
"Ini sudah malam, Sayang. Kalau dia tidak mau masakin nasi goreng buat kamu kek mana? Apalagi sudah malam begini cari babat kambing kemana?"
"Pokoknya aku mau nasi goreng babat buatan A' Sandy!" kekeuh Rena dengan bibir mengerucut kesal.
"Mas yang masak nasi goreng ya? Jangan orang lain, takutnya orang itu nggak ikhlas 'kan jadi dosa," bujuk Ricky dengan sabar, berharap sang istri membatalkan keinginannya itu.
"Ya udah, kalau gitu Mas Ricky yang masak nasi goreng begitu kita sampai rumah Mama. Boleh 'kan, Ma?" sahut Rena yang diikuti senyum lega suaminya.
"Boleh saja, Sayang. Semua boleh kalau untuk kamu," jawab Mama Mira, tersenyum.
"Asiiikk! Beneran ya, Mas? Sampai rumah Mama buatin nasi goreng babat," tukas Rena dengan mata berbinar bahagia.
"Kita cari dulu jeroan kambing ke pasar dulu, ya," ajak Ricky dan diangguki dengan antusias oleh Rena.
Ricky langsung mengarahkan mobil ke pasar sayuran yang buka malam hari. Mereka harus belanja jeroan terlebih dahulu. Di rumah Mama Mira tidak pernah nyetok jeroan, dengan alasan kesehatan.
Usai mendapatkan jeroan kambing, mereka bergegas ke mobil. Ricky melajukan mobilnya dengan kecepatan tidak seperti biasanya. Kali ini dia menaikkan kecepatan mobilnya agar segera sampai di rumah.
Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh menit, akhirnya mereka sampai juga di rumah, setelah singgah beberapa kali dalam perjalanan. Ricky langsung meminta Mince untuk membersihkan jeroan itu. Sedangkan Ricky masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.
"Mince, kamu rebus aja pakai panci presto biar cepat empuk babatnya!" perintah Ricky pada asisten rumah tangganya itu.
Mince langsung merebus jeroan itu sesuai arahan dari sang majikan. Ingin rasanya Mince protes karena hari sudah malam. Namun, dia takut melakukannya.
Beberapa menit kemudian babat pun empuk dan ditiriskan. Ricky yang tadi sudah menyiapkan bumbu pun mulai mengeksekusi bahan-bahan yang dipersiapkan tadi.
Sepuluh menit kemudian nasi goreng babat buatan Ricky sudah siap dihidangkan. Ricky sebenarnya pintar memasak, hanya saja dia jarang melakukannya untuk orang lain. Dia meletakkan dua piring nasi goreng di atas meja makan.
"Yang ... Sayang ... ayo makan dulu," ucap Ricky menepuk pundak Rena yang dijadikan bantal di atas meja.
Ya, Rena tertidur dengan menelungkupkan kepala di atas meja, dengan tangan sebagai bantal. Badan yang lelah karena perjalanan jauh pulang pergi ke bandara, lalu ke pasar mencari jeroan.
"Hmm ... ini nasi gorengnya sudah masak? Suapin!" rengek Renata manja masih dengan mata terpejam.
Ricky menuangkan segelas air putih untuk minum sang istri. Disendoknya nasi lalu diarahkan ke mulut sang istri.
"Buka mulutnya, Sayang, aa ...."
Rena pun membuka mulutnya lebar, setelah nasi goreng masuk ke mulutnya dia kunyah perlahan. Mata Rena langsung terbuka lebar begitu lidahnya merasakan enak.
__ADS_1
"Enyak, Mwass," ucap Rena sambil mengunyah.
Renata kembali membuka mulutnya begitu menelan nasi, tanda minta disuapi lagi. Dengan sabar Ricky menyuapi Rena sampai nasi goreng di piring habis.
Keesokan harinya ....
Rena terbangun karena mendengar suara seseorang sedang muntah-muntah di kamar mandi. Dia pun bergegas ke kamar mandi setelah menyadari sang suami sudah tidak ada di sampingnya lagi.
"Mas? Mas Ricky kenapa? Mas sakit ya?" berondong Rena sembari memijat tengkuk sang suami.
"Huweekkkk ...." Ricky terus memuntahkan isi perutnya sampai keluar cairan kuning yang terasa pahit di lidahnya.
Rena memberikan handuk untuk mengelap mulut Ricky setelah berkumur dan mencuci mukanya di wastafel. Setelah itu, Rena memapah Ricky menuju ranjang besar dan membantunya berbaring.
"Mas kenapa?" tanya Rena lagi begitu Ricky sudah tampak tenang.
"Ini sudah biasa, kamu tidak usah khawatir," jawab Ricky lemah, napasnya masih tersengal-sengal setelah memuntahkan semua isi perutnya.
"Biasa bagaimana? Buktinya baru ini Rena lihat," bantah Renata.
"Itu karena kamu tidak bersamaku beberapa hari terakhir ini."
"Sekitar seminggu," jawab Ricky singkat, matanya terpejam karena badannya masih terasa lemas.
"Mas Ricky sudah ke dokter?"
" Sudah, kata dokter Mas sehat. Kamu tenang saja, nanti agak siang sedikit mualnya juga hilang," jelas Ricky sambil tersenyum walaupun matanya terpejam.
"Mau aku buatin teh manis?" tawar Rena.
"Boleh, teh campur jahe ya!" jawab Ricky.
"Pesanan segera datang Yang Mulia," kelakar Renata seraya meninggalkan Ricky di kamar.
Renata pun mengupas jahe lalu mencuci serta menggepreknya. Selagi mengupas jahe tadi, Rena merebus air. Setelah air mendidih, jahe yang sudah digeprek dimasukkan ke dalam air yang mendidih tadi.
Setelah air menggelegak, Rena mulai menyeduh teh menggunakan air rebusan jahe. Rena membawa teh itu ke kamar.
"Mas, ini tehnya. Masih panas tapi," ucap Rena sambil meletakkan teh di atas nakas.
__ADS_1
Ricky hanya mengangguk saja, sepertinya dia mulai mengantuk dan kembali tidur. Tidak ada pergerakan diperlihatkan oleh Ricky, dia benar-benar tertidur. Rena membiarkan saja suaminya tidur kembali, bahkan dia ikut merebah di samping Ricky.
Sinar matahari masuk dengan bebas karena gorden dan jendela yang sudah dibuka. Renata mengerjap karena silau sinar matahari. Dengan perlahan Rena membuka matanya, terbangun.
"Aa ... aku kesiangan!" teriak Renata sembari melompat menuju kamar mandi.
Ricky terbangun karena mendengar teriakan Renata. Dia melihat ada secangkir teh di atas nakas. Kemudian, Ricky mengambil teh itu dan meminumnya.
Setelah merasa segar, dia duduk bersandar di headboard ranjang. Melihat jam yang terpasang di dinding kamar. Jam sembilan pagi.
"Apa hari ini dia ada kuliah?" gumam Ricky bertanya-tanya. "Kenapa terburu-buru sekali?"
Lima belas menit kemudian, Renata sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Bau sabun mandi aroma mawar menguar di kamar itu. Masih menggunakan bathrobe, Renata melangkahkan kakinya ke walk in closed yang letaknya di sebelah kamar mandi.
Rena mengenakan pakaiannya lalu memoleskan lotion pada tangan dan kakinya. Tidak lupa dia oleskan liptin ke bibir tipis yang berwarna pink itu. Setelah dirasa cukup dia langsung keluar dari walk in closed.
"Mas, cepetan mandi! Katanya mau antar ke kolam buat tangkap ikan?" perintah Rena dengan manja.
"Astaga, ternyata dia masih ingat dengan ngidamnya!" batin Ricky mengusap da danya seolah berkata, "Sabar!"
"Apa nggak nanti aja, Yang? Agak siangan dikit, biar nggak dingin pas masuk kolam," usul Ricky sengaja mengulur waktu agar tidak jadi pergi ke kolam pemancingan ikan.
"Sekarang aja, Mas. Kalau siang panas, yang ada gosong nanti kulitku" sahut Renata tidak mau tahu.
Akhirnya, Ricky mandi dan mengenakan pakaian kasual. Dia harus menuruti kemauan bumil atau harus rela dimusuhi. Ricky mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mas, nggak jadi ke kolam tangkap ikan. Aku mau lihat burung A' Sandy. Boleh ya?" rengek Renata tiba-tiba.
"Apa?"
*
*
*
Hai, mampir yuk ke karya temenku! Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🤗
__ADS_1