Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 20


__ADS_3

"Rick ... udah lama?" sapa tante Soraya begitu melihat Ricky di ruang tamu.


"Belum, Tan. Oh, iya! Tan, kenalin ini Mama dan Papa Ricky," sahut Ricky sembari memperkenalkan tante Soraya pada kedua orang tuanya.


"Oh, malam Pak, Bu. Kenalkan saya Soraya, adik mertua Ricky," ucap Soraya seraya mengulurkan tangan menyalami kedua tamunya.


"Mira, Miranti lebih tepatnya."


"Kurniawan."


"Tante pikir Pak Bimo itu ayahmu, Rick. Ayah sambung gitu. Maaf sudah salah sangka."


"Bukan, Tan. Om Bimo itu adik Mama. Dia yang selama ini mengurus Ricky," klarifikasi Ricky.


"Eh, sampai lupa mempersilakan duduk. Duduk Pak, Bu! Maaf ya, rumahnya cuma seperti ini. Jauh dari kata mewah seperti kediaman Bapak dan Ibu," ucap Soraya dengan senyum mengembang.


Soraya tampak tenang menghadapi kedua tamunya, tidak ada menunjukkan gelagat apapun. Tidak ada rasa canggung ataupun segan. Terkesan ramah seperti bertemu besan pada umumnya.


"Mbok, Mbok Nah!" panggil Soraya sedikit berteriak.


"Iya, Ndoro Putri," sahut mbok Nah, berjalan mendekati majikannya. Majikan tempatnya mengabdi sejak puluhan tahun lalu.


Mbok Nah terkesiap melihat siapa yang menjadi tamunya. Namun, melihat sang majikan tampak tenang dia pun kembali memasang wajah datar seperti semula.


"Tolong buatin minum ya, sekalian siapkan makan malam untuk tamu kita," perintah Soraya dengan nada lembut seperti biasanya.


"Baik, Ndoro ...."


"Minum saja, Mbok. Kami sudah makan malam tadi," potong Ricky dan diangguki oleh mbok Nah.


Siapapun akan betah tinggal bersama Soraya yang lemah lembut dan penuh kasih sayang tapi tegas itu. Kos-kosan miliknya sudah sangat terkenal. Di komplek itu semua tahu seperti apa kos Mami Sora.

__ADS_1


"Kebetulan sekali, Bapak dan Ibu datang ke sini. Ada yang perlu kita bicarakan tentang anak-anak kita. Walaupun umur mereka sudah dewasa menurut hukum, tetapi sikap mereka masih labil."


"Kenapa saya katakan labil? Ya, karena masih menggunakan emosi untuk memecahkan masalah dalam rumah tangga mereka. Sebagai orang tua seharusnya kita membimbing mereka agar rumah tangga mereka bisa diselamatkan. Bukan begitu Pak Kurniawan?" tutur Soraya secara gamblang dengan tenang.


"Masalah sebenarnya bagaimana ya, Jeng?" tanya mama Mira.


"Kalau menurut saya, kita panggil dulu si Rena. Biar kita sama-sama tahu, alasan keduanya memutuskan berpisah ...."


"Ricky tidak pernah menginginkan perpisahan, Tan. Ricky hanya ingin pernikahan sekali seumur hidup. Tetapi, sepertinya keponakan Tante tidak mau berusaha mempertahankan pernikahan ini," potong Ricky dengan cepat begitu ada kesempatan.


Tak lama kemudian mbok Nah datang membawa satu nampan minuman dan cemilan sebagai teman ngobrol.


"Terima kasih ya, Mbok. Oh, iya. Minta tolong lagi bisa? Pasti bisa dong, ya!" ucap Soraya penuh candaan.


"Pasti bisa dong, Ndoro. Apapun buat Ndoro Putri yang paling baik hati," jawab mbok Nah sumringah.


"Panggil Rena, Mbok. Bilang mertuanya datang," pinta Soraya masih dengan senyumannya.


"Hahaha ... Mbok, di sini nggak ada mas Gun. Mbok sih nurut aja dikerjain mas Gun," ucap Soraya dengan tawa berderai.


Ada perasaan yang sulit diutarakan oleh Pak Kurniawan saat ini. Dia hanya bisa melihat semua itu dengan senyum dipaksakan. Pak Kurniawan tahu keceriaan Soraya hanya menutupi hatinya yang hancur.


Rena datang dengan jalan malas bergabung di ruang tamu. Renata tercengang melihat wajah tamunya, tetapi dia bisa menguasai diri dan kembali ke mode semula. Melanjutkan langkah menuju ruang tamu.


Rena duduk di dekat tante Soraya, setelah mencium punggung tangan kedua mertuanya bergantian. Rena cuek saja mendapat tatapan tidak ramah dari mertuanya.


Mereka membahas tentang gugatan cerai yang dilayangkan oleh Rena di kantor Pengadilan Agama. Tidak ada yang disalahkan dalam percakapan antara dua keluarga tersebut. Hanya ada nasehat untuk pasangan labil itu.


"Lebih baik mediasi mandiri dari pada mediasi di pengadilan. Kita bisa mengeluarkan apa yang menjadi ganjalan secara bebas. Selain itu aib kita tidak sampai menjadi santapan umum. Malu!" ucap tante Soraya pelan tetapi cukup tegas.


"Kalau kita punya masalah itu dibicarakan baik-baik. Jangan menghindar! Jangan kabur! Sekiranya sudah tidak tahan lagi, adukan masalahmu pada Tuhan. Dia yang memberimu ujian, Dia juga yang memberi jalan keluar."

__ADS_1


"Pernikahan itu ibarat sekolah. Jika ingin naik kelas ya harus bisa melewati ujian. Ada kalanya kita bisa dengan mudah melalui ujian itu, ada kalanya juga kita susah mengerjakan ujian itu." Nasehat tante Soraya mengalir bagaikan aliran air dari hulu ke muara.


Rena dan Ricky mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Keduanya merasa malu mendengar perkataan perempuan yang ditinggal begitu saja oleh suaminya itu.


"Benar apa yang dikatakan oleh Tante kalian. Membina rumah tangga itu tidaklah mudah, banyak ujian di dalamnya. Mau menerima kelebihannya, juga mau menerima kekurangan."


"Jika kita menerima perhatian dan kesabarannya, kita juga harus mau memberi perhatian padanya. Kita juga harus bersabar menghadapi amarahnya, selagi amarah itu karena kesalahan yang tidak disengaja. Seperti yang dilakukan oleh Ricky."


"Bukankah sebelum kejadian itu dia sudah mengingatkan untuk menjauh? Kejadian kekerasan itu terjadi di luar kesadarannya. Kenapa harus mencari salah, jika memang keduanya berbuat salah? Seharusnya kalian saling meminta maaf, bukan ego yang ditinggikan!" Sekali berbicara, omongan mama Mira langsung kena di hati Renata.


Mama Mira yang sebenarnya sangat sabar dan mudah iba itu, sudah merasa kekesalan yang mendalam atas perilaku sang menantu. Namun, dia menekan kekesalan dan amarahnya demi anak yang terlihat sangat memuja istrinya.


"Sekarang semua keputusan kembali pada kalian berdua!" ucap pak Kurniawan.


"Ricky masih punya janji pada Papa Gun, untuk selalu menjaga dan membimbing Renata, Pa. Ricky akan tetap menunaikan janji itu. Jadi, Ricky tidak akan menceraikan Renata," ucap Ricky dengan yakin.


Pak Kurniawan langsung menepuk pundak sang anak. Merasa bangga atas kedewasaan anak yang selalu bertentangan dengannya itu.


"Berhubung waktu sudah malam, kami pamit undur diri. Terima kasih atas sambutan baik Bu Soraya pada kami," pamit pak Kurniawan.


"Maaf jika kami merepotkan Bu Soraya," sambung Mira sang istri.


"Tidak ada yang direpotkan di sini. Kita sudah menjadi keluarga. Setiap ada masalah lebih baik dibicarakan bersama, biar kita tenang melangkah ke depannya," jawab Soraya dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajahnya.


Ricky sengaja ikut pulang orang tuanya. Dia ingin memberikan waktu untuk berpikir pada Renata. Akan dicabut tuntutannya atau lanjut ke persidangan. Ricky serahkan keputusan pada Renata.


Ricko terbangun saat merasa haus, dia ke dapur untuk mengambil minum. Namun, dia mendengar suara di ruang tamu dan dia pun bergegas ke ruangan itu.


"Pa-papi ... Mami itu Papi 'kan?" tanya Ricko dari belakang punggung mami Sora.


Walaupun sudah lima tahun ditinggal oleh suaminya, Soraya tidak pernah mengajarkan pada anaknya untuk membenci sang ayah. Soraya selalu mengajarkan untuk menghormati orang tua dan orang yang lebih tua.

__ADS_1


__ADS_2