Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 42


__ADS_3

"Kamu jangan pernah meragukan kasih sayang papamu. Rasa sayang papa ke kamu itu jauh lebih besar dari pada rasa sayang papa ke Mama. Walaupun kamu selalu membuat ulah, semua dimaafkan oleh papamu tanpa kamu meminta maaf padanya," tutur mama Miranti, biasa dipanggil mama Mira.


"Apa kamu tidak merasakan itu, hmm? Dia mengusir kamu, menyuruh kamu meninggalkan kemewahan di rumah ini. Apa pernah dia mengusirmu dari apartemen? Tidak 'kan?" imbuh mama Mira dengan pertanyaan.


"Papa tidak pernah mengusirku dari apartemen," jawab Ricky mengiyakan pertanyaan sang mama.


"Begitu mendengar kamu menikah, papa langsung pulang ke Jakarta. Padahal dia ada jadwal meeting dengan investor. Papa kamu juga yang meminta mama untuk menetap di sini untuk kamu. Semua demi kamu, Nak," ungkap mama Mira.


"Mama, Mama tahu nggak sih, kalau Mama itu dibohongi papa?" tanya Ricky dengan cibiran.


"Maksud kamu apa, Ricky?"


"Papa itu sudah menduakan Mama. Masak Mama tidak merasakannya?" Tampak wajah frustasi Ricky karena melihat sang mama masih tenang saat diberitahu suaminya mendua.


"Oh, itu. Dia perempuan baik-baik kok, dia tidak akan menjadi ancaman buat kita. Mama tahu siapa dia," jawab Miranti dengan tenang, bahkan senyuman masih menghiasi bibirnya.


"Mama ini bagaimana sih?"


"Bagaimana maksud kamu? Mungkin sudah saatnya kamu mengetahui kebenaran semua ini. Agar kamu tidak membenci papa atau mamamu ini," ujar Miranti akhirnya.


Miranti pun mengambil napas sepenuh dada sebelum memulai ceritanya.


Pernikahan mama dan papa terjadi karena perjodohan kedua orang tua. Orang tua Mama dan orang tua papa bersahabat kala itu. Mereka sepakat untuk menjodohkan anak-anaknya.


Berhubung papamu anak tunggal dan mama anak perempuan satu-satunya. Jadi, kami dinikahkan. Padahal saat itu mama sudah memiliki kekasih. Namun, harus mama tinggalkan.


Sejak kecil kami tumbuh dan bermain bersama, sehingga kami sudah seperti keluarga kandung. Oleh karena itu, perasaan yang hadir di hati kami adalah perasaan sayang antara adik dan kakak sudah ada sejak kecil. Perasaan sebagai satu kesatuan keluarga, bukan perasaan sayang antara lawan jenis.


Betapa besar rasa sayang Mama pada papamu sebagai seorang adik, Mama mencarikan seorang wanita yang benar-benar cantik, hati dan wajahnya. Mama mencari sendiri, sampai suatu hari Mama melihat seorang gadis yang sesuai dengan keinginan Mama.


Gadis itu setiap hari selalu membagikan makanan pada anak-anak jalanan yang mengamen dan juga para pengemis. Tidak hanya itu saja, gadis itu ternyata juga mengajari anak-anak jalanan itu membaca dan menulis. Mereka belajar dengan fasilitas semuanya berasal dari gadis itu.

__ADS_1


Mama sering mengawasi gadis itu dari kejauhan. Ingin mengenal lebih dekat wanita berparas ayu nan teduh itu. Namun, Mama tidak memiliki nyali untuk berkenalan dengannya.


Terbersit dalam benak Mama untuk mengenalkan gadis itu dengan adik Mama. Sayangnya dia sudah memiliki kekasih. Kebetulan juga sewaktu Mama mengikuti gadis itu, papamu selalu ikut.


Sesuai dugaan Mama, papamu jatuh cinta sejak pertama kali Mama tunjukkan kegiatan gadis itu. Demi kebahagiaan orang yang Mama sayangi, Mama pura-pura tidak tahu. Mama selalu mendukung papa kamu untuk mendekati gadis itu.


Ternyata gadis itu tidaklah mudah didekati, dia benar-benar bak mawar yang tumbuh di pinggir jurang. Antara bunga atau si pemetik yang akan terjatuh, bisa juga keduanya terjatuh. Seperti itulah posisi gadis itu dan papa kamu.


Perjuangan papa kamu untuk mendapatkan cinta gadis itu begitu berat. Namun, harus melepas atau papa kamu kehilangan kamu. Seharusnya kamu bersyukur, Ricky.


Bersyukur karena kamu adalah prioritas bagi seorang Kurniawan. Dia bahkan rela melepas cintanya, meninggalkan darah dagingnya yang lain untuk kamu. Itulah kenapa Mama selalu bilang ke kamu agar menuruti kemauan papa kamu.


"Banyak yang telah papa korbankan untuk kamu. Apa hatimu sedikit pun tidak tergerak oleh pengorbanannya?"


Miranti sengaja meminta anaknya untuk tidak menyela setiap ucapannya. Dia hanya ingin Ricky tahu jika Kurniawan begitu menyayangi Ricky di atas apa pun itu. Rela meninggalkan anak dan istri lainnya demi anak kesayangan.


"Mama itu dibodohi papa! Kenapa malah membela dia?" teriak Ricky kesal mendengar mamanya yang mengagungkan suaminya.


Miranti mengusap bahu anaknya sebelum masuk ke kamar.


"Jangan sampai kamu juga seperti papa kamu, kehilangan wanita yang dicintai!" ucap Miranti sebelum akhirnya berlalu dari hadapan sang anak.


Hhh ... karena keegoisan ayah, lihatlah cucumu membenci papanya sendiri. Inikah yang ayah inginkan? Seandainya dulu kami tidak dipaksa untuk memiliki anak, tidak akan banyak hati yang terluka karena ego ayah.


Batin Miranti bergolak.


Ricky yang ditinggal oleh sang mama, memilih kembali menemui sang ayah. Dia benar-benar ingin mendengar cerita langsung dari versi ayahnya. Bukan dari para wanita yang begitu memujanya.


Sementara itu Lola sedang kelimpungan menenangkan Rena yang terus menangis karena merindukan sang suami. Lola yang tidak tahu penyebab Rena menangis pun bingung harus melakukan apa.


"Ren lo kenapa sih sebenarnya? Tiba-tiba meraung seperi macan melihat mangsa," tanya Lola.

__ADS_1


Saat ini Lola membawa Rena ke kantin, mereka duduk di pojokan karena ada yang mau mereka bicarakan.Mereka berdua bolos kuliah karena tangisan Rena yang tiba-tiba.


"Lo mau makan apa? Biar sekalian gue bawaain," tawar Lola pada Rena.


"Nggak selera makan gue! Gue lemon tea aja, hangat," jawab Renata.


Setelah selesai dengan makanan mereka, tiba-tiba saja Rena pamitan dan meminta Lola membawakan motornya pulang.


"Gue mau jalan bentar! Gue nitip motor gue, yak. Lo bawa pulang ke kos, bisa'kan?" ucap Renata seraya berdiri dan meletakkan kunci serta uang kertas berwarna merah di depan Lola. Tanpa menunggu jawaban Lola, Renata kabur begitu saja.


"Lumayan, dapat rejeki nomplok hari ini," gumam Lola dengan riang. Gadis itu langsung menyimpan kunci motor dan uang pemberian Renata tadi.


Selesai dengan urusannya di kantin, Lola bergegas menuju kelas karena masih ada makul yang harus dikutinya.


Sembilan puluh menit telah berlalu, gadis asal Mataram itu pun selesai mengikuti kuliah. Dia langsung dicecar berbagai pertanyaan oleh teman-teman sekelasnya.


"Eh, La! Rena tadi kenapa sih? Menangis kek bocah aja," tanya Laras, teman sekelas Lola dan Rena yang tadi tidak sengaja melihat bagaimana Rena menangis.


"Kalau gue tahu kenapa dia tiba-tiba menangis sudah pasti gue cari cara buat dia diam. Berhubung gue nggak tahu, gue peluk aja," jawab Lola dengan entengnya.


"Dodol Lo!"


*


*


*


Hai, mampir yuk ke karya temenku


__ADS_1


__ADS_2