Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 32


__ADS_3

Ricky sudah mendaftar seminar dan work shop yang akan digelar tidak sampai sebulan lagi. Dia juga telah memesan tiket pesawat, sedangkan penginapan dan makan disediakan oleh penyelenggara seminar.


Pekerjaan yang sekiranya tidak bisa dikerjakan oleh para montirnya, dia bereskan terlebih dahulu. Dia tidak ingin saat pergi nanti, masih ada tanggungan pekerjaan. Takut nantinya akan mempengaruhi kepuasan pelanggan dan berakibat pindah bengkel lain.


Jika Ricky sibuk menyelesaikan pekerjaannya, Renata sibuk mengerjakan tugas untuk kenaikan semester. Setiap hari Renata selalu ke perpustakaan, untuk mengerjakan tugas atau sekedar mencari buku untuk referensi tugasnya.


"Yank, nanti aku jemput jam berapa?" tanya Ricky pada sang istri.


Saat ini Renata dan Ricky berada di area parkir kampus. Renata hari ini ada dua mata kuliah yang harus diikuti, satu pagi dan satunya lagi siang. Jadi, Ricky ingin memastikan jam berapa Renata pulang dari kampus.


"Agak sore aja, Mas. Soalnya aku mau ngerjain tugas lagi di perpustakaan. Nggak apa-apa 'kan?" sahut Renata merasa kurang enak, setiap hari selalu terlambat pulang ke rumah.


Setiap hari selalu saja ada tugas dari dosen karena teman-teman sekelasnya banyak mendapat nilai pas-pasan. Dosen memberikan tugas untuk membantu mengatrol nilai para mahasiswa.


"Ok, nanti kalau mau pulang hubungi saja. Pasti aku jemput!" pesan Ricky sebelum Renata berlalu dari hadapannya, sedangkan Renata yang mendengar itu hanya mengacungkan jempol tanda mengiyakan.


Ricky pun bergegas menuju bengkelnya yag tidak jauh kampus itu. Sesampainya di bengkel, Aldi tampak cemberut Ada sesuatu yang membuat moodnya berantakan.


"Lo kenapa Al? Muka kusut kek anak kecil kagak dikasih jajan aja," ejek Ricky saat berpapasan dengan sahabat sekaligus karyawannya itu.


"Kesel gue! Lo pernah nggak sih mikir, bagi lo gue itu apa lo?" balas Aldi dengan melontarkan pertanyaan. "Lo kerja asal ambil job aja tanpa lo mikir kalau kita sedang kekurangan tenaga kerja. Capek tahu, nggak?"


"Sorry, bukannya gue serakah semua job gue ambil. Sebenarnya ada beberapa yang sudah gue tolak, tapi mereka tetap maksa. Yang duluan aja dikerjakan, terus misalnya lo nggak bisa pegang, limpahkan ke Sony, Berry atau siapa yang bisa."


"Terus, lo sudah pasang iklan buat cari montir? Kalau kita nggak pasang pengumuman, sampai kapan pun nggak bakalan ada yang melamar pekerjaan di sini. Misalnya, nanti pas gue di Bali, tolong lo handle semuanya." Ricky menjelaskan alasannya menerima beberapa job akhir-akhir ini. Dia juga memberikan beberapa perintah pada sahabat dan rekan kerjanya itu.


"Itu, si Jo nggak lo suruh awasi bengkel juga? Dia ada sahamnya lho di sini, masak lepas tangan begitu saja," protes Aldi.


"Gue sama dia itu sama kedudukannya di sini. Kekuatan kita itu sama, yaitu 20 persen. Kenapa dia bisa bebas begitu saja,sedang gue jungkir balik bantuin lo mengurus ini bengkel?" lanjutnya masih ingin protes.

__ADS_1


"Nanti gue bilang ke Jonathan, buat cari montir. Siapa tahu dia punya kenalan montir handal," ucap Ricky sebelum akhirnya meninggalkan Aldi, menuju ruangannya di lantai 2.


Ricky duduk bersandar di sofa, menengadahkan kepala, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ricky merasa kepalanya berdenyut hebat. Begitu banyak masalah datang silih berganti, belum lagi mood sang istri yang aduhai.


"Hhhh ... aku harus bisa! Jangan sampai papa mentertawakanku hanya karena masalah yang aku hadapi!" gumam Ricky lesu.


Entah kenapa hari ini, tubuh Ricky rasanya lelah sekali. Akhirnya, dia memutuskan untuk tidur saja. Lanjut kerja jika sudah fresh.


Baru sepuluh menit memejamkan mata, handphone milik Ricky sudah berdering. Sehingga dia pun kembali terjaga, mengambil benda segi empat itu dan menjawab panggilan seseorang. Ternyata sang istri yang tiba-tiba minta dijemput dan diantar ke toko buku.


Ricky bangun dan berjalan menuju kamar mandi, mencuci mukanya sebelum turun dan menjemput sang istri.


"Mau kemana Bos?" tegur Sony saat berpapasan di depan pintu.


"Biasa, jemput bini! Gue cabut dulu," sahut Ricky sembari terus berjalan ke arah mobilnya.


Tak butuh waktu lama, Ricky sampai di kampus. Ternyata sang istri sudah menunggunya di area parkir bersama beberapa temannya.


"Tadi pas kamu telpon, aku sudah mau ke alam mimpi. Jadi, cuci muka dulu biar fresh," jawab Ricky apa adanya.


"Makanya jangan begadang mulu, sayangi diri sendiri," omel Renata penuh perhatian.


"Iya, Sayang, iya. Terima kasih sudah perhatian," sahut Ricky gemas ingin rasanya dia menyumpal mulut istrinya itu dengan bibir. Jika hanya berdua mungkin hal itu sudah dilakukan.


"Jangan iya iya saja, tapi nggak dikerjakan!"


"Siap, Den Ayu!" Ricky membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada istrinya.


"Eh, sudah pinter suamiku. Belajar dari siapa?" tanya Renata gemas seraya tangannya mencubit mesra pipi Ricky.

__ADS_1


"Ingat Yank, ini tempat umum. Jangan sampai aku khilaf ya!" ucap Ricky menggeram mengingatkan.


"Iya, iya. Yuk berangkat! Keburu kesorean," ajak Renata sambil menarik lengan Ricky menuju mobil.


Kini mereka telah sampai di toko buku, Renata seperti biasa berburu pernak pernik untuk membuat maket miniatur bangunan. Kali ini dia mendapatkan tugas untuk menggambar di kertas kalkir dan membuat maketnya sekalian. Tugas dikumpulkan saat ujian berlangsung.


"Yank, kok kamu ambil jurusan ini sih? Nggak ribet gitu, buat gambar yang harus tepat dan buat maketnya sekalian?" tanya Ricky ketika mereka berdua sedang antri di kasir untuk membayar belanjaan.


"Suka aja! Nggak ada alasan lainnya sih. Bangunan di rumah itu hasil desainku lho," jawab Renata dengan senyum mengembang.


"Yang benar? Aku kira dulu itu, papa bayar arsitek sebelum bangun rumah sekalian kos-kosan itu," ucap Ricky seolah tak percaya dengan ucapan istrinya.


"He'em, waktu itu aku iseng aja sih, pas dengar tanah peninggalan eyang mau dibuat kos-kosan. Aku buat gambar, terus papa sama tante lihat katanya bagus. Terus dibuatlah bangunan seperti itu," cerita Renata.


Berjalan sambil bercerita menuju area parkir mall. Mereka langsung pulang ke apartemen karena Ricky merasa kurang enak badan. Renata pun mengiyakan saja ketika Ricky mengajak pulang.


"Makan dulu, habis itu minum obat. Biar cepat sembuh, terus nggak kena omel Aldi lagi. Kerjaan kalian lagi banyak-banyaknya ya?" kata Rena begitu sampai di unit apartemen mereka.


"Iya, ambilin!" sahut Ricky dengan mata terpejam.


Sepertinya tubuhnya memang minta diistirahatkan sejenak. Bengkel yang tidak pernah sepi membuat Ricky dan para karyawannya kewalahan. Sudah memasang iklan di surat kabar tetapi belum mendapatkan montir yang sesuai keinginannya.


Renata dengan sabar mengurus suaminya yang sakit. Tidak seperti biasanya yang suka meledak tidak jelas. Renata sudah banyak mengalami perubahan sejak keduanya melakukan hubungan suami istri secara sadar.


*


*


*

__ADS_1


Author lagi sibuk RL🙏 sambil menunggu up, mampir yuk ke karya temenku ya



__ADS_2