bu, yang dipinggir ini kantung rahimnya. Bulatan kecil sebesar biji kedelai ini adalah janinnya. Usia janin saat ini baru lima minggu. Keadaan sehat, akan tetapi lebih baik tidak melakukan aktivitas yang berat terlebih dahulu. Untuk hubungan suami istri, sebaiknya ditunda dulu sampai janinnya kuat," jelas dokter kandungan itu.
"Dok, kalau misalnya sudah tidak tahan lagi. Misalnya saja ya, Dok. Masak tetap tidak boleh, terus bagaimana nasib si Alif dong, Dok?"
Dugh ....
Renata menendang tulang kering Ricky karena jengah mendengar pertanyaan suaminya yang bikin malu.
"Sshhh ... sakit, Sayang ...." Ricky tidak melanjutkan protesnya begitu mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Kami sudah boleh pulang 'kan, Dok?" tanya Renata cepat agar suaminya tidak berkata yang memalukan lagi.
"Sudah, Bu. Jangan lupa satu bulan sekali cek kandungannya, Ibu!" sahut sang dokter dengan senyum ramahnya.
Pasangan muda itu pulang setelah mengambil vitamin dan obat di apotik. Wajah Ricky tampak ceria dan segar mendapatkan kabar kehamilan istrinya. Sepanjang berjalan, Ricky tidak melepaskan rangkulannya di pinggang Rena.
"Lepas, Mas! Aku sehat, masih kuat berjalan. Jangan seperti ini, malu!" Rena berulang kali melepaskan belitan tangan Ricky, tetapi berulang kali juga Ricky merangkulnya.
Ricky seolah-olah tuli, pura-pura tidak mendengar protes sang istri. Sesampainya di area parkir, Ricky baru melepaskan Rena. Itu pun di depan pintu mobilnya.
Sesaat setelah duduk di belakang kemudi, Ricky baru sadar jika sang ayah hari ini akan berangkat ke Jogja.
__ADS_1
"Sayang, kita ke rumah papa dulu ya?" ucap Ricky setelah memastikan sang istri memasang seat belt-nya dengan sempurna.
"Boleh. Aku juga belum pernah ke sana selama menjadi menantu Kurnia Group," jawab Rena biasa saja.
Ricky seperti mendapat pukulan telak dari sang istri. Selama ini dia sengaja tidak mau mengenalkan Renata pada keluarganya. Dia merasa tidak perlu memperkenalkan karena tidak yakin dengan pernikahannya waktu itu.
"Maaf .... "
"Tidak perlu meminta maaf! Aku malah tidak pernah terpikirkan akan mengenal keluargamu. Pikiranku hanya satu, akankah nasibku akan seperti Tante Sora yang akan dibuang setelah tak dibutuhkan?"
"Sstt ... jangan berpikiran seperti itu! Maaf karena kemarin telah abai padamu. Aku janji tidak akan mengulangi lagi. Aku akan selalu perhatian dan menjagamu," ucap Ricky sendu, teringat dengan kebodohannya di waktu lalu.
Setelah empat puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman Kurniawan. Ricky memarkirkan mobilnya tepat di depan teras, lalu turun dan membukakan pintu untuk sang istri. Tangannya diletakkan di bagian atas pintu untuk melindungi kepala Rena.
Ricky kembali merangkul pinggang Rena dan mengajaknya masuk. Pintu besar itu memang tidak dikunci karena di depan gerbang pagar sudah ada satpam yang menjaga. Ricky berteriak memanggil kedua orang tuanya.
"Maa ... Mama ...."
Miranti yang kebetulan berada di dapur menyiapkan makan siang pun segera berlari ke sumber suara yang memanggil.
"Tamu agung dari hati Mama ini, Ma," sahut Ricky sambil tertawa. "Mama ini ada saja candaannya."
"Kalian sudah makan belum?" tanya Miranti pada anak dan menantunya itu. "Kalau belum kita makan bersama."
'Ayok, Yang! Kamu harus makan banyak biar kamu dan dedek bayinya sehat," ajak Ricky masih dengan tangan membelit di pinggang sang istri.
"Ciee ... pengantin baru mah mesra terus ya, Den?" celetuk Minah kala melihat anak majikannya itu merangkul pinggang sang istri.
"Sirik lo, Min! Ingat, sirik itu tanda tidak mampu," balas Ricky dengan mulut pedasnya.
"Yee, si Aden. Begitu aja marah," ucap Minah.
Ricky melepaskan tangannya setelah mereka berada di ruang makan. Setelah lepas, Ricky langsung berjalan ke meja kompor dimana asisten rumah tangganya berdiri. Menyentil dahi Minah lalu balik lagi ke arah kulkas.
"Eh, Mince! Lo cepetan nikah, gih. Jangan kawin mulu aja kerjaannya," ucap Ricky setelah mengambil satu botol air mineral untuk dibawa ke meja makan.
"Aduuhh, Den. Kalau ngomong itu difilter dulu. Mince mana ada kek gitu," sahut Minah.
__ADS_1
Minah sudah lama mengabdi di rumah itu, sehingga Minah sudah sangat akrab dengan majikannya.
"Kalian berdua ini, kalau bertemu selalu ada saja yang diributkan!" tegur mama Mira.
"Jangan diambil hati candaan mereka berdua, ya Ren! Mereka itu sudah seperti kakak adik," ucap mama Mira kemudian, ditujukan pada menantunya.
Miranti membawa semangkuk besar nasi untuk diletakkan di meja. Melihat itu, Rena berinisiatif membantu sang mertua. Pergerakan Rena terlihat oleh Ricky.
"Ee, Yang! Mau kemana?" teriak Ricky begitu melihat Rena sudah berada di dapur.
"Bantuin mama," jawab Renata dengan entengnya.
"Nggak! Nggak boleh! Ingat kata dokter tadi, Yang!" larang Ricky.
"Cuma bawa piring, Mas. Ringan ini," bantah Rena.
"Nggak, walaupun itu piring. Bahkan sendok sekalipun. Nanti kalau anak aku kegencet gimana, Yang?"
"Nggak usah lebay deh, Mas! Ini tuh ringan banget ...."
"Kalian berdua tuh, ngapain? Pasti ada yang kalian sembunyikan dari Mama, deh!" tuding mama Mira bingung melihat tingkah pasangan muda di depannya.
"Waahh, ramenya! Biasanya juga sunyi," celetuk Kurniawan tiba-tiba, dia baru pulang dari kantor.
"Ada anak-anak, Pa. Baru Ricky sama Rena saja sudah rame, apalagi Ricko ikut ya, Pa?" sahut mama Mira.
Renata yang mendengar mama mertua menyebut sepupunya pun membeku. Dalam hati bertanya, bagaimana sebenarnya rumah tangga mertuanya itu?
*
*
*
Hai, aku up lagi. Bawa rekomendasi karya lagi. Mampir ya, jangan sampai tidak!
__ADS_1