Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 52


__ADS_3

Sudah satu Minggu Pak Gunadi meninggal. Renata masih meratapi kepergian sang ayah. Matanya sembab, wajahnya juga tampak pucat dan tirus.


Penampilan Rena terlihat sangat kacau. Tidak mau makan dan keluar kamar, hanya meringkuk di atas ranjang seolah tak ada lagi gairah untuk hidup. Ricky dengan sabar mengurus sang istri yang tengah depresi.


"Sayang, makan ya. Kasihan debay kalau kamu tidak makan. Tidak ada nutrisi yang diserap untuk pertumbuhannya," bujuk Ricky dengan tangan memegang semangkuk bubur ayam kesukaan Rena selama hamil.


"Sayang, besok acara empat bulan debay dalam kandungan. Kamu harus sehat, ingat lahir, jodoh, rejeki dan maut itu rahasia Tuhan. Jika Tuhan sudah berkehendak, kita hanya bisa menerima semua ini dengan sabar dan ikhlas," ucap Ricky mengingatkan istrinya agar ikhlas melepaskan kepergian sang ayah.


"Apa yang dikatakan oleh suami kamu itu benar adanya. Kamu lihatlah mereka yang di luar sana, lihat anak-anak pengamen yang di pinggir jalan. Mereka tidak hanya kehilangan orang tuanya, mereka juga kehilangan masa depan."


"Kamu hanya kehilangan orang tua, masih ada kami orang-orang yang menyayangi kamu. Masih ada masa depan yang bisa kamu raih dengan harta peninggalan orang tuamu. Seharusnya kamu bersyukur, kamu tidak perlu seperti mereka, menjadi pengemis di jalanan .... "


"Cukup Tante! Tante tidak tahu rasanya kehilangan ...."


"Tante sudah pernah rasakan itu jauh-jauh hari sebelum kamu, Rena. Bahkan Tante juga tahu bagaimana rasanya kehilangan suami. Kamu? Kamu itu belum ada apa-apa jika dibanding Tante. Jadi, jangan pernah merasa hanya kamu yang paling sedih dan menderita di sini. Papa kamu itu kakak kandungku, dia sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri. Kini dia telah diambil Sang Pemilik, aku hanya bisa mengikhlaskan." Soraya mengeluarkan semua kesedihannya, sampai-sampai Ricky menangis mendengarnya.


Ricky semakin merasa bersalah pada mantan ibu tirinya itu. Dulu dia pernah sangat membenci Tante Soraya dan sang ayah, dia merasa Tuhan tidak adil padanya. Kini, dia sudah tahu kebenarannya, dia merasa sangat kasihan pada Tante Soraya.


"Reren sedih, Tante Sora sedih, Ricko dan aku pun sedih. Bahkan anak-anak kos di sini pun bersedih. Tapi kami tahu, jika kami terus meratapi kepergian papa hanya akan menambah beban papa di akhirat nanti. Apakah kamu tidak menyayangi papa, hmm?" beber Ricky tentang kesedihan yang tengah dirasakan oleh semua penghuni rumah besar itu.


Mendengar suami dan tantenya yang berusaha membuka pikirannya, Rena pun akhirnya bangun dan berjalan ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Rena duduk di pinggir ranjang dekat nakas. Dia mengambil mangkuk berisi bubur ayam dan mulai memakannya perlahan.


Ricky dan Tante Soraya yang awalnya bingung melihat tingkah Rena, akhirnya bisa tersenyum. Mereka bahagia karena Rena sudah tidak lagi menyiksa diri bersama anak dalam kandungan. Ricky dan Tante Soraya saling menatap dan tersenyum.


Tante Soraya meninggalkan kamar Rena, untuk mencari Ricko yang sejak pagi diabaikannya. Ternyata anak remaja itu sedang belajar di kamar, tanpa menghiraukan kehadiran sang bunda.


Soraya mendekati sang anak kemudian memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Mami kenapa? Kangen papi, ya?" tebak Ricko.


"Tidak. Mami sedang merasa bersyukur masih diberikan kesempatan bersama anak mami. Semoga kamu tidak menyalahkan Mami karena meminta berpisah dengan papi kamu," jujur Soraya, dia sebenarnya takut suatu saat nanti Ricko membencinya karena memisahkan anak dengan ayahnya.


"Ricko tidak pernah menyalahkan Mami atau pun papi. Mami ingat ngga? Waktu itu mengajari Ricko agar Ricko menghormati keputusan orang tua," sahut Ricko mengambil napas dalam dan membuangnya kasar.


"Apa yang kita jalani ini adalah ketentuan yang sudah digariskan Allah untuk kita jalani. Benar begitu 'kan, Mom? Oleh karena itu, Ricko tidak menyalahkan siapa pun atas apa yang Ricko jalani."


Ucapan Ricko membuat sang mama bangga. Walaupun Ricko masih anak remaja, cara berpikirnya sungguh sangat dewasa. Semua itu tidak terlepas dari didikan ibunya, Soraya.


Soraya semakin memperat pelukannya pada sang anak. Dia benar-benar merasa sangat bangga memiliki anak yang berpikiran begitu dewasa.


Sementara itu, Sandy dan ibunya sudah mulai menekan Stella agar mau membantu memisahkan Ricky dengan Rena. Dari ucapan dan janji manis hingga ancaman diberikan pada Stella.


"Ternyata ibu dan anak sama saja! Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan. Sungguh menjijikan!" ucap Stella dalam hati.


"Tapi kalau aku tidak mengikuti kemauan mereka, sudah dipastikan aku akan hancur di tangan mereka."


"Kalau kamu tidak mau, maka kamu akan tahu sendiri akibatnya bukan?" ancam Sandy menimpali ucapan sang mama.


Sandy dan Nyonya Zoya tersenyum begitu Stella menyetujui untuk membantu memisahkan Ricky dan Rena. Dengan imbalan biaya pengobatan dan pendidikan adik Stella. Adik Stella mengidap leukimia, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


Pekerjaan Stella sebagai staf administrasi di salah satu anak perusahaan Kurnia Group, diharapkan bisa menarik perhatian Ricky. Ricky yang mudah iba, menjadikan kelemahannya.


Acara syukuran empat bulan kehamilan Rena berjalan dengan lancar. Rena sudah mulai semangat menjalani hari-harinya, ikut serta membantu keriweuhan menyiapkan acara syukuran tersebut.


"Rena, kamu duduk saja! Jangan ikut-ikutan, nanti kamu kelelahan! Kasihan si Utun, Ren," ucap Susan melarang Rena yang ikut menggelar karpet untuk acara satu jam lagi.

__ADS_1


"Ya, ampun San! Cuma kek gini aja nggak boleh sih?" protes Rena. "Aku ini sehat, Susan!"


"Nanti aku kena marah laki kamu lho, Ren!"


"Nggak bakalan, cuma kerjaan ringan kek gini kok marah, apa kali jadi orang," kekeh Rena.


"Terserah kamu aja kalau begitu, yang penting jangan capek-capek!" Susan akhirnya menyerah menghadapi nona pemilik kos-kosan itu.


Susan pergi ke belakang untuk mengangkat makanan yang akan dihidangkan untuk acara nanti. Tampak juga anak-anak kos lainnya mengangkat bingkisan yang akan dibagikan kepada anak yatim dan tamu undangan lain.


"Ren, Lo ganti baju aja sana! Dandan yang cantik. Sebentar lagi para tamu undangan datang lho," ujar Lola menyuruh Rena untuk segera mengganti pakaian dan bersiap menyambut tamu undangan.


Ricky sendiri sedang mencari nasi uduk permintaan sang istri. Nasi uduk dengan taburan teri nasi di atasnya. Ricky harus keliling kota untuk mendapatkan permintaan sang istri. Sebelum acara dimulai, dia sudah sampai dan bisa bernapas lega.


"Ricky, orang tua kamu mana?" tanya Tante Soraya ketika tidak tampak olehnya sang besan.


"Mama dan papa masih dalam perjalanan, Tante," jawab Ricky.


Pak Kurniawan pulang setelah mendapat kabar meninggalnya ayah Rena. Dia sengaja kembali ke Jogja menunggu acara empat bulanan dilaksanakan.


*


*


*


Maaf diriku terlambat up, setiap Sabtu Minggu aku bakalan terlambat up karena urusan RL🙏

__ADS_1


Sambil menunggu KyRen up, mampir juga ke karya temenku yang seru habis.



__ADS_2