
Sepeninggal Ricky dan Rena dari rumah Sandy, Nyonya Zoya memanggil anak semata wayangnya. Saat ini ibu dan anak itu duduk di ruang keluarga.
"Sepertinya Mommy pernah melihat mereka. Siapa mereka, A'?" tanya Nyonya Zoya.
"Yang laki-laki itu Ricky, teman pas SMP. Kalau yang cewek, mantan aku Mom. Dia mutusin aku cuma buat nikah sama cowok miskin kek dia," jawab Sandy dengan wajah diselimuti kekesalan.
Kesal karena lagi-lagi dia kalah dengan Ricky. Semua wanita yang dicintainya memilih Ricky dibandingkan dengan dirinya. Padahal kekayaan keluarga Sandy jauh di atas Ricky.
"Mantan kamu? Kenapa kamu lepaskan perempuan seperti dia? Bodoh!" ucap Nyonya Zoya kesal.
"Tunggu! Kalau cewek tadi mantan kamu, lalu cewek yang Mommy usir dari apartemen kamu?" imbuh Nyonya Zoya bingung.
"Siapa yang melepaskan, Mom? Sewaktu Sandy pulang setelah wisuda, Sandy tahu-tahu mereka sudah menikah," bantah Sandy.
"Sayang sekali, padahal Mommy langsung suka dengan anak itu, cantik. Sangat cantik! Cocok jadi mantu Mommy," ujar Nyonya Zoya kecewa.
"Sandy akan merebut dia dari Ricky, Mom. Apakah Mommy suka?"
"Apa yang pernah kamu genggam jangan sampai diambil orang lain! Apabila ada yang ambil, segera rampas kembali. Agar milik kita tetap dalam genggaman," sahut Nyonya Zoya menyeringai licik.
"Saat ini Sandy sedang berusaha, Mom. Do'akan agar Sandy bisa mengambil milik Sandy," ucap Sandy penuh permohonan.
"Mommy akan bantu kamu sampai kamu mendapatkan kembali perempuan itu. Mm, kamu belum jawab pertanyaan Mommy yang satu lagi!"
"Hah, pertanyaan yang mana, Mom?" elak Sandy.
"Siapa perempuan yang Mommy usir dari apartemen kamu hari itu?"
"Hanya teman, Mom?"
"Teman? Teman tidur maksud kamu?" Skak! Ucapan Nyonya Zoya sangat tepat dan membungkam mulut Sandy.
Melihat anaknya tidak bisa menjawab, Nyonya Zoya tersenyum licik. Dia memiliki rencana untuk membantu sang anak merebut kembali kekasihnya.
Sejak kejadian di rumah Sandy, Rena tidak pernah lagi mengidam yang aneh-aneh. Hanya saja, Rena menjadi lebih manja dan tidak mau ditinggal. Apalagi saat ini, Ricky sudah mulai memegang Kurnia Group sebagai ahli waris tunggal.
__ADS_1
Kesibukan Ricky mengurus perusahaan besar sering menyita waktunya. Sehingga tidak jarang Rena uring-uringan tak jelas. Padahal permintaannya untuk memelihara beberapa burung dan hewan langka sudah dituruti oleh Ricky.
"Pokoknya Mas Ricky tidak oleh ke kantor. TITIK! Tidak ada alasan!" teriak Rena saat Ricky hendak beranjak dari ranjang mereka.
Ya, pagi ini terjadi drama lagi karena Rena tidak mau ditinggal oleh Ricky. Padahal Ricky sudah menjenguk baby selepas subuh tadi. Namun, saat Ricky akan beranjak untuk mandi, tiba-tiba saja Rena tidak memberi izin.
Semua bujuk rayu dan jurus gombalan sudah Ricky keluarkan. Namun, sepertinya tidak ada yang sesuai dengan hati Rena pagi ini. Rena terus memeluk Ricky, seolah-olah takut ditinggalkan.
"Sayang, pagi ini Mas ada meeting dengan investor. Mas janji, selesai meeting langsung pulang," ucap Ricky kembali membujuk sang istri, tetapi tidak ditanggapi.
Tak habis akal, Ricky pun mengusap perut Rena yang mulai membuncit. Saat ini usia kehamilan Rena memasuki usia enam belas Minggu, jadi sudah mulai sedikit besar.
"Dedek, Ayah ke kantor boleh, nggak? Dedek jangan nakal, ya! Jangan nyusahin bunda! Kasihan bunda yang gendong dedek," tutur Ricky di dekat perut Rena, tangannya mengusap perut itu dengan lembut.
Renata yang mendengar ucapan sang suami merasa terharu. Namun, entah kenapa pagi ini dia tidak ingin ditinggal kerja oleh suaminya. Perasaannya sungguh tidak enak.
"Sayang, kalau kamu tidak mau Mas tinggal. Kalian ikut saja, biar Mas tenang. Bagaimana?" tawar Ricky mencoba memberi solusi, berharap untuk diterima oleh istrinya yang moodnya benar-benar menguji kesabaran.
Bukannya menjawab tawaran dari Ricky, Rena malah nangis tersedu-sedu. Bahkan napasnya terdengar sesak karena menahan tangis. Melihat hal itu pun, dia menghubungi asisten sang papa yang selama ini membantunya.
" .... "
"Terima kasih atas pengertiannya."
Ricky membalikkan badan, tampak olehnya sang istri masih nangis sesenggukan.
"Sudah. Jangan menangis lagi! Mas akan di rumah menemani kamu," ucap Ricky. "Hanya untuk hari ini saja, tidak ada lain kali kecuali sangat mendesak," lanjut Ricky tentu saja dalam hati, dia tidak mau mood istrinya semakin memburuk.
Rena langsung memeluk tubuh sang suami saat mendengar bahwa suaminya akan di rumah menemaninya. Senyumnya langsung terbit begitu saja.
"Terima kasih, lain kali aku tidak akan seperti ini lagi. Hanya saja sejak tadi malam, perasaan aku nggak enak. Aku takut terjadi apa-apa pada dirimu," ucap Rena masih memeluk sang suami.
"Aku tidak akan kenapa-kenapa, Sayang," jawab Ricky tersenyum dengan tangan mengacak rambut Rena.
Seharian ini pasangan halal itu hanya mengurung diri di kamar. Tidak ada niatan untuk jalan-jalan atau shopping. Rena benar-benar hanya ingin di rumah saja.
__ADS_1
Rena takut jika keluar rumah nanti akan terjadi apa-apa. Rena benar-benar tidak tahu kenapa saja dia merasa sangat takut kehilangan orang-orang terdekatnya.
Sering bermimpi buruk akhir-akhir ini, membuat Rena ketakutan. Oleh karena itu, hari ini dia tidak mau ditinggal maupun diajak keluar rumah. Dia tidak tahu maksud dari mimpi tersebut, akan tetapi dia merasa akan kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya.
Pada awalnya, Rena menganggap mimpinya hanya bunga tidur. Namun, mimpi selalu datang ketika dia tertidur. Dia menceritakannya pada sang suami, tetapi malah ditertawakan.
Pernah juga dia bercerita pada Tante Soraya, tanggapannya pun sama. Tante Soraya hanya mengatakan jika mimpi hanyalah bunga tidur. Selain itu, Tante Soraya manyarankan untuk lebih banyak berkomunikasi dengan Tuhan agar hati lebih tenang.
"Kamu kenapa, hmm? Tidak seperti biasanya," tanya Ricky saat makan siang.
Mereka saat ini sedang menikmati makan siang di halaman yang dijadikan sebagai taman. Dimana, mereka meletakkan kandang berbagai unggas peliharaan. Ada burung beo, kaka tua, dan merpati, selain itu ada juga sepasang burung merak dan ayam kalkun.
Rena diam tidak menjawab pertanyaan Ricky. Dia sibuk memberi makan unggas-unggas itu, sengaja untuk mengalihkan pikirannya.
"Makan dulu! Kasihan debay, asupan nutrisinya harus berebut dengan Bunda kalau Bunda nggak makan," bujuk Ricky setengah memaksa.
Rena tetap bergeming, duduk sambil melemparkan pakan ke arah ayam hutan juga ayam kalkun. Akhirnya, Ricky dengan menekan emosi menyuapi Rena.
"Sudah, Mas. Sudah kenyang," tolak Rena, tangannya mendorong tangan Ricky yang mengarahkan sendok padanya.
Tiba-tiba suara smartphone milik Rena berdering. Panggilan dari nomor tidak dikenal terus berbunyi. Mau tidak mau, Rena pun mengangkatnya.
"Iya, saya anaknya. Ada apa?"
".... "
"Tidak! Kamu bohong," teriak Rena.
*
*
*
Author bawa rekomendasi novel yang seru banget nih, mampir ya awas kalau nggak
__ADS_1