Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 24


__ADS_3

"Aku tahu, kesalahanku begitu besar padamu juga Ricko. Oleh karena itu, beri aku kesempatan untuk membawa kalian berlibur untuk terakhir kalinya," pinta Kurniawan mengiba.


Kata-kata permintaan maaf dari sang suami terus terngiang dalam pikirannya. Niat awal ingin menghindari, tetapi malah harus tinggal bersama beberapa waktu karena syarat dari suaminya itu. Berlibur bersama berarti liburan keluar kota dan harus menginap, otomatis dia pun akan satu kamar dengan sang suami.


"Mami! Mami kenapa melamun sih?" jerit Ricko kesal karena sejak tadi dia ngoceh tidak didengar oleh ibunya.


"Eh, iya, Sayang. Ada apa, hmm?"


"Papi kapan pulang?" tanya Ricko menatap sang ibu dengan intens.


"Nanti kalau urusan pekerjaannya selesai. Bisa jadi menunggu Ricko liburan sekolah. Biar bisa pergi berlibur bersama," jawab Soraya disertai senyuman. Tangannya mengusap lembut kepala sang anak.


Walaupun sudah berusia 14 tahun, Ricko masih diperlakukan seperti anak kecil oleh Soraya. Bagi Soraya, Ricko tetaplah anak kecil yang menggemaskan. Kecerdasan yang dimiliki anak itulah membuat dia tampak lebih dewasa dibandingkan dengan teman-teman sekolahnya.


Di belahan ibu kota yang lain, tampak Rena yang sedang jalan bersama Sandy. Sandy bertemu Rena di sebuah toko buku di pusat perbelanjaan di ibu kota. Entah pertemuan itu disengaja Sandy atau hanya kebetulan semata.


Renata sepulang kuliah memutuskan ke toko buku, untuk membeli kertas kalkir untuk mengerjakan tugas. Sebenarnya Rena tidak memiliki janji temu dengan Sandy. Dia sudah mulai terbiasa tanpa adanya Sandy sebagai pacarnya lagi.


Mereka bertemu di mall saat Rena akan memasuki toko buku. Tiba-tiba saja Sandy menawarkan diri untuk menemaninya membeli peralatan menggambarnya. Rena yang merasa tidak enak pun tidak berani menolak tawaran itu.


"Kok sendiri saja, suami kamu kemana?" tanya Sandy sambil mengekori langkah kaki Renata.


"Biasalah! Urus bengkelnya, apalagi?" jawab Renata sekenanya.


"Harusnya dia itu duluin kamu dari pada bengkelnya. Bukankah dia punya karyawan, kenapa masih turun langsung mengurus itu bengkel?"


Renata tidak mau menjawab pertanyaan Sandy yang sengaja untuk memanasinya. Renata tetap berjalan mencari kebutuhannya.

__ADS_1


"Wajar sih kek gitu! Namanya pengusaha kaleng-kaleng, jadi harus ikut kerja. Nggak kek aku yang bebas kemana pun karena sudah ada yang handle kerjaan," ucap Sandy penuh dengan kesombongan.


Itulah yang membuat Renata kadang merasa kurang suka. Sifat sombong Sandy yang tidak pernah berkurang apalagi hilang. Semakin hari, sifat buruknya itu semakin menjadi.


Tak jarang juga Sandy menyinggung Renata hanya karena masalah ekonomi. Ayah Renata yang hanya sebagai abdi negara sering dipandang sebelah mata. Namun begitu, Sandy sangat menyayangi Renata.


Pacaran dengan Sandy, lebih sering jengkelnya tetapi Renata terlanjur mencintainya. Berawal dari ditolong kakak kelas berlanjut ditembak dan diperlakukan bak putri saat bersama. Sehingga seiring kebersamaan itu, Renata bisa menerima Sandy.


Berdasarkan apa yang dialaminya dulu, Renata akan mencoba belajar menerima Ricky. Namun, apa yang dilihatnya tempo hari membuat Renata berpikir ulang.


Saat Renata antri di kasir, tidak sengaja melihat Ricky juga sedang antri membawa beberapa belanjaan. Ricky juga kebetulan melihat ke arah Renata. Namun, pandangan Ricky lebih fokus pada seseorang di samping Renata.


"Belum juga dicerai, sudah berani jalan sama pacarnya. Apa ya sebutan yang pantas untuk perempuan seperti itu?" bisik Ricky di telinga Renata saat keduanya sudah berdekatan.


Renata melotot tidak suka mendengar bisikan suaminya. Dia tidak diterima dikatakan seperti itu oleh Ricky. Bukankah Ricky juga tidak jauh berbeda dengannya, bersama perempuan lain padahal masih sah sebagai suami istri.


"Apa anda punya cermin? Sebaiknya mengaca terlebih dahulu!" jawab Renata dengan tenang.


"Apa anda belum juga bisa mengingatnya? Butuh bantuan untuk mengingat Tuan Maha Benar?" cerca Renata dengan nada penuh ejekan.


"Apa sebutan yang pantas buat seorang suami yang berani membawa pulang seorang perempuan, di saat istrinya tidak ada di rumah? Bahkan mereka berpelukan di lobi saat menjemput sang kekasih. Tahukah anda, lobi itu tempat umum, siapa saja bisa melihat apa yang anda lakukan!" cibir Renata kala sang suami hanya diam tanpa bisa memberi penjelasan.


Renata bergegas meninggalkan toko buku itu. Di sedang tidak ingin berdebat dengan siapa pun. Itulah kenapa dia membiarkan sang mantan mengekor di belakangnya.


Ricky yang tersadar pun langsung mengambil langkah seribu guna mengejar sang istri. Dia harus menjelaskan semua ini sekarang juga. Ricky tidak ingin masalahnya berlarut-larut tanpa adanya penyelesaian.


Langkah lebar Ricky membuat pemuda itu dengan cepat menemukan keberadaan sang istri. Ricky langsung menarik tangan Renata dan membawanya ke sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari empat mereka saat ini.

__ADS_1


"Ada yang perlu kita luruskan di sini. Tadi kamu mengatakan, aku membawa seorang perempuan ke apartemen. Kamu cemburu, hmm?" ucap Ricky sembari mengutak-atik ponselnya.


"Lo hanya orang luar, jadi sebaiknya lo tinggalkan kami sekarang," usir Ricky ketika Sandy masih berdiri di samping Renata.


"Lo ngusir gue? Hahaha ... ini tempat umum Bro! Siapa pun boleh di sini," jawab Sandy dengan songongnya.


"Ck, Lo mau ikut campur rumah tangga gue? Atau lo mau merusak rumah tangga gue? Mumpung masih di tempat umum ini, gampang gue mah kalau buat lo babak belur tanpa mengotori tangan gue," ancam Ricky dengan suara agak kuat untuk menarik perhatian pengunjung lainnya.


Mendengar ancaman itu, Sandy memilih meninggalkan pasangan muda itu. Ricky bergegas mendekati sang istri ketika pengacau itu pergi.


"Ini! Tolong kamu lihat sampai selesai. Kalau cuma sepotong-sepotong saja, takutnya semakin menambah salah paham. Jadi semakin ribet urusannya." Ricky menyerahkan benda pipih itu pada istrinya.


Dengan penuh keraguan, Renata mengambil benda yang disodorkan oleh laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Renata menonton dan mengamati rekaman CCTV apartemen yang terhubung dengan ponsel Ricky.


Hhh ....


Renata mengusap wajahnya dengan gusar rekaman itu.


"Kamu boleh percaya, boleh tidak mempercayainya. Rekaman itu masih asli, tanpa editan ataupun rekayasa. Soalnya aku gak ada niat buat bikin drama, selain itu kalau mau edit atau rekayasa aku gak ada waktu buat itu semua," jelas Ricky dengan raut muka tampak tenang.


Laki-laki yang wajahnya lebih mirip sang ayah itu, kini sudah merasa tenang karena sudah menemukan titik permasalahan dalam rumah tangganya. Dia tidak sepenuhnya menyalahkan sang istri karena dia juga memiliki andil berbuat salah. Seandainya dia tahu sejak beberapa hari yang lalu, mungkin dia tidak akan berpikir buruk pada sang istri.


*


*


*

__ADS_1


Sambil menunggu KyRen up, mampir yuk ke karya temenku. Jangan lupa tinggalkan jejak ya🤗



__ADS_2