
"Rena keterlaluan kamu! Bisa durhaka tahu nggak, kalau kamu seperti ini terus. Bagaimana kalau dia menceraikan kamu karena tidak kuat dengan sikapmu selama ini?" tegur tante Sora begitu Ricky pergi.
"Aku sudah melayangkan gugatan cerai, Tan. Jadi, Tante duduk tenang saja. Yang menjalani Rena bukan Tante," sahut Rena dengan tenang padahal sang Tante sudah emosi sampai ke ubun-ubun rasanya.
"Kamu akan menyesal, Rena. Tidak mudah mencari laki-laki sebaik Ricky," teriak tante Soraya geram.
"Kalau dia baik, kenapa tidak Tante saja yang menikah dengannya?" ucap Rena semakin berani.
"Ya Allah, bagaimana nanti aku akan mengatakan pada kakakku dengan kelakuan anaknya ini? Berikan jalan keluarnya, ya Allah."
Tante Soraya langsung meninggalkan Rena begitu saja untuk meredam emosinya.
Ricky pulang ke apartemen sore hari, saat membuka pintu dia terkejut mendapati sebuah amplop berwarna. Ricky semakin terkejut lagi saat membaca isi surat itu. Dia meremas surat itu hingga berbentuk bola.
"Baiklah, bila ini inginmu. Aku sudah berusaha selama ini. Tidak mungkin aku berjuang sendiri, sementara kamu menyerah," gumam Ricky dengan tangan mengepal hingga otot-otot tangannya menonjol keluar.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu. Jika dengan melepasmu, kamu bisa bahagia. Akan aku lakukan. Aku tidak ingin terlihat sebagai laki-laki egois yang mau menang sendiri."
Bingung antara melepas atau menggenggam. Ricky sudah berjanji untuk menjaga Rena. Namun, Rena tidak mau dalam penjagaannya. Sungguh dilema.
Ricky langsung masuk ke kamar mandi dan menghidupkan shower. Berdiri di bawah guyuran air shower masih mengenakan pakaian lengkap. Ricky berteriak sekuat tenaga, meluapkan amarahnya.
Semua perasaan bercampur menjadi satu. Di saat dia belajar menerima dan mulai mencintai harus patah hati. Ibarat bunga, layu sebelum berkembang.
Setelah puas meluapkan amarahnya di bawah guyuran air shower, Ricky membuka pakaiannya, kemudian membersihkan diri. Dia menyambar handuk lalu keluar dari kamar mandi. Tangannya tampak terluka karena, beberapa kali dia memukul dinding sebagai pelampiasan kemarahannya.
Saat Ricky berada di kamar mandi, orang tuanya datang dan langsung masuk ke apartemen itu. Duduk di ruang tamu menunggu sang anak keluar dari kamarnya. Kamar Ricky yang dalam posisi tertutup dan kedap suara, membuat kedua orang tua itu tidak mendengar teriakan Ricky.
"Mama, Papa?" ucap Ricky terkejut kala mendapati kedua orang tuanya sudah berada di unit apartemennya.
Mama Mira langsung menoleh ketika mendengar suara anaknya memanggil. Beliau langsung berlari menghambur memeluk Ricky. Meneteskan air mata karena rasa rindu yang menumpuk akibat lama tidak bertemu.
__ADS_1
"Ricky, anak mama! Huwaaa ...." Mama Mira memeluk kemudian mencium wajah Ricky secara menyeluruh.
"Sudah, Ma. Ricky sudah besar, jangan perlakukan seperti anak kecil lagi!" ujar Ricky sembari melepaskan tangan sang ibu dari wajahnya.
Saat itulah mama Mira melihat kondisi tangan anaknya yang menyedihkan.
"Ricky, tanganmu kenapa, Nak? Duduklah biar Mama obati!" ucap mama Mira panik.
Berbeda dengan sang istri, pak Kurniawan hanya diam membisu tanpa mau membuka suaranya. Dia masih kecewa dengan pilihan Ricky yang selalu bertentangan dengannya.
Mama Mira mengambil kotak obat dan mulai mengobati luka sang anak.
"Tangan kamu kenapa? Kenapa bisa parah seperti ini? Kamu jangan ceroboh lagi, ingat tanggung jawab kamu sebagai seorang suami!" cerca mama Mira tanpa jeda.
"Mama tahu dari mana Ricky sudah jadi suami? Om Bimo pasti yang kasih tahu Mama, bukan?" interogasi anak pada ibunya.
"Iya, dia tadi pagi mengatakan pada kami jika kamu sudah menikah. Saat ini sedang ada masalah dengan pernikahanmu. Sebenarnya ada apa, Ricky?"
"Masalah biasa, Ma. Mama tidak usah khawatir. Ricky pasti bisa menyelesaikan semuanya," hibur Ricky agar sang mama tenang.
"Pernikahan tanpa cinta berakhir perceraian itu biasa, Ma. Kalau masalah besar itu awalnya saling bucin lalu tiba-tiba pisah," jawab Ricky membela diri.
Ricky pun menceritakan semuanya, mulai dari awal pertemuan sampai hari ini dia mendapat surat dari pengadilan. Pak Kurniawan yang mendengar itupun tersulut emosinya.
Mereka melanjutkan obrolan berdua saja, karena mereka tahu pak Kurniawan bukanlah type orang yang mau disela pembicaraannya. Oleh karena itu, mama Mira sengaja menginterogasi anaknya sampai puas baru suaminya bicara.
"Ceraikan dia! Papa tidak suka dengan perangainya. Masih banyak perempuan di luar sana yang lebih baik dari dia!" perintah pak Kurniawan tak terbantahkan.
"Dia yang tidak mau terikat denganmu. Kita lihat saja nanti, laki-laki seperti apa yang dipilihnya sebagai suami," lanjut pak Kurniawan.
Ricky terdiam, ada rasa tak rela melepas. Selama hampir tiga bulan bersama, tidak dipungkiri jika rasa itu pun kini telah hadir di hatinya. Namun, rasa kecewanya menutupi keberadaan rasa itu.
__ADS_1
"Papa sendiri yang akan datang ke rumah perempuan itu untuk menemui keluarganya," ucap pak Kurniawan ketika anak dan istrinya duduk diam tak bersuara. "Kamu tunjukkan dimana kediaman mereka pada Papa!"
Kemarahan pak Kurniawan pada Ricky yang memberontak seketika hilang, kala mendengar cerita sang anak. Sebagai laki-laki harga dirinya merasa diinjak-injak mendengar anaknya diperlakukan seperti itu.
Malam itu, ketiganya pergi menyambangi kos Mami Sora. Ya, nama hunian itu adalah nama Soraya. Dia sengaja menggunakan namanya karena menginginkan memiliki anak yang banyak.
Namun, keinginan Soraya harus pupus tatkala sang suami lebih memilih istri pertamanya. Walaupun begitu, dia ikhlas menjalani hidup tanpa seorang suami sebagai pendamping. Cukup kakaknya yang melindungi dirinya selama ini.
"Mami Sora ada 'kan?" tanya Ricky pada anak kos yang kebetulan hendak keluar.
"Mami ada, tadi barusan masuk kok," jawab anak kos itu.
"Ok, thanks ya!" ucap Ricky dengan menampakkan senyum manisnya.
"Bagaimana, Rick? Ada 'kan orangnya?" tanya sang papa dari dalam mobil.
"Ada Pa. Kita turun yuk!"
Mereka bertiga memasuki rumah besar itu. Mata pak Kurniawan memindai semua sudut rumah itu.
"Sepertinya aku pernah ke sini. Tapi kok aku merasa asing dengan bangunan rumah ini. Apa ini hanya perasaanku saja?"
"Pa, Papa! Kok malah melamun sih?" tegur mama Mira.
"Eh, maaf, Ma. Papa hanya merasa pernah ke tempat ini. Hanya saja bangunan ini tampak asing, nggak kenal. Cuma daerah ini hafal, soalnya Papa pernah ke daerah sini. Tapi kapan Papa lupa, Ma," jawab pak Kurniawan mencari alasan walau tidak sepenuhnya bohong.
Ricky mencari adik mertuanya itu. Dia sudah mengetuk kamar wanita itu, tetapi tidak ada sahutan.
"Lola, Tante Sora mana?" tanya Ricky begitu Lola, anak kos putri hendak keluar rumah.
"Ada kok tadi, mungkin di kamar Ricko atau Rena," jawab Lola seraya berjalan keluar pagar.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Munculah tante Soraya dari balik pintu.
"Rick ...." Ucapan tante Soraya terhenti saat pandangan matanya bertemu lelaki masa lalunya.